Chapter 6: Yes, Sir

1608 Kata
Perjalanan menuju restaurant lebih banyak dihiasi dengan ocehan William mengenai kampusnya dan bagaimana dia harus menyelesaikan setiap tugas seukuran dgajah dan deadline seukuran semut. Angkasa hanya mangut mangut, tidak benar benar mendengarkan penjelasan William mengenai sekolah seni yang dihadiri pemuda brambut biru tersebut. Pikirannya terus berlabu pada perjanjian terlarang itu. Lungo Viaggio. Orang orang terlalu serakah, sangat serakah hingga muncul ide cemerlang ini. 2 jam berlalu dengan cepat. Mobil Brio Angkasa yang baru saja akan parkir di halaman parkir mini market yang sama dengan kemarin harus banting setir saat William menginstruksikan Angkasa terus berjalan lurus. "Di depan sana ada jalan kekiri. Nanti belok, lalu beok lagi ke kiri. Nanti ada gedung perkantoran. Kita parkir disana." Angkasa mengernyitkan bahu bingung, tetapi mengikuti instruksi William yang akhrinya terdiam setelah menyadari ceritanya tidak digubris oleh Jurnalis terkenal di sebelahnya.  Gedung perkantoran yang dimaksud oleh William adalah sebuah gedung perkantoran raksasa milik sebuah perusahaan. Puluhan lantainya terisi penuh dengan kantor kantor mini cabang dari puluhan perusahaan lain. Mobil Angkasa meluncur memasuki basement. William menyodorkan ponselnya saat Angkasa akan menekan mesin tiket parkir, menyuruh Angkasa untuk men scan layar ponselnya pada mesin tersebut. Portal di hadapan mereka terbuka secara otomatis, membiarkan Angkasa masuk tanpa tiket. "Basement ini adalah salah satu propertiku. Rancangan Richard dan kayla." Itu jawaban William saat merasakan tatapan bingung Angkasa. Sang pria yang lebih tua memutuskan untuk mengangguk, mempercayai perkataan William setelah melihat ruangan bawah tanah yang lebih besar dari restaurant di atasnya. Pergerakan Angkasa yang ingin memarkirkan mobilnya di salah satu parkiran kosong kembali terhenti saat William menyuruhnya untuk terus turun hingga lantar paling bawah basement tersebut. Mobil Angkasa terhenti tepat di hadapan sebuah tembok semen yang terhiaskan dengan angka 23 disana.  "Sekarang apa?" Angkasa menatap William. Mulai kesal dengan tindakan absurd pemuda di sebelahnya. William dilain sisi hanya tersenyum, kembali menyombongkan diri seperti biasanya. Pemuda itu hanya menatap Angkasa sebentar sebelum kembali meraih ponselnya dan menekan sesuatu pada layarnya. Tembok di hadapan mereka mulai bergerak naik. Menampilkan sebuah garasi modern yang didominasi warna biru, mengingatkan Angkasa pada rambut William. Kedua mata Angkasa masih terbelalak saat William menyuruhnya untuk parkir di sebelah Ferrari berwarna biru tua. Tembok semen yang tadinya terbuka sekarang sudah kembali tertutup. Angkasa dapat melihat sekeliling dengan lebih baik. Garasi itu luas, sangat luas dan di penuhi dengan belasan mobil mahal. Pemandangan di hadapannya ini membuatnya teringat akan perasaan insecure yang dia rasakan saat melihat mobil mobil di Jade Emperor beberapa jam yang lalu. Bedanya ini lebih ekstrim dengan segala teknologi tembok melayang tadi.  "Keren, bukan?" Pertanyaan William berhasil memecahkan lamunan Angkasa. Pemuda berambut biru itu sudah berdiri di luar mobil. Angkasa bahkan tidak menyadari pintu mobilnya yang sudah tertutup. Apa William tinggal di dunia fantasi? Atau Science Fiction? Apa dia tinggal bersama Ironman? Angkasa memutuskan untuk menghiraukan pertanyaan William. Dia tahu jika dia mengangguk, William akan bertindak seolah dia manusia terbaik yang pernah ada. Ego pemuda itu masih terlalu tinggi, mudah tersanjung. Keduanya kemudian berjalan menuju sebuah lift yang terletak di ujung ruangan. William menekan tombol naik dan menunggu selama beberapa detik sebelum pintu lift terbuka. Lift itu tampak seperti lift pada umumnya. Sayangnya angka angka yang terdapat dapat lift tersebut tersusun secara acak. Angka angka yang tercantum disana adalah 2, 4, 5, 9, 11, 18, 23 dan 26. Masing masing tertulis dua kali dengan huruf K dan B di belakangnya (kecuali nomor 2 yang hanya tertulis sekali).  Angka 2 adalah tujuan mereka kali ini. William menekan tombol yang menunjukkan angka 2. Lift bergerak secara perlahan. Semuanya terasa cukup normal hingga Angkasa merasa pergerakan lift yang berubah. Dari pada bergerak naik seperti beberala detik yang lalu. Lift terasa bergerak kekiri. Setelah itu manju beberapa meter dengan sedikit getaran yang membuat Angkasa harus bersandar pada dinding lift agar tidak terjatuh. "Apa kau baik baik saja, Tuan Angkasa?" William yang menyodorkan tangannya di hadapan Angkasa berhasil membuat perasaannya kembali. Lupakan kerennya teknologi ini. Toh dia tetap harus berada di dekat William untuk menikmatinya. Untuk apa dia mengalami pengalaman keren ini jika terus merasa kesal akibat pemuda ingusan di sebelahnya ini? Pintu lift terbuka pelan, menunjukkan ruangan raksasa yang tampak sangat familiar di mata Angkasa. Ruangan Black alley. Richard dan Eden yang masih sibuk bermain dengan alat arcade di dekat pintu lift tampak tidak ambil pusing dengan siapapun yang baru datang. Dylan yang berbicara pada seorang gadis pendek (kali ini lebih pendek dari Angkasa) hanya menatap singkat. Janna dan Seorang pria lainnya duduk diatas sofa raksasa yang kemarin mereka duduki selama acara perkenalan. Masing masing tampak membersihkan sesuatu. "William, apa kau mendapatkan sesuatu?" Dylan berjalan mendekat setelah menyodorkan tablet yang dia genggam pada gadis pendek di hadapannya. Kayla, jika Angkasa tidak salah ingat buru buru berjalan mendekati pria asing yang jika tidak salah pula bernama Zeus.  "Aku mendapatkan sesuatu. Mereka sedang mencari pengakuan publik. Tidak, mereka mencari pengakuan kalangan atas. Seluruh dokumen yang kita kumpulkan, rekaman percakapan adalah sesuatu yang sangat kuno. Tidak penting. Mereka sudah memantapkan hati. Tinggal mencari dukungan orang orang. Sepertinya Joseph benar benar mendapatkan banyak bawahan yang terpercaya."  Ketiganya telah duduk di atas sofa raksasa. Tepat di sebelah Janna yang ternyata sibuk membersihkan pistol miliknya. Jangan tanya mengapa wanita itu memiliki pistol. Angkasa juga tidak tahu. Dia sekarang duduk di sebelah William. Eden dan Richard yang juga ikut mendengar percakapan William dan Dylan telah berjalan mendekat. Eden dengan senang hati memberikan ruang duduk di sebelah Angkasa untuk Richard, sedangkan dia berdiri di belakang pria berambut jamur itu. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Menjawab pertanyaan itu, William menyodorkan sebuah kertas kecil. Tulisannya yang sudah seperti tulisan dokter itu membuat Dylan yang membaca sedikit tersenyum kecut. Bukankah William ini anak seni? Kenapa kaligrafinya lebih cocok jika menjadi mahasiswa kedokteran? kayla yang duduk di sebelah Dylan juga ikut membaca isi kertas tersebut. Gadis itu mengernyit, "Apa yang kau tulis disini? Apa kau menggambar? Itu gunung kan?" Zeus, pria yang ternyata sibuk membersihkan pistol miliknya juga kali ini bergerak untuk mengelus rambut Kayla. Angkasa hampir saya memekik saat menyadari pergerakan tiba tiba pria itu. Apa dia lupa mengenai pistol di tangan lainnya? Bagaimana bisa orang orang ini duduk tenang saat ada dua temannya menggenggam pistol begitu saja? "Green house. Kalian tahu mengenai apartement baru itu?"  Green house. Apartement mewah yang baru saja selesai dibangun sekitar dua bulan yang lalu. Bossnya, Hans pernah menginap disana selama beberapa hari. Itu adalah kamar milik kedua orang tua Hans. Saat pertama kali dibuka untuk umum, Angkasa sendiri yang meliputi acaranya. "Mereka akan melakukan pelelangan disana. Hanya orang orang terdaftar yang dapat masuk. Kabar buruknya, kita tidak terdaftar. Kabar baiknya, ada cara mudah untuk mendaftarkan diri. Kita hanya perlu menemui salah satu dari anggota yang sudah terdaftar, lalu mereka akan memberikan sebuah kartu akses. Selesai. Masalahnya, kita harus mengambil hati orang itu." Ruangan besar itu hening selama beberapa saat. Dylan dan kayla yang duduk bersebelahan masih menatap secarik kertas kecil yang ternyata bertuliskan 'Green house' entah bagaimana tulisan simpel itu bisa tampak seperti lukisan gungung. Keheningan terus berlanjut. Tidak ada satupun yang berniat untuk membuka percakapan. "Omong omong siapa dia?" Suara tinggi Kayla akhirnya terdengar, membuat Angkasa menghela nafas lega. Berdiam diri dengan tujuh orang asing dan dua diantara mereka memiliki pistol di tangan bukan pengalaman yang menyenangkan.  "Dia rekan baru kita. Namanya Angkasa Abisatya. Kau pasti tahu." William mengibaskan tangan. Itu bukan percakapan yang ingin dia dengar sekarang. Pemuda itu kembali berpikir, membiarkan Kayla yang menatap Angkasa sambil mangut mangut. Angkasa sendiri hanya tersenyum dan melambaikan tangan pelan. "Lalu kenapa tidak kalian berdua saja yang pergi? Angkasa kan seorang jurnalis. Pasti pintar bicara. kau sendiri orang aneh, tapi cukup seru jika diajak mengobrol. Biarkan Angkasa berbicara terlebih dahulu. Setelah mereka nyaman, baru kau mulai bicara. Apa susahnya, sih?" Rencana yang dikatakan oleh Kayla dengan maksud mengomel itu terdengar seperti rencana bagus d telinga Dylan. Pria tinggi nan tampan itu mengangguk, setuju dengan celetuk Kayla yang membuat William juga setuju. Lalu semuanya beruntutan dan akhirnya seluruh anggota setuju akan rencana tersebut. "Sudah ditetapkan. Richard, Eden. Kalian akan mencari tahu kemana orang orang itu berkumpul. Angkasa, kita akan shoping untuk misi ini. Kita harus tampil bagus, bermodis. Besok adalah hari sabtu. Apa kau bekerja di hari sabtu?"  Apakah Angkasa bekerja di hari sabtu? Ya. Anggukan Angkasa berhasil membuat William tercengang, "Kau bekerja di hari sabtu? Berapa gajimu?" Mulai lah sisi dramatis William keluar. Angkasa hanya memutar bola mata malas, "Bukan urusanmu."  "Baiklah, jangan muram begitu. Aku akan menjemputmu besok. Apa kau memiliki nomor telponku? Tentu saja tidak. Sini biar aku isi." Ponsel Angkasa yang dia letakkan di kantung celananya diraih begitu saja. Pemuda itu buru buru membuka ponsel, tersenyum senang saat mendapati tidak ada password yang terpasang.  "Kau harus memasang password pada ponselmu. Apa lagi kau seorang Jurnalis. Jika informasi informasi yang kau dapatkan jatuh ketangan orang yang tidak baik akan sangat berbahaya." William mencantumkan nomor ponselnya pada kontak Angkasa dengan satu tangan. Tangan lainnya meraih kedua tangan Angkasa yang masih sibuk berusaha untuk mengambil kembali ponsel miliknya.  Dilain sisi, Angkasa sedang berusaha untuk melepaskan kedua tangannya dari genggaman William. Kenapa orang ini bisa memiliki tangan sebesar itu? Kenapa pula tenaganya bosa kuat sekali? "Nah, sudah selesai. Pasang password pada ponselmu." Dalam sekejab ponsel Angkasa telah kembali pada pangkuan sang pemilik. Nomor kontak William terpampang jelas disana. Nama William dengan emotikon hati di belakangnya membuat Angkasa ingin menjambak rambut pemuda di sebelahnya yang sudah mirip seperti anak ayam yang di cat. "Aku juga sudah misscall nomorku. Sekarang kita punya nomor masing masing." Tangan William menunjukkan layar ponselnya yang telah memiliki kontak Angkasa. Namanya juga dihiasi dengan emotikon.... hamster? "Dasar tidak sopan! Aku ini lebih tua darimu!" Dan jadilah kedua rekan baru itu bertengkar diantara rekan rekan mereka lainnya yang sibuk menonton. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN