Hotel

1547 Kata
Hari itu adalah hari yang teramat panjang dan melelahkan bagi V. Betapa tidak, adanya fashion show untuk launching desain pakaian terbaru membuatnya tak bisa beristirahat dengan tenang. Berjam-jam ia harus berdiri untuk mengatur konsep busana para model yang akan berjalan di atas catwalk. Belum lagi ia juga harus bolak-balik mengambil pakaian dari kantor ke hotel yang harus dibawa dengan hati-hati karena desainnya yang riskan dan tidak boleh kusut. Berbeda dengan V yang disibukkan di belakang layar, Jung bertugas di depan sebagai fashion director untuk mengatur set catwalk, mengawasi para model melakukan gladi resik sekaligus mengelola jalannya acara selama fashion show berlangsung. Tak ada waktu untuk mereka bertemu, bahkan saling kirim sms pun mereka tak sempat. Sampai akhirnya ketika acara fashion show itu selesai, barulah V dapat duduk dengan tenang. Sambil bersandar di tembok salah satu kamar hotel yang sengaja disewa untuk dijadikan ruang makeup, tanpa terasa matanya mulai terpejam. Ia tidak tahu bahwa Jung kini sedang mencarinya hingga ke setiap ruangan. Namun, baru beberapa menit V terlelap, kedatangan seorang model muda mengusik ketenangannya. BRAKK!! Model itu menggebrak meja keras-keras dengan disengaja untuk membangunkan gadis berambut bob tersebut. Dengan tersigap V membuka matanya kembali, lalu setengah sadar menyapa si model. "Anda salah satu model yang tampil kan? Apa anda ingin mencari cleanser untuk menghapus makeupmu?" Tanya V dengan suara yang terdengar begitu letih. Namun, bukannya menyahut, si model malah berdiri di depan V dengan tangan terlipat di d**a dan wajah yang menyiratkan kemarahan. "Jadi kau yang merebut Jung Oppa dariku?" Tanya wanita berambut blonde itu dengan intonasi yang terdengar sangat tajam dan kasar. Lirikan matanya menyaratkan emosi yang meledak-ledak. Jadi memang benar bahwa gosip mengenai skandal V dan Jung sudah tersebar luas di setiap sudut perusahaan? "Memangnya siapa kau?" V balik bertanya dengan sama sinisnya, tak lagi menggunakan Bahasa formal seperti tadi. Mendengar perkataan si model barusan benar-benar ampuh untuk menghilangkan rasa kantuknya seketika. "Cih!! Kau masih bertanya siapa aku? Ah... Kau pasti belum tahu karena kau pegawai baru. Perkenalkan, aku adalah pacar Jung Oppa!!" Serunya dengan bangga. Namun, gertakan itu malah membuat V tergelak di tempat duduknya. "Pacar? Sebelumnya aku mau bertanya dulu padamu, memangnya apa pernah Jung menyatakan cintanya padamu?" Tantang V. Ia bernyali untuk berkata demikian setelah ia teringat perkataan Jung saat menyatakan perasaan padanya tempo hari. "Walaupun belum, tapi dari semua sikapnya menandakan bahwa dia tertarik padaku, kau tahu?" Jelas si model mencari alasan. "Seperti apa sikapnya? Menyentuh? Mencium? Merayu? Kau tahu kan dia itu seorang b******n? Dan kau malah menyebutnya sebagai sikap spesial padahal kau sudah tahu bahwa dia adalah bastard yang memang telah kecanduan skinship. Lucu sekali..." V tergelak lagi. "Kau juga sudah tahu bahwa Jung adalah orang yang seperti itu tapi kau malah menerimanya sebagai kekasihmu? Bagiku kau lebih lucu dan lebih mengenaskan daripada aku!!" "Karena aku melihat ketulusan Jung, yang bahkan memohon padaku untuk mau menikah dengannya. Maka dari itu aku menerima Jung. Jangan berspekulasi dulu sebelum tau kenyataannya, nona!" "Wah!! Kesombonganmu membuatku merinding, wanita jalang!!" Dengan kasar, si model menarik tangan V secara paksa dan menyeretnya ke depan cermin, "Lihatlah baik-baik, wajah mana yang lebih pantas bersanding dengan pria setampan Jung? Siapa yang paling mungkin untuk mendapatkan lamaran Jung? Berhentilah berbohong, karena orang sepertimu tidak mungkin untuk dilirik oleh pria seperti Jung. Kau membuatku sangat malu di depan semua orang yang tahu mengenai hubunganku dan Jung. Bisa-bisanya orang sepertimu ini merebut Jung dariku, tahu diri dong!!" Mendengar itu, V hanya bisa terdiam dengan nyali yang mulai ciut karena minder. Saat itu juga perasaan curiganya pada Jung kembali muncul dan menyiksa dirinya—lagi-lagi tentang alasan mengapa Jung harus memilih dia si wanita biasa dengan wajah yang standar, sementara selama ini Jung mengenali wanita-wanita cantik seperti supermodel yang berdiri di sampingnya itu? Apakah semua ini masuk akal? Dapatkah skenario yang hanya ada dalam film terjadi juga dalam dunia nyata? Selama ini ia bahkan tidak mempercayai adanya keajaiban, atau cerita happy ending. Tak berapa lama kemudian, seseorang melangkah masuk dengan wajah yang murka, menyela perdebatan mereka, membuat dua wanita itu menoleh dan terkejut dibuatnya. "Jika kau merendahkan Valerian, itu artinya kau menghina keputusanku, model 31!!" Seru Jung sambil berjalan memasuki ruangan, satu lagi keajaiban kecil yang didapatkan oleh V. "Harusnya kau yang tahu diri, karena selama ini aku bahkan tidak tahu siapa namamu, jadi tidak mungkin aku tertarik padamu." Lanjutnya seraya berdiri memposisikan diri di antara kedua wanita itu. Melihat Jung datang dengan kata-kata pedas yang dilontarkannya, membuat si model berdiri mematung tanpa bisa berkata-kata. Ia dikuasai oleh rasa terkejut dan tidak percaya. "Aku tahu kau pasti salah sangka terhadap sikapku padamu selama ini... Tapi aku tidak pernah mengira kau akan bertindak terlalu jauh seperti ini sampai mengklaim dirimu sebagai kekasihku di depan wanita yang aku pilih... Bukankah kau sudah tahu dari awal, bahwa aku ini memang pria brengs*k, yang hobi melecehkan semua wanita dengan cara yang sama seperti sikapku terhadapmu, jadi kau tidak memiliki alasan sama sekali untuk menilai bahwa kau lebih pantas aku pilih dibanding V. Aku memilih V atas dasar suka, bukan lagi karena nafsuku semata." Sambung Jung seraya beranjak merangkul pundak V untuk lebih menguatkan lagi siapa yang ia pilih di antara keduanya. Si model 31 mulai menitikkan air mata. Pernyataan tajam dari Jung barusan berhasil menghunus hingga ke relung hatinya. Ia merasa dicampakkan oleh pria yang selama ini ia banggakan sebagai sang kekasih di depan teman-teman modelnya itu. 'Apa yang harus aku katakan pada teman-temanku nanti bahwa ternyata Jung adalah milik orang lain?' Batin si model dengan gelisah. "Jangan pernah mengganggu V lagi, karena dia adalah milikku sekarang. Dan aku berhak melakukan apa saja untuk melindungi apa yang aku miliki, jadi jangan pernah berani melukainya bahkan jika itu hanya sebuah rencana... Ini bukan ancaman, melainkan perintah. Kau mengerti?" Gertak Jung dengan kata-kata yang begitu manipulatif. Meski tanpa embel-embel ancaman tersurat, ia berhasil membuat si model merasa takut. Wanita berpostur jangkung itu hanya bisa mengepalkan tangan kuat-kuat ketika V dan Jung mulai meninggalkan ruangan. "Mengapa kau tidak memilihnya saja? Menurutku dia lebih pantas menjadi pendamping--" Belum sempat V melanjutkan perkataannya, Jung membungkam mulutnya dengan kecupan singkat untuk menyuruh V supaya berhenti. "Ini adalah perasaanku, jadi aku berhak menentukan semauku mengenai siapa yang berhak mendampingiku. Kaupun tidak boleh." "Bagaimana jika wanita itu dendam padaku dan akhirnya melakukan sesuatu untuk mencelakakan aku seperti di film-film?" Tanya V dengan perasaan takut. Jung hanya tertawa kecil mendengarnya, "Uh... Jangan percaya film... Semua itu hanya terjadi pada film. Percayalah, setelah ini tidak akan terjadi apa-apa padanya. Aku paham benar mengenai wanita sepertinya, ia akan lega setelah menangis beberapa malam, kemudian akan lupa ketika mereka sudah menemukan pria lain, walaupun mungkin kebencian akan selamanya tertanam di hatinya setelah ini. Bukan begitu?" "Aku tidak begitu tuh! Jika aku jadi dia, maka aku akan merencanakan seribu cara untuk membuat kau kembali padaku! Karena kau adalah pria satu-satunya yang aku cintai!" Sergah V dengan wajah yang memerah setelah berhasil melayangkan sebuah rayuan. Jung sontak menghentikan langkahnya setelah mendengar pernyataan V barusan, "Hei... Bahaya jika kau merayuku di tempat ini!" "Mengapa?" Tanya V penasaran, seketika raut wajahnya berubah menjadi serius. "Kau tahu kan sekarang kita ada dimana?" Jung malah balik bertanya. "Hotel." Jawab V dengan polosnya. "Memangnya kenapa kalau aku merayumu di hotel?" Jung hanya bisa melayangkan tatapan nakal pada V, berharap V dapat mengerti maksudnya. Namun gagal. "Lupakan saja!" Ujar Jung akhirnya setelah menyerah menunggu V untuk peka, "Bukankah kau lelah sekarang?" "Sangat." Gumam V dengan nada yang dibuat letih. "Aku juga..." Sahut Jung, kembali melayangkan seringaian mencurigakan, "Berhubung kau sudah merayuku tadi, kau berhasil membuatku tergoda. Jadi mengapa tidak sekalian saja... Kita menginap di hotel ini? Aku ingin mendengar rayuanmu semalaman... Aku juga ingin tahu dari mana kau belajar itu." Setelah melayangkan gurauan tadi, Pria bergaya rambut dikoma itu kemudian mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir V. "JANGAAANNN!!! BAHAYAAAAA!!" Teriak J yang baru saja keluar dari lift, menyahuti pernyataan Jung barusan. Hal itu membuat Jung bergegas memundurkan kepalanya kembali. "Kau menyuruhnya kesini?" Tanya Jung berbisik pada V, nadanya yang datar menyiratkan sedikit kekecewaan. "Aku menyuruhnya menjemputku karena aku sepertinya sudah terlalu lelah jika harus pulang dengan berjalan kaki, setidaknya J bisa menyetir mob--" Belum sempat V menyelesaikan perkataannya, Jung menyergah terlebih dahulu, "Yak!!! Kau tahu aku juga bisa mengantarmu pulang!! Aku ini pacarmu, buat apa kau punya pacar sedangkan kau masih saja bergantung pada adikmu?" "Karena aku menebak kau pasti akan menyuruhku menginap di sini saja bersamamu! Bagaimanapun juga kau ini kan tetap bastard." Sahut V datar. Jung menaikkan sebelah alisnya, menatap skeptis, "Jadi dari tadi kau memang sudah mengerti maksud dari perkataanku tapi kau hanya berpura-pura tidak tahu? Heol." Dengan langkah cepat J menghampiri mereka berdua yang masih asyik berdebat, kemudian menghentikan langkah tepat di depan Jung, "Jika hyung ingin mengajak noona menginap di hotel bersamamu sebelum kalian menikah, maka langkahi dulu mayatku! Dah hyung... Ayo noona, kita pulang!" Lanjutnya seraya menarik tangan kakaknya tersebut. Jung hanya bisa melongo di tempatnya, baru kali ini ia menerima sebuah ancaman dari J—yang selama ini sudah ia anggap sebagai adik sendiri. Namun beberapa saat kemudian, bukannya membuat Jung gentar, ancaman itu malah membuat jung terkikik, "Seandainya semua wanita memiliki adik sepertinya... Ya ampun, dia menggemaskan sekali!" Ujar Jung dengan sekuat tenaga menahan tawa. "Dasar pria! Semuanya sama saja!" Gumam J menggerutu sepanjang jalan selama berada di dalam lift. "Kau juga pria, bro." Sahut V datar. "Oh iya lupa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN