Sudah 5 tahun berlalu semenjak Jung tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Setelah wisuda, V memutuskan untuk meninggalkan Busan, dan kini bekerja sebagai stylist di studio perusahaan brand fashion yang cukup terkemuka di ibukota.
Di Seoul, wanita yang kini telah menginjak usia 26 tahun itu menetap di sebuah apartemen bersama J yang merupakan mahasiswa semester akhir di salah satu universitas terpandang disana. Untuk kabar dari sang ibu, beliau masih seperti dulu; jarang pulang karena sibuk dengan pekerjaannya di Amerika.
Pagi itu, sembari menikmati teh hangat, V duduk termenung memandang ke arah langit yang sayu di luar jendela dari ketinggian lantai 11. Ia sudah tidak pernah lagi melihat Jung semenjak terakhir kali lelaki misterius itu berkunjung ke kontrakannya. Meski demikian, V masih belum bisa sama sekali melupakannya. Sampai sekarang, ia masih ingat dengan jelas mata setajam elang itu ketika menatapnya dengan lembut namun seperti orang yang lapar, d**a lebar yang membuat tubuh V seolah jadi tenggelam ketika dipeluk, sikapnya yang selalu berubah tiap waktu dan penuh kejutan, segala kemisteriusan dari sosoknya yang penuh pesona; yang belum terbongkar hingga saat ini, sentuhan tangannya yang lembut namun menghipnotis, dan bibir itu...
Bibir tipis yang telah mencuri ciuman pertamanya, mengutuk V sampai ia tak pernah bisa lagi berpaling hati pada pria lain.
Apa yang telah Jung lakukan memang sangat kejam terhadapnya... Mengejar, mendekati, merayu, dan setelah V mulai jatuh, ia menghilang begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal. Meninggalkan V dalam keterpurukan yang membuatnya semakin sulit untuk melupakan.
Semenjak bertemu dengan sosok yang segala kesempurnaannya seperti keluar dari alam mimpi itu, hidup V penuh dengan penyiksaan. Siksa yang dapat membuat pikirannya tak pernah tenang, merasa kosong sepanjang waktu, menunggunya datang walau tahu orang yang ia nanti mungkin saja tak akan pernah kembali… Seperti orang bodoh, namun ia sama sekali tidak membenci siksaan itu.
Dan kini, satu-satunya jejak yang membuktikan bahwa Jung pernah ada hanyalah semua cambukan ini.
Rasa cintanya telah menutupi kebencian V bagai gerhana matahari. Pun hanya dengan mendengar nama Jung disebut saja, jantung V selalu berdebar keras seolah Jung benar-benar ada di depannya.
"Melamun lagi... Kangen sama Jung Hyung?" Tegur J sembari berbaring di sofa, asyik memainkan handphone-nya.
Mendengar itu, V beranjak berdiri, menghampiri adiknya lalu mengapit lehernya di antara siku, "Sudah kubilang!! Jangan sebut nama itu bahkan hanya huruf J nya saja!!"
"Lalu bagaimana kau akan memanggilku jika kau saja tidak mau mendengar huruf J diseb--" belum sempat J menyelesaikan kalimatnya, V segera menyumpal mulut pria berambut bronze itu dengan tisu.
"Sudah kubilang jangan sebutkan!! Mulai sekarang aku akan memanggilmu Jayden saja!!"
Setelah V kembali duduk, J memainkan ponselnya kembali. "Baiklah baiklah, terserah Noona saja!! Tapi, Noona, menurut rumor yang kudengar, cinta pertama itu tidak akan pernah bisa berhasil lho. Belum lagi, lihatlah cara Jung pergi waktu itu… Dia lebih memilih keluar melalui jendela daripada lewat pintu yang mana itu mengharuskannya untuk berpamitan pada noona terlebih dahulu. Bukankah sudah jelas bahwa dia sudah benar-benar tidak ingin melihat wajah noona lagi? Jadi kusarankan sih, lebih baik noona menyerah saja, mau sampai kapan kau menjomblo? Lihat... Sekarang kau bahkan sudah jauh lebih cantik ketimbang dulu karena kau sudah mengerti caranya menggunakan makeup. Pasti di luar sana akan ada beberapa laki-laki yang naksir ketika melihatmu."
"Siapa juga yang belum bisa moveon! Aku dan dia saja belum pernah berpacaran sama sekali!" Sergah V sembari menyelipkan rambut pendek sebahunya ke telinga. Semenjak Jung pergi, ia memutuskan untuk memotong pendek rambutnya dan tak pernah memanjangkannya lagi.
Suasana kembali hening, mereka berdua serius dengan handphone masing-masing.
"Hei, Noona... Pagi-pagi begini kayaknya enak ya kalau minum ju-s j-eruk." Ledek J dengan sengaja melafalkan huruf J nya secara terpisah.
V melemparkan bantal sofa tanpa suara kepada adiknya yang mengesalkan.
"Noona!! Lihat deh siapa artis yang akan menjadi cast dalam drama terbaru yang katanya diangkat dari cerita webtoon itu? JUNG Somin!!!"
