Mereka duduk bertiga di pojok kursi pelanggan, dengan roti bakar sebagai menu berat dan secangkir kopi. "Ku kira Ayah tak akan mampir, kalian sehat?" tanya Reza menyapa seramah mungkin. Senyumnya tak pernah luntur diwajahnya meski air mata sedikit menggenang namun Reza menahan sekuat yang ia bisa. Hati seorang anak selalu rapuh di hadapan orang tuanya sekuat apapun ia mencoba untuk bersikap tegar. "Tentu saja kami baik-baik saja, hanya mencoba melihat usahamu, sepertinya berjalan dengan baik." Reza menundukkan kepala. Pujian yang menyakitkan baginya. "Silahkan dicicipi, Ayah ... pa-paman." Reza kaku. "Kau menceraikan Dara?" "Iya, pengkhianatannya terlalu sulit dimaafkan," balas Reza dengan pandangan memendar, "Tapi ayah tak perlu khawatir, kami menyelesaikannya dengan baik." "

