“Kenapa bisa sampai sakit sih,” gerutu Naya membuat Reza bangkit dari tidurnya. “Aku balik ke kamar,” ucapnya membuat Naya mengepalkan tangan. Ia tak bisa membiarkan orang sakit sendirian. Ia tahu rasa kesepian saat sakit akan menjadi berlipat. “Kenapa aku baik sekali,” gumam Naya yang langsung mencegah suaminya. “Tidurlah, kucarikan obat, jangan kemana-mana.” Naya keluar kamarnya, mencari kotak obat yang biasanya ada di ruang tengah. Ia menelusuri laci-laci. Reza sakit bukan hal baru baginya, ia sudah sering melihatnya dan alasan paling sering ia dengar karena beban pikiran, kehujanan dan kecapean. “Manusia playing victim,” gerutu Naya kembali dengan membawa segelas air minum. Ia mendapati Reza masih terduduk dengan kepala menunduk. “Aku minta maaf.” “Aku belum memaafkanmu,” jawab Na

