Chapter 12: The tale of Freddo coffee

1340 Kata
Kafe Freddo, sebuah kafe mahal yang terletak di kawasan elite pinggir ibu kota. Sudah berdiri sejak tahun 1980an oleh sepasang kakak beradik berbangsa Portugis yang mencintai bahasa Itali. Entah apa yang mereka pikirkan hingga menamai kafe tersebut dengan nama Freddo (yang berarti dingin dalam bahasa Itali). Rangeover William melaju mulus membelah sawah di sekitar. Jalanan menuju kawasan resort tersebut memang jauh dari jalan hiruk piruk kota, mengingat hanya sedikit dari masyarakat Indonesia yang memang dapat mengunjungi tempat itu. Sebelum masuk ke kawasan resort, mereka harus setidaknya menghabiskan uang sebesar 6 juta setiap orangnya untuk memesan makanan, minuman, fasilitas yang ada di dalam resort. Itu sebabnya resort akan selalu mendapatkan pemasukan setiap ada orang yang masuk kedalam. Itu artinya, William dan black alley telah menghabiskan 12 juta hanya untuk mereka dapat masuk. Mobil melaju dengan kecepatan stabil. 90 km/jam. william tampak santai menyetir di balik kemudi. Untuk sesekali, Angkasa juga menikmati perjalanan bersama William. Bukan karena dia tahu dia telah memeras dompet pemuda itu, tetapi karena pemandangan sekitar mengingatkannya pada panti asuhan tempat dia tumbuh dulunya. Panti asuhan itu memang tidak besar. Berbeda dari panti asuhan biasanya, tempat itu kecil, tidak banyak menerima sumbangan sukarela dari orang orang disekitarnya karena semua orang berjuang untuk tetap hidup diatas tali kemiskinan. Walau begitu, Angkasa selalu bersyukur. Lingkungan sekitar tempat itu mengajarkannya banyak hal, membuat Angkasa berteman baik dengan masalah masalah yang selalu dianggap tidak ada oleh pemerintah. Dia memang tidak memiliki waktu untuk bermain robot robotan atau mobil mobilan seperti anak anak pada umumnya. Angkasa juga tidak pernah merasakan dipeluk kedua orang tuanya, dikecup, disayang. Namun dia belajar untuk peduli, dia bertekat untuk membuat semua orang sadar bahwa masih banyak hal hal yang lebih perlu di ketahui dari pada isu isu perselingkuan dan perceraian artis. Banyak keluarga yang kelaparan, butuh bantuan, banyak yang mengecap ketidak adilan di luar sana. Sebuah masalah yang lebih penting, lebih urgent. Udara segar yang ditawarkan membuat William membuka jendela mobil. Sekali kali menghirup udara sehat yang jauh dari polusi ibukota tidak menjadi sebuah masalah bari mahasiswa itu. Keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing masing. Berbeda dengan Angkasa yang terbiasa dengan kesederhanaan, William seumur hidupnya selalu mendapat yang terbaik. Rumah terbaik, pakaian terbaik, makanan terbaik, pendidikan terbaik, peralatan terbaik, pekerja terbaik, bahkan orang tua terbaik yang selalu perhatian padanya, Tidak ada yang kurang dari kehidupan sempurna William kecuali satu. Passion. Semuanya jadi membosankan, semuanya terlalu mudah untuk dia capai. William sudah berusaha untuk melakukan beberapa kegiatan sosial. Pergi berkelana saat SMA untuk mengajar di pedalaman, memberikan sebagian dari tabungannya pada panti asupan, panti jompo. Tidak ada yang berhasil membenahi satu benang kusut itu. Bahkan saat kedua orang tuanya mengajaknya untuk tinggal di Paris, William tetap memutuskan untuk tinggal di Indonesia yang berarti kebebasan. Dia bebas dari kekangan orang tua, seperti yang diinginkan kebanyakan remaja dan pemuda pemudi lainnya. Nihil. Tidak ada yang bisa membenahi hal misterius itu. Hingga dua orang pemuda yang hanya satu dua tahun lebih tua darinya datang, meminjam modal padanya. Saat William tanya, apa yang akan dilakukan dengan uang modal itu, salah satu dari mereka menjawab, "Aku akan jadi hacker. Aku hanya butuh uang ini untuk melengkapi peralatan." Jawaban itu berhasil menanamkan sebuah ide dalam benak William. Dia akan mencari tahu banyak hal, mempekerjakan orang orang yang menurutnya menarik dan dapat diajak kerjasama. William ingin berada satu langkah di depan orang orang. Dia ingin mengetahui banyak hal, mendapat dan memberikan sebuah informasi yang super rahasia. Menaklukkan kode, bersandiwara. Semua itu dia temukan di sebuah perkumpulan mungil bernama Black alley. Bersama dengan enam orang lain yang berusaha untuk bertahan hidup. Gerbang resort telah tampak beberapa meter di hadapan mereka. Benar benar di kelilingi dengan sawah, mengingatkan keduanya akan Bali, tepatnya daerah ubud. Seorang sekuriti telah menunggu di belakang portal. Pria itu berjalan cepat mendekati William dengan sebuah tablet ditangan. Sang Mahasiswa secara spontan menurunkan kaca mobilnya. "Reservasi atas nama?" "Oliver, Oliver Glann." Sang sekuriti buru buru mengetik nama yang telah di sebut oleh sang pemuda berambut biru. Sesuai dengan ketentuan kemarin, mereka akan menggunakan nama samaran. William sebagai Oliver Glann dan Angkasa sebagai Quinnsey Glann. Apakah nama Quinnsey terdengar seperti nama perempuan? Mungkin. Entah mengapa Richard kemarin ngotot memberikan Angkasa nama unik nan membingungkan itu. Dia bilang dia habis menonton film roman yang hampir membuatnya menangis dan nama anjing di film itu adalah Quinnsey. Setelah memastikan total reservasi yang diatas 12 juta (Angkasa setelah itu tahu bahwa mereka telah menghabiskan 21 jutan hanya untuk misi kali ini), sang sekuriti dengan name tag Virgo membuka portal di hadapan mobil rangeover putih tersebut. Pria itu juga tidak lupa memberi salam hormat pada William yang tersenyum padanya. Kafe legendaris Freddo terletak di ujung resort. tempat paling dekat pada sawah di sekeliling resort tersebut. Seperti yang tadi dijelaskan, kafe ini telah berdiri di tempat itu sejak tahun 80an. Dulunya kawasan resort adalah sebuah perkampungan kecil yang menjadi tempat tinggal para petani. Sayangnya karena krisis tahun 98, banyak penduduk yang memilih untuk pindah, menetap di tempat lain. Walau sudah melewati berbagai renovasi, kedai itu adalah satu satunya bangunan yang tidak berganti fungsi. Namanya juga masih sama. Mobil William terparkir apik pada salah satu lahan parkir kosong di dekat sebuah mobil minicooper hitam. Mobil impian Angkasa sejak dulu. Dia memang lebih menyukai tipe mobil kecil karena satu, lebih mudah untuk dikendarai dan dua, dia tidak memiliki teman selain Alex yang jarang menumpang padanya dan itu berarti dia tidak perlu bingung dengan orang yang mau menumpang. Mobil kecil adalah yang paling cocok untuknya. "Baiklah. Aku adalah adikmu, kau adalah kakakku. Aku seorang pebisnis yang bergerak di bidang pertambangan. Jika ditanya, ada di Bangka. Kau baru saja sampai dari Australia, lelah, tidak fokus. kau sendiri seorang profesor disana. Mengajar Bisnis dan management." Angkasa mengangguk. Untuk apa William harus menatap wajahnya sampai seperti itu. Dia tampak seperti seseorang yang harus pergi ketoilet untuk melakukan urusan nomor 2. Angkasa harus menunggu William untuk siap dengan perannya sebelum dapat keluar. Padahal dia yang harus berakting, lelah, pusing. Jetlag akibat penerbangan jauh yang baru dia lalui. Keduanya berjalan keluar mobil. Seorang pelayan yang menunggu tepat di belakang pintu telah siap membukakan pintu kayu yang terlapisi beberapa kaca kecil yang menampilkan kondisi di dalam kafe. Hanya beberapa bangku yang terisi. Sesuatu yang tidak mengagetkan bagi Angkasa mengingat mahalnya biaya untuk masuk ketempat itu. Pelayan dengan senang hati mengantar Angkasa dan William menuju tempat duduk mereka masing masing. Beberapa pengunjung menatap mereka. Mungkin terkesima dengan pakaian stylish yang mereka kenakan. William dengan senang hati membantu Angkasa untuk duduk, telalu mendalami perannya membuat Angkasa menghela nafas lelah. Dari pada adiknya, William lebih tampak seperti seorang kekasih. Sepertinya dia harus mengulang kelas aktingnya. "Makanan dan Minuman yang anda pesan akan segera datang. Terima kasih telah memilih untuk tinggal di resort Mutiara leaf." Pelayan itu mengulang kembali setiap pesanan yang telah di booking oleh Eden semalam. William hanya mengangguk, dia juga tidak tahu apa yang rekannya pesan. Tugasnya hanya membayar dan menikmati apapun yang dipesan Eden. Dia hanya berharap supaya Eden memesan makanan yang tepat. Setelah melakukan crosscheck, sang pelayan akhirnya pergi. Meja itu kembali hening dengan Angkasa yang lebih memilih untuk membaca buku yang disodorkan oleh William tadi. Buku itu adalah buku mengenai perkembangan bisnis internasional, perdagangan internasional. Angkasa hanya membaca sekilas mengenai teori komparatif yang sempat dia pelajari saat mengawasi bisnis internasional dulu. William dilain sisi lebih memilih untuk bermain dengan ponselnya. Sesekali dia berbicara pada Angkasa, menanyakan hal hal kecil seperti bagaimana suasana kafe pilihannya, hingga bagaimana dengan barang barang Angkasa. Walau mereka sudah berlatih dengan Richard semalam, percakapan tenang dengan William seperti ini membuat Angkasa merasa aneh. Tak sampai 15 menit, hampir seluruh makanan yang dipesan Eden telah terhidang di hadapan mereka. Keduanya mulai menikmati hidangan. Untungnya setiap makanan yang tersaji sesuai dengan selera masing masing. Hanya wine mahal yang tersaji yang membuat Angkasa mendengus. Dia tidak suka wine. Dia lebih memilih vodka atau whisky untuk minuman beralkohol. Seluruh hidangan hampir habis saat pintu kafe kembali terbuka. Rombongan yang mereka tunggu tunggu akhirnya sampai juga. Makan siang yang mereka nikmati lenyap begitu saja. Sekarang, waktunya melaksanakan misi mereka dengan baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN