Naya kembali ke rumah dengan langkah yang terasa begitu berat, padahal saat bermain ia merasa memiliki kelegaan hati setelah rasa sakit yang terus menerus di dapatkan dalam rumah tangganya dan saat membuka gerbang rumahnya, ia kembali melemas, langkahnya menjadi berat dan perasaan takut itu tak bisa di hentikan. Tatapan nyalang sudah terbayang dalam pikirannya meskipun ia belum melihat suaminya. Tak seperti hari lalu dimana ia pulang malam hari, ini bahkan baru menjelang sore. Tepatnya pukul setengah empat ia sudah sampai di rumah, namun suaminya pasti sudah pulang, ia merasa khawatir jika harus kembali di omeli. 'Tapi ga mungkin,' pikir Naya mengingat pesan balasan itu. "Dia udah ga peduli kok," ucapnya lagi dan memantapkan diri untuk ke rumah. Tangannya bahkan ia buka katupkan be

