Kompleks apartement mahal tersebut tampak lenggang. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Angkasa akhirnya sampai di apartementnya. Tadi setelah Eden memberikan laporan singkat mengenai bukti yang dapat mereka berikan terkait kasus ini, Dylan datang dengan membawa ayam saos Inggris yang telah Angkasa lupakan. Pria itu merasa bersalah, dia tidak seharusnya melupakan kelezatan ayam saos Inggris yang luar biasa itu.
Bukti laporan itu berisi sebuah pertemuan yang diadakan oleh 13 orang setiap hari minggu. Mereka biasanya bertemu di sebuah gym elite yang terletak di kawasan elite pula. Hanya orang orang yang memang merupakan member VIP yang dapat mengunjungi tempat tersebut. Selembar kertas yang sekarang terbungkus amplop besar di tangan Angkasa telah mencangkupi seluruh isi percakapan, hingga rencana rencana mereka. Seperti yang dikatakan Richard tadi, 13 orang kaya raya itu hanya bidak kecil yang dimainkan sekali kalu. Mereka melakukan pertemuan untuk mendengarkan kemajuan perjanjian setiap hari Jumat.
Keputusan yang aneh dan sedikit gegabah. Siapapun yang memperhatikan pasti akan menyadari keberadaan 13 orang itu di tempat dan jam yang sama setiap hari Jumat. Apa lagi mereka yang memang bergerak untuk mecari informasi dan sudah ahli dalam bidangnya seperti Black alley.
Ruang Apartement Angkasa cukup besar untuk ukuran sebuah apartement. Ruangan 6 meter kali 7 meter itu terdiri dari dapur, ruang tamu dan satu kamar utama. Ada sebuah ruangan kecil yang dapat dibukana untuk ruang tamu, tetapi karena Angkasa jarang menerima tamu (tidur di apartementnya pun jarang) dia memutusakn untuk menggunakan ruangan itu sebagai sebuah gudang mini. Tempat dimana dia meletakkan semua prestasi prestasi yang pernah dia raih, sertifikat, medali, piala, hingga meletakkan barang barang tidak penting seperti kolam perang pompa hingga vas bunga yang menampun berbagai macam mainan kanak kanak.
Angkasa adalah seorang yatim piatu yang besar di sebuah panti asuhan kecil. Pria itu memutuskan untuk keluar dari tempat tersebut saat umurnya 18 tahun, mencari beasiswa sendiri hingga sampailah dia di titik ini. Dia tidak pernah melupakan tempat itu. Tidak tahu pula apakah dia memiliki kenangan baik atau buruk di tempat itu. Barang barang ini dia beli saat umurnya 20 tahun. Untuk mengenang masa kecil yang tidak pernah dia miliki.
Air hangat yang membasuh wajahnya terasa nyaman bagi Angkasa. Dia sudah mempersihkan diri sekarang tinggal cuci muka sekalian gosok gigi sebelum tidur. Tadi sebelum pulang, dia juga sempat mampir ke kantornya. Dia menitip pesan pada kolega sekaligus junior sekaligus sahabatnya, Alex. Bilang bahwa besok dia akan pergi seharian dan mungkin tidak sempat pergi ke kantor untuk absensi. Pria yang tingginya terpatut 9 cm dengan Angkasa itu hanya mengangguk. Dia juga lelah karena harus lembur hari ini.
Besok Angkasa akan pergi mengunjungi gym itu. Awalnya dia ragu, tapi mau bagaimana lagi, rasa ingin tahunya tembali muncul. Lagi pula dia hanya akan menunggu di dalam mobil. Angkasa tidak ingin tahu menahu mengenai apa yang 13 orang kaya raya itu bicarakan di dalam sana. Itu bukan tugasnya. Lagi pula dia juga sudah mengetahui isi percakapan itu. Untungnya dia memiliki seorang kenalan yang dengan senang hati dapat meminjamkan kartu akses memasuki lapangan parkir gym tersebut.
Setelah menyelesaikan kegiatan bersih bersihnya, Angkasa buru buru berjalan menuju kamarnya. Dia harus beristirahat untuk memastikan bahwa dia dapat bangun tepat waktu besok. Ayah Saos Inggris yang sudah dia letakkan di kulkas akan menjadi menu sarapannya besok. Tingga panaskan di microwave dan jadi. Ponselnya dia letakkan di atas nakas yang terletak tepat di sebelah kepalanya. Angkasa sudah memastikan bahwa alarmnya sudah menyala dan dia juga sudah mengaktifkan mode pesawat. Tidak ingin diganggu semalaman ini. Lagi pula radiasi dari benda kecil itu juga dapat merusak otaknya. Dia tidak mau hal itu terjadi saat dia harus bekerja dengan menggunakan otaknya.
Malam terasa panjang. Entah apakah karena antusiasme, atau gugup, Angkasa kesulitan untuk terlelap. Mulai dari bayangan konferensi pers artis ternama, ayam saos Inggris yang tidak sabar dia nikmati, hingga wajah menyebalkan William tidak ada yang berhasil membuatnya terlelap. Pria itu menatap jam digital yang terletak di sebelah ponselnya. Pukul 00.23, sudah satu jam dia berbaring di atas kasurnya dan masih belum terlelap juga. Angkasa menggelebg, dia harus fokus untuk terlelap. Besok adalah hari besar yang mengharuskan dia untuk bangun pagi, mengingat lokasi tempat itu yang berada di atas bukit dan membutuhkan sekitar 2 jam perjalanan.
Pagi datang secepat informasi mengenai perjanjian terlarang yang dijelaskan oleh Richard dan Eden. Angkasa menghela nafas. Untung saja dia berhasil tidur sebelum pukul 2. Setidaknya dia mendapatkan sekitar 5 jam istirahat. Angkasa bangun dengan tubuh yang terasa ringat, cukup mengejutkan mengingat jadwal tidurnya yang minim, tetapi sepertinya pria itu sudah terbiasa dengan jadwal tidur yang memang minim setiap harinya.
Ayam saos Inggris yang dia panaskan terasa selezat kemarin, menunjukkan bahwa siapapun koki di Yellow alley memang merupakan koki yang luar biasa pandai memasak. Sarapan diselesaikan hanya dalam waktu 15 menit. Angkasa buru buru membersihkan diri, memilih pakaian yang akan dia kenakan, hingga membereskan beberapa hal yang harus dia bawa hari ini. Laptop hingga dokumen yang diberikan Eden kemarin telah siap di dalam tas ranselnya dalam setenagh jam. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Jadwalnya berjalan sesuai rencana. Pertemuan biasanya diadakan pukul 11 siang. Tidak ada yang tahu mengapa mereka pergi ke gym setiap hari jumat pukul 11 siang (kecuali Black alley dan Angkasa yang mengetahui informasi super rahasia tersebut).
Perjalanan yang akan dia tempu selaam dua jam membuat Angkasa harus mampir dulu ke sebuah kedai kopi terkenal dan memesan dua gelas kopi untuk dirinya sendiri. Dia harus memastikan bahwa kafein di tubuhnya terus bekerja. Dia juga menyempatkan diri untuk mengisi bensin, jaga jaga kalau dia tidak menemukan pom bensin selama perjalanan (yang seharusnya tidak mungkin terjadi mengingat kawasan itu adalah kawasan elite).
Kedua kopi Angkasa telah tandas setelah satu jam menyetir. Pria itu kemudian memfokuskan diri untuk menyetir, mungkin dia bisa sampai lebih dulu dan melakukan survei singkat. Bertanya pada satpam dan semacamnya.
Halaman resort mewah tersebut telah tampak di mata Angkasa. Nama "Jade Emperor' yang terukir langsung diatas batu marbel membuat Angkasa harus mengernyitkan hidung, entah mengapa dia merasa seperti sedang melakukan sebuah tindakan kriminal, membuntuti sekelompok orang kaya yang tidak dapat hidup tanpa uang mereka sehari pun. Pikiran itu buru buru dia tepis saat menyadari bahwa jam di mobilnya telah menunjukkan pukul 10 pagi. Dia harus buru buru masuk dan menunggu. Dokumen hanya menuliskan waktu mereka semua telah hadir, pukul 11 siang. Tidak ada yang tahu kapan satu per satu dari mereka akan menampakkan batang hidung mereka.
Angkasa buru buru menyodorkan kartu yang telah dia pinjam dari salah satu rekannya. Baru dia ambil saat tadi berjalanan menuju kedai kopi. Petugas hanya mengangguk, megemalikan kartu tersebut sebelum membuka portal di hadapannya. Angkasa tersenyum singkat sebelum kembali melaju.
Isi halaman parkir tempat itu kembali membuat Angkasa insecure. Mobil mobil mahal telah terpajang disana. Range over, Minicooper, hingga Jaguar ada disana. Honda Brio keluarantahun 2018 miliknya bukan lah sesuatu yang dia benci, sebaliknya. Dia sangat bangga dapat membeli mobil kesayangan yang telah menemaninya selama 2 tahun belakangan ini, tetapi melihat harga harga mobil di sekitarnya yang jauh lebih mahal di bandingkan gajinya selama satu hingga dua tahun membuat Angkasa semakin muram. Wajahnya tertekuk menahan kesal. Dia sudah bekerja sangat keras, tapi orang orang yang beruntung terlahir menjadi anak miliyader inilah yang mendapati semua uang yang ada.
Beberapa menit menunggu dengan laptop di pangkuan, Angkasa menatap masing masing orang yang berjalan memasuki bagian gedung gym. Mobilnya dilengkapi dengan kaca yang cukup gelap, membuat orang orang kesulitan untuk melihat ke dalam. Layar laptopya dengan setia menunjukkan foto tiga belas orang yang namanya tercantum dalam dokumen. Seperti yang dikatakan Angkasa tadi, orang orang ini adalah pemuda pemudi anak konglomerat yang tidak mengetahui bagaimana cara berinvestasi.
Satu jam berlalu, hanya dua orang yang tercantum dalam list yang sudah memasuki gedung tersebut. Angkasa mengernyit. Kedua matanya terus menatap jam digital yang terdapat pada mobil miliknya. Sebentar lagi pukul 11 tepat. Apakah mereka sudah berkumpul sebelum pukul 10? Tidak mungkin. Mereka tidak akan menunggu terlalu lama.
Setengah jam kembali berlalu. Angkasa masih duduk dengan laptop di panguannya. Dia sudah dua kali menyalakan dan mematikan mesin mobilnya, terlalu panas jika harus berjemur dengan laptop di dalam mobil yang tidak menyala. Orang ketiga dalam daftar akhirnya sampai. Angkasa menatap lamat lamat serorang gadis di pertengahan 20 tahunnya berjalan cepat memasuki gadung gym. Rambutnya yang bergerlombang rapi tampak menjadi alasan keterlambatannya. Angkasa memutar bola mata malas, untuk saja dia tidak memutuskan untuk tidur sembari menunggu selesainya pertemuan.
Tidak ada yang menyangkan bahwa dari 13 orang yang menghadiri pertemuan, 7 diantara mereka terlambat lebih dari 1 jam. Ada yang baru sampai saat jam menunjukkan pukul 12.40 lebih. Angkasa harus menahan ringisan, jika itu dirinya dia akan langsung dimaki maki. Pria yang kali ini tampak berada di akhir 30 tahunnya itu melambaikan tangannya santai pada salah satu petugas disana. Masih sempat juga dia melakukan hal itu.
10 nama telah Angkasa tandai di layar laptopnya. Tinggal 3 nama lagi. Sayangnya setelah menunggu hingga pukul 2 siang, tetapi tidak ada satu orang pun yang masuk kedalam gedung tersebut. Mungkin ketiganya telah sampai sebelum pukul 10, atau mungkin sampai sebelum Angkasa mulai memperhatikan orang orang yang keluar masuk gedung tersebut.
Rombongan orang orang kaya itu akhirnya keluar pukul 2 lebih sedikit. Ada tiga belas orang yang berjalan berjauhan satu sama lain. Tiga orang yang namanya masih belum tertandai keluar terlebih dahulu dengan wajah masam. Begitu juga dengan dua orang yang berhasil dapat tepat waktu, tapi mepet. Mereka ikut serta menekuk wajah di belakang tiga orang sebelumnya.
Lengkap sudah list pada laptop Angkasa. Setiap nama sudah tertandai dengan fitur stabilo pada aplikasi word di laptopnya. Dokumen itu benar benar asli. Angkasa menghela nafas. Dia buru buru menyimpan file tersebut sebelum mematikan laptopnya. Benda itu perlu istirahat setelah berjuang di dalam ruangan sempit nan pengap yang disebut mobil.
Ketukan pada kaca mobil Angkasa berhasil membuat sang pria terlompat kaget. Walah William yang menyengir lebar tampak sangat jelas di balik kaca jendela mobilnya. Angkasa buru buru menurunkan kaca, terbelalak.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku juga mengikuti mereka. Apa kau tidak melihatku masuk tadi? Menurutmu bagaimana kami bisa mengikuti perkembangan perjanjain bodoh itu dengan minimnya informasi?" Angkasa menghela nafas. Dia hampir saja jantungan tadi.
"Bagaimana dengan kuliahmu? Bukankah seharusnya kau berada di kampus?" Angkasa menepuk tangan William yang berniat untuk membuka pintu mobil. Enak saja tiba tiba datang dan mau langsung masuk mobil orang. Tidak sopan.
"Aku memiliki caraku sendiri. Asep akan mengisi absensi untukku. Kalau maslaah tugas juga sudah aku urus. Kau tahu seberapa pentingnya hal ini, bukan? Bayangkan jika mereka berhasil mengerjakan rencana mengerikan ini. Bisnis bersih akan kacau."
"Bukan alasan untuk kau menepis kewajibanmu. Apa yang kau lakukan? Lepas tidak?!"
"Ayolah, biarkan aku masuk. Kita langsung ke restaurant. Ada hal penting yang harus aku katakan . Mereka mengalami kemajuan signifikan minggu ini. Kita tertinggal jauh." Perkataan William berhasil mengakhiri aktivitas merebut gagang pintu mobil Brio merah tersebut. Angkasa menghela nafas sebelum menunjuk kursi di sebelahnya.
"Apa yang kau lakukan, ingin masuk lewat pintuku. Kau duduk di sebelahku. Aku akan menyetir. Cepat, sebelum aku berubah pikiran." Willaim tersenyum. Pemuda itu menggaruk rambut birunya yang tidak gatal, merasa bodoh sendiri.
Beberapa menit, keduanya sudah dalam perjalanan menuju Yellow Alley, restaurant dengan Ayam saos Inggris terbaik yang pernah Angkasa cicipi.