TITIK KUAT NAYA

1204 Kata
Meja makan yang awalnya diisi untuk tujuh kini hanya terisi lima orang. Naya memandangi wajah suaminya keheranan. Raut arogan yang biasa menghiasi kini tampak lesu. "Tanganmu kenapa nak sampai keriput gini," tanya sang Ayah membuat Naya langsung menarik tangannya. Semua mata mengarah kepadanya. "Kamu kenapa?" tanya Reza yang ada disampingnya. "Bukan apa-apa kok, tadi ketiduran di bath up." "Lihat," ucap Reza sembari menarik tangannya. Pandangannya terkunci begitu saja. "Ga papa, akunya ketiduran." Naya kembali menarik tangannya. Sentuhan yang dulu sangat ia sukai kini berubah menjadi jijik. Naya langsung mengalihkan perhatian. "Ayo makan, udah laper." Naya menjadi orang pertama yang mengambil piring. Memulai untuk makan. Ia mengisi piring dengan nasi dengan porsi yang lebih banyak dari biasanya dan lauk yang berwarna. Naya selesai mengambil porsi makannya, saat ia hendak menyendokkan makanan ke mulut ia merasa semua mata memandangnya. "Kenapa?" tanya Naya kepada ibunya. "Kok ga ambilin buat suamimu dulu?" tanyanya membuat Naya mengerjap. Benar! Saat masih berpacaran ia selalu memanjakan suaminya. "Ga papa Bu, sa—" "Biar saya yang ambilkan, Bu." Dara memotong ucapan suaminya. Naya tersenyum miring dan juga merasa menang. Ia melanjutkan makannya. Ia tak perlu menjadi orang lain dihadapan orang tuanya. Kecewa, ia masih merasakan itu. Sangat dalam. Mereka menikmati makan malam yang lebih awal. Hening tanpa pembicaraan yang berati. Padahal sebelumnya selalu ada pembicaraan receh setiap makan bersama. Kehadiran Dara cukup memiliki pengaruh kuat untuk membungkam semua orang disekelilingnya. "Bapak sama ibu apa ga nginep aja disini? Reza udah siapin kamar." "Ga bisa, ayah besok kerja. Lain kali aja ya?" Reza hanya mengangguk kecil menanggapi itu. "Reza panggilin supir kalau gitu." "Taxi online aja biar cepet, biar bapak bisa istirahat." Ibunya memberi saran. "Ya udah taxi online aja, Naya pesenin." Untuk saat ini, ia sangat tak nyaman dengan orang tuanya. Ia langsung memesankan taxi online. "Nanti ibu sama bapak, kabarin yah kalau udah sampai." "Udah pesen?" "Lagi di jalan." "Kok kamu pesenin sekarang sih? Bapak sama ibu baru selesai makan." "Tinggal suruh nunggu aja," ketus Naya bangkit dan menuju kamarnya. "Jangan di ambil hati ya mas Reza. Naya emang kaya gitu, tapi dia mudah luluh kok." Suara ayahnya menenangkan Reza. "Iya pak, nanti bapak sama ibu kabarin Reza ya." "Nak Dara, kami titip Naya ya?" "Iya pak, maaf ya saya jadi tiba-tiba hadir di keluarga ini." Tak ada balasan. Hanya anggukan tanda mereka tak benar-benar menerima kehadiran Dara. Wanita itu sama sekali tak sakit hati. Tujuannya hanya Reza, ia tak perlu sakit hati. "Nay, bapak sama ibu mau pu—" Reza menghentikan ucapannya melihat Naya membawa tas. "Kamu mau kemana?" "Ga kemana-mana, cuma nitip tas ini banyak baju yang ga kepake, jadi mending di bawa pulang." "Pulang kemana? Rumah kamu disini!" Reza menekankan setiap katanya membuat Naya menunduk dan mengangguk. "Ya ... ya udah ga jadi, kenapa marah-marah mulu sih," gerutu Naya kembali meletakan tasnya di kolong kasur. Reza terdiam, kamar istrinya menjadi begitu luas. "Taxinya udah dateng?" tanya Naya meraih ponselnya dan mengecek map. "Oh, udah sampai gerbang." Wanita itu melewati Reza begitu saja. Wajahnya tak seketus kemarin. Reza sedikit lega melihat raut istrinya yang berubah sedikit sumringah. Ia hanya menyesali dirinya yang tak bisa menahan kekesalan dan terus berakhir dengan membentaknya. "Kabarin Naya pokoknya kalau udah sampai," pinta Naya masih dengan senyum palsunya. "Kalian ... Jangan berantem ya? Ibu khawatir." "Ga usah khawatir bu, kita bukan anak kecil yang suka berantem. Lagian berantem karena apa coba, ga ada alasan." Naya mengoceh saat melihat Reza yang hampir membuka mulutnya. Naya tersenyum menang saat berhasil membungkam Reza. Mobil itu bergerak keluar dari area rumah mereka. Naya membalikan badan hendak ke kamarnya namun di cegah oleh Reza. "Aku mau bicara." "Oh, ya udah mau ngomong apa?" Pandangan menantang dari Naya membuat Reza menghela nafas berat. Ia tak mau dipandang lemah, senyum miring sebagai pertahanan dirinya. Padahal tubuhnya masih lelah, panggung acara bahkan sudah mulai dibongkar padahal baru tadi di gelar. Dara yang paham akhirnya meninggalkan keduanya lebih awal. "Sebentar aja." "Ya udah, kita emang perlu bicara kok," balas Naya menarik sudut bibirnya. Dalam hatinya mengatakan, 'ini saat yang tepat.' "Mau ngomong diman—" Ucapannya tak diteruskan saat melihat Naya langsung masuk ke kamarnya. Pintu kamarnya yang terbuka lebar, bukankah itu k ia boleh masuk? Reza berjalan perlahan khawatir mendapat teguran. Ini kali pertama dirinya bisa melihat wajah istrinya lagi setelah seminggu mengurung diri. "Stop!" Naya mencegat Reza untuk lebih dekat. "Duduk di kursi itu." Naya menunjuk kursi riasnya. Keheningan tercipta sesaat setelah Reza mendapatkan tempatnya. Naya tak gentar mengamati pria dihadapannya yang terlihat begitu rapuh. Padahal belum lama dari itu, ia sudah mendapatkan bentakan. "Kenapa kamu mengeluarkan pakaianmu?" tanya Reza dengan lirih. "Bajunya terlalu banyak, aku hanya mengeluarkan barang yang tak lagi kubutuhkan." "Termasuk seperangkat alat kerja." "Iya." Reza terakhirnya kalau wanita di hadapannya berkata dengan begitu tegas, tanpa keraguan, tanpa nada manja seperti yang biasa ia dengar. "Kamu ga mau kerja lagi?" "Ga mau, aku mau menikmati masa pengangguranku dulu. Ada masalah? Kamu punya Dara, pekerjakan saja dia. Kurasa tiga tahun sudah cukup untuk bekerja. Mau tanya apalagi?" Helaan nafas berat begitu terdengar dari Reza. "Berhenti menjadi orang yang tersakiti. Sadari posisimu!" Geram Naya menahan emosinya, darahnya mendesir dengan hatinya yang terus menerus terluka. "Sudah jelas aku yang dikhianati!" desisnya. Pria itu hanya mengangguk kecil tanpa bersuara. Ia beringsut turun, berjalan dengan lututnya menuju istrinya yang duduk di bibir ranjang. "Ngapain ka—" ucapan Naya tertahan kala tangannya diraih dan digenggam begitu erat, "Aku minta maaf." Genggaman tangan itu menyentuh kening Reza yang ... sedikit panas. Demam? Naya tak mau pedulikan itu. Hanya seulas senyum tipis yang terukir dibibirnya, namun matanya tak bisa berhenti berkedip dengan rasa sakit yang semakin terasa. Melihat suaminya meraih tangannya, menunduk di hadapan meminta maaf, ia juga merasakan sakit. Pada dasarnya Naya bukan orang yang kejam. Ia punya hati. "A—aku minta maaf karena merusak segalanya," lirih pria itu. Naya terusik kala merasakan ada yang menetes ditangannya. Reza menangis? "Jelas! Kamu memang salah. Sudah sepantasnya kamu harus minta maaf, kamu menamparku, membentakku dan kamu ingat kesombongan apa yang kamu katakan? kamu menyuruhku pergi saat aku dengan jelas menolak Dara." "Aku minta maaf, aku sudah mengatakan alasan yang sebenarnya dan aku ... dan aku tak mungkin membatalkan ucapanku, aku hanya ingin membantunya." "Omong kosong!" Naya menarik tangannya kuat membuat Reza hanya berlutut lemah dihadapannya. "Aku bisa gila!" gumam Naya mengacak rambutnya frustasi. "Duduklah! Ada yang mau kubicarakan juga, jangan kira aku bisa memaafkanmu begitu saja." Naya menggeser duduknya. Tak sudi berhadapan dengan Reza yang berlutut dihadapannya. "Kabulkan permintaanku, aku akan memaafkanmu." "Kukabulkan! Apapun selain perpisahan, aku akan kabulkan." Naya tersenyum menang. Ia segera meraih ponselnya, membuka hasil screenshot-an yang di dapatnya. "Duduklah, aku tak akan luluh meski kau semakin merendah dihadapanku, aku sudah terlanjur kecewa." Reza menuruti ucapan istrinya. Ia kembali mundur, duduk di kursi yang tadi ia duduki. Ia masih belum berani untuk duduk di samping istrinya. Ia tak mau membuat wanita yang dicintainya semakin marah. "Aku cukup waspada setelah kejadian ini, kamu bisa membawa wanita lain dengan mudahnya dan kamu juga mengusirku waktu itu dengan mudah. Aku harus berjaga, aku tak minta banyak padamu, aku tak mau dibuang begitu saja dalam keadaan lemah dan tak berguna." Naya mengulurkan ponselnya membuat Reza langsung menerimanya. Pandangannya melebar kala melihat layar ponsel yang sedang di tampilkan. "Aku mau kuliah lagi!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN