PINTU KAMAR TERBUKA

1019 Kata
"Aku mau kuliah lagi!" Reza melebarkan pandangannya. "Nay, ini ga bisa." "Kamu bilang apapun selain perpisahan, kuliah S2 cuma dua tahun! Tak masalah kalau kamu melarangku juga! Keluar sekarang dan jangan pernah masuk ke kamarku lagi." "Ini rumahku Nay." "Kalau begitu aku yang akan pergi!" Naya bangkit dari tempat tidurnya. Melongok pada kolong kasur dan mengambil tasnya. Reza tertohok dan menarik tas istrinya. Dramatis. Ia tak ingin kehilangan wanitanya. "A—aku minta maaf. Jangan pergi," tahan Reza membuat Naya kini memandang sinis pria dihadapannya. Dadanya kembang kempis karena rasa kesal di hatinya. "Jangan luar negeri," pinta Reza. "Aku akan carikan kampus asal jangan sejauh itu, aku gak sanggup Nay!" Naya mendapatkan kemenangannya lagi. Brosur luar negeri hanya umpan. "Kalau gitu carikan, aku mau yang beda provinsi." "Kenapa harus sejauh itu?" "Sudahlah, percuma aku bicara." Naya melempar tasnya dan berjalan menuju ranjang. Mungkin tidur akan menjadi hal yang terbaik untuknya saat ini. "Padahal aku udah berbaik hati, tapi ya sudah kalau kamu ga mau. Pergilah, istrimu yang lain menunggumu." Naya menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Reza meneguk ludahnya tak rela. "Selesai menuntaskan study, apa kamu akan menganggapku sebagai suamimu?" tanya Reza membuat Naya langsung bangun dan menyibak selimutnya. Senyum palsu itu kembali terukir. "Tidak selama itu, setelah aku menemukan tempat kuliah yang cocok untukku. Aku akan mencoba menerimanya." Naya mengacungkan kelingkingnya. Senyumnya kembali cerah. Ia menahan diri untuk tidak menampar pria dihadapannya. Yang Naya inginkan hanya pergi sesegera mungkin. "Aku akan mengijinkannya dengan syarat kamu harus menerima panggilan dariku." "Tentu, aku masih membutuhkan uangmu untuk biaya kuliah dan kehidupan sehari-hariku disana." Reza menyerah. Ia akan membiarkan wanitanya pada apapun yang ia inginkan. "Akan kucarikan tempat untukmu." Dadanya naik turun, seiring dengan emosi yang tak kunjung reda. "Kenapa tiba-tiba kuliah lagi?" "Aku tak mau dibuang dalam keadaan menyedihkan." "Ga ada yang buang kamu Nay!" "Kamu ga lihat gimana orang tuaku? Kamu bisa bawa wanita lain dengan mudah, pasti mudah juga untukmu menambah dua sampai tiga lagi dan aku akan tersisihkan be—" "Berhenti! Cukup, aku tak akan bertanya lagi. Jadi kumohon berhenti." Reza membalikan tubuhnya keluar dari kamar istrinya. Naya menghela nafas berat. Hatinya sakit dengan dirinya sendiri. Ia juga sakit melihat pria yang ia sayangi begitu tersiksa. "Aku hanya tak ingin orang lain merendahkanku." *** Naya mematut dirinya di cermin. Matanya sedikit sembab karena ia kembali menangis mengingat suaminya. Ia masih sangat menyukainya. Tiga tahun bersama, sudah membuat mereka saling bergantung. Lagi-lagi ia harus menghapus rasa haru itu mengingat ucapan sahabatnya, Dara yang mengatakan sudah berhubungan lama dengan suaminya. "Menyebalkan sekali, alasan macam apa membantu wanita dengan menikahi, omong kosong!" Sementara di meja makan. Dara dan Reza tengah menunggu kehadiran Naya. "Coba ku panggil ya mas," ucap Dara yang langsung di cegat oleh Reza. Menggelengkan kepala menolak saran itu. "Bu, minta tolong panggilin Naya ya? Kalau ga mau jangan di paksa." Reza tak merasa benar jika Dara yang memanggilnya. Bu Harti masih menjadi orang andalannya. "Dia masih marah sama kamu, biar Bu Harti aja yang manggilin." "Aku juga pengen baikan sama Naya, maaf ya mas. Gara-gara aku hubungan kalian jadi kaya gini," ucap Dara dengan wajah memelasnya. Reza hanya tersenyum tipis menanggapi itu. "Bukan salah kamu kok, lagipula kamu juga ga bisa terus-terusan disana," balasnya. Dara memandangi Naya keluar dengan asisten rumah tangganya. Tangannya dengan sigap mengambilkan piring untuk makan suaminya. Menyendokkan nasi dari ricecooker. "Mas nasinya kurang atau engga?" Reza belum menyadari kehadiran Naya. "Jangan banyak-banyak, ga habis nanti." "Kamu harus makan yang banyak, lagian nanti siapa yang habisin ini, lauknya apa?" Naya tersenyum miring mendapati kelakuan sahabatnya. Ia sangat paham gelagat Dara yang sedang memanas-manasinya dan ia masih tak menyangka jika suaminya menanggapi itu dengan respon biasa saja. "Pria bodoh," maki Naya pelan dan menarik kursinya. "Ibu dah makan belum?" "Saya udah ambil bagian saya mba." "Oalah, ya udah makasih ya, Bu." Ramah tamah Naya berakhir dengan mengambil piring makannya dengan kasar. "Mas hari ini ga kerja?" "Engga, dapet cuti tiga hari dari kantor." Reza mencuri pandang ke arah Naya yang sama sekali tak meliriknya. Wanita itu dengan lahap menikmati makanannya. "Ada tempat yang mau kamu kunjungi?" tanya Reza memandang istrinya yang masih mengabaikannya. Pertanyaan untuk Naya justru dijawab oleh Dara dengan begitu semangat. "Pantai gimana? Udaranya sejuk disana bikin adem. Mas mau kesana?" "Kamu ikut Nay?" "Aku ga enak badan," balas Naya singkat menolak ajakan itu. "Kamu sakit?" "Ga enak badan aja." Wanita itu sama sekali tak menatapnya. "Kalau gitu kita berdua aja mas, kamu mau nitip apa?" suara Dara terus mendominasi meja makan. Naya melirik sinis pada wanita yang kini juga menantangnya. Tatapannya sangat terbaca. "Pantai ya?" gumam Naya membuat Reza berbinar. Ada secercah harapan untuk wanita itu ikut. Harapan. Hanya harapan. "Aku nitip manisan aja, yang warna merah kuning ijo satu bungkus. Taroh di kulkas aja." Naya kembali melanjutkan makannya. Reza dan Dara juga akhirnya memilih untuk melanjutkan makannya. 'Aku memegang kekuasaan tertinggi.' Naya merasa bangga akan dirinya. Ia kembali menambah nasi dan lauknya. Selama ini ia terus menahan berat idealnya dan untuk kali pertama setelah sekian lama bersama, ia ingin hidup sebebasnya. Nasi dan lauk Naya tambahkan ke dalam piring. Ia tak memiliki rasa kenyang setelah semalaman ia menangisi pria dihadapannya. 'Pantai tanpa Naya,' pikir Reza membuat ia menghela nafas berat. Terlalu sulit. Padahal wanita itu sangat menyukai pantai. Dalam sebulan mereka bisa tiga kali pergi ke pantai. Ingatannya kembali pada minggu lalu saat ia mengantar istrinya kerumah. Wanita itu bahkan menolak turun ke pantai. 'Apa dia mulai membenci pantai?' pikir Reza menggelengkan kepalanya yang kembali pening. Naya menghabiskan makannya dengan cepat, menata piringnya dan membawanya menuju wastafel. "Selamat bersenang-senang kalian," ucapnya dengan sindiran yang tulus dan berlalu ke kamarnya. Nayara, wanita itu kembali ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya dengan ponsel yang di miringkan, menonton drama yang sekarang tidak begitu ia minati. "Apa jadinya jika aku benar-benar terbuang, tapi mas Reza ... dia sama sekali tak menanggapi Dara. Ia memeluk gulingnya, merubah posisi tidurnya. Kakinya di gerakan dengan gelisah. Pintu kamarnya terbuka tanpa aba, tanpa ketukan dengan Reza yang muncul dari balik pintu. Suaminya datang, tiba-tiba. Naya langsung mengubah posisinya terduduk canggung. "Katanya mau jalan-jalan, kenapa kesini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN