Perjalanan menuju butik pilihan William hanya berlangsung sekitar 15 menit. Waktu yang sangat singkat bagi perjalanan ibu kota yang selalu macet. Itu karena butik terserbut memang terletak 20 menet dari gedung kantor yang menjadi basement William.
Saat pertama kali Angkasa menginjakkan kaki di dalam butik tersebut, Angkasa telah dapat merasakan mewahnya gedung dua lantai tersebut. Bangunan yang di d******i dengan warna krem dan abu abu itu memberikan kesan modern bagi Angkasa. Pada lantai pertama hanya terdapat beberapa baju yang terpasang pada mannequin yang berdiri tersebar di seluruh toko. Di ujung ruangan terdapat kamar pas yang tampak seperti kamar pas untuk para bangsawan. Ukiran pada dinding butik semakin memberikan kesan mewah dan mahal pada butik tersebut.
"Selamar datang, Tuan William. Kami telah menunggu kedatangan anda sejak tadi. Silahkan ikut saya. Anda dapat mencoba setelan anda di kamar pas setelah memastikan bahwa design dan bahan yang anda minta telah sesuai." William mengangguk. Pemuda itu berjalan mengikuti seorang pelayan toko yang tampak berjalan menuju lantai dua. Angkasa yang berjalan di belakang William dengan patuh mengikuti punggung sang pemuda.
Keduanya dituntun menuju tangga singkat yang tampak indah. Setiap anak tangga terlapisi dengan marbel asli. Sebuah lukisan kecil yang menggambarkan objek absrak tergantung sepanjang tangga membawa mereka naik.
Lantai kedua butik tersebut tampak lebih luas dari lantai pertama. Mungkin karena absennya mannequin yang tersebar di lantai pertama. Lantai kedua hanya di diisi dengan dua kamar pas yang tidak kalah mewahnya dari kamar pas dibawah, mungkin lebih mewah dengan ukiran emas pada pintu masing masing kamar pas. Sang pelayan toko menuntun keduanya menuju kamar pas mereka masing masing. Setelah mereka telah terpasan pada sebuah mannequin di dalam kamar pas.
"Silahkan mencoba setelan anda masing masing. Jika ada yang kurang memuaskan akan langsung kami seusiakan lebih lagi." Pelayan yang menggunakan name tag Indra itu tersenyum sebelum membungkukkan badan, membiarkan William dan Angkasa untuk mencoba setelan mereka masing masing.
Angkasa berjalan menuju salah satu dari dua kamar pas di hadpaan mereka. Mannequin di dalam kamar tersebut mengenakan setelan berwarna merah dengan motif batik yang memberikan kesan dove pada setelan tersebut. Celana hitam yang terbuat dari kain mahal tampak sedikit terlalu pendek untuk mannequin tersebut, entah mengapa membuat Angkasa tersenyum kecut. Kemeja hitam yang menjadi pakaian di balik setelan merah tersebut dihiasi dengan rantai kecil yang menghubungkan setelannya secara horizontal.
Secara mengejutkan, setelan di hadapannya memeluk tubuhnya dengan sempurna. Angkasa menatap pantulan dirinya dari cermin di hadapannya. Kemeja hitam yang dia kenalakn di balik setelan merah maroon mahal tersebut tampak cocok dengan rantai kecil yang menjuntai. Tidak terlalu ramai, juga tidak membosankan. Celana yang awalnya tanpak terlalu pendek untuk mannequin di hadapannya juga menutupi kakinya dengan sangat baik. Hanya sneaker yang dia gunakan yang menjadi satu satunya masalah, juga rambut hitam legamnya yang terlalu membosankan.
Tangannya baru membuka pintu kamar pas di belakangnya setelah Angkasa puas menatap dirinya sendiri. Dia tidak pernah melihat dirinya tampak begitu elegan. William yang juga sudah mengenakan setelan miliknya telah berdiri di dekat Indra, sang pelayan toko yang tampaknya telah dia kenal baik.
William mengenakan setelan berwarna navy blue dengan bahan sedikit berbulu, memperkuat warna gelap setelan tersebut. Dari pada sebuah kemeja, William mengenakan turtle neck berwarna hitam dengan sebuah kalung silver besar yang menjadi satu satunya aksesoris bagi sweater tersebut. Tidak buruk, sangat tidak buruk. William tampak tampan dengan setelan tersebut. Jauh berbeda dengan stylenya yang biasa hanya mengenakan kaos atau hoodie.
"Tidak buruk. Benahi rambut dan ganti sepatumu, mungkin kau akan tampak setampan diriku." Angkasa mendengus, lebih memilih untuk melangkah mendekati William. Dia tidak ingin mengatakan apapun, tidak mau berdebat dengan William di butik mahal ini. Takut takut jika pemuda kaya raya di sebelahnya itu kesal dengannya dan menyuruh Angkasa untuk membayar setelannya sendiri.
Sepasang tangan terasa menyentuh rantai kecil berwarna silver yang menyambungkan dua sisi setelan pada bagian d**a Angkasa. William melepas rantai tersebut. "Lepaskan jasmu." Angkasa mengernyit, menatap pemuda di hadapannya curiga. Apa yang orang ini inginkan? Angkasa menendikkan bahu, untuk sekali memutuskan untuk mengikuti instruksi William. Jas merah maroon miliknya dengan mudah terlepas dari tubuhnya. William meraih jas tersebut, menggantung jas itu pada kedua bahu Angkasa sebelum kembali mengaitkan rantai pendek pada kedua sisi jas, memastikan bahwa pakaian mahal itu tidak akn terjatuh dari bahu sempit sang jurnalis.
"Jauh lebih baik, bukan?" Indra yang berdiri di belakang mereka mengangguk. Pria itu dari tadi terus mengawasi gerak gerik dua tamunya. Dia mengenal William, tapi tidak dengan pemuda asing yang di bawah oleh salah seorang pelanggan tetapnya itu. Jika dilihat dari wajahnya, mungkin salah satu teman kuliah William.
"baiklah. Ini sudah cukup. Mungkin aku tambah sepatu juga. Tidak perlu custom. Apa kalian memiliki sepatuyang ready?" Indra buru buru mengangguk, "Silahkan lewat sini."
Ketiganya kembali turun menuju lantai satu. Hingga sekarang tidak ada satupun pengunjung lain yang masuk ke butik ini. Mungkin karena waktu yang sudah meunjukkan pukul 8.30. Untuk apa pula orang membeli pakaian pesta malam malam begini?
Indra membawa mereka mendekati meja kasir. Disana terdapat sebuah lemari kaca kecil yang menampilkan beberpa sepatu pesta. Karena sepatu sepatu tersebut adalah benda readystock, Angkasa dapat melihat dengan jelas angka yang tertera pada tag setiap sepatu tersebut. Ada dua angga disana. Untuk membeli dan menjual.
"Kau coba satu per satu. Aku memiliki sepatu sendiri, jadi masih belum perlu membeli sepatu baru. Aku akan duduk disana. Jika ada yang kau suka, bisa langsung bilang ke Indra. Jika bingung, kau bisa tanya aku, jangan tanya Indra." Angkasa memutar bola matanya malas. Masih memutuskan untuk mendengarkan William tanpa banyak berkomentar. Dia tidak ingin dipaksa membayar secara tiba tiba. William melangkah menuju sebuah sofa yang tergeletak di ujung ruangan, dekat kamar pas. Pemuda itu sok mengambil sebuah majalah fashion yang tergeletak di atas meja kaca kecil di sebelah sofa tersebut dan mulai menatap setiap gambar yang ada.
Dengan melangkahnya William menuju sofa di ujung ruangan, Angkasa harus melihat Indra mengeluarkan setiap sepatu yang ada dengan hati hati. Pekerja toko saja takut menyentuh sepatu itu, bagaimana dengan dia? Angkasa mencoba beberapa pasang sepatu, hingga kedua matanya sampai pada sepasang sepatu yang terpajang di ujung lemari.
"Yang itu?" Indra mengikuti arah jari telunjuk pemuda di hadapannya. Sebuah sepatu Gucci berwarna hitam terbuat dari bahan semi kain tampak di matanya. Sebuah rantai berwarna emas yang mengingatkannya pada rantai kecil yang mengingatkannya pada rantai kecil yang maish dikenakan oleh Angkasa.
"Gucci, Jordan GG velvet loafers. Pilihan bagus. Saya akan ambilkan ukuran anda. 39, bukan?" Angkasa mengangguk pelan. Entah mengapa merasa tidak enak setelah memilih sebuah sepatu yang spesifik. Indra bekerja dengan cepat. Pria itu telah kembali dengan kedua tangan membawa sebuah kotak sepatu bertulisan GUCCI disana. Untungnya sepatu itu terasa sangat pas di kakinya. Sepatu pilihannya juga tampak cocok dengan setelan miliknya.
"Anda akan ambil yang itu?" Pertanyaan Indra membuat Angkasa tersenyum tipis. Pria itu menatap William yang masih setia duduk di atas sofa empuk di ujung ruangan. William yang untungnya menyadari tatapan Angkasa buru buru berjalan mendekat. Dia menatap Angkasa dari atas kepala hingga kakinya. Senyumnya mengembang, puas dengan pilihan jurnalis di hadapannya.
"Kita ambil yang itu." Indra mengangguk, mendengar percakapan singkat yang diutarakan pada pemuda asing di depannya. "Baiklah. Anda dapat kembali ke ruang ganti dan berganti pakaian anda. Saya akan membungkus setelan dan sepatu anda."
William dan Angkasa kembali ke kamar pas di lantai kedua, mengingat pakaian mereka berada di lantai dua. Berbeda dengan William yang hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk berganti pakaian, Angkasa membutuhkan lebih dari 10 menit untuk melepas setiap pakaian yang menempel pada tubuhnya dengan sangat hati hati.
Keduanya kembali setelah William menyerahkan kartu kredit black card yang diberikan oleh kedua orang tuanya pada Indra. Perjalanan kembali menuju Black alley terasa cepat. William menyodorkan kantung palstik berisi setelan milik Angkasa, menyuruh pemuda itu untuk datang besok pagi dengan setelan tersebut. Setelah itu mereka baru akan pergi kesalon untuk mengatur rambut mereka.
"Kembali kesini besok pukul 8 pagi. Pertemuan diadakan pukul 12 siang tepat di cafe Freddo. Aku yang akan menyetir." Angkasa hanya mengangguk, terlalu lelah untuk berdebat dengan pemuda berambut biru itu. William dengan senang hati menurunkan Angkasa di depan mini market dekat gang restaurant agar pria itu tidak perlu berlarian menghindari hantu hantu yang dia takuti.
Sekarang Angkasa hanya perlu kembali dan memastikan bahwa dia menyiapkan mental untuk besok. Sebuah misi menyeramkan yang memompa adrenalin.