Chapter 11: Dirty dawg

1433 Kata
Untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, Angkasa dan William harus berpelukan. Dylan tiba tiba datang di tengah pertengkaran keduanya setelah mendengar kalimat Zeus. Sang pria bertubuh besar sendiri hanya mengendikkan bahu saat diberikan tatapan bertanya dari Dylan. Alhasil, keduanya kembali mendapat nasihat menyenangkan dari Dylan. Bertepatan dengan Angkasa dan William yang berpelukan, muncul Richard yang keluar dengan secangkir kopi hangat di tangannya. Pemuda berambut jamur itu tidak dpaat menahan tawanya saat mendapati Angkasa dan William dalam kondisi yang sama seperti semalam. Berpelukan dengan wajah yang saling menghindari satu sama lain. "Kapan kalian akan bertumbuh dewasa? Bertengar karena hal kecil seperti anak kecil saja. Sudah, dari pada berdebat terus sebaiknya kalian pergi menata rambut kalian. Aku sudah menghubungi Gilang. Dia bilang dia akan membuka Dirty dawg lebih awal hanya untuk kalian." Dengan begitu William dan Angkasa terusir dari Black alley. William memutuskan untuk mengendarai salah satu Rangeover miliknya. Katanya itu adalah satu satunya pilihan yang mereka miliki. Mobil besar yang tampak gagah dan elegan tanpa perlu benar benar secara lancang mengatakan bahwa itu adalah mobil yang mahal. Perjalanan menuju Dirty dawg ditempu selama satu jam. Jalanan ibu kota yang macet membuat keduanya harus terperangkap di ruangan sempit yang sama lebih lama dari yang mereka harapkan. "Omong omong apa kau sering pergi ke salon ini?" Angkasa yang telah lelah dengan keheningan di dalam mobil itu membuka percakapan. Setelah dimarahi oleh Dylan, William selalu memiliki kebiasaan untuk menghanyutkan diri dalam keheningan. Seperti seorang anak kecil yang merasa kesal tidak mendapatkan apa yang mereka mau, dalam kata lain, William sedang merajuk. "Dirty dawg adalah salon milik sahabat Dylan. Mereka sering membantu kita dalam beberapa hal." salah satu alis Angkasa terangkat. Sering membantu Black alley? "Benarkah? Apa yang mereka lakukan selain membuka salon? Apa mereka juga merupakan organisasi menarik seperti black alley?" "Bisa dibilang begitu. Mereka lebih berfokus pada penipuan. Hanya bisnis kecil yang berfokus pada penipuan kecil kecilan. Mereka cukup membantu jika target kami adalah orang bodoh yang hanya sekali lihat sudah percaya. Kenapa? Kau tertarik meliput mereka?" Angkasa hampir saja mengangguk. Insting jurnalismenya berjalan dengan sangat lancar. William memang tidak berbohong saat pertama kali mengajaknya bergabung. Angkasa dapat mengetahui lebih banyak hal dari pada saat dia bekerja sebagai Jurnalis biasa. Salon tersebut lebih mirip seperti sebuah barber shop khusus pria. Tetapi, melihat dari beberapa wanita dewasa yang duduk di kursi panjang yang terletak di dekat pintu masuk, sepertinya tempat ini lebih terkenal dikalangan wanita. Apa yang terjadi dengan semua organisasi tersembunyi ini? Yellow alley yang merupakan restaurant serba ada di atas black alley berdiri tegap dan dicintai banyak orang orang dewasa. Bertolak belakang dari wujudnya yang lebih cocok untuk anak remaja. Salon di hadapannya ini tampak seperti barber shop, tapi lebih terkenal dikalangan wanita. Pertanyaan Angkasa baru terjawab saat William membuka pintu salon. suasana tenang dan alunan musik pop yang terdengar di balik keramaian salon langsung menyambut. Angkasa sempat mendengar Dylan yang mengatakan bahwa siapapun pemilik Dirty dawg ini membuka salon lebih awal untuk William. lima wanita yangg duduk di kursi tunggu menjadi bukti nyata mengenai seberapa terkenalnya tempat itu. Seorang pria yang tampak sedikit lebih tua dari Angkasa berjalan mendekati keduanya. William telah memasang wajah nyengar nyengir andalannya. Sang pria dewasa yang tampak tidak kalah tampan dari Dylan terkekeh senang sembari menepuk bahu William. "Willie! Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabar Dylan? Belakangan ini dia hanya menghubungiku untuk pekerjaan saja. Aku merindukan pemuda tampan itu." Angkasa dapat melihat William yang mengaduh. Sepertinya tepukan pada bahunya yang hingga sekarang masih terus berlangsung terasa sedikit terlalu keras bagi William. Pemuda berambut biru itu berdehem, tangannya berusaha untuk menghentikan tepukan pada bahunya. "Senang bertemu denganmu juga, Gilang. Dylan baik baik saja. Restaurant telah kembali ramai setelah rumor bodoh itu tersebar." Pria tampan di hadapan William akhirnya melepaskan tepukannya pada bahu William. Gilang menghela nafas, kecewa dengan entah apapun yang William katakan. "Aku masih ingat saat dia terjatuh dan menatapku dengan kedua mata yang berkaca kaca. Dylan sudah tumbuh menjadi pria tangguh yang kuat, aku ikut senang." Angkasa mengernyit. Ekspresi Gilang berbanding terbalik dengan apa yang dia katakan. Pria tampan itu buru buru menggeleng. Ekspresi cerianya kembali tampak. "Dylan sudah mengirim pesan bahwa kalian akan datang. Willie, apa kau tidak akan mengenalkanku pada rekan barumu ini? Ada dia teman kuliahmu? Mahasiswa fashion?" Perhatian Gilang terpusat pada Angkasa. Entah mengapa kedua mata Gilang yang menatapnya dari atas kepala hingga sepatu berhasil membuatnya tersenyum malu. Dia telah mengenakan jasnya. Rantai kecil berwarna silver yang awalnya terkait pada dua sisi kerah kemejanya juga sudah kembali terkait diantara jasnya. "Mahasiswa fashion apanya? Wajahnya tidak cocok!" "Apa maksudmu wajahnya tidak cocok? Lihat, dia imut, manis untuk ukuran laki laki. Kulitnya juga putih pucat, bersih. Apa kau menggunakan skincare?" Angkasa menggeleng sebagai jawaban. Dia tidak sempat menyahut perkataan William. Gilang telah membelanya secara sukarela. 1-0 untuk dirinya dan William. "Dia Angkasa Abisatya. Kau tahu, jurnalis terkenal itu. Yah walau kemungkinan besar kau mengenalnya sebagai sky" Gilang terbelalak. Mungkin tidak pernah berpikir bahwa Angkasa akan tampak semuda itu. Bahkan jika dia memperkenalkan dirinya sebagai seorang mahasiswa tingkat awal, dia akan mempercayainya. "Kau? Sky yang terkenal itu? Yang pernah meliput langsung kasus penggelapan dana itu? Kau?! Aku sungguh akan percaya jika kau memperkenalkan dirimu sebagai seorang mahasiswa tingkat awal. Senang bertemu denganmu!" Jabatan tangan Gilang terasa kokoh. Pria itu tersenyum lebar pada Angkasa. Setelah perkenalan singkat itu, Gilang akhrinya menuntun keduanya menuju ruangan pribadi di belakang salon. Itu adalah ruangan khusus yang digunakan oleh para tamu VIP. Salon itu ternyata merupakan salah satu salon tua yang sangat terkenal. Banyak artis artis yang mengunjungi tempat itu untuk mengurus diri. "Jadi apa ada bayangan style rambut seperti apa yang ingin kalian coba?" Suara Gilang berubah menjadi dalam. Nada ramah yang terdengar kenakan kanakan tadi menghilang begitu saja. Seperti topeng yang dapat dengan mudah digunakan dan dilepas. "Rambut koma untuk dia. Aku hanya perlu sedikit curl disana sini." Gilang mengangguk. Jarinya menjentik, memanggil salah seorang bawahannya untuk membantunya. Gilang berjalan mendekati Angkasa. Dia menuntun Angkasa untuk duduk diatas sofa empuk di sebelah William. Gilang sendiri yang akan mengurus rambut Angkasa, sementara anak buahnya yang akan mengurus rambut William. "Tidak hanya kulitmu yang bagus. Rambutmu juga terawat." Angkasa hanya tersenyum singkat, mengangguk sebagai rasa terima kasih atas pujian Gilang. Ruangan itu kembali hening. Hanya suara hairspray yang sedikit demi sedikit disemprotkan pada rambut William dan Angkasa. Ruangan tersebut tidak teralu sempit, tetapi tidak sebesar ruangan untuk pengunjung umum di depan sana. Ada sekitar 4 kursi yang terbuat dari bahan kulit terbaik berwarna coklat dengan cermin besar yang dikelilingi oleh lampu seperti meja rias. Sebuah pintu kecil yang dilapisi oleh kaca berwarna hitam pekat berada di ujung ruangan tersebut. Sepertinya itu adalah akses menuju ruangan organisasi rahasia, seperti Black Alley. "Apa kau bingung dengan perbedaan sifatku?" Gilang memutuskan untuk membuka percakapan setelah beberapa menit. Pria itu mulai bergerak untuk merapikan rambut Angkasa sesuai dengan keinginan William, rambut koma. "Sedikit?" Gilang terkekeh mendengar jawaban Angkasa. Pria itu masih sibuk meraih beberapa peralatan untuk mengatur rambut Angkasa yang katanya bagus itu. "Itu hanya sebuah karakter kecil kecilan yang ada untuk menarik pelanggan. Banyak wanita yang menyukai pria pria yang mengingatkan mereka pada teddy bear. Bagaimana menurutmu? Apa itu benar?" Angkasa hanya dapat mengendikkan bahu, tidak tahu. "William memilih model rambut yang bagus. Cocok dengan pakaianmu hari ini." "Benarkah? Dia mahasiswa seni. Mungkin fashion juga termasuk seni untuknya." Angkasa melirik William yang tampak menikmati aktivitas menghias rambutnya. Kedua matanya tertutup, seperti memberikan kuasa penuh bagi orang asing bawahan Gilang untuk melakukan apapun pada rambut birunya. Keduanya menghabiskan sekitar satu setengah jam hanya untuk menata rambut. Dilanjut lagi dengan memberikan riasan ringan bagi Angkasa dan William. Gilang dengan sabar mengoleskan sedikit bedak untuk menutupi beberapa spot merah di wajah Angkasa. Hanya untuk meratakan kulitnya yang putih pucat. Gilang juga dengan sabar mengoleskan liptin pada bibir tebal Angkasa. Pria itu kembali memuji bentuk wajahnya. Katanya terlalu imut untuk menjadi seorang pria yang akan menginjak untuk 30 tahun dalam dua tahun. "Selesai. Tidak banyak yang harus aku lakukan. Kau tampak luar biasa." Angkasa mengangguk. Gilang kembali membuka penutup baju untuk melindungi setelan mahal yang Angkasa kenakan, membiarkan sang jurnalis untuk bangkit berdiri. Benar kata William. Hanya sedikit riasan pada wajah dan benahi rambut, dia terlihat 10 kali lebih baik. William juga telah selesai dengan riasannya. Pemuda itu tampak keren dengan rambutnya yang bergelombang. Mereka juga menggambar alisnya, memberikan kesan lebih tajam pada wajahnya. Ekspresi cerah Gilang kembali terpasang saat mereka berjalan keluar ruangan. Gilang secara pribadi melayani pembayarn William. Kali ini menggunakan kartu debit pribadi miliknya. Dalam beberapa menit, keduanya telah kembali berada di dalam mobil mahal sang mahasiswa, dalam perjalanan menuju kafe
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN