Chapter 7: Magic room

2041 Kata
Hari ini Angkasa bangun dengan perasaan tidak menentu. Bingung antara mau kesal atau antusias. Seperti yang dikatakan kemarin, Angkasa harus ikut dengan William setelah dia menyelesaikan pekerjaannya nanti. Kata pemuda itu, dia akan membelikan setelan mahal khsusu untuk misi kali ini. Semalam saat dia dalam perjalanan pulang dari Black alley, dia juga telah mendapatkan pesan dari william yang menyampaikan bahwa Richard dan Eden telah menemukan lokasi pertemuan beberapa anggota hari minggu ini. Sabtu ini dimulai dengan Angkasa yang harus masuk kantor, setidaknya untuk mengisi absensi dan menyerahkan beberapa tulisannya pada editor sambil merencanakan design yang dia inginkan. Berbeda dari Jurnalis lainnya, Angkasa memiliki sekitar tiga halaman penuh pada sebuah majalah ataupun koran. Dia juga menentukan warna hingga tema yang dia inginkan pada beberapa halaman. Angkasa menghela nafas lega. Setidaknya setelah dua hari melelahkan ini dia bisa memulai harinya dengan rutinitas biasanya. Seperti biasanya, Angkasa memutuskan untuk singgah di kedai kopi favoritnya sebelum benar benar melakukan perjalanan menuju kantor yang entah mengapa sangat dia rindukan itu. Seumur hidup, Angkasa tidak pernah mengira bahwa dia akan merindukan tempat keramat itu. Hanya keajabian berbentuk William yang datang ke hidupnya yang membuatnya seperti itu. Mobil merah minimalis miliknya terparkir apik pada halaman parkir gedung perusahaan tersebut. Angkasa turun dengan tangan yang dipenuhi dokumen dokumen tebal yang tidak dapat dia masukkan kedalam tas. Cangkir kopi yang isinya tinggal setengah juga tergenggam kokoh di tangan kanannya. Sepertinya kedatangan Angkasa pada parkiran gedung itu berhasil menyita perhatian Alex, junior sekaligus sahabatnya yang terpatut 3 tahun dengannya. Pria berumur 25 tahun itu sama pendeknya dengan Angkasa. Mungkin hanya lebih tinggi 2 cm dari seniornya tersebut dengan tubuh berotot. Rambutnya hitam legam dengan potongan undercut yang tampak keren untuknya.  "Si genius Angkasa akhirnya masuk juga.' Si jenius. Itu salah satu julukan Angkasa di kantor ini. Dia dikenal begitu karena pikirannya yang kritis, dia juga seorang pekerja yang cepat. Itu pula yang membuat Angkasa berhasil melampaui deadline manapun, mencari berita hangat yang bermutu. Tidak hanya meliputi acara lahiran seorang selebriti yang ditinggal suaminya. "Alex apa kau berhasil sampai sebelum terlambat kemarin?" Sang junior menyengir lebar. Tidak perlu ditanya lagi, sudah pasti jawabannya adalah tidak. Angkasa menghela nafas. Memang salah meminta tolong pada Alex. "Tapi tenang saja. Aku sudah bicara pada Randy. Dia bilang kau tidak akan tercatat terlambat. Enak sekali kau. Memangnya kemarin bangun jam berapa?" Angkasa membutar bola mata kesal. Dari pada menjawab, dia lebih memilih untuk menyodorkan separuh dari dokumen yang dia bawa pada tangan junironya itu. "Eh? Kenapa malah diberi dokumen dokumen ini?" "Diam. Aku mau minum kopi. Dua hari ini benar benar melelahkan." Alex mengerjab. Dia memang sering melihat Angkasa kelelahan, tapi berbeda dengan saat ini. Angkasa tampak stress, bingung dan entahlah, dia tampak khawatir. Khawatir dalam konteks yang baik (jika itu masuk akal). "Omong omong kau tidak cerita sama sekali tentang perjalananmu kemarin. Bagaimana hasilnya?" Angkasa hanya menatap singkat sebelum menyumpal mulutnya sendiri dengan sedotan kopi ditangannya. Tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan sang sahabat. Pintu lift di hadapan mereka terbuka. Angkasa buru buru berjalan masuk, takut takut jika tiba tiba pintu otomatis itu tertutup. Dia pernah terjepit pintu lift saat masih kecil. Memang tidak terluka, tetapi bayangkan seorang anak kecil berumur 9 tahun yang sedang enak enak berjalan tiba tiba terjepit diantara dua besi besar. Apa tidak menakutkan?  Alex hanya terkekeh, mengetahui fakta mengenai ketakutan Angkasa terhadap kejadian pintu lift yang tertutup secara tiba tiba. Tangannya yang lebih bebas menekan tombol 3 disana. Kantor divisi mereka ada di tantai tersebut.  "Aku tidak akan banyak tanya, hanya pastikan bahwa kau baik baik saja. Pekerjaan jurnalis tidak seharusnya sangat berbahaya. Kau hanya melangkah melampaui batas." Tidak ada jawaban. Angkasa hanya menyeruput kopinya lebih kencang, menandakan bahwa dia mendengar perkataan Alex. Pink lift kembali terbuka. Kali ini tepat di lantai tiga. Alex dengan sukarela berjalan mengikuti Angkasa demi menaruk dokumen dokumen sang senior di atas mejanya. "Aku akan kembali saat makan siang nanti. Semoga harimu menyenangkan." Alex melambai dramatis, membuat Angkasa mengigit sedotan di mulutnya sebelum menganguk. Baiklah, sekarang waktunya untuk bekerja. Hari berjalan dengan cepat. Untuk beberapa saat, Angkasa kembali tenggelam dalam dunia penuh deadline dan layar komputer. Selama dua hari ini dia tidak terlalu banyak mengetik, hanya sibuk menyetir kesana kemari untuk mencari jejak yang baru saja dia buktikan. Jam di kantor menunjukkan pukul 5 sore hari. Angkasa telah merasakan ponselnya yang terus bergetar. dia tidak perlu melihat untuk tahu bahwa itu adalah pesan dari William. Angkasa baru membereskan barang barangnya saat Alex berjalan mendekat. Sang junior memang biasa mengajaknya untuk pulang bersama, tetapi hari ini Angkasa harus menolak. "Sudah siap?" "Sorry hari ini aku ada janji. Mungkin hari senin?" Salah satu alis Alex terangkat. Angkasa memiliki janji dengan orang? Apa temannya? Tidak, Angkasa tidak memiliki banyak teman. Dia terlalu sibuk dengan laptop dan beritanya untuk memiliki teman. Beberapa detik lenyap dalam pikirannya sendiri, Alex tidak menyadari Angkasa yang sudah berjalan menuju lift gedung. Pintu itu baru saja terbuka saat Alex menyadari absennya Angkasa dari hadapannya. "Cepat sekali dia menghilang. Apa jangan jangan dia mau bertemu dengan pacarnya? Ah, tidak mungkin." Hanya membutuhkan waktu beberapa detik bagi pintu lift untuk kembali terbuka. Lobby gedung yang tampak ramai dengan beberapa pekerja dengan cepat dilalui begitu saja. Angkasa sudah berdiri di depan mobilnya. Untungnya dokumen berat nan tebal yang tadi pagi dia bawa telah dia letakkan di meja kantornya. Angkasa baru membuka pesan William setelah dia duduk di belakang kemudi sembali memasang sabuk pengaman. "Dia ingin aku menjemputnya di Black alley? Yang benar saja?!" Rasanya ingin sekali Angkasa merutuki pemuda berambut biru itu. Sepertinya jika rutukan rutukan itu adalah batu batu yang dilempat William sudah terbaring bersimbah darah akibat lembaran batu tersebut. Sayangnya tidak ada waktu untuk kesal. Angkasa buru buru tancap gas. Mobil miliknya melaju kencang menuju Black alley. Dengan absennya William di dalam mobilnya, Angkasa harus memarkirkan mobilnya di mini market dekat sana. Dia sudah mengirim pesan pada William saat di lampu merah tadi dan meminta pemuda menyebalkan itu untuk menunggunya di restaurant. Dia tidak memiliki bola mata yang cocok dengan anggota lainnya. Kedua kaki Angkasa melangkah pelan. Berjalan melalui gang sempit nan gelap saat matahari sudah terbenam bukan hobinya. Untungnya dia membawa ponsel dan dengan cepat menyalakan fitur flashlight. Tas ransel yang selalu menemaninya dia peluk erat erat, tidak tahu apakah itu akan membuatnya lebih berani.  Jarak menuju restaurant yang berada di ujung gang hanya berkisar beberapa meter. Angkasa dapat melihat plang Yellow Alley yang bercahaya. Dia memutuskan untuk berlari. Lebih cepat sampa lebih baik. Angkasa berhenti tepat di hadapan William yang juga baru berjalan keluar restaurant, hampir menubruk pemuda berambut norak itu.  "Woah, kau baik baik saja? Kenapa kau seperti habis melihat hantu begitu?" Angkasa menggeleng, masih berusaha untuk mengatur nafasnya. Dia tidak pandai olahraga dan berlari sejauh 20 meter ditambah adrenalin dan bayangan bayangan tangan misterius yang akan menyeretnya dari belakang membuatnya hampir terkenal serangan jantung. Untuk sekali, William memutuskan untuk tidak menjadi seorang b******n dan menunjun Angkasa yang kesulitan mengatur nafasnya masuk ke dalam restaurant. Dylan yang melihat wajah berkeringan Angkasa tersenyum miris dan buru buru menyiapkan segelas air putih untuk rekan barunya. "Kau harus memberikan akses tempat tempat aneh di gedung belakang itu agar aku tidak jantungan setiap kali harus datang kesini malam malam." Angkasa terus komat kamit. Sesekali dia berhenti untuk menegak segelas air yang diberikan oleh Dylan. Restaurant itu tampaknya masih buka. Lebih tepatnya tampak jauh lebih ramai dari terakhir kali Angkasa berkunjung. Banyak anak muda yang duduk nongkrong sambil bercengkrama santai dengan teman teman mereka. Ada pula karyawan kantoran yang duduk sendirian dan sibuk dengan ponselnya sambil menimkmati makanan mereka.  "Sudah selesai? Kau harus melihat sesuatu terlebih dahulu. Baru kita pergi shoping. Apa kau keberatan?" Angkasa menggeleng. William yang normal adalah William yang dapat di toleransi. Pemuda berambut biru itu hanyan mengangguk sebelum menunggu Angkasa untuk bangkit berdiri dan melangkah menuju ruang staff. Mereka kemudian kembali melalui lorong lorong yang walau baru kedua kalinya Angkasa lewati telah terasa familiar bagi sang jurnalis. Tak lama, ruang raksasa yang telah dia kunjungi dua hari belakangan telah tampak di hadapannya. Kelima anggota Black alley tampak duduk di sofa, sibuk dengan diri mereka masing masing. Zeus dan Kayla duduk bersebelahan. Gadis manis dengan suara melengking itu duduk sembari bersandar pada d**a bidang Zeus yang sibuk menatap wajah Kayla. Janna yang duduk di sebuah sofa single sibuk dengan tabletnya, entah melakukan apa. Eden dan Richard seperti biasa berada di dekat satu sama lain. Kali ini Eden tampak fokus pada ponselnya. Sebuah laptop tergeletak di pangkuannya. Richard yang duduk di sebelahnya tampak menatap layar laptop, memonitori sesuatu. "Richard, kita ke kamarmu. Tunjukkan 'itu' pada Angkasa." Sang pria berambut jamur mendongak sebelum mengangguk. Dia masih sempat membisikkan instruksi pada Eden, menunjuk sesuatu di layar laptopnya yang dengan serius di simak oleh sahabatnya tersebut. Richard baru bergabung dengan keduanya di dalam lift setelah 10 detik William terus menekan tombol buka. "Aku tidak tahu apa kalian dapat melakukannya, tetapi dia adalah satu satunya orang yang dapat melakukan semuanya dengan cepat." Richard menekan tombol 18K. Lift itu terus bergerak dengan gerakan abstrak. Kadang mundur, kadang naik, kadang kekiri. Angkasa kembali harus berpegangan pada dinding sekitar. Berhasil membuat William tersenyum miring. Siap ingin menggoda Angkasa yang sudah menatapnya sembari mendelik. Beberapa detik berlalu, pintu lift terbuka. Menampilkan sebuah ruangan yang cukup luas. Sebuah kamar yang dipenuhi dengan lampu lampu neon dan peralatan elektronik berserakan dimana mana. Angkasa sendiri kesulitan untuk berjalan tanpa menginjak kabel kabel yang tergeletak secara teratur dilantai. Sayangnya saking banyaknya, ruang untuk menapak jadi semakin sedikit.  "Injak saja. Tidak masalah kok. Ini." Richard menunjuk salah satu dari 6 layar komputer di hadapannya. Terdapat beberapa informasi mengenai Garet disana. Angkasa tidak terkejut. Dia mengetahui siapa Garet dan walaupun tidak pernah bertemu oleh pria itu, dia sering mendengar kabar dari rekan rekannya. Garet adalah seorang pengusaha eksport import yang sangat berpengaruh di Indonesia. Perawakannya menyeramkan akibat tubuhnya yang besar dan dia adalah tipe orang yang sangat jujur. Garet tidak akan segan segan menghentikan sesi wawancara jika dia merasa pertanyaan yang diajukan tidak menarik, atau buang buang waktu. Bahkan beberapa Jurnalis harus diseret keluar dari ruangannya. "Kita akan berbicara pada orang itu? Kenapa harus dia?" "Dia satu satunya orang yang sangat dipercaya Joseph sehingga tidak perlu mendaftarkan nama orang orang yang ingin mengikuti acara lelang itu. Artinya, kalian tidak akan perlu melalui background check dengan detail. Tugas kalian hanya perlu berbicara padanya dan membuat kalian menyukai setidaknya salah satu dari kalian."  Angkasa menggeleng, "Jauh lebih sulit dari yang kau katakan. Garet tipe orang yang mudah bosan. Banyak jurnalis yang harus berhenti di tengah pertanyaan karena orang itu memutuskan bahwa dia memiliki pekerjaan yang lebih penting dari pada menjawab pertanyaan pertanyaan mereka. Ada pula yang diseret keluar ruangannya karena dia memutusakn bahwa wajah mereka terlihat menyebalkan." Ketiganya terdiam. Richard memang tidak memiliki sangkut paut mengenai maslaah ini. Tugasnya hanya mencari informasi, meminimalisir kemungkinan buruk (yang tampaknya tidak terlalu berhasil sekarang), dan memastikan backup. Masalah pelaksanaan rencana adalah tugas William dan Angkasa yang sekarang sedang berdiri sibuk tenggelam dalam pikiran masing masing. "Apa menurutmu wajahku tampak menyebalkan?" Angkasa tersenyum tipis, menatap wajah William yang balik mentapanya serius. Jurnalis itu mengangguk, "Sangat."  "Sial. Apa yang harus kita lakukan?" "Aku tidak pernah bertemu dengannya. Sebagai Jurnalis faceless seharusnya dia tidak menetahui wajahku, jadi aku tidak tahu bagaimana reaksinya melihat wajahku, tetapi aku harap aku dapat berbicara padanya. Rencananya adalah dengan tidak secara langsung menanyakan mengenai lelang itu. Biarkan dia yang mulai menyelaskan mengenai hal itu. Biarkan Garet sendiri yang akan memberikan akses itu pada kita. Dengan begitu kita juga memiliki banyak waktu untuk menyusun identitas baru jika diakhir kita tidak berhasil. Richard, kau dapat melakukan melakukan hal itu, bukan?" Sang pria berambut jamur mengangguk. Itu hal mudah baginya. "Apa menurutmu Garet akan dengan senang hati menawarkan akses itu? 'Hei, apa kau ingin ikut lelang misterius yang diadakan oleh organisasi misterius? Ini aksesnya. Jangan lupa datang ya' begitu?" William mendnegus, sedikit terkekeh mendengar kalimatnya sendiri. Angkasa di sebelahnya memutar bola mata malas. "Tenang saja, itu adalah bagianku. Aku yang akan berbicara padanya. Kau, diam saja. bantu berbicara pada yang lainnya. Mungkin kau bisa mendapat informasi penting lainnya." Sore itu dihabiskan untuk mengatur rencana baru mereka. Richard dan Angkasa sibuk menyusun infromasi baru untuk identitasnya dan William. William disisi lain sibuk bermeditasi, berusaha untuk mendalami peran katanya. Jadilah shoping mereka tertunda demi menyusun rencana baru ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN