Stroke dan Bambang
“Iya, ini lagi jam istirahat. Makanya, karena guenya juga berpohon-pohon, akhirnya ngehubungin lo, deh, Bambang.”
Itu suara Kin.
Kinan Sabrina Tanjung.
Cewek pejuang segala apapun dengan sekuat tenaga dan berusaha supaya ia mampu menjadi bentuk nyata Dasa Dharma Pramuka meski hanya di khayalannya saja, tapi, cewek itu, tetap pada ketentuannya untuk tetap strong dan seenggaknya hidupnya sudah jauh lebih normal dari yang bisa siapapun bayangkan.
Oh, ya, cewek itu lagi teleponan sama Brekele Bambang Lovey Dovey Uwu-able. Sebuah panggilan sayang yang sebenarnya terlalu ‘kereta’ untuk ukuran menunjukan ketulusan cinta.
Dan, yang di telepon, di seberang sana pun, terkekeh.
Tak menyangka jika sambutan gadisnya yang biasanya urakan dan tukang ngomel itu, kebenaran jadi ‘mending’ dari biasanya.
“Kamu seriusan nggak papa, Stroke?”
Ya. Mereka begitu Couple Heaven’s Goals.
Dengar saja, manggil cewek aja dengan nama begitu.
Dan, seperti biasa, Kinan yang biasa di sapa Kin itu, mengangkat satu bahu.
“Hepi aja gue akhirnya si cungpet macem Alora, meski nyusahin dan bego bener sampe gue emosi nanganin dia, ada gunanya juga hidup dia.”
Gun di seberang sana, ketawa. “Apa dia neraktir kamu Mekdi hari ini?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Ngelunasin kosan.”
“Hahaha.”
Setelahnya, mereka pun cukup berbincang banyak.
Itu adalah hal yang paling disukai Kin di dunia ini.
Sebuah kata ‘lunas’.
***
Kinan Sabrina Tanjung adalah gadis yang banyak bekerja keras.
Dia kuliah jurusan Tata Boga Universitas Yudhatama untuk bisa mendapatkan kompetensi lebih dalam urusan buka usaha dan menjadi bos di bidang kuliner yang emang lagi jaya-jayanya dalam unjuk gigi di Indonesia.
“Al, denger, ya …” Kin berusaha untuk tidak mengunyah makanannya sejenak.
Padahal, ini adalah hari di mana ia lagi ditraktir sahabat bodohnya makan di warung ketoprak.
Lumayan kalo kata Kin buat hemat uang pendapatan hingga dua hari ke depan. Haha, makanya, Kin tercipta menjadi makhluk yang nggak akan pernah jaim buat menunjukkan betapa ia nggak akan mudah menyia-nyiakan waktu.
Meski, di mata beberapa orang, dia terlalu ‘everything’s gonna be alright’. Walaupun, ya, sekali senggol juga, gadis itu senggol bacok. Sungguh … definisi nyata dari kata ‘berabe’.
“Alasan kenapa gue ambil tata boga itu adalah … dari mana ceritanya lo bisa ngeklaim kalo lo itu adalah rangkapan dari orang yang tahu dan jaya kalau lo sendiri nggak masuk ke bidang ke jayaan tersebut?”
“Ah, enggak ngerti, Kin ...” Alora mengeluh. Bibir cewek yang emang lebih modis dan lebih cantik dari Kin itu seolah emang nggak diciptain buat mikirin hal-hal buruk meski hanya 0, 0000001% saja.
Kin menepuk dahi. “Maksud gue, gimana bisa gue ngayal jadi Juragan Seblak kalo bukan gue yang jadi tukang ngeracik seblaknya? Gitu, loh, Aloraaaaa sayaaaanggg …”
“Tapi, kata Papih gue nggak gitu, Kin,” sambat Alora. “Justru, kalau sampe Bos itu turun tangan, itu namanya bukan usaha punya lo. Itu sama aja apa yang dikorbankan lo buat usaha, malah gagal total.”
“Ya, gue juga nggak mau kali, orang gue yang punya masa gue yang nge-babu?”
“Lah, terus, kenapa tujuan lo cetek begitu?”
Kali ini, sebab emosi, Kin, akhirnya mengusap wajahnya nahan emo-ji. Biar cute gitu deksripsi marahnya.
“Ya, sebab, Aloraaaa … orang, tuh, butuh proses. Lo pernah tahu, kan, kisah Romeo dan Juliet? Kenapa jadi barengan dan bersatu? Kan, awalnya, harus sama-sama failed in love dulu.”
Kini, Alora tertawa. “Apaan, sih, dodol! Mana ada failed in love! Lo punya pawang masih aja nyebutnya failed. Fallin’ dong …”
Dia menoyor bahu Kin yang makannya udah kayak tukang bertapa dengan kaki naik ke kursi. Malu-maluin banget emang. Enggak ada anggun-anggunnya. “Terus Romeo Juliet, gue kasih tahu, ya, mereka itu nggak bersama tahuuu!!!”
“Tahu, ah!” Padahal, emang bukan itu point yang dimaksud Kin. “Bengek lama-lama gue ngomong sama lo! Berasa khotbah depan amoeba!”
“Ohhh … lo ngarep gue membelah diri, ya?”
Di detik itu juga, ingin rasanya, Kin mencekek sahabatnya sendiri.
The Next Level’s of Bego.
Dan, detik ini juga, usai ia baru aja pulang dari ngampus dan bertapa dengan dosen soal Tutorial Menjadi Mahasiswi Pejuang Lulus Yang Suhu Kesabaran, dia lantas harus se-sekarang itu juga mempraktekannya.
Berkat ….
“Kin, please, ya … Lo bantuin gue! Please, deh! Ayo, dong. Tolong, ya! Lo, demi apapun, deh, gue beliin emas 24 karat soalnya gue harus wawancara sama Pemilik Perusahaan We Can Do It. Dunia inspiratif. Itu bakal susah banget makanya nggak gue minta ke elo.”
“Ya, tapi, kenapa lo yang demen jurnalistik justru gue yang harus wawancara Pemilik sekaligus CEO Perusahaan Minyak, dodol!” Kin, tentu, siap menjadi hulk.
Pasalnya, dia anak ‘kue’. Enggak pernah, tuh, dia pegang beraneka macam peralatan tempur recording buat dirinya mendokumentasikan orang. Apalagi harus bikin laporan netral soal hasil yang diwawancarai.
“Lo gila aja, kali, Alora …” protesnya. “Denger, ya, kalo lo diputusin, lo sewa aja Yakuza. Bayar kek pake yakult.”
“Lo pikir yakuza bakteri jahat, heh?”
Kin pun nyengir. “Ah, tahu, ah! Stroke nggak mau sama sama siapa tadi namanya …”
“Yakuza.”
“Bukan, Tempe!” Kin jadi frustasi. “Begini, nih, kalo calon reporter Daia malah dikasih nyawa. Lo yang bener aja, Alora, masa gue wawancara gangster? Lo mau gue balik jadi penyet, heh?”
“Hahaha.” Alora puas tertawa. “Ih … tapi, serius, Kin …” Dia kembali pada mode ‘memohon’. “Tolong, ya, lo wawancara Tuan Graydebara. He’s hot and amaizing apa, ya, dulu lo bilang? Oh, iya, Romeo … Juliet?”
“Dukun gue dengernya.” Bahasa Kin, dukun, maka sama dengan … merinding.
“Ya, intinya itu, deh.” Alora masih mode bengek. “Intinya, dia bisa jadi figure utama yang pas buat lo dalam mengkaji ulang gimana caranya jadi juragan. Kadang, meski dia bergerak di bidang yang beda sama lo, yakni, minyak vs makanan, tapi, kan, prinsip dan dasarnya, dia jadi Tokoh Utama Yang Berhasil. Masa lo nggak mau belajar Teknik Bos dari dia?”
“Tumben pinter lu, Tong.”
“Jadi, lo mau?”
“Enggak!”
Alora jadi gemas sendiri.