Tirai hitam itu tampak menjuntai di hadapan kedua pria tersebut, mengundang Angkasa untuk semakin masuk kedalam kehidupan misterius seorang William Oliver Jac. Pemuda berambut biru itu menyibak tirai hitam di hadapan mereka, menunjukkan lorong gelap yang diterangi oleh lampu LED berwarna kuning, menampilkan efek Infinite pada lorong tersebut. Angkasa kembali menatap goresan piloks yang membentuk tulisan sakral tersebut. Black Alley.
Selama ini semua orang terus menyebut nama itu. Mengatakan bahwa itu adalah nama organisasi kecil yang William bangun sebagai jalur penyebaran obat obatan terlarang miliknya. Sepertinya tempat itu sungguh ada.
"Apa yang ada di dalam sana? Apa kau akan membawaku ke basement dan membunuhku disana?" Angkasa menatap William yang masih setia menyibak tirai hitam di hadapan mereka. Pemuda itu terkekeh singkat sebelum menggeleng, "Kau hanya dapat masuk jika kau mempercayaiku. Jika kau tidak ingin menaruh percaya padaku, kau tidak perlu masuk. Lupakan semua ini dan lupakan pula kasusku. Itu tidak nyata. Orang orang hanya usil, iseng menyebarkan rumor rumor bodoh hanya karena orangtuaku yang terkenal."
Ruangan itu seketika terasa pengap. Angkasa tidak dapat benar benar mempercayai William. Memangnya siapa dia? Siapa William? Mereka baru bertemu sekitar 10 menit yang lalu dan William secara sukarela membongkar rahasia terdalam yang dia miliki. Apa itu Black Alley? Apa yang akan William lakukan di lorong itu?
Ribuan pertanyaan terus melintasi otak kecil Angkasa. Pria itu terus menatap lorong di hadapannya. Tapi dia penasaran. Angkasa menghela nafas pelan. Terkutuklah rasa ingin tahunya yang terlalu besar. Perlahan, Angkasa melangkah mendekat. Kedua matanya terus menatap William yang setia menyingkirkan tirai hitam penutup lorong tersebut. Pemuda itu mengirim senyuman miring pada Angkasa, membiarkan Angkasa masuk terlebih dahulu. Jika Angkasa tidak dapat selamat, biarlah dia mati sambil mengetahui apa isi lorong itu. Dia benar benar akan menghantui William jika lorong itu hanya akan mengantar mereka menuju basement restaurant.
William baru mengikuti langkah kaki Angkasa saat pria muda itu telah sepenuhnya memasuki lorong. Keduanya melangkah selama 2 menit terus maju. Lantai di bawahnya terasa menurun, menunjukkan bahwa keduanya bergerak kebawah.
"Kau yakin kita tidak berjalan menuju basement restaurant?" Angkasa menoleh, menatap William yang berjalan dengan kedua tangan di dalam kantung celananya. pemuda berambut biru itu mengendikkan bahu. "Kau masih belum mempercayaiku? Baiklah, biar aku berjalan di depan." Angkasa mengangguk. membiarkan William berjalan melewatinya sebelum ikut berjalan setelah William berjalan dua langkah di hadapannya.
Beberapa detik, tampak pintu lain yang tertutup dengan kain berwarna warni. William kembali menyibak kain tersebut, kali ini membiarkan Angkasa menyibak kain itu untuk dirinya sendiri. Dibalik kain cerah tersebut kembali tampak lorong pendek yang diakhiri dengan pintu besi berwarna biru muda. Lorong itu tampak berbanding terbalik dengan lorong sebelumnya.
Dinding sekitar tampak dihiasi dengan lampu terang. Grafitti yang menghiasi setiap jengkal dinding lorong tersebut semakin mengundang rasa gugup dalam diri Angkasa. Kali ini bukan lagi basement yang ada di balik pikirannya, tetapi sesuatu seperti club illegal dan semacamnya. Entah mengapa itu terdengar lebih masuk akal. William adalah seorang anak muda yang kaya raya. Anak tunggal dari Oliver dan Jaclyine. Untuk apa pula dia menjual n*****a? Yang benar adalah dia menggunakan n*****a.
Hanya 20 meter panjang lorong tersebut. Jauh lebih singkat dari lorong gelap sebelumnya yang membuat Angkasa merasa mulas, berkeringat dingin. William membuka pintu besi berwarna biru mudah di hadapan mereka. Cahaya terang kembali menyapa wajah Angkasa, membuat pria itu harus mengerjab singkat sebelum dapat melihat kejutan di balik pintu besi misterius yang entah mengapa membuat Angkasa merasa lebih buruk karena warnanya yang tampak sangat bersahabat.
Sebuah ruangan raksas tampak di hadapannya. Ruangan tersebut tidak hanya luas, tetapi juga tinggi. Mungkin setinggi rumah dua lantai. Terdapat sebuah tangga tinggi yang mengantarkan mereka benar benar menapak dalam ruangan. Angkasa melihat William yang berjalan menuruni tangga. Hingga sekarang satu tangannya masih tersimpan di dalam kantung celana miliknya, sedangkan tangan lainnya menggenggam ponsel keluaran terbaru miliknya.
Kedua kaki Angkasa bergerak mengikuti William yang sudah lima langkah mendahuluinya. Angkasa baru dapat melihat ruangan itu secara keseluruhan. Terdapat sofa besar, layar proyektor dan proyektor itu sendiri, hingga alat arcade yang terletak di bagian kanan ruangan. Angkasa juga dapat melihat tiga orang asing yang duduk berselonjor di tempat masing masing. Seorang wanita muda duduk diatas sofa empuk sambil memainkan tablet miliknya. Seorang pemuda berambut jamur tampak bermain di salah satu meja arcade dan temannya yang lain tampak bertubuh tinggi dan berkulit tan menatap pekerjaan sang pria berambut jamur.
"Siang!" William tersenyum lebar, sengaja berteriak agar ketiga orang asing itu dapat mendengarnya. Angkasa yang baru menapak pada lantai ruangan menatap William penasaran. Kedua matanya bergantian menatap William dan tiga orang asing yang tersebar luas pada ruangan raksasa tersebut.
"Perkenalkan, ini adalah Angkasa Abisatya atau yang biasa dipanggil Sky. Aku yakin kalian pernah mendengar namanya. Dia seorang Jurnalis dan merupakan calon kolega kalian." ketiga manusia asing di ruangan tersebut semakin menatap Angkasa penasaran. Kecuali pemuda dengan potongan rambut jamur yang hanya menatap singkat sebelum kembali memfokuskan diri pada mesin arcade di hadapannya. Angkasa sendiri memicing, berusaha mencerna perkataan William mengenai kolega. Sejak kapan dia memutuskan untuk bekerja sama dengan orang absurd ini?
"Kenapa kalian tampak tidak senang? Richie, tinggalkan mesin itu atau aku akan membuangnya besok." Bersamaan dengan kalimat itu, Richie, pemuda berambut jamur dan berwarna pirang itu mendengus, melepaskan tangannya dari kendali mesin. Sepertinya William memiliki 'kuasa' di atas orang orang asing ini.
William meraih lengan Angkasa dan menuntunnya menuju sofa besar di tengah ruangan. Kali ini Angkasa lebih memilih untuk mengikuti instruksi. Orang orang ini tidak tampak mencurigakan. William lah satu satunya orang aneh disini. Sang Jurnalis lebih memilih untuk memperhatikan William yang melambaikan tangannya, meminta dua orang pria yang masih berada di bagian kanan ruangan untuk datang mendekat. Wanita berambut hitam legam yang terurai hingga punggung di hadapannya telah meletakkan tabletnya. patuh pada perintah William.
Dua pria yang melihat kode William juga berjalan mendekat. Pemuda dengan rambut jamur bernama Richie itu masih saja memasang wajah kesal. Dia adalah satu satunya orang yang dapat Angkasa mengerti sekarang. Rasa kesalnya pada William entah mengapa terus berada diatas angin. Wajah tampak pemuda norak itu membuatnya merasa sangat kesal. Angkasa bahkan tidak pernah mengetahui bahwa dia dapat merasa sekesal ini.
"Baiklah, aku akan memperkenalkan kalian. Duduk di sebelah Sophie." Pria berkulit tan di sebelah Richie mengangguk. Buru buru menarik pemuda di sebelahnya untuk duduk. Posisi mereka terpisah sekitar 30 centi dari wanita yang Angkasa tahu bernama Sophie.
"Angkasa, ini adalah teammatesku. Wanita berambut panjang ini Sophie. Pria berkulit gelap di sebelahnya adalah Eden, sahabat baik dari orang di sebelahnya, Richard. Kami biasa memanggilnya Richie karena mimpinya adalah menjadi kaya. Sayangnya dia tidak memiliki uang yang cukup untuk mengabulkan mimpinya itu jadilah dia bekerja untukku." William menunjuk dirinya sendiri dengan cengiran khas yang terpampang lebar di wajahnya.
"Oh dan masih ada tiga orang lagi. Kau ingat pelayan yang tadi ikut masuk kedalam ruang staff? Dia salah satu dari kami. Sebenarnya Dylan adalah orang kepercayaan orang tuaku. Dia aku angkat sebagai manager restaurant lezat diatas tempat ini. Dua lainnya adalah Zeus dan Kayla. Entah kemana mereka sekarang."
"Dan apa maksudmu mengenai kolega? Aku tidak pernah bilang akan bekerja denganmu. Kau tidak pernah berbicara mengenai bekerja denganmu." Setelah perkenalan heboh satu sisi dari William, akhirnya Angkasa dapat menanyakan pertanyaan terpenting itu. Apakah William selalu memiliki kebiasaan untuk mengambil keputusan secara sepihak? Angkasa harap tiga orang yang duduk berhadapan dengannya ini tidak terpaksa bekerja dengan pria absurd di sebelahnya ini.
"Benar, mengenai itu. Kasus yang akan aku berikan padamu. Apa aku dapat mempercayaimu dengan informasi itu?" Satu alis Angkasa terangkat. William bergerak membetulkan posisi duduknya menghadap Jurnalis di sebelahnya sebelum menatap Angkasa lamat. Tatapan yang membuat Angkasa harus menegak ludah diam diam.
Anggukan patah patah berhasil di berikan Angkasa. Tidak ada menarik kembali keputusannya. Dia sudah sampai di ruangan misterius ini. Dia juga sudah mengetahui identitas orang orang asing di hadapannya. Apapun yang William lakukan, dengan keamanan seperti lorong lorong aneh nan panjang yang baru saja dia lewati, William benar benar serius dengan apapun itu.
"Baiklah. Kami mempercayaimu, Angkasa. Jangan mengecewakan kami. Kau boleh menanyakan apapun setelah ini, kau boleh memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tetapi ingat, informasi yang kau ketahui setelah ini adalah sebuah informasi super rahasia yang harus kita, semua orang yang terkait rencana ini buktikan. Eden, Richie, kalian dapat menjelaskan masalah itu. Lungo Viaggio, Perjanjian terlarang."