"Mau mati??!!" Teriak V dengan ekspresi yang menggelap sembari menghampiri adiknya, bersiap untuk mengunci kepala pria itu dengan headlock lagi.
J seketika beranjak dari sofa dan berlari untuk menghindari kakaknya, masuk ke dalam kamar.
"Dan tau tidak siapa aktor yang mendapatkan penghargaan tahun ini? Song JUNG Ki!! Hahhahhaaaa." Seru J dari dalam sana sembari tertawa terbahak-bahak.
Dengan geram, V menarik napas panjang untuk meredakan emosi yang nyaris mendidih beberapa saat yang lalu. Setelah berhasil tenang, ia mengambil blazer yang disampirkan di pundak sofa lalu mengenakan heelsnya dan bersiap ke tempat kerja. "Aku pergi dulu! Kau tidak kuliah?"
"Aku libur hari ini. Dosennya diare." Seru J menyahuti pertanyaan V, "Hati-hati di jalan! Jangan sampai tersanJUNG--eh tersandung!!"
"Yaaaakkk!!! Awas saja jika aku sudah pulang nanti! Akan kupatahkan lehermu!!" Teriak V menimpali.
V berjalan kaki menuju tempat kerja yang tak terlalu jauh dari apartemen tempatnya tinggal, melewati deretan gedung pencakar langit dan pertokoan di sekitarnya. Seperti pagi-pagi biasanya, di setiap halte bus sudah dipenuhi oleh anak-anak sekolah yang bergerombol seraya bersenda gurau, yang entah kenapa interaksi mereka dengan satu sama lain selalu saja membuat V tiba-tiba merasa sendirian. Ia tersadar, semakin dewasa seseorang, semakin sering ia menghabiskan waktu seorang diri. Ketika seiring waktu teman mulai pergi satu persatu, pada akhirnya membuat orang dewasa terkadang berubah menjadi sedikit individualis dan mulai lebih fokus pada dirinya sendiri.
***
Sesampainya di studio, V merasa aneh dengan orang-orang di sekitar yang sepertinya tengah serius membicarakan sesuatu.
"Hei, kalian sedang mengobrol apa sih?" Tanya V pada para make up artist yang tengah bergosip sembari mengeluarkan kosmetik dari pouch berukuran besar.
"Aku dengar, fashion director perusahaan ini yang tadinya sibuk di cabang China akan kembali hari ini, dia bertukar tempat dengan fashion director kita yang sekarang." Sahut Ji Eun Yoon, salah seorang dari mereka.
"Katanya sih dia masih sangat muda. Tapi yang kudengar, dia itu playboy akut. Setiap model yang datang selalu saja berakhir menjadi pacarnya. Lalu beberapa hari kemudian, tiba-tiba mereka bisa putus begitu saja, seperti itulah." Seru Mari Ahn, make up artist yang satunya lagi.
Mendengar kata playboy, membuat jantung V tiba-tiba berdebar.
Hal itu mengingatkannya pada seseorang.
"Memangnya setampan apa sih dia? Aku jadi penasaran..." Sambung Ji Eun.
"Aku juga belum tahu pasti karena aku pun belum pernah melihatnya, kan aku bekerja di sini baru 4 tahun. Tapi dari desas-desus di kantor pusat yang pernah kudengar, dia sangat sangat tampan. Sampai taka da seorangpun disana yang mampu mendeskripsikannya. Hahaha… terkesan berlebihan tidak sih?" Jawab Mari.
Mendengar penjelasan dari mereka membuat V semakin disiksa oleh rasa penasaran. "Kalian tahu siapa namanya?" Tanya V.
"Jung." Sahut seorang pria yang tiba-tiba masuk ke dalam studio, menjawab pertanyaan V tanpa diminta. "Jung Nam." Sambungnya.
Ketika pria itu datang, semua orang yang ada di sana seketika terdiam, terpana, dan hanya dapat mengeluarkan suara decak tanda kagum.
Mari, yang tadinya sedikit mencibir, kini hanya bisa mengangguk. Sekarang ia paham mengapa tak ada satupun orang di kantor yang bisa menggambarkan kesempurnaan visual pria muda di depannya ini.
V kenal dengan suara itu. Sangat kenal. Suara itulah yang selama ini selalu terngiang di telinganya saat bangun, makan, melamun, begitu pula di saat malam menjelang tidur.
Suara dari seseorang yang bahkan namanya saja sama sekali tidak ingin V dengar. Namun sayangnya, masih sama menyenangkannya di telinga, seperti dulu.
V benar-benar sangat tidak ingin menengok ke belakang. Ia tidak ingin lagi melihat orang yang selama ini sudah sangat susah payah ia coba lupakan—walaupun nyatanya gagal total.
Suara langkah kaki pria itu membuat V seketika merinding.
Selangkah... Dua langkah... Tiga langkah... Menjadi teror yang datang bertubi-tubi.
Seperti moment ketika mereka berada di lorong gelap saat itu. Deja vu.
Ia disiksa lagi.
"Lama tidak bertemu... Agashi." Bisik pria berkemeja hitam itu di telinga V.