Setelah tak ada yang mencarinya untuk makan malam, kini Sarapan pun ia seorang diri, tak ada yang membangunkannya, sebuah pesan pun tak di dapatkan olehnya. Naya hanya tersenyum tipis, mengharapkan hal yang kini mustahil. Hatinya begitu sesak namun ia terus menyamarkan kehampaan hatinya dalam senyum paksa yang terukir di bibirnya. “Sarapan habis itu pergi, eum … pamit sama Bu Harti juga,” ucap Naya bersemangat. Saat ini ia merasa damai karena tinggal seorang diri sementara dua pemilik lainnya tak di ketahui keberadaannya, jika tidak bekerja mungkin ada kegiatan lain, Naya tak mau begitu mengurusi. Ia membuat omelet sederhana, tak ada nasi di meja makan, rice cooker bahkan tampak tak digunakan pagi ini. “Mereka pasti makan diluar,” gumam Naya mencelos namun bibirnya tak berhenti melengkun

