Pelukannya hangat, sesak menyertainya namun tangan besar itu begitu hati-hati melingkar diperutnya. Reza memeluknya dari belakang dengan bibir yang tak berhenti berucap maaf. Matanya memerah, ia juga merasa sesak karena keputusannya, membuat wanita yang paling disayanginya menjadi begitu terpuruk. Ia tak pernah mengira jika Naya akan sulit menerima. Selama ini, wanita itu terus tersenyum atas semua keputusannya. "Aku ga bisa kalau harus pisah denganmu, Nay." Suaranya lirih dan begitu serak. Ia menahan tangis, nafasnya juga berat. Padahal ia sedang bersama dengan Naya namun ia justru semakin merindukan Naya. "Sayang ...," panggil Reza lirih, wanita dalam pelukannya hanya diam, tubuhnya bergetar. Reza tahu jika wanita itu tengah meredam isaknya, menahan diri untuk tidak menangis "Sayang

