Kin ingin sekali ada gitu hero yang mampu menghentikan waktu, yang lantas membawanya kabur ke waktu di mana ia kembali bersama Alora.
Kin tahu Alora benar-benar tergila-gila dengan Gray yang notabenenya hinggap pada kata sempurna.
Namun, meski Kin memintanya untuk tidak merepotkan Kin bertugas bertanya daftar wawancara berdasarkan riset.
Tapi, ya ... enggak begini juga ...
Lalu, Gray, yang kali itu, Kin merasa antara terhormat dan tidak, dia bisa melihat senyum langka sang pangeran rupawan tersebut.
Dia mengatakan, "Hampir semua pertanyaan kamu, selalu berkaitan dengan pribadi saya."
Dan, Kin mengobrak-abrik perhatiannya dalam hati.
'Ya, iya lah berkaitan dengan lo. Emang siapa lagi yang harus diwawancara di sini, Bud?'
Bud is Budi.
No sebut merk.
Kin harus berperinsip seperti itu.
Sen-sor.
"Kamu bahkan tanya soal ojol yang saya berikan uang lebih yang justru kamu tanya, 'Are You Okay, Tuan?'. Lalu, setelahnya, kamu tanya es krim favorit saya, yang selanjutnya, kamu malah rekomendasiin, Es Krim Cium-Rindu, Kiss-Miss gitu maksudnya?"
Serius.
Kin rasanya ingin hilang saja dari bumi.
Dengan semangat 45, Rara langsung mengirimkan pesan ke sohibnya itu.
Sepertinya Kin terlalu cepat berbahagia. Meski pun sedang online, Gantari tak kunjung membalas pesan Kin.
Jari-jemari Kin sudah gemas ingin mengespam dosennya itu, namun tentu saja Rara tidak melakukannya. Bukannya dibalas, bisa-bisa kontak Kin diblokir oleh Agrya.
Menit demi menit Rara lewati dengan sabar sambil terus mengecek hpnya, melihat apakah sudah ada balasan. tidak. Mulai dari sejam-dua jam sampai akhirnya Kin tertidur karena bosan menunggu.
Kin tersentak dan mengutuk dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia ketiduran di saat seperti ini. Buru-buru Kin mengecek kembali hpnya dan rasa takut mendadak menyelimuti Rara. Kalau bisa memutar waktu, jangankan tidur, berkedip pun tidak akan dilakukan Kin.
Ternyata setelah dua jam lebih, Agrya membalas pesan Kin. Sialnya Rara tertidur dan sekarang hari sudah sangat siang. Dengan terus berdoa di dalam hati, Kin membalas pesan Gantari.
Kin harus menunggu lagi dengan gelisah, tapi kali ini dia tidak akan ketiduran lagi. Rara memilih mandi sembari menunggu balasan dari sang dosen. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, Rara sampai rela membawa serta hpnya ke dalam kamarr andi.
Kin menghembuskan nafasnya beberapa kali sebelum dia mengetuk pintu di hadapannya. Setelah merasa siap, Kin mengetuk pintu ruangan Gantari sambil membuka pintu itu.
"Permisi Pak, saya-"
"Kinan Sabrina Tanjung?" Potong Gantari.
"lya saya Kinan Sabrina Tanjung, Pak."
"Padahal saya pikir kamu bakal telat."
Gantari tidak tahu saja kalau sebenarnya Rara dengan senang hati untuk terlambat hari ini sehingga dia bisa berganti dosen, tetapi Rara sudah tahu hal itu tidak akan terjadi. Tentu saja Ketua Jurusannya tidak akan mau menggantikan Gantari dengan dosen yang lain. Yang ada Kin pasti disuruh meminta maaf dengan Gantari dan hal itu hanya menambah kerjaan Kin saja.
Sembari Gantari memeriksa skripsinya, Kin diam-diam memuji wajah Gantari. Memang ini bukan pertama kalinya
Kin bertemu dengan Gantari karena Gantari pernah mengajar mata kuliah audit di kelasnya selama tiga semester, namun baru kali ini Kin melihat Gantari dari jarak sedekat ini. Kin bukanlah anak yang rajin dan ambisius, jadi saat di kelas dia selalu mengambil tempat duduk paling belakang.
Gantari sendiri termasuk salah satu dosen yang disegani di fakultasnya. Biarpun bisa dibilang dirinya adalah dosen muda karena baru beberapa tahun ini mengajar, kualitas Gantari tidak perlu diragukan lagi.
Mengambil konsentrasi audit sewaktu kuliah S1 menuntun Gantari untuk menjadi seorang auditor. Yang awalnya hanya menjadi staff. karir Gantari terus melejit sampai akhirnya dia bisa menjadi partner dan mendirikan Kantor Akuntan Publik (KAP) sendiri.
Tidak mau berpuas diri, Gantari tetap melanjutkan pendidikan kuliahnya meskipun dia sudah menjadi seorang auditor pada waktu itu. Setelah merasa karirnya dalam dunia audit sudah cukup stabil, akhirnya Gantari memutuskan untuk kembali pada almamaternya saat S1 untuk menjadi seorang dosen.
Tak!
Bantingan pena di meja membuat Kin tersadar dari lamunannya. Dilihatnya Gantari yang sudah menatapnya dingin.
"Kenapa kamu melihat saya terus? Ada yang ingin kamu tanyakan? Tanya Gantari yang dijawab gelengan oleh Rara.
"Kamu kemarin sudah seminar proposal?" Gantari kembali bertanya.
"Sudah Pak."
“Apa maksud pertanyaan Gantari? Sudah jelas kalau Rara sudah melewati tahap seminar proposal, kalau tidak bagaimana bisa dia bimbingan skripsi sekarang.”
"Siapa yang menguji kamu kemarin? Kok bisa-bisanya proposal seperti ini diluluskan"
“Hah?”
"Maaf, gimana Pak?"
"Pertama, judul penelitian kamu ini terlalu biasa dan tidak menarik. Saya sudah kenyang memeriksa skripsi yang judulnya seperti kamu ini"
"Kedua, penulisan kamu banyak sekali typo dan tidak sesuai dengan kaidah PUEBI. Kamu kemarin mengambil kelas metopel atau tidak sih? Saya heran untuk hal-hal seperti ini kamu masih saja melakukan kesalahan, padahal kamu sudah semester delapan"
"Ketiga, di bab tiga dalam penelitian kamu, kamu tidak memasukkan analisis deksirptifnya. Makanya saya bertanya tadi kamu sudah mengikuti seminar proposal atau belum, kok bisa dengan kesalahan sefatal ini kamu lulus"
“Sudahlah anggap saja kamu sedang beruntung kemarin. Sekarang kamu perbaiki dulu sebelum kita masuk ke bab selanjutnya"
Gantari menyerahkan kembali skripsi Kinan Sabrina Tanjung yang sudah penuh dengan coretannya dan kartu bimbingan Kin.
Rara seperti habis ditampar bolak-balik mendengar penjelasan panjang-lebar dari Gantari. Tidak mau berlama-lama, Kin menerima kembali skripsi dan kartu bimbingannya. Tanpa bertanya lagi, Kin mengucapkan terima kasih dan langsung keluar dari ruangan Gantari.
Begitu keluar dari ruangan Gantari, Kin bertemu dengan Alora dan Agrya.
"Eh, Ra!" Sapa Agrya.
Rara yang sempat lesu bersemangat lagi melihat dua sahabatnya ternyata juga ke kampus hari ini.
"Hei! Kalian abis bimbingan juga?” tanyanya.
"lya. Gimana bimbingan sama Pak Graydebara? Enak gak?"
Goda Alora.
Kin mendengus kesal. "Boro-boro, lo liat ni skripsi gue abis dicoret-coret. Mana judes banget lagi!" Gerutu Kin.
"Hahaha, santai dong. Gimana kalau kita nongki? Biar dingin kepala lo, Ra" Alora yang dijawab anggukan oleh
Alora dan Kin.
Tiga sekawan ini sudah duduk di tempat tongkrongan langganan mereka. Setelah pesanan mereka datang, mereka mulai mengobrol, membahas semua hal yang bisa dibahas.
"Eh tapi serius deh, Pak Graydebara itu beneran belum nikah, ya?" Adelia kembali bertanya. Sedari tadi Gray menjadi topik hangat pembahasan mereka bertiga.
Namun, gadis itu tetap mempertahankan senyum anggun.
Walau sudah jatuh ke kubang lumpur, tak ada salahnya mencari selang, lalu disambungkan ke keran air, dibersihkan.
Maka, Kin pun membalas, dia harus tetap mempertahankan eksklusifitasnya sebagai wanita cerdas reporter yang berkelas.
Meski, nyeri banget, nih, kepalanya gegara kelakuan Alora yang sungguh tidak oye.
"Tuan ... tidakkah Tuan tidak mengambil sisi positif dari hal sederhana yang saya lakukan?"
Dahi Gray mengkerut. "Positive?" Dia kemudian mode berpikir usai. "Hamil?"
"Be—" Terputus. Karena Gray lebih dulu menatapnya intens. Seolah menanti kalimat selanjutnya.
"Be?"
"Be—rarti, Tuan memang be-lajar. Soalnya, seringkali Tuan dari hal-hal sederhana, kita jadi akan mengerti sebuah makna yang besar. Gini, deh. Gunanya Tuan menjawab pakai skincare apa? Itu artinya, saya, One and Only In This World yang teramat perduli dan peka kalau sejatinya, saya nggak cuman bisa jadi reporter."
"Tapi, jadi kepo-pers?"
"No ..." Kin menggeleng. Dia jelas nggak terima. "Namun, membantu Tuan agar bisa berada dalam satu hal yang mana Tuan membantu perekonomian, juga perm—"
"Perminyakan."
"Nah, ya, perminyakan produksi overrated yang sering jadi masalah terjadinya komedo. Siapa lagi coba, Tuan, yang tidak akan bahagia kalau seorang Graydebara ternyata ikhlas membagi rahasia wajah surgawinya?"
Gray tertawa.
Kin, sih, sudah menebak kalau itu bakalan terjadi, ya. Hahaha.
Soalnya, kan, enggak ada di dunia ini pujian yang nggak akan membuatmu enggak meninggi.
"Lalu ice cream? Bukannya di salah satu wawancara di Washington DC saya sudah sempat bilang kalau saya suka ice cream mint?"
'Dih, ngemut sikat gigi.' Kin ingin mencibir. 'Koreksi. Ngemut odol buat gigi. Hehe.'
"Iyaaa, saya tahu." Kin terlihat meyakinkan. "Dan, bukankah akan jauh lebih menyenangkan kalau akhirnya semua orang tahu, jika Tuan Graydebara, pemilik perusahaan Benih Bumi, ternyata terbuka atas segala inovasi dan juga beraneka macam varian."
Lalu, gadis itu melanjutkan ...
"Bukannya ini sangat menguntungkan? Tuan akan menjelma menjadi figur yang ... tak segan untuk mengatasi semuanya dengan baik?"
Di situ, Gray mulai melonggarkan dasinya.
Perjalanannya menuju ke Bandung saat itu, cukup luar biasa menguras. Meski, ia tak bisa bohong jika ia menikmati kekonyolan gadis yang fun factnya, tak menunjukkan ekspresi takjub seperti kebanyakan.
"Terima kasih sebelumnya," ujar Gray. Laki-laki itu melipat bibirnya membentuk smirk yang entah apa artinya. "Tapi, kalau kamu bilang saya akan lebih baik tertarik mencoba hal baru karena itu bentuk daripada menyukai tantangan or whateves, saya pikir saya sudah tahu apa yang mau saya cicipi sekarang."
"Iya, kah?"
'Aseq, teraktiraaan ...' gema Kin dalam hati.
"Apa itu, Tuan?"
"Kamu."
"Apa?"
'Maklum, Vu-DEG.'
"Iya, kamu."