Kelimanya duduk diatas sofa besar Black alley. Setelah pekenalan singkat dan kalimat dramatis dari William, Eden dan Richard mulai mempersiapkan laporan lengkap (selengkap yang mereka miliki) dan mempersiapkan penjelasan singkat. Sekarang Angkasa dan William sedang menunggu penjelasan dari kedua orang terpintar di kelompok mini itu, bersandingan dengan Kayla dan Dylan yang tidak berada di ruangan raksasa itu.
"Jadi apa kau akan membunuhku jika aku menolak tawaranmu?" Angkasa menatap William yang masih terduduk manis di sebelahnya. Pemuda itu telah menyibukkan diri dengan ponsel pribadi miliknya. Setidaknya dia bertingkah seperti pemuda normal pada umumnya. Sepertinya Angkasa lebih menyukai William yang diam dan tergila gila dengan alat komunikasi persegi tersebut dari pada William yang terus berbicara.
"Tentu saja. Apa menurutmu informasi yang aku bagikan adalah informasi untuk orang awam?" Baiklah, Angkasa tarik perkataannya tadi. William yang berbicara sambil menatap ponsel dan menggunakan intonasi seperti dia sedang berbicara dengan orang bodoh lebih menyebalkan dari pada apapun. Entah mengapa harga diri Angkasa sedikit tercoreng saat itu.
"Apa kalian akan memperhatikanku?" Suara berat Richard berhasil mengulur niat Angkasa untuk menarik rambut norak pemuda menyebalkan di sebelahnya. 'Kulit kepalamu selamat akibat Richard dasar anak ayam warna biru!' kira kira itu apa yang dikatakan wajah Angkasa saat dia menghabiskan satu detik untuk menatap dan mendengus pada William sebelum memalingkan wajahnya, fokus pada Eden yang tersenyum sambil menyodorkan sebuah laporan yang terbungkus map mahal kepada Angkasa. Richard yang masih duduk di sebelahnya telah melipat kedua tangan di depan d**a. Salah satu kakinya juga terlipat di atas kaki lainnya. Wajahnya yang tampak selalu kesal membuat Angkasa sedikit meringis, apa dia mengalami hari yang buruk atau apakah dia memang dilahirkan dengan wajah seperti itu?
Map di tangannya terasa sangat ringan untuk ukuran folder super rahasia dan rinci. Mungkin hanya terdapat satu atau dua halaman di dalamnya.
"Seperti yang kau lihat, kita tidak tahu banyak hal mengenai kasus ini. Kami hanya dapat mengumpulkan beberapa lokasi dan nama nama umum. Kau bisa bilang mereka hanya anak awam, tidak tahu apa apa dan hanya menunggu waktu untuk menerima bayaran." Angkasa bergerak membuka map di tangannya. Apa yang dikatakan Richard memang benar.
Map itu berisi tiga lembar kertas dengan masing masing yang hanya terisi hingga setengah. Lembaran pertama mengenai cara kerja perjanjian terlarang atau yang mereka sebut sebagai Lungo Viaggio. Dalam bahasa Italy berarti perjalanan panjang. Pada bagian bawah tertulis tujuan. Sayangnya tidak ada kalimat valid yang tertulis disana. Semua kalimat diawali dengan kata Kemungkinan.
Pada lembar kedua terdapat bukti bukti singkat mengenai perjanjian tersebut. Memang tampak sangat singkat, tetapi Angkasa dapat melihat data data penting nan rahasia yang entah bagaimana bisa orang orang ini ketahui. Banyak catatan seperti file, isi percakapan, koordinat pertemuan sebelumnya dan lainnya tercantum disana. Lembaran terakhir mencatat beberapa orang dan beberapa tempat yang sering mereka kunjungi bersama. Disana juga tercantum beberapa misi yang pernah mereka jalankan yang dapat melengkapi halaman kedua.
"Dan apa yang membuat aku dapat mempercayai ini semua?" Angkasa kembali mendongak. Kedua matanya bertabrakan langsung dengan mata kelam Eden yang duduk tegap di sebelah Richard. Pria berkulit tan itu belum mengatakan sepata kata pun, hanya sedikit berbisik pada Richard saat mereka sedang mempersiapkan data ini beberapa menit yang lalu.
"Aku tidak dapat melakukan apapun jika kau tidak percaya. Untuk mengerti kasus ini, kau harus langsung turun ke lapangan. Memastikan dengan kedua bola matamu sendiri. Ibarat selimut di bawah selimut. Bayangkan betapa hangatnya-" Eden berdehem, berusaha untuk membalikkan fokus Richard pada percakapan sesungguhnya.
"Ya, ya. Ibarat selimut dalam selimut. Tidak akan mudah untuk melihatnya karena ada banyak lapisan yang menutupi. Kau harus membongkar itu untuk mempercayainya."
Satu alis Angkasa kembali terangkat. Saat itu dia kembali mengingat keberadaan William di sebelahnya dan memutuskan untuk menoleh. Keputusan yang salah, karena wajah William yang menyengir lebar sambil menatapnya membuat hati Angkasa semakin muram.
"Sebelum itu, kenapa kalian bisa mengetahui semua ini? Aku yang sudah bekerja selama 5 tahun di dunia jurnalisme dan memiliki banyak konseksi tidak mengetahui banyak mengenai dokumen dokumen ini. Hanya satu atau dua yang pernah aku dengar sekilas."
"Itu karena kami adalah informan. Kami memiliki cara kami sendiri untuk mencari informasi. Black alley yang kau dengar biasanya itu bukan organisasi illegal penjual n*****a atau obat obatan lain, tetapi organisasi illegal penjual informasi gelap." William menutup kalimatnya dengan tawa canggung yang terdengar menyakitkan telinga, terutama Angkasa yang duduk di sebelahnya. Semakin kesini, William semakin aneh. Terkadang dia dapat berperilaku layaknya manusia normal, tetapi selanjutnya dia dapat berperilaku seperti hewan kerasukan.
"Apa dia selalu begitu?" Angkasa diam diam bertanya pada Eden yang terkekeh. Suaranya terdengar serak. Pria itu kembali berdehem, kali ini benar benar karena tenggorokannya yang terasa gatal, sebelum mengangguk.
"Dia cukup absurd." Kalimat singkat itu hanya sebatas bisikan pelan. Sepertinya Eden sedang sakit tenggorokan. Itu yang membuatnya meminimalisir aktivitas yang menggunakan suara. Lagi pula suaranya terdengar habis, seperti stok pada pita suaranya akan menghilang jika dia terus berbicara seharian ini.
Penjelasan mengenai perjanjian itu terus berlanjut. Richard menjawab seluruh pertanyaan Angkasa dengan malas. Sesekali Eden berbisik padanya, membantu Richard untuk menjelaskan mengenai perjanjian itu dengan lebih baik. Angkasa dapat menyimpulkan bahwa diantara keduanya, Eden adalah tipe orang yang lebih suka berbicara, sedangkan Richard lebih memilih untuk bekerja dalam diam.
Diakhir penjelasan, Angkasa dapat menyimpulkan bahwa satu, perjanjian ini adalah sebuah perjanjian besar yang melibatkan beberapa negara. Dua, perjanjian ini berkaitan dengan black market, atau pasar gelap. Tiga, seseorang bernama Joseph yang Angkasa kenal sebagai salah satu pebisnis terkemuka dicurigai sebagai ketua perjanjian ini di Indonesia.
"Hanya itu yang dapat aku sampaikan. 60% dari perkataanku adalah perkataan Eden yang aku ulang kembali. Credit untuknya." Eden tersenyum canggung sebelum mengangguk, memastikan bahwa penjelasan mengenai perjanjian itu memang sudah selesai.
Angkasa memijat pelipisnya. Map mahal berwarna hitam yang menampung tiga lembar laporan singkat tetapi rumit itu tergeletak di atas pangkuannya. Semua informasi yang baru saja dia dengar terlalu berat bahkan baginya yang merupakan seorang anak sok ingin tahu dan berakhir sebagai jurnalis terkenal. William yang duduk di sebelahnya untuk sesaat ikut terdiam. Begitu juga dengan Eden (yang kehilangan suaranya akibat sakit tenggorokan) dan Richard. Hanya Sophie yang tampak santai dengan tablet yang dia mainkan. Wanita itu tampak terlalu pendiam untuk membuat Angkasa merasa nyaman berada di sekitarnya.
"Bagaimana aku dapat mempercayai hal ini?" Pertanyaan yang sama terus terulang pada benak Angkasa. Beberapa jam yang lalu dia sedang berada pada misi pembuntutan pemuda berambut biru di sebelahnya yang ternyata hanya seorang pemuda aneh dengan kepribadian yang sulit ditebak. Sekarang dia sedang duduk di sebuah ruangan raksasa di bawah restaurant lezat tempat dia singgah untuk makan dengan empat (tiga) orang asing berbeda kepribadian sambil mendengar penjelasan absurd mengenai keberadaan perjanjian terlarang mengenai black market dunia.
"Sudah Richard bilang, tidak ada cara lain selain membuka lapisan itu dengan kedua tangan dan kedua matamu sendiri. Kau seorang Jurnalis, seharusnya ini bukan informasi yang sangat mengejutkan untukmu. Lagi pula aku dengar kau selalu memiliki target yang kau tetapkan untuk dirimu sendiri mengenai meliput berita fenomenal selama dua hingga tiga bulan sekali. Menunda dua bulan lagi untuk merilis berita eksklusif ini bukan ide buruk, bukan?"
Angkasa menggeleng. Tentu saja itu bukan ide buruk. Dia merasa seperti seorang detektif sekarang. Secara tiba tiba dia ingin mengubah profesinya. Tetapi bukan itu masalahnya. Dia hanya ingin orang orang asing ini untuk membuktikan perkataan mereka.
"Bukan itu masalahnya. Aku hanya ingin bukti. Aku tidak ingin mengorbankan deadline suci yang sudah aku tetapkan untuk diriku sendiri selama tiga tahun belakangan jika ini tidak akan bekerja."
Keempat orang asing itu terdiam. Bahkan gerakan Sophie yang mengetik pada tabletnya terhenti. Reaksi itu, bukankah terlalu berlebihan? Mereka benar benar tahu bagaimana cara membuat Angkasa merasa gugup.
"Kami dapat membuktikannya jika kau tidak keberatan untuk menunggu." Suara Eden yang lebih terdengar seperti bisikan itu berhasil memecah keheningan. William mengangguk. Pemuda itu telah duduk dengan satu kaki terlipat diatas kaki lainnya. Kedua tangannya beristirahat diatas sandaran sofa, mengambil banyak tempat Angkasa.
Beberapa detik, Eden telah bergerak melewati Sophie menuju bagian ujung ruangan. Disana tampak tersusun lima laci besar tempat mereka menyusun dokumen dokumen penting milik Black Alley. Eden tampak meraih salah satu laci. Tangannya dengan telaten meraih selembar laporan singkat dari tempat itu sebelum kembali berjalan menuju tengah ruangan.
Kedua mata Angkasa memicing, berusaha untuk membaca tulisan yang tertulis di cover laporan tersebut tetapi nihil. Berbeda dengan Angkasa yang kebingungan, William tampak tersenyum senang. Dia tahu laporan apa itu.
"Ide bagus Eden. Mungkin dengan itu kita dapat meluluhkan hati Angkasa di sebelahku ini." William menyenggol pelan bahu Angkasa dengan lengannya, mengundang lirikan kesal dari sang jurnalis.
"Apa itu?'
"Itu, Angkasa sayang, adalah laporan pertama yang kita miliki sebagai bukti adanya perjanjian terlarang ini. Lungo Viaggio. Kau dapat memeriksanya, berhubung pula besok adalah hari jumat. Mungkin kau dapat melihatnya dengan kedua mata ingin tahumu itu."