Malam itu, V berkali-kali memandangi wajahnya di cermin, masih tak percaya pada kejadian beberapa saat yang lalu.
"Pria seperti Jung… Bagaimana bisa?" Pikirnya.
Dilihat dari sudut pandang manapun, ini sama sekali tidak masuk akal.
"Aku masih tidak percaya Jung menyukai wanita yang biasa-biasa saja sepertiku. Pasti ada maksud dibalik semua ini! Apa sekarang aku sedang bermimpi? Atau sedang dikerjai? Pasti ada kamera tersembunyi yang dipasang Jung di sekitar sini. Mana kamera tersembunyinya?! Mana!! MANAAAA!!" Teriak V mulai menggila sembari mondar-mandir mencari-cari kamera tersembunyi di setiap sudut kamarnya.
"YAAAAKKKK NOONAAAA!! KAU SUDAH GILA YA?!" Pekik J dari kamar sebelah, terbangun dari tidur pulasnya karena teriakan sang kakak.
"Jangan-jangan kamera tersembunyinya ada di pulpen ini! Atau diselipkan di balik cermin? Atau di tengah tumpukan buku? AARRRGGHHH!! KELUAR KAU KAMERA TERSEMBUNYI!!" V mulai mengacak-acak kamar untuk mencari kemungkinan adanya kamera tersembunyi yang ia takutkan.
“Aishh!! Rupanya noona menungguku menyumpal mulutnya baru bisa diam! Awas kau!” Dengan tensi darah yang sudah naik sampai ke ubun-ubun, J membuka pintu kamar V.
Namun seketika ia dibuat terkejut melihat pemandangan di depannya, "Noona! Rupanya kau benar-benar sudah gila..." Pungkasnya melongo melihat kamar V yang sudah berantakan, juga penampilannya yang lebih berantakan lagi.
Melihat kakaknya yang terlihat sangat memprihatinkan, J menghampiri V kemudian merapihkan rambut Noonanya yang acak-acakan itu dengan jemari."Karena cinta sekarang Noona-ku jadi gila Ya Tuhan..." Rintihnya.
"J-ya," Panggil V ketika ia sudah agak tenang, "Bisa tolong tampar aku?"
"Siap bos!" Sahut J dengan senang hati.
Lalu dengan tanpa basa-basi, J mendaratkan tamparannya ke pipi V.
Plak!!
"Yaaakkk!! Kenapa kau menamparku?" Tukas V seraya membalas tamparan J dengan mendaratkan dua tamparan ke pipi kanan dan kiri adiknya itu.
J menatap kakaknya dengan pandangan bingung sekaligus tak percaya, "Aishh!! Kan tadi Noona yang minta! Aigoo... My precious pipi..." Rengek J sembari mengelus kedua pipinya yang memerah.
Mendadak V membelalakkan matanya ketika menyadari sesuatu. "J... Kenapa tadi tamparanmu tidak terasa sakit ya? Jangan-jangan ini beneran mimpi?! Bisa kau tampar aku lagi?" Pinta V kemudian.
"OGAH!!" Sahut J secara spontan, lalu bergegas keluar dari kamar itu sebelum ia ketularan gila.
***
Ketika sampai di studio, sebisa mungkin V berjalan mengendap-endap untuk bersembunyi dari Jung seperti maling. Ini adalah pertama kalinya ia memiliki seorang kekasih, dari kantor yang sama pula. Ia jadi gugup hingga tak tahu harus melakukan apa jika bertemu dengan pasangannya nanti.
Sembari memilah-milah pakaian yang akan dikenakan para model saat sesi pemotretan nanti, mata V terus berjaga, melirik ke kanan dan ke kiri untuk waspada dari kedatangan Jung.
"Kenapa tingkahmu seperti maling begitu?" Sapa Myunghun Kang, salah satu fotografer yang bertugas hari ini sampai membuat V setengah kaget.
"Jung... Apa dia sudah datang?" Tanya V berbisik.
"Oh... Pacarmu itu...” Myunghun menyahut sembari mengatur lensa kamera, “Aku dengar dia sedang mengatur setting panggung untuk fashion show pengenalan dress model baru di ball room hotel G."
Mendengar penjelasan itu, V akhirnya bisa menghela nafas lega. Namun ketika dia teringat satu hal yang baru saja disebutkan Myunghun, nafasnya kembali tercekat.
'Pacarmu itu...'
'Pacarmu itu...'
'Pacarmu...'
'Pacar...'
'P-a-c-a-r...'
'Apa itu pacar?'
'Makanan sejenis apa pacar itu?'
'Ah... Aku ingat!! Yang biasa isinya timun dan bawang yang difermentasi!!'
'Itu acar, bodoh!!'
'Lalu apa pacar itu?'
'Ah... Tempat belanja!'
'Itu pasar!! PASAR!!'
'Apa sih pacar itu?'
Tiba-tiba saja kepala V pening, kata-kata itu seolah berputar di atas ubun-ubunnya, namun ia sendiri masih belum terbiasa mendengarnya. Benar, kini dia sudah punya pacar, setelah 26 tahun menjomblo. Dan ini yang pertama, jadi wajar jika dia masih dibuat gugup karenanya.
Beberapa saat kemudian, seorang model pria bertubuh kekar berjalan memasuki studio sembari menyambut semua orang yang ada di sana. Bagaikan sebuah lentera yang hadir menerangi suramnya kehidupan di studio. Sangat menyulaukan.
Jo Changwook. Si aktor laga. Idolanya!!
'Cobaan apa lagi ini?' Batin V mengerang ketika melihat sang idola sudah berada di depannya, sambil melayangkan senyum.
“Halo… saya Jo Changwook.” Seru sang aktor memperkenalkan diri. “Saya ingin mengambil set pakaian yang akan saya kenakan dalam sesi pemotretan hari ini. Manakah yang harus saya pakai?"
Dengan kalimat sederhana seperti itu saja, cukup membuat V sampai tak bisa berkata-kata.
Lalu dengan kaku dan tanpa suara, V menyerahkan dua setel pakaian yang telah ia pilihkan tadi. Masih tak bisa berkata-kata sampai si aktor pergi dari hadapannya.
Selama sesi pemotretan, V memandangi aktor idolanya itu tanpa rasa bosan. Lagi-lagi V merasa seolah ia sedang berada di tengah dunia mimpi.
Buku dan pulpen bahkan sudah ia siapkan di genggamannya untuk meminta tanda tangan si aktor yang biasa berakting di drama-drama bergenre action itu setelah pemotretan selesai, berkali-kali juga ia merapikan rambut dan pakaiannya untuk bersiap-siap sebelum menemui aktor laga yang tengah fokus berpose tersebut.
Dan ketika tiba saatnya Jo Changwook melakukan pose yang mengekspos six packnya yang eksotis, V berteriak dalam hati di tempat ia berdiri sekarang.
"Omo!! Omo!! Roti sobek!! Omo!! Wtf!!" Gumam V histeris sembari cekikikan. Ia sudah tak bisa lagi mengendalikan jiwa fangirlnya yang menggebu-gebu.
Namun tiba-tiba saja, sebuah telapak tangan menutup mata V dari belakang.
"Kau sudah memiliki pacar setampan ini... Mengapa kau masih saja melirik pria lain, hmm?" Bisik Jung yang tiba-tiba sudah berdiri di balik punggung V. "Berbaliklah... Mulai sekarang, hanya aku yang boleh kau lihat dengan tatapan seperti itu, mengerti?"
Kedua tangan Jung hinggap di atas bahu V, lalu memutar tubuh gadis itu sampai mereka kini berdiri berhadapan.
Jantung V seketika berdebar kencang, wajahnya menjadi memerah seperti udang rebus. Kulitnya memanas, merasakan sensasi berdebar yang perlahan merayapi seluruh tubuhnya.
Karena perubahan reaksinya itu, V tidak dapat berbuat apapun selain memandangi wajah Jung yang kini dihiasi senyum hangat yang menawan.
"Aku merindukanmu, Valerian..." Bisik Jung seraya memeluk pinggang V dan menariknya agar lebih mendekat lagi.
Jantung V semakin berdetak liar, hal itu membuat ia membelalakkan matanya. “Kita masih di studio, nanti kalau ada orang yang melihat, bagaimana?” Protesnya dengan ekspresi tersipu.
"Aku suka suara detak jantungmu." Ucap Jung mesra tanpa menghiraukan ucapan V barusan. Dengan senyum yang semakin mengembang hingga hampir membentuk sebuah tawa, beberapa detik kemudian ia mulai mendekatkan wajahnya...
"Tunggu!" Sergah V seraya menahan mulut Jung dengan telapak tangannya ketika beberapa sentimeter lagi bibir mereka bertemu, "Kau tidak lihat banyak orang di sini?" Bisik V memperingatkan sekali lagi.
“Toh mereka juga sudah tahu kalau kita pacaran! Jadi tidak masalah kan?”
“Tapi kita tidak seharusnya bermesraan seperti ini di jam kerja. Apa kata orang nanti?”
Jung melirik ke sekitarnya, lalu mendapati beberapa orang yang tengah melihat ke arah mereka berdua. "Sial!!" Geram Jung dengan suara yang begitu lirih, mengekspresikan kekesalannya.
Melihat raut wajah Jung yang berubah murung, V tak kuasa menahan senyumnya. Lalu dengan singkat, V mengecup pipi Jung sekilas untuk membangkitkan semangat pria itu kembali, Sementara Jung dibuat tertegun, V berlari menjauh dan memasuki ruang makeup.
'Astaga! Jantungku!' Gumam mereka berdua secara bersamaan dari tempat yang berbeda.
***
Di sisi lain...
"Betapa... Malang nasibku, ganteng tapi enggak laku, sepi sepi ku sendiri, kapan jodoh datang kesini..." J bersenandung himne jones memakai nada lagu 'Ratapan Anak Tiri'nya Iis Dahlia, sambil kuras kamar mandi pakai sikat gigi dengan gaya 'swag'nya.
NB: Bagi yang tau lagu Iis Dahlia yg ini, selamat... Berarti anda sudah tua!! Ngoahahahaha #plak