Bab 6

958 Kata
Chloe langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang apartemennya begitu ia pulang dari apartemen Chris. Ia tampak mendesah pelan sebelum mengusap wajahnya dengan kasar. Ia lalu mengerang frustasi sembari memukul-mukulkan kedua kakinya di atas ranjang. Entah kenapa, ia sedikit menyesali perjanjian yang ia buat dengan Chris beberapa waktu yang lalu. Ia menyetujui kalau ia akan menggantikan posisi Lori yang selama ini menjadi pemuas nafsu Chris. Demi Tuhan, ia bahkan belum pernah melakukan hubungan badan dengan pria mana pun. Kalau pun bersentuhan, biasanya hanya sekadar ciuman di bibir saja, tidak lebih. Ia juga sebenarnya heran dengan Chris yang mengatakan kalau pria itu mencintai Lori. Kalau memang pria itu mencintai Lori, seharunya dia tidak menjadikan Lori sebagai pemuas nafsunya saja. Seharusnya dia menikahi Lori kalau tidak ingin wanita itu menjadi milik pria lain. Dasar aneh, pikirnya seperti itu. Chloe meraba sisi kanan ranjangnya ketika ia merasakan ponselnya bergetar. Setelah ponselnya berada di tangannya, ia segera menggeser layarnya untuk membuka kuncinya terlebih dahulu. Keningnya tampak berkerut samar saat melihat sederet nomor asing yang masuk ke dalam ponselnya. Tanpa membuang waktu lebih banyak, ia segera membuka pesan tersebut. Besok pagi akan ada seseorang yang menjemputmu. Kemasi semua barang-barangmu sekarang juga. Chris Chloe melemparkan ponselnya ke sisi ranjangnya yang kosong setelah ia membaca pesan tersebut. Ia kembali mengerang frustasi dan kembali memukul-mukulkan kedua kakinya. "Bagaimana ini? Apa harus secepat ini?" Chloe mengerang pelan sambil mengacak rambutnya frustasi. Ia memang sudah menyetujui apa yang Chris katakan dan perjanjian yang mereka buat juga sudah mencapai kata sepakat. Namun, ia tak menyangka jika semuanya akan dimulai secepat ini. Ia bahkan belum mempersiapkan dirinya sama sekali. Chloe bangkit dari posisi tidurnya dan memilih untuk duduk sebentar di atas ranjangnya. "Aku bisa gila kalau seperti ini," ia kembali mengacak rambutnya sebelum beranjak ke arah lemarinya untuk mengemasi barang-barangnya. Sesuai dengan perjanjian yang ia buat dengan Chris, ia diharuskan untuk tinggal di apartemen pria itu karena selama Chris berada di Leicester, pria itu akan sangat sibuk sehingga ia tidak punya waktu untuk mengunjunginya ketika ia membutuhkannya. "Aku sudah seperti p*****r saja," gumam Chloe sembari menyusun barang-barang yang akan ia bawa nanti. Namun, sejurus kemudian ia tertawa seperti orang bodoh. "Aku kan memang akan menjadi p*****r. Ah, bodoh sekali." Sembari menyusun barang-barangnya, Chloe berusaha untuk menghilangkan semua pikiran negatif yang bersarang di kepalanya. Ia akan membuat semuanya menjadi mudah. Dan ia mulai memikirkan hal-hal yang nantinya akan ia lakukan dengan Chris. Ia lalu membayangkan ketika ia b******a dengan pria itu. Dan hal itu langsung membuatnya bergidik ngeri. Namun sekali lagi, ia akan membuat semuanya menjadi mudah. Ia pun mulai memikirkan bagaimana hebatnya seks pertamanya bersama pria yang mencintai kakak iparnya. Melihat wajah Chris yang begitu tampan serta tampilannya yang terlihat begitu menawan dan gagah, sepertinya ia tak masalah jika harus memberikan seks pertamanya kepada Chris. Lagipula, ia sudah cukup dewasa untuk melakukannya. Dan sekarang, Chloe sedang berusaha untuk mencari alasan kenapa Lori tidak mencintai pria setampan dan sekaya Chris. Dan dugaannya mengarah pada Chris yang lemah saat di ranjang. Jika dugaannya itu benar, pasti seks pertamanya tidak akan sehebat yang ia kira. Ia kemudian mendesah pelan ketika memikirkan hal tersebut. Namun, jika dipikir-pikir lagi, rasanya tidak mungkin jika pria seperti Chris lemah saat di ranjang. Lihat saja postur tubuhnya yang sangat macho itu. Semua wanita pasti akan dengan senang hati menyerahkan tubuhnya kepada Chris secara sukarela. Dan apa yang baru saja dipikirkan olehnya terdengar seperti dirinya sendiri yang juga menyerahkan tubuhnya kepada pria itu. Tetapi ia menyerahkan tubuhnya tidak secara sukarela karena ada imbalan yang ia dapat. Chris sudah berjanji kepadanya untuk tidak mengganggu rumah tangga Lori dan Jordan lagi. Dan ia memang menginginkan hal itu. Saat ini, tak ada yang bisa ia lakukan selain menyingkirkan orang-orang yang berusaha untuk mengganggu rumah tangga kakanya itu. Ia melakukan itu semua bukan tanpa alasan. Ia hanya ingin membalas semua kebaikan yang telah Jordan berikan kepadanya semenjak ia resmi menjadi adiknya. Jordan sudah begitu baik kepadanya. Selama ini, ia belum melakukan apa pun untuk kakaknya itu. Dan sekarang, ia ingin melakukan sesuatu untuk kakaknya. Dan ia akan memulainya dari sekarang.   ••••   "Jadi, di mana kamarku?" tanya Chloe sesaat setelah ia tiba di apartemen Chris. Chris yang awalnya sedang duduk santai dengan tablet yang ada di tangannya, langsung menoleh ke arah Chloe yang datang-datang langsung menanyakan letak kamarnya. Di mana letak sopan santun wanita yang satu ini. Seharusnya dia menyapanya terlebih dahulu, pikirnya seperti itu. "Kenapa diam saja? Aku ingin istirahat. Tidurku tadi malam tidak nyenyak setelah menerima pesan darimu," ucap Chloe dengan jujur begitu Chris belum juga membuka suaranya. Chloe benar-benar kesal dengan Chris. Ia pikir pagi yang dimaksud pria itu adalah pagi seperti pada umumnya, saat orang-orang baru selesai melakukan aktivitasnya di saat pekan. Dan ia tak menyangka jika pagi yang dimaksud pria itu adalah di saat matahari baru saja bangun dari tidurnya. Dan ia juga kesal dengan supir pribadi Chris, Mark, yang ditugaskan untuk menjemputnya. Pria itu tak berhenti menyuruhnya untuk melakukan semuanya dengan cepat. Chris mendengus pelan sebelum meletakkan tabletnya di atas meja. Ia lalu bangkit dari duduknya lantas menghampiri Chloe yang tengah memasang wajah kesalnya. "Kau baru saja tiba dan sudah menanyakan kamarmu? Kau sudah tidak sabar untuk melakukannya denganku, ya?" tanya Chris seraya memainkan alisnya. Chloe menatap Chris dengan malas. "Aku hanya ingin kembali tidur. Aku benar-benar masih mengantuk." Chris tekekeh pelan. "Kau lucu," ucapnya seraya mengambil koper yang dibawa oleh Chloe. Ia lalu memberikan kode kepada Chloe untuk mengikutinya. "Ini kamarmu. Istirahatlah yang banyak karena nanti malam kita akan memulai semuanya," ucap Chris seraya meletakkan koper milik Chloe di salah satu kamar kosong yang ada di apartemennya. Chris melemparkan senyumnya ke arah Chloe sebelum menutup pintu kamar wanita itu dan membiarkannya untuk beristirahat. Sepertinya ia tak rugi membawa Chloe ke dalam hidupnya. Wanita itu sedikit berbeda dengan wanita lainnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN