Pagi datang lebih cepat dari perkiraan Angkasa. Jam digital di atas nakasnya berbunyi nyaring, menunjukkan bahwa waktu sudah mencapai pukul 7 pagi. Semalam dia sampai di ruamh pukul 10. Membersihkan diri sembari cuci muka dan langsung tidur. Pola tidurnya yang aneh membuat Angkasa dengan leluasa tidur nyenyak saat dia gugup.
Rutinitas paginya terasa seperti menonton film. Ada dan tidak ada di saat yang bersamaan, sadar dan tidak sadar di saat yang bersamaan pula. Angkasa buru buru menyelesikan rutinitas paginya. Pria itu keluar dengan tubuh beraroma vanila dan rambut yang basah. Kaos besar berwarna hitam dan celana kolor pendek yang dia kenakan tampak menutupi tubuhnya sembari Angkasa menatap setelan mahal yang masih terbungkus pada kantung yang sama seperti semalam. Entah mengapa kantung kertas denan lambang butik itu membuat Angkasa menghela nafas, bimbang dengan keputusannya. Salahkan egonya dan kesombongannya akan skill sosial yang dia miliki.
Menit selanjutnya Angkasa sudah berjalan mendekati meja kecil dimana dia meletakkan kantung setelan tersebut. Tidak ada kata mundur. Seperti semalam saat mencoba setelan mahal tersebut, Angkasa membutuhkan waktu yang lama untuk mengenakan setelan lengkap yang bernilai lebih dari gadinya selama 3 bulan. Pria itu dengan hari hari mengaitkan rantai kecil yang akan menyatuhkan dua bagian jas miliknya. Dia mengenakan jas merah marron itu dengan gaya yang telah diinstruksikan oleh William. Mengingat pemuda itu, fakta bahwa dia memesan setelan custom dengan ukuran yang pas pada tubuh Angkasa membuat pria itu sedikit merasa ngeri. Bagaimana dia bisa menebak dengan sangat tepat?
Angkasa buru buru mempersiapkan barang bawaannya. Sepatu Gucci yang Angkasa tidak ketahui namanya itu juga terpasang rapi di kakinya. Sebuah ikat pinggang yang juga terdapat di dalam kantung kertas butik tersebut juga melingkar apik pada pinggang Angkasa. Terdapat sebuah pola abstrak berwarna emas pada ikat pinggang tersebut. Berlian merah juga menghiasi bagian depat ikat pinggang, cocok dengan setelan yang dia kenakan sekarang.
Mobil Honda Brio milik Angkasa yang juga berwarna merah membuat pria itu mengernyitkan dahi. Dia merasa seperti sedang melakukan konvoi warna merah. Itu sebabnya Angkasa melepas jas mahal miliknya dan meletakkannya di kursi sebelahnya. Rantai kecil berwarna silver yang digunakan untuk mencegah jas itu terbuka dia kaitkan pada kerah kemeja hitamnya, memastikan bahwa benda kecil itu tidak akan hilang.
Sesuai perkataan William, Angkasa sampai di depan gedung perkntoran di belakang Black alley. William telah meminta Richard untuk memasukkan program basement tersebut pada ponsel sang jurnalis. Angkasa hanya dapat mengunjungi Basement William yang terletak pada lantai basement paling bawah. Mobil mini Angkasa terus berputar turun ke lantai basement paling bawah dan berhenti tepat di hadapan dinding yang bertuliskan angka 23. Angkasa hanya perlu menekan sebuah tombol berwarna merah pada program di ponselnya dan dinding beton di hadapannya telah terangkat secara otomatis. Pria itu buru buru masuk. Traumanya kejepit pintu lift semakin menjadi jadi.
Mobil merah miliknya tampak kontras parkir di sebelah mobil biru nan mahal milik William. Angkasa meraih setelannya, masih belum mengenakan kain mahal itu hingga dia menekan tombol 2 pada lift. Saat Angkasa bertanya mengenai tombol tombol itu, William hanya mengendikkan bahu dengan senyum menyebalkan terpampang pada wajahnya. Pemuda itu hanya menyuruh Angkasa untuk memecahkan teka teki itu sendiri. Saat dia ingin bertanya pada Richard, pemuda berambut jamur itu hanya bilang bahwa satu satunya lantai yang dapat dan boleh diakses oleh Angkasa adalah lantai 2 yang tidak memiliki huruf apapun di belakangnya. Alhasil, Angkasa hanya memiliki satu pilihan. Lantai 2.
Ruangan besar Black Alley kembali tampak di hadapan Angkasa saat pintu lift terbuka. Pria itu berjalan keluar lift dengan tergesa gesa. Merasa tidak akan berada di dalam lift aneh itu sendirian. Kedua matanya menatap ruangan tersebut sebelum bertemu tatap dengan Dylan yang berjalan mendekatinya.
"Angkasa, kau tampak keren! William akan datang sebentar lagi. Dia bilang sibuk mencari sepatunya yang terselip entah dimana." Angkasa hanya menganggu, walau dalam hati telah mengumpat kesal pada William yang semalam bilang sudah memiliki sepatu untuk dia pakai hari ini.
Dylan dengan senang hari memberikan tour singkat kata Angkasa. Pria tinggi itu membawa Angkasa berkeliling ruang raksasa berbentuk persegi itu. Menghiraukan Zeus yang duduk dengan kedua kaki diatas sofa dan sebuah majalah di tangan. Dia tidak pernah menyangka Zeus menyukai buku buku majalah seperti itu. Angkasa memang tidak pernah berbicara langsung pada pria bertubuh besar itu, tetapi jelas sekali Zeus adalah orang yang sangat serius (cara termudah bagi Angkasa untuk mengatakan 'mengerikan' dengan lebih lembut).
Ternyata banyak sekali rahasia rahasia serta trik trik kecil yang ada pada ruangan tersebut. Seperti dua gudang senjata yang masing masing dimiliki oleh Janna dan Zeus. Dylan juga menjelaskan tugas kedua orang tersebut.
"Kau tahu, sebagai infroman kami harus menggali informasi dengan cara apapun. Ada beberapa saat kami harus menggunakan kekerasan untuk mengundang mereka bicara. Itu adalah tugas Zeus dan Janna. Lagi pula pekerjaan ini cukup mengerikan. Berbahaya lebih tepatnya. Semakin banyak informasi yang kita miliki, semakin mahal aset kita. Mereka juga bertindak sebagai bodyguard." kalimat itu ditutup Dylan dengan kedipan mata. Angkasa tidak dapat berbohong dan mengatakan bahwa kedipan itu tidak menawan, tetapi Angkasa tidak terlalu suka berbicara mengenai masalah bahaya.
Pintu lift kembali terbuka setelah beberapa menit Angkasa duduk di atas sofa dengan Zeus yang tampak tidak tertarik untuk melepas pandangannya dari majalah itu untuk sekedar menyapa sang jurnalis. Angkasa sendiri diam diam merasa lega akan keputusan Zeus. Dia tidak ingin terlibat dalam percakapan canggung dengan pria kekar itu.
Wajah William yang tampak tersenyum lebar menyapa Zeus dan Angkasa tanpa perasaan bersalah. Sebenarnya pemuda itu memang tidak memiliki slaah, tapi setidaknya dia dapat meminta maaf setelah membuat Angkasa menunggu.
"Dylan sudah naik? Jam buka masih 2 jam lagi." Zeus hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Pria bertubuh besar itu masih setia pada majalah miliknya, tidak tertarik melihat Angkasa dan William yang menatap satu sama lain dengan tatapan yang berbeda.
"Kau sudah sampai! Bagus, bagus. Setidaknya kau datang tepat waktu. hari ini."
"Benar, kau yang tidak tepat waktu dasar anak muda." William mengernyit. Tangannya menyentuh d**a, bertindak seperti seorang yang merasa tersinggung. "Aku minta maaf karena kau sudah tua." Pemuda berambut biru ini benar benar berhasil membuat Angkasa kesal. Pria diakhir 20 tahun itu memilih untuk diam, memutar bola mata malas. Masih terlalu pagi untuk berdebat. Namun sepertinya awal perbedatan itu berhasil menarik perhatian Zeus yang sekarang menatap keduanya tanpa berkedup.
"Apa kau sudah siap? Kita harus ke salon untuk membenahi rambut dan wajah. Mungkin memberikan sedikit riasan wajah akan membuat tampilanmu lebih baik."
"Benar. Tampilanmu sendiri sudah tidak tertolong, bukan? Bahkan MUA terbaik juga kesulitan membenahi susunan berantakan pada wajahmu itu." William terbelalak. Pintar juga pria tua di sebelahnya ini dalam berdebat.
"Oh ayolah, kita semua tahu wajahku sudah lebih dari cukup. Tidak perlu riasan juga sudah tampan sekali." Angkasa kembali menggeleng, lupakan kata kata terlalu pagi untuk berdebat. Pria itu tersenyum miring, merendahkan. "Apa kau mencari alasan? Sudahlah, lupakan saja. Bahkan operasi kosmetik juga tidak akan membantumu."
Perdebatan terus berlanjut. Zeus yang masih terus menyimak mengangkat salah satu alisnya. Sepertinya dia dapat melihat kenapa Kayla menjodohkan keduanya. Mereka memang cocok jika itu masuk akal. Keduanya bahkan dapat bertindak seperti kanak kanak di hadapan masing masing. Dia 100% percaya bahwa baik Angkasa maupun William melupakan keberadaannya di ruangan itu.
"Sekarang aku tahu mengapa Kayla terus menjodohkan kalian. Kalian memang cocok." Kalimat yang terdengar mengalir dari suara derat nan serak itu membuat keduanya menoleh. Zeus telah duduk dengan satu kaki terlipat di atas kaki lainnya. Satu tangannya tergeletak pada sandaran sofa, seperti menyatakan dominasinya.
"Kau juga?! Apa menurutmu aku dan orang menyebalkan ini cocok?" William menunjuk Angkasa disebelahnya. Wajahnya tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Zeus beberapa detik yang lalu.
"Orang menyebalkan? Kau berbicara mengenai dirimu sendiri. Jangan tunjuk aku!" Perdebatan lain kembali dimulai. Zeus menghela nafas pelan sebelum mengangguk. Ya, mereka memang cocok. Seperti sepasang suami istri yang sudah lama menikah.