Episode Tanpa Judul

1282 Kata
Jordi menggerbak meja. Kabar yang dia dengar dari Rachel tentang pernikahan Audy, membuatnya emosi bukan main. Dia tidak menyangka, kedatangan Rachel dengan membawakan seikat bunga plastik yang indah, ternyata bunga hasil lemparan dari Audy dan Rasya. Seakan merasa terhina, Jordi malah melempar bunga di atas meja itu ke lantai, yang bukannya membuat Rachel takut, namun malah tersenyum sinis sembari melipat kedua tangannya di atas perutnya. Rachel yang sejak tadi duduk di hadapan Jordi, tampak Benar-benar puas dengan respon yang dia dapatkan dari Jordi. Semula Rachel geram, kebahagiaan yang dia tangkap oleh kedua matanya di acara pernikahan Audy, mwmbuatnya muka bukan main. Bahkan semog marah pada Jordi yang tidak bisa menolongnya sebelum pernikahan Audy berlangsung, namun Rachel kini puas, dirinya berhasil memancing emosi Jordi yang semula melempem. Seolah sebelumnya ingin menujukkan bahwa cinta untuk Audy masih singgah di hatinya, hingga membuatnya tidak bisa marah pdha wanita itu. "Loe marah?" tanya Rachel santai. Jordi masih berdiri dengan napas terengah-engah seeprti baru saja lari marathon. "Percuma juga sih loe marah, gak ada gunanya juga. Dia tetap sudah nikah sama lelaki yang lebih mapan dari loe. Lebih tampan, lebih kaya, sopan dan lebih segalanya dari loe. Gak kayak loe yang seorang napi dengan kasus yang memalukan." Rachel tertawa menyeleneh seakn menyindir Jordi yang kini perlahan kembali duduk di kursinya. Dia tampak malu dengan kasus yang menjeratnya. Seharusnya dia bisa melindungi wanita yang dia cintai, bukan malah bersekongkol dengan Melody menjebak Audy menikah dengan lelaki tua bangka yang kayak raya. Akibat penangkapannya waktu itu, membuat semua tindakannya yang pernah kasar pada Audy langsunh ketahuan. Membuatnya kasusnya semakin berat, tidak seperti Melody yang dia dengar sudah berhasil bebas. "Lelaki itu juga tidak pernah kasar, apa lagu sampai membentaknya seperti loe," sambung Rachel. "Diam!!!" bentak Jordi sembari menarik rambut Rachel untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah wanita cantik itu. "sekali lagi loe ngomong kayak gitu, membanding-bandingkan gue sama lelaki itu, habis loe gue buat!" Jordi melepaskan cengkramannya di rambut Rachel. Rachel tersenyum sinis membenarkan rambutnya yang acak-acakkan karena tarikan Jordi, lantas tertawa sesaat. "Gue gak bermaksud sih ngebanding-bandingin loe sama dia," ucap Rachel dengan nada meremehkan. "Tapi memang kenyataannya gitu sih. Yang gue lihat, dia lebih baik dari loe. Jauh lebih baik." Rachel menepuk-nepukkan tangannya seakan sedang membersihkan kotoran di telapak tangannya. Jordi mendengus kesal. Dia tahu siapa Rasya. Dia pernah melihatnya bahkan pernah berbicara dengannya. Lelaki dengan nada bicara sopan itu memang tampak sangat sempurna di matanya, hingga mwmbuatnya sempat cemburu buta sampai hampir menghabisinya dulu. Dan yang membuat Jordi semakin membencinya adalah, karena saat itu terjadi, Audy malah membela Rasya mati-matian. "Well, itu aja sih yang mau gue kasih tau sama loe," ucap Rachel sembari beranjak dari kursinya dan mengambil kembali bunga yang sudah tergeletak di lantai akibat emosi sesaat Jordi. "Gue gak tau kapan loe ke luar dari hotel terbaik loe ini, tapi yang pasti kapan pun loe ke luar dari sini, gue siap kerja sama bareng loe." Rachel tersenyum lebar, lantas melambaikan tangan ke Jordi dan pergi meninggalkannya. Jordi kembali menggebrak meja, mengingat wajah Rasya yang membuatnya semakin emosi, dan mendengus kasar. Kedua tangannya di kepal sesaat sebelum salah satu penjaga penjara, mwndekatinya dan membawanya kembali masuk ke dalam sel tempatnya menginap selama ini. Sementara itu, Rachel puas bukan main. Masuk ke dalam mobilnya lantas memakai kaca mata hitam miliknya yang sedari tadi Dia letakkan di dashboard mobil. "Jordi-Jordi. Akhirnya loe emosi juga. Gak sia-sia gue dapatin ini bunga kemarin, biar pun sampai malu bukan main karena dilihatin orang, tapi hasilnya malah memuaskan." Rachel tertawa. Dia tampak puas bukan main. Namun baru sebentar dia menikmati kemenangannya, handphone nya berbunyi. Rachel langsung meraihnya, membaca satu nama yang tidak lain adalah Dino, salah satu asisten pribadi sang ayah. Rachel tersenyum sinis. "Sepertinya, akan ada satu lagi kabar baik hari ini," ucap Rachel lantas menjawab panggilan itu. "Halo, ya." Rachel masih tersenyum lebar. Namun sesaat kemudian, Rachel tampak emosi bukan main. "Kok bisa sih? Pada gak becus semuanya!" bentaknya lantas mengakhiri panggilan telepon lantas menghidupkan mesin mobilnya, lalu pergi meninggalkan parkiran. *** Audy melepas kepergian Rasya bekerja. Dia tampak senang, membenarkan posisi dasi Rasya lantas memanyunkan bibirnya saat Rasya mengusap kepalanya. "Apa harus kerja di hari pertama kita baru aja nikah?" tanya Audy yang memang sempat kesal dengan keputusan Rasya untuk ikut Adit bekerja di hotel. Proyek baru keduanya tentang rumah makan yang akan dibangun di samping hotel, membuat Rasya mau tidak mau ikut turut hadir di rapat kali ini. "Mau gimana lagi, para investor yang mau menginvestasikan sahamnya di proyek kita, hari ini datang. Dia mau bertemu aku dan Adit, mustahil aku gak datang, kan?" "Tapi Dimas bisa gak datang, dia kan juga pendiri rumah makan itu juga." Audy berusaha membujuk Rasya lagi, berharap dia bisa mengurungkan niatnya untuk tetap di rumah bersamanya. Berberes barang untuk dibawa ke rumah baru yang tidak terlalu jauh dari rumah Adit, hanya beda blok saja. "Dimas kan ada operasi, jadi gak bisa ikut. Kalau gak ada operasi juga dia ikutan," ucap Rasya memberikan pembenaran pada Audy agak tidak terus memaksanya untuk tidak bekerja hari ini. "Atau kalau kamu mau, kamu bisa ikut." Audy menggelengkan kepala, "Hari ini jadwal Nisa cek ke dokter, Adit gak bisa, sementara Nina dan Aden hari ini ada jadwal di sekolah." "Tapi ini hari sabtu, kok pada sekolah?" tanya Rasya bingung. Yang dia tahu, setiap hari sabtu keduanya libur dari rutinitas sekolah. "Ekstrakurikuler, Aden ada latihan basket buat pertandingan minggu depan, Nina latihan cheerleader sama melukis hari ini. Makanya gak bisa nemanin Nisa." Rasya menghela napas panjang mendengar cerita keduanya yang begitu sibuk di sekolah. Kedua mata Rasya teralih saat Adit dan Nisa ke luar dari dalam rumah. Nisa tersenyum lebar melihat keduanya. "Gimana, Sya, udah siap?" tanya Adit sembari menerima tas berisikan beberapa berkas dan laptop yang diberikan Nisa padanya. "Sudah, Dit," jawab Rasya tampak yakin hari ini. "Dy, hari ini bisa kan nemenin Nisa cek ke dokter?" tanya Adit yang sudah teralih menatap Audy. "Kalau nanti rapatnya cepat selesai, aku segera nyusul ke rumah sakit. Cuma aku sedikit ragu sih, mengingat kasus di hotel belum juga kelar. Pihak mereka sepertinya bakalan meneruskan kasus itu." "Kok masih berani aja padahal udah jelas-jelas salah, bukti juga udah diperlihatkan, masih berani neruskan kasus?" tanya Audy yang heran mendengar pihak lawan Adit masih saja berniat melawannya dengan kasus yang sama. "Mau gimana lagi, namanya mau ngerusak nama baik, ya pastilah segala cara dilakukan biar pihak lawannya jatuh." Adit mengarahkan tatapan ke Nisa yang tampak cemas memikirkan dirinya. Adit yang mengerti maksud dari tatapan dan ekspresi cemas itu, langsung tersenyum, mencoba menenangkan sang istri yang selalu kalut jika membahas hal yang sama. "Jangan cemas, semua bakalan baik-baik aja. Kan aku punya team yang solid. Ada Aden lagi sebagai team detective. Semua pasti aman terkendali," ucap Adit sengaja membawa nama Aden agar bisa sedikit mencairkan suasana. "Kamu yakin semua bakalan baik? Kalah dia sampai mengajukan kasus ini ke pengadilan dan mem-viralkan kejadian kemarin, gimana?" tanya Nisa yang terlalu memikirkan kasus itu jauh ke depan. Walau sebenarnya apa yang dia takutkan mungkin saja terjadi. Namun Adit tidak ingin Nisa terlalu memikirkan hal-hal yang malah membuat kandungannya kembali bermasalah seperti dulu, hingga sempat membuatbya keguguran. "Gak bakalan terjadi, Nis, kan kita punya bukti kuat," ucap Audy. "Smuanya bakalan baik-baik aja, gak perlu khawatir." Nisa menarik napas panjang, lantas mengembuskannya perlahan. Adit tersenyum, mendaratkan ciuman di kening Nisa lantas di perut Nisa. "Aku pergi dulu ya," ucap Adit swmbari membiarkan Nisa mencium punggung tangan kanannnya. Nisa mengangguk, lantas menatap kepergian Adit yang melangkah menuju mobilnya. Rasya pun mengikutinya masuk ke mobil Adit di kursi belakang bersamanya, sedangkan di kursi depan ada supir dan Wahyu, bodyguard Adit yang selalu ikut ke mana pun Adit pergi. Audy mendekati Nisa, lantas merangkul nya mwncoba menenangkannya dari rasa kalut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN