SEHIDUP SEMATI

1168 Kata
Treatment yang dikatakan oleh asisten rumah tangganya rupanya berupa spa prewedding. Naya mendapatkan pesan dari asisten rumah tangga jika orang yang ditugaskan untuk melakukan spa sudah datang. "Gimana? Naya mau keluar Bu?" tanya Reza pada asisten rumah tangganya. Bu Harti. "Mba Naya mintanya di kamar mas." Reza hanya bisa menghela nafas berat dan mengangguk kecil. Ia belum lagi melihat wajah wanitanya. "Ya sudah Bu, turuti aja kemauan Naya. Aku titip Naya ya, Bu." Bu Harti hanya mengangguk sambil mengantar tamunya ke kamar majikannya. "Mas, apa ga papa kaya gini? Naya kayanya marah besar deh sama aku." "Ga papa, jangan dipikirin," balas Reza menepuk pelan pundak Dara. "Aku ke kamar dulu," ucapnya dan bergegas menuju lantai dua. Kamarnya. Kepalanya begitu pening. Memikirkan wanitanya yang kini tak mau melihat dirinya. "Aku juga tak mungkin membatalkan Dara, wanita itu sudah berharap banyak padaku," gumam Reza memejamkan matanya. Pikirannya runyam, pekerjaan bukan hal sulit. Ia tak pernah mengalami kepelikan karena urusan pekerjaan tapi Naya, wanita itu terlalu sulit diluluhkan. Sikap manis dan manja wanitanya kini hanya menjadi kenangan. "Aku sangat merindukanmu," ucap Reza memandangi foto yang kini menjadi wallpaper ponselnya. Sebelum pertengkaran itu, foto wallpaper ponselnya hanya layar bawaan. Sementara di tempat lain. Naya merasakan nyaman pada tubuhnya yang rileks karena pijatan yang di terimanya. "Mba, aku tidur boleh?" tanya Naya merasakan kantuk yang mendera. "Boleh mba," jawab wanita yang usianya tampak tak jauh berbeda dengannya. Ia pun tidur dengan nyaman. *** Hari pernikahan pun tiba. Reza berdebar hatinya. Setelah satu minggu lamanya ia tak melihat wajah wanitanya. Kini ia bisa kembali memandanginya. Ia tak berani mendekat karena takut merusak suasana hati wanitanya. Hari ini acara pernikahan, ia tak mau orang lain mengetahui perang dingin yang terjadi saat ini. "Baru kali ini lihat pengantin ceweknya dua." "Mending itu, daripada selingkuh tiba-tiba kalau kaya gini juga adem lihatnya, akur." Naya hanya bisa tersenyum kecil. Akur. Satu kata yang terdengar seperti mengejek dirinya. "Nay, aku kaget banget lho pas dateng," ucap Indira teman sekolah Naya saat di menengah atas. Naya langsung mendekatkan telunjuk ke bibirnya. Meminta untuk tidak terlalu heboh. Tanpa sadar ia memisahkan diri. "Wah kok bisa sih." "Bisalah." "Kamukan udah lama jadian sama cowokmu, dia selingkuh?" Naya menggeleng kecil. "Kamu yang kuat yah," ucap Indira memberikan pelukan pada temannya. Naya mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya. "Aku baik-baik aja kok, dia ...." Ragu Naya melanjutkan ucapannya. Bibir bawahnya digigit seperti kebiasaanya. "Gimana?" "Dia sahabatku, a—aku yang minta mas Reza buat bawa sahabatku juga. Eum ... tahukan istilah sehidup semati." Senyum palsu itu merekah begitu menipu. Meskipun itu hanya senyum palsu namun Reza senang, senyum itu yang sudah lama tak dilihatnya. Ia juga cukup terpana denga jawaban yang dilontarkan istrinya. Status mereka sudah berganti sekarang. “Nay, ayo foto.” Dokumentasi selalu menjadi prioritas untuk acara seperti ini. “Sumpah, lo keren banget,” pujian itu terus mengalir membuat Naya tak bisa melepas senyum palsunya. Pandangan matanya menatap iri pada Dara yang tersenyum lebar dengan Reza yang tengah berbicara. Cantik, Naya tak bisa menyangkal kecantikan sahabatnya. Kecantikan yang mungkin menjadi salah satu alasan Reza membantu Dara. Cemburu, ia merasakan itu. Ia merapat kembali. Meminta fotografer untuk siap memfotonya, Jepretan demi jepretan terus mereka lakukan hingga acara selesai. Senyum yang awalnya merekah kini kembali datar. Naya menyandarkan tubuhnya pada kursi, tubuhnya sudah sangat lelah. Ia menerima banyak tamu, berbeda dengan Dara yang tak memiliki tamu untuk diundangnya. Naya dan Dara memang sahabat erat, bermula dari Naya yang menjadi langganan di coffeeshop tempat Dara bekerja dan mulai berbagi cerita. “Cape?” tanya Reza. Dara mengangguk, “Iya cape banget,” balasnya cepat. Naya memicingkan matanya, ia sangat yakin jika pertanyaan Reza tadi untuk dirinya dan Dara menyerobot begitu saja. “Nanti kupanggil professional spa lagi,” balas Reza dengan senyum tipis dan canggung. Ia berada di tengah dengan Dara di sisi kiri dan Naya di sisi kanan. Naya melanjutkan tubuhnya yang bersandar, “Aku ngantuk, kapan ini bubarnya?” tanya Naya dengan ringan. Acara pernikahan yang sakral justru terasa bagai lelucon baginya. “Istirahat aja, aku masih ada tamu yang belum datang,” balas Reza yang dengan senang hati membuat Naya bergegas pergi, hatinya senang mendapat ijin untuk pergi. Baru menuruni tangga, orang tuanya sudah mencegat. “Kamu mau kemana?” “Istirahat, Bu. Udah diijinin sama mas Reza.” “Tapikan ini acaramu, masa iya pengantinnya malah santai-santai dikamar?” “Kalau gitu aku tidur di panggung pelaminan,” balas Naya yang awalnya akan naik lagi, Reza sudah di hadapannya. “Ga papa, ayah, ibu, lagian Naya juga udah kecapean, biar istirahat dulu.” Naya tersenyum menang dan melenggang masuk kembali ke kamarnya. Acara memang dilaksanakan dihalaman rumahnya. Nuansa outdoor yang indah dan tertata begitu apik. Naya mengunci pintu kamarnya, melarang siapapun untuk masuk. Sambil mematut diri di cermin, ia perlahan melepas hiasan yang ada di rambutnya. Tak berani ia merusak aksesoris milik orang lain. Ia bahkan melepas gaunnya meski sedikit kesulitan. “Aku harus berendam,” ucap Naya bergegas ke kamar mandi. Memanjakan tubuhnya dengan air hangat, bath bomb, minyak aromatherapy dan bola pijat. Tubuhnya sudah sangat kaku. Alunan musik di putar, tirai sudah menutup rapi dengan segelas air yang ia letakan di dekatnya. Matanya di pejamkan merasakan pijatan ringan dari bola pijat yang ia masukan. Harumnya pun menenangkan, membuat ia tidur tanpa sadar. *** Pukul empat acara selesai. Reza bergegas meninggalkan tempat acara. Ia langsung menuju kamar Naya dan lagi-lagi kamarnya di kunci. Bu Harti menjadi satu-satunya orang yang bisa membantunya. "Bu, bisa bantu panggilin Naya? Di tunggu di ruang tengah." "Bisa mas, saya ambilkan kunci cadangan dulu." Bu Harti kembali dengan kunci di tangannya. Reza mempercayainya. Ia bergegas mengecek Dara yang tengah melepas aksesoris. Senyum kecil terukir di wajah Reza dan kembali ke ruang keluarga. "Kok kamu bisa sih nikahin dua cewek kaya gitu? Kamu juga ga bilang apa-apa sebelumnya!" Reza tersenyum canggung. Ia juga tak tahu harus menjelaskan seperti apa, karena apapun yang diucapkan hanya terdengar seperti pembelaan. "Ga papa, Bu. Pasti mas Reza punya alasan tersendiri." "Tapi tetep aja lho Bu, masa ga bilang ke saya. Banyak yang nanyain kami yang bingung." "Nanti Reza jelasin Bu, tapi ga sekarang. Mohon banget ibu bisa ngertiin Reza." "Ayah juga ga habis pikir." "Maaf yah." Lesu. Sungguh ia tak mengatakan kepada kedua orang tuanya karena ia tahu, hanya akan ada penolakan. Kakinya bahkan tak bisa diam, terus bergetar. "Nanti jangan bahas ini ya, Pak.. Bu." "Ibu masih ada urusan, mau pergi sekarang." "Ga makan malam bersama dulu?" "Ibu maunya gitu tapi ga bisa," balas ibunya menunjuk ponselnya. Menunjukan agendanya hari ini. "Lain kali ya, maaf ya pak, Bu." Suara ayahnya kali ini. 'Menyedihkan,' batin Reza yang hanya bisa tersenyum tipis. Berat hati ia mengantarkan orang tuanya hingga ke parkiran. Naya baru saja keluar dari kamarnya. "Mereka pulang?" tanya Naya pada Bu Harti yang dibalas gelengan kepala. "Ibu juga ga tahu, Mba." Naya memandangi suaminya yang kembali dengan langkah gontainya. Wajahnya begitu lesu. "Mereka pulang?" tanya Naya pada akhirnya. Reza baru menyadari kehadiran Naya. Mendengar suaranya sudah membuat sebagian bebannya terangkat. Senyum tipis terukir di wajah Reza. "Iya, ada urusan." Naya ber-O ria dan membalikan tubuhnya. Berjalan menuju ruang tengah meninggalkan suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN