Usaha Alora

1052 Kata
 Perlu diketahui, memaksa Kin berada dalam hal yang minta bantuan yang tentu bukan ranah pahamnya, itu sangat membutuhkan banyak effort. Semua jenis tawaran dari mulai duniawi sampe investasi alam baka sudah Alora lakukan. “Gue bayar pake bantuin surprise ultahnya si Bambang Lovey Dovey, deh. Lo kalau mau kadoin dia buldoser gue yang bayar.” “Ciyuss, nih, gue doain lo non-stop sepanjang idup pas lo goodbye.” “Gimana kalo yakuza beneran gue minta buat masak tape goreng dari lo? Kan, lumayan, di kampus belum pernah ada, kan, anak tabog collab sama gangster.” Namun, itu justru membuat Kin naik darah. “YANG ADA ELO YANG GUE TABOK!” Oh, ya, Alora ini sahabat Kin. Mereka satu kamar di kosan yang sebenarnya itu dikarenakan, Kin ingin sekali bisa hidup sendiri dan bisa merasakan bagaimana menjadi sederhana, berkat hidupnya, terlalu memiliki segalanya. Dia anak semata wayang dari Ayah dan Ibu super kaya yang waktunya disita oleh semua jenis pekerjaan. Beda sama Kin, anak biasa-biasa saja, pecandu beasiswa, dan … euhm … becus. Ya, Alora memang memiliki kekaguman tersendiri terhadap Kin, yang bebas melakukan apapun dan kapan pun. Gadis itu bisa bekerja, seolah, tidak pernah ada yang salah dengan hidupnya sebab, keputusannya nampak selalu benar. Tapi, tiap ditanya, jawaban Kin selalu begini … “Bebas bukan berarti semuanya mudah, Alora. Ah elaaah. Lo gimana, sih? Justru, karena saking bebasnya, malah jadi abu-abu. Enakkan juga jadi lo. Gue pengen naga cosplay macemm bintang Kuku Bima Gatot Koco juga lo pasti dengan mudahnya dapetin.” Itu membuat bahu Alora menyusut. “Tapi, kan, lo tahu, Kin, gue nggak pernah bener urusan cowok. Ujung-ujungnya, kemenawanan gue dan kebaikan gue, suka disalahartikan dan dimanfaatkan. Gue pengen kayak lo, Kin. Tangguh.” Dan, Kin pun cuma mencibir aja. Ya, meski Kin adalah pengomel yang baik, ia tetap saja sahabat paling menyenangkan di dunia. Sampai akhirnya … meski dengan seluruh penolakan yang nggak ada habis0-habisnya. Padahal telah dibujuk dengan kalimat … “Gue traktir lo makan siomay 50 gerobak, deh. Terserah lo mau apain. Dibagiin sekomplek kosan juga nggak apa.” Apa coba jawaban Kin? “Enggak, ah. Takut sedekah terlalu mengantarkan gue ke surge.” Oke, catat sekarang. Berbagi di mata Kin adalah suci. Padahal, dia paling demen ada yang nraktir. “Kin, gimana kalau gue bayar satu semester lo dengan 30%-nya. Entar kalo lo hgerasa nggak enak, lo bisa nyicil ke gue selama 80 tahun. Bunga 0%.” Dan, itu justru memancing emosi Kin. “Lo pikir gue dinosaurus kali, ah! Keburu mati gue!” Blacklist. Kin tidak mungkin jadi eksklusif. Siapapun juga pasti mau berumur panjang, tapi, menjadi masuk akal tetap one and only. “Kalau gitu, entar kalau lo emang butuh banyak orang buat meramaikan suduka di saat lo harus butuh pengantaran pas lo bener-bener udah selesai dari tugads dunia, gue siap, kok, nyertain banyak banget makmum buat sayang ke lo.” “Gila aja lo!” Mata Kin yang tadinya baru aja ditutup timun buat maskeran paksa sama Alora biar makin glowing, shimmering, spending, brightening, beauty, whitening, kini, semakin horror karena usainya, ia bak mayat hidup yang kontan naik ke asal. Mengejutkan Alora. “Lo mau bahagia di atas kematian gue, hah? Lo mau pesta pora?” Yahhh … itu malah membahayakan keberlangsungan persahabatan mereka berdua. Namun, itu tetap tak menyurutkan semangat Alora untuk terus membujuknya. Sampai datang lah hari H. Di mana finally, Kin, yang begitu teramat keras kepala itu, akhirnya mau buat wawancara Tuan Graydebara. Yang akhirnya selama di jalan,Kin pun, yang naik ojek online, mobil, memutuskan buat menelepon Brekele Bambang. “Bamb …” “Iya, Stroke …” Sang supir jadi bergidik. “Tenang aja, Pak. Saya nggak beneran stroke. Cuman karena saya emang diciptain jadi lebih emejing aja dalam urusan bikin orang terpesona lihat saya. Ampe nangis-nangis meluk kaki saya. Makanya, saya dicap Stroke Syndrome. Nih, pacar saya aja sudah membuktikan khasiat saya.” Di seberang sana, terdengar suara kekehan. “Iya, Neng.” Sang supir hanya menjawab demikian. Kin pun kembali pada Gun. “Kamu ada-ada aja astaga …” “Ya, gimana, dong, Mbang. Kita, kan, emang saking goalsnya, makanya, begini, dah, resikonya.” “The Real Couples of saling mencaci, ya?” Di sana, mereka kemudian, kembali bertukar tawa. Hingga, Kin yang ditanya oleh Gun soal mengapa lantas akhirnya ia memutuskan untuk berangkat ke kantor pribadi Tuan Graydebara yang tersohor itu, akhirnya menjelaskan semuanya. Lebih tepatnya, benang merah sekaligus kronologi yang lantas membuat gadis itu akhirnya mengambil kebiajakan tersebut. “Gue sebetulnya sama sekali nggak tahu kalau bakalan begini juga. Tapi, kasihan lihat Alora yang, bagaimana pun, kalo di kampus, apalagi anak Komunikasi, enggak ada yang benar-benar menghargai kompetensinya.” Sembari menarik napas panjang, gadis itu pun menjelaskan … “Semua orang cuman tahu kalau Alora cuman putri dari keluarga kaya yang bisanya cuman nadah tangan, toh, Kanjeng Ndoro Papih Mamih Tercinta Segalaksi Bima Sakti, bakalan langsung nurunin ajudan buat Menuhin apapun mau dia.” “Padahal, selama aku tinggal sama Alora, dia diserved banget, loh.” “Oh, iya?” Gun meresponnya demikian.  “Heu’um.” Kin mengangguk. Sebenarnya sambil mainin kuku karena bengek juga ngeliatin kukunya yang tanpa poles apapun, lantas menjadi berawarna apalagi di treatment di m**i pedi ternama. Sungguh, ngabisin duit banget. Lagian, siapa juga, sih, yang mau merhatiin kuku? Tapi, yaudah lah, namanya juga holang kaya, beli make up seharga container juga, sesuka-suka dia aja. “Dia benar-benar banyak bekerja keras, Gun. Dan, detik ini, rekor terbesar dia. Dia bahkan mendapat dua kontak orang termaha dewa di negeri ini. Tentu selain Papanya yang jadi orang terkaya ke dua di Indonesia dengan orang pertama, partner bisnis kamu.” “Aaahh, iya.” Meski panggilannya Bambang, mainnya nggak ‘bambang’ banget. Jago itu, sih, Gun dalam urusan client-client-an. Lapangannya bareng orang-orang besar. “Padahal, Alora bisa, loh, minta aku buat ketemu langsung sama partner bisnis aku.” “Enggak, ah, Mbang …” Kin menggeleng. “Bagaimana pun, itu lah yang justru bikin Alora punya privileged tersendiri. Dia akhirnya murni tahu kompetensinya di mana usai dapetin orang berpengaruh berkat usahanya sendiri.” “Iya, aku paham.” Gun berusaha mendukung. “Kamu baik-baik, ya. Meski, ini semua turning point buat Alora, kamu juga tetap harus perhatiin diri kamu.” “Iya, ihh, baweelll …” “Bambangg, bukan bawell.” Kin pun, tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN