Naya terjengit saat pintu kamar itu ditutup dan dikunci oleh suaminya. Kuncinya ia simpan di saku celananya. Naya tanpa sadar mengeratkan cengkeramannya pada selimut yang ada di depannya. Hatinya merasa was-was.
"A—ada apa?" gagap Naya kelimpungan dibuatnya. Reza masih dalam ekspresi datarnya. Reza menaiki ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman. 'Kenapa bertindak seenaknya!' batin Naya mendelik. Ia tak akan bisa menang jika Reza bertindak seenaknya.
"Katanya mau jalan-jalan."
"Ga jadi." Pria itu memejamkan matanya dengan lengan yang menutupi matanya.
"Tidur dikamarmu."
"Ini kamarku juga."
Naya memilih mengabaikan suaminya. Meraih ponselnya dan duduk sedikit menjauh. Telinganya ia sumpal dengan earphone dengan harapan ia tak mendengar suara pria itu.
Sebisa mungkin ia fokus untuk menonton film di ponsel namun tetap saja. Sudut matanya tak bisa mengabaikan pria disampingnya. Deru nafasnya beraturan.
'Dia tidur?' batin Naya.
"Aku ada proyektor di kamar kalau kamu mau," ucap Reza tiba-tiba, suaranya terdengar serak. "Hpmu terlalu kecil untuk menonton, kamu juga bisa pakai laptopku, ada satu tak kupakai."
Naya memilih untuk membuang muka, menyandarkan kepalanya pada bantal dan kembali menonton. "Jangan abaikan aku, Nay."
"Aku lagi nonton."
"Ku ambilkan proyektor, mau?"
"Ya udah ambilin."
Reza kembali bangun. Langkahnya sempoyongan, Naya menyadari itu, namun ia memilih untuk mengabaikannya. Ia tak mau bersikap terlalu baik. "Apa dia gila?" Maki Naya saat mendengar suara kunci di putar. Ia dikunci dari luar.
"Padahal aku udah ga punya tempat buat kabur."
Naya merebahkan tubuhnya dengan nyaman, samar-samar terdengar pembicaraan dari luar. "Mas aku pergi dulu ya?" Naya sangat mengenali suara sahabatnya.
"Iya, hati-hati ya," balas Reza dan tak lama suara kunci di putar kembali terdengar. "Wanita itu terus-terusan pergi, ngapain coba," gerutu Naya kembali menyibukan dengan tontonannya.
Sedikit tergopoh, Reza membawakan laptop dan proyektor. Naya hanya mencuri pandang. Melihat suaminya mulai sibuk memasang roll kabel, dengan proyektor dan laptop yang saling dihubungkan. Beruntung dinding kamarnya tak penuh barang.
Tak sampai sepuluh menit, Reza menyelesaikannya. "Udah nih," ucap Reza. Naya terkesiap dengan wajah pucat suaminya. 'Apa dia sakit?' khawatir. Ia tak bisa menyangkal itu.
"Nay, kamu masih marah?"
"Apa aku harus bawa pria lain ke sini agar kamu tahu yang aku rasain sekarang?" Bungkam tak ada jawaban. Naya mengambil alih laptopnya. Menyalakan drama yang akan ia tonton. Speakernya bahkan berbunyi dengan baik.
"Tidurlah, wajahmu pucat," ucap Naya menunjuk ranjang dengan dagunya. Wajah Reza begitu sumringah mendengarnya dan bergegas naik ke atas ranjang. Ia menyamankan posisi tidurnya.
"Aku tidak tidur semalaman."
"Wah, menakjubkan," balas Naya sekenanya. Ia masih sibuk dengan laptopnya, jaringan internetnya sedikit lemot. "Nay, jangan salah paham, aku semalam tidur di kamar sendiri."
"Aku ga nanya dan ga peduli juga," balas Naya memamerkan senyum kucing meremehkan pria dihadapannya. Reza mengatupkan bibirnya. Mengunci agar tidak bicara lebih banyak. Ia bisa tidur diranjangnya saja, sudah kemajuan.
"Tapi silau," gumam Naya melirik tirai kamarnya yang terbuka lebar. Ia bisa saja menutup semua akses cahaya menuju kamar tapi pria yang berbaring diatas ranjang, apa ia bisa menjaga keselamatannya?
"Kenapa ga tidur di kamarmu."
"Ini kamarku juga."
Naya memandang ragu suaminya. Kamar gelap itu bukan hal yang bagus. "Gambarnya samar ya?" tanya Reza kembali bangun dan menutup tirai. Naya membeku saat kamarnya tiba-tiba gelap.
“Udahkan?” tanya Reza lagi dan langsung membaringkan tubuhnya, tak menyadari jika wanita yang kini duduk di depan laptop lupa cara bernafas.
Film itu di putar, namun Naya tak beranjak ke ranjang. Padahal dinding kamarnya penuh dengan film yang di putar. Reza memicingkan matanya, “Kenapa malah nonton di laptop?” Naya gugup.
Ia mengusap wajahnya berkali-kali. Satu-satunya cahaya yang ada hanya dari proyektor yang memberikan pantulan. Ragu, Naya beranjak ke kasurnya. Reza sudah kembali memejamkan mata meskipun ia yakin jika pria disampingnya masih terjaga.
Naya memfokuskan pandangannya, kembali menikmati film yang diputar. Senyumnya merekah, film yang di tontonnya bertema romance lifeschool yang sangat ia sukai, kisah percintaan dengan konflik ringan dan romance picisan.
Sesekali ia terkekeh kecil. Sesaat ia melupakan suaminya yang terbaring di sampingnya. Deru nafasnya teratur dengan dengkuran kecil, pria itu benar-benar tidur begitu lelap.
Naya mengecilkan volumenya, tak ingin menganggu. Ia menyamankan posisi duduknya, dengan bantal yang jadi sandaran tubuhnya dan bantal lain di peluknya. Setengah jam berlalu, film yang ditonton sudah setengah jalan.
Naya terus mencuri pandang suaminya. Perlakuannya masih sangat baik kepadanya, hanya saat bersama Dara, suaminya menjadi orang yang berbeda. Dering ponsel mengejutkannya, begitu pun dengan Reza yang terusik tidurnya.
Naya meraih ponsel yang ia tinggalkan disamping proyektor, mengangkat panggilan video dari ibunya. “Halo?" sapa Naya mempause laptopnya. Reza membuka matanya dan kembali memejamkan mata. Tidurnya terganggu.
“Suamimu mana? Ibu telepon kok ga diangkat? Ga kerjakan? Biasanya orang kantoran dapat libur beberapa hari.”
“Mas Reza lagi tidur, hpnya mungkin ketinggalan di kamar.” Naya menjawab pertanyaan ibunya yang menanyakan keberadaan Reza karena tak bisa dihubungi.
“Tidur dimana? Kamu lagi males banget siang kaya gini kamarnya dimatiin semua.”
“Apa sih bu, lagian emang harus ngapain. Nih kalau nyariin mas Reza,” kesal Naya menjawabnya. Ia mengguncang tubuh suaminya agar terbangun.
“Mas, ibu nelpon,” ucap Naya saat melihat Reza membuka mata, ia langsung bangkit dan mengucek matanya. “Halo bu,” sapa Reza dengan senyum tipis dan suaranya serak.
“Lho, kamu sakit?”
“Ngga kok bu, cuma kurang tidur aja semalam,” balasnya membuat kehebohan diluar sana. Naya membuang muka mendapati pandangan suaminya. “Ga usah buru-buru, kita ga bakal minta cepet-cepet di kasih cucu kok.”
Naya mendelik mendengar itu. Wajahnya merah tak terkendali. “Kita juga ga buru-buru, bapak sama ibu sehat? Pasti perjalanan kemarin cape banget.”
“Lumayan, bapak kemarin langsung panggil tukang pijet jadi sekarang udah berangkat kerja lagi. Ibu cuma khawatir, kalian ga berantemkan?”
“Engga bu, ibu ga perlu khawatir.”
“Ya sudah kalau gitu, ibu matiin panggilannya yah, dahh.”
Panggilan berakhir. Reza kembali beringsut merebahkan tubuhnya. “Ku taruh sini ya,” ucap Reza kembali tidur meringkuk dengan memeluk guling. Naya penuh tanda tanya. Pria itu … hanya diam saja setelah perkataan ibunya.
Ia bergegas menuju dekat pintu, menyalakan lampunya membuat Reza mengerjapkan matanya merasakan silau. “Kenapa dinyala―”
“Kamu beneran sakit?” tanya Naya mendekat. Pandangannya kesal tak sejalan dengan ucapannya yang penuh kekhawatiran.
Pria itu hanya membalikan tubuh membelakangi dan menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Naya yang memang memiliki hati hangat dan tidak tegaan tergerak, punggung tangannya menyentuh kening suaminya.
‘Dia benar-benar demam.’