Setelah diskusi singkat Richard dan Angkasa, serta meditasi absurd William, ketiganya kembali berkumpul di ruangan Black Alley. Bertepatan dengan Janna yang tampak siap mengenakan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. rambut panjang yang biasa menjuntai hingga pinggangn wanita itu teritak tinggi tinggi, berbentuk konde besar. Kedua tangannya terlapisi dengan sarung tangan kulit berwarna hitam khas orang orang pengendara motor.
"Janna, kau akan melakukan misimu?" Seperti biasa, Janna hanya mengangguk singkat sebelum mengenakan jaket yang juga berwarna hitam miliknya. Helm yang tergeletakn di atas meja kecil di ujung ruangan dia raih.
"Baiklah, hati hati. Apa Dylan sudah memberikan pengarahan?" Janna kembali mengangguk. Helm mahal yang tampak berwarna hitam dove itu dia kepit diantara lengan dan pinggangnya. Seperti orang orang biasa membawa bola basket. "Bagus. Jangan gegabah, awasi sekitarmu dan langsung kembali jika terjadi sesuatu."
Percakapan sepihak antara William dan Janna berhasil membingungkan Angkasa. Tidak hanya bagaimana Janna dapat setia untuk tidak mengeluarkan sepatah katapun, tetapi bagaimana William dapat berbicara seperti seorang yang profesional. Selama ini Angkasa hanya bertemu dengan William yang i***t, bodoh, aneh, dan absurd. Sepertinya masih banyak sisi William yang belum dia ketahui.
Janna tidak langsung berjalan menuju lift yang terletak di dekatnya. Wanita itu malah kembali menuju bagian ruangan yang berjauhan dengan lift dan berdiri tepat di hadapan dinding besar di bawah jam digital yang tergantung di atas dinding tersebut sekitar 10 meter diatas lantai ruangan. Wanita itu mengetuk dinding pelan, menimbulkan sebuah alat kecil yang tampak seperti kalkulator. Janna memasukkan beberapa angka sebelum dinding raksasa itu terbuka. Menampilkan sebuah gantungan raksasa yang dipenuhi dengan senjata senjata mengerikan.
Tangan Janna dengan cekatan meraih dua pistol kecil dengan moncong senapan yang berbeda beda sebelum memasukkannya kedalam kaitan yang telah berada di dekat kantung celananya. Angkasa menatap aktivitas unik di hadapannya itu. Pria itu telah duduk di atas sofa besar yang berada di tengah ruangan. Kedua matanya menatap Janna sambil terbelalak, kehilangan kata kata. Dia bahkan menghiraukan gelakan tawa William di sebelahnya, juga kekehan Richard yang entah bagaimana tampak lebih menyebalkan dari tawa William.
Orang yang menjadi pusat perhatian hanya diam saja, tidak tertarik dan tidak mau tahu mengenai reaksi Angkasa di tengah ruangan. Janna lebih memilih untuk segera melangkah menuju lift, mulai menunggu sebelum beberapa detik, tubuhnya telah melangkah memasuki lift unik tersebut. Satu detik selanjutnya, bayangan Janna telah menghilang di balik pintu lift, meninggalkan suara gelak tawa William yang hingga sekarang masih belum padam juga.
"Wajahmu lucu sekali." William menepuk bahu Angkasa pelan, masih menghabiskan sisa sisa gelak tawanya. Angkasa menggeram, kesal dengan pemuda di sebelahnya. Tangannya secara otomatis menarik rambu biru William keras, membuat sang mahasiswa mengaduh kesal.
"Dasar menyebalkan!"
"Lepas! Lepas!" Jambakan pada rambut William semakin mengeras, membuat pemuda itu mengaduk kesakitan. Richard yang tadi sempat terkekeh telah melepas gelak tawa yang lebih keras dari tawa William beberapa detik lalu. Begitu juga dengan Kayla yang bahkan harus menepuk nepuk lengan Zeus di sebelahnya. Eden adalah satu satunya orang yang berusaha untuk melerai keduanya. Suaranya yang terdengar lembut berhasil membuat Angkasa berdecak kagum. Dia tidak pernah membayangkan bahwa suara Eden dan Richard seolah tertukar. Richard dengan tubuh pendek dan mungil dapat terdengar seperti seorang pria tua berotot, sedangkan Eden yang bertubuh tinggi dan berisi terdengar sangat lembut.
Cengkraman Angkasa pada rambut biru William baru terlepas setelah Dylan turun dan melerai dengan kedua tangannya sendiri. Angkasa mendengus, kedua tangannya secara otomatis kembali terlipat di depan d**a, sedangkan William mengusap kepalanya, kesakitan. Dia tidak tahu Angkasa akan melakukan hal itu. Tidak ada yang mengira jurnalis terkenal disebelahnya ini dapat bertindak kekanakan seperti itu.
"Apa yang kalian lakukan? Richard, duduk yang benar!" Eden buru buru menarik Richard yang sudah hampir jatuh dari sofa yang dia duduki. Dylan telah berdiri di hadapan mereka dengan kedua tangan yang berkacak pinggang. Dahinya yang mengkerut menampilkan kebingungan dan kekesalannya.
"William, apa yang kau lakukan pada Angkasa?" Sang pemuda berambut biru itu terbelalak, "Dia yang tiba tiba menjambak rambutku! Kenapa jadi aku yang salah?"
"Angkasa tidak akan menjambak rambutmu kalau kau tidak melakukan apapun. Sekarang apa yang kau lakukan?' Angkasa mengangguk. Diam diam merasa seperti sedang dimarahi oleh ibunya yang tidak pernah ada (mengingat dia seorang yatim piatu sejak kecil).
Satu jam kembali menghilang begitu saja sembari Dylan yang memarahi William. Angkasa akhirnya tahu bahwa Dylan adalah 'pengasuh' yang di tugaskan kedua orang tua William untuk memastikan anak mereka dapat tumbuh dengan baik. Itu sebabnya Dylan dapat dengan bebas memarahi William, juga memberikan hukuman jika memang perlu.
"Sudah berapa kali aku bilang untuk menghormati Angkasa? Kau yang membawanya masuk ke masalah ini. Jangan membuat Angkasa merasa tidak nyaman disini. Sekarang berbaikan! Ayo, berpelukan."
Apa? Angkasa mengerjab. Bukankah itu terlalu berlebihan? Dia tidak perlu berpelukan dengan Angkasa untuk berbaikan. Hanya sekedar kata maaf saja sudah cukup. Dylan tidak sedang memarahi anak kecil!
"Ayo, berpelukan! Tunggu apa lagi? Nanti butik yang ingin kalian kunjungi keburu tutup." Sekarang Dylan sudah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Angkasa dapat merasakan William yang meliriknya ragu ragu. Jangan bilang William benar benar akan melakukannya?
Dylan baru saja akan membuka bulutnya lagi saat William membentangkan kedua tangannya lebar lebar. Pemuda itu mengalihkan pandangan dari Angkasa, menolak untuk menatap jurnalis di sebelahnya. Angkasa sendiri terbelalak, menatap Dylan yang mengangguk padanya, menyuruhnya untuk menerima pelukan dari William.
Kejadian itu terjadi dengan sangat lambat. Angkasa yang harus mengangkat tangannya ragu ragu dan pria itu yang juga bergerak mendekati William. Saat tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan sang pemuda, Angkasa hampir saja memutuskan untuk berhenti, bilang bahwa dia sudah memaafkan William dan juga akan minta maaf telah menjambak rambut pemuda itu, tetapi William memiliki ide yang berbeda. Pemuda itu buru buru meraih lengan Angkasa dan mengundangnya kedalam sebuah pelukan kaku yang berlangsung selama beberapa detik.
"Sekarang minta maaf."
"Maaf aku tidak sopan padamu." Angkasa hanya mengangguk pelan, masih kaget dengan apapun yang baru saja dia alami beberapa detik yang lalu. Bagaimana bisa William langsung menurut pada Dylan? Semudah itu?
Ruangan besar itu kembali hidup setelah Dylan mengangguk, memutuskan bahwa permintaan maaf William sudah cukup memuaskan. Anggota lain yang mungkin telah terbiasa dengan pemandangan sebelumnya lebih memilih untuk kembali fokus pada pekerjaan mereka masing masing. Richard yang duduk di sebelah Angkasa masih sibuk bersandar pada Eden yang berusaha untuk mencari posisi nyaman bagi keduanya.
"Oh iya, kalian berdua jangan terlalu membenci satu sama lain. Nanti jadinya jatuh cinta lho~" Ingin rasanya Angkasa dan William meraih sesuatu dan melemparkannya pada Kayla yang kembali terkekh di sebelah Zeus, menikmati setiap elusan lembut pada rambutnya yang diberikan oleh Zeus. Angkasa memang tidak mendengar secara langsung status kedua orang yang sudah seperti magnet Utara dan Selatan itu, tetapi Angkasa dapat menyimpulkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Perkataan Kayla berhasil mengembalikan keadaan seperti sebelum keduanya berpelukan. William kembali mengganggu Angkasa, kali ini secara diam diam agar tidak ketahuan oleh Dylan yang sibuk membuat kopi di ujung ruangan. Angkasa sendiri lebih memilih untuk menahan amarahnya, tidak ingin melalui pengalaman yang dia lalui beberapa detik yang lalu untuk kedua kalinya.
Beberapa menit, William memutuskan untuk menyeret Angkasa menuju basement miliknya. Jadwal mereka telah tertunda selama beberapa jam dan William harus memastikan bahwa setelan yang dia bi;ih untuk Angkasa dapat dikenakan oleh pria itu.
"Hati hati dijalan. Jangan berbelok ke hotel ya." Angkasa benar benar akan melemparkan dokumen tebal miliknya saat dia bertemu dengan Kayla lagi.