Bab 10. NASIHAT SANG SAHABAT

1113 Kata
Alana. Kuparkirkan mobilku di parkiran Kafe Jingga. Ini adalah kafe yang kubangun bersama Nafisa, sahabatku. Meskipun kami berdua jarang terlibat langsung dalam pengelolaan Kafe ini karena kesibukan kami dengan rumah tangga masing-masing. Aku dan Nafisa mempercayakan pengelolaan Kafe Jingga pada Handi, sepupu Nafisa. Entah kenapa, pagi ini setelah menemukan fakta-fakta mengejutkan tentang Mas Wildan, aku jadi ingin ke kafe ini. Di dalam ada ruangan khusus yang hanya aku dan Nafisa yang punya kuncinya. Aku ingin istirahat dan menghabiskan waktuku di sana. Kuraih gawaiku kemudian mencari kontak Handi, menyuruhnya sedikit agak pagi datang ke kafe karena Handi yang pegang kunci kafe. "Mbak Alana mau sarapan? Mau dibikinin menu apa nih, Mbak?" tanya Handi setelah membuka kafe. "Boleh deh, Han. Kebetulan Mbak laper nih belum sarapan. Tolong bikinin kopi kental dan roti bakar pakai selai cokelat ya," pintaku. "Baik, Mbak. Nanti Handi antakan ke ruangan Mba Alana kalo udah siap." Kurebahkan tubuh di sofa, lelah sekali rasanya. Bukan hanya tubuhku saja yang terasa lelah, namun juga pikiranku. Kuraih ponsel dari dalam tas ku. Tak ada panggilan atau pesan apapun dari Mas Wildan. Ah, apa yang sedang kuharapkan? Mungkin aku bukan jadi prioritas Mas Wildan lagi sekarang. Aku kembali teringat sosok Lilis dan bayinya yang saat ini sedang berada di rumahku. Hmmm ... aku menggeliat, melemaskan otot-otot tubuh. Perlahan ku buka mataku kemudian merasa heran karena ternyata aku sedang tidak berada di kamarku. "Duh, putri tidur kita sudah bangun rupanya!" Suara dari depan pintu mengagetkanku. "Nafisa? Ngapain di sini? Aku tertidur rupanya," gumamku ngelantur setelah menetralkan jantungku akibat kaget oleh suara Nafisa tadi. "Harusnya aku yang ngapain kamu di sini? Sampai tidur berjam-jam udah kayak kebo aja dibangunin nggak respon." "Hah?? Berjam-jam? Ini udah jam berapa emangnya? Perasaan aku baru aja terlelap setelah makan roti bakar buatan Handi." "Baru aja terlelap? Tuh liat udah jam berapa! Handi sampai panik nelpon aku karena kamu nggak keluar-keluar dari ruangan ini." Nafisa mengoceh. Aku melirik jam dinding dan melongo ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 13.15. Aku tersenyum setengah meringis pada Nafisa. “Maaf, Naf. Aku nggak nyangka ketiduran sampai jam segini.” “Kamu lagi ada masalah, Al? Menurut Handi tadi kamu udah di sini bahkan sebelum kafe ini buka,” tanya Nafisa menyelidik. Aku manarik napas berat. Haruskah kuceritakan masalah ini pada Nafisa? “Aku lapar, Naf. Ntar aja ya ngobrolnya. Aku mau pesan makanan dulu, sekalian mau nyobain menu baru Kafe Jingga.” Aku meraih gawaiku sambil menunggu Handi mengantarkan menu pesananku. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Mas Wildan. Juga beberapa pesan w******p. [Lagi ngapain istri cantikku? Kok nggak angkat telpon? Aku kangen.] [Aku lanjut kerja dulu ya, Sayang. Doakan lancar dan cepat selesai biar bisa pulang dan memelukmu lagi. Love u Alana.] Sepertinya pesan itu dikirim saat jam makan siang tadi. Aku mencibir membaca pesan penuh ungkapan cinta dari Mas Wildan. “Eh, baca apaan sampai mencibir gitu.” Nafisa mencoba mengintip ke layar ponselku. “Lagi baca pesan dari laki-laki paling b******k di dunia,” makiku emosi. Kulihat Nafisa semakin penasaran dan mengeryitkan keningnya. “Kurasa kamu sedang tak baik-baik saja, Alana. Aku menuntut penjelasanmu!” Huhhh!! Nafisa memang selalu begini. Persahabatanku dengannya terjalin sejak kami SMA. Nafisa selalu menjadi orang yang paling terdepan mendengarkan ceritaku. Tak ada yang kusembunyikan dari Nafisa. “Iya, Naf. Aku sedang tak baik-baik saja. Ada yang ingin kuceritakan padamu, tapi tunggulah, aku sangat lapar sekarang,” ucapku lirih. *** Aku memilih tak pulang ke rumah, menghindar untuk bertemu dengan Lilis dan bayinya, juga ibu mertuaku. Nafisa sendiri sudah pulang sore tadi ketika suaminya menjemputnya di kafe. Meskipun awalnya Nafisa tak tega meninggalkanku sendiri setelah aku menceritakan dan memperlihatkan semua bukti-bukti yang kuperoleh dari chat Mas Wildan yang sudah kusimpan di galeri ponselku. Nafisa menangis, sama sepertiku, Nafisa sangat menyayangkan jika Mas Wildan benar-benar mengkhianatiku bahkan punya anak dari wanita lain. Selama ini, aku dan Mas Wildan memang terlihat sangat bahagia dan harmonis. Di acara-acara formal seperti pesta pernikahan teman maupun acara-acara formal perusahaan, kami berdua selalu jadi pusat perhatian. Tubuhku yang proporsional sangat serasi bersanding dengan tubuhku Mas Wildan yang tinggi atletis, ditambah lagi dengan wajahnya yang ganteng. Mas Wildan pun sepertinya tak segan-segan memamerkan kemesraan ketika sedang berada di sampingku, dia sepertinya selalu bangga ketika menggandeng tanganku, seolah ingin mengatakan pada dunia bahwa aku adalah pasangannya. Soal penampilanku, jangan ragukan. Mas Wildan selalu memberiku uang lebih, bahkan dia selalu menyuruhku melakukan perawatan-perawatan rutin di salon-salon mahal. Pun dengan gaun, Mas Wildan kadang tiba-tiba saja membawaku ke butik dan memilihkan gaun-gaun mahal untukku. Kemudian dengan bangga memuji penampilanku setelah itu. Nafisa termasuk salah satu orang yang selalu memuji keserasian kami. Maka pada saat aku menangis di hadapannya bercerita tentang kegalauanku akan keberadaan Lilis dan bayinya, Nafisa pun merasa tertipu. Tertipu oleh semua kemesraan dan keserasian kami selama ini. “Sebelum memperoleh kepastian tentang suamimu, sebaiknya kamu mengedepankan asas praduga tak bersalah, Al. Meskipun kamu punya bukti-bukti, kamu harus tetap menanyakan dan membicarakan ini dengan suamimu.” Begitu nasihat Nafisa tadi. Suami Nafisa berprofesi sebagai pengacara, wajar saja omongannya juga sudah seperti orang yang mengerti hukum. “Aku tau, Naf. Aku pun masih menunggu Mas Wildan pulang dari Balikpapan untuk menanyakan masalah ini. Hanya saja, sekarang aku nggak mau pulang ke rumah. Melihat seorang wanita yang kucurigai mempunyai hubungan khusus dengan suamiku sedang berada di rumahku membuatku sesak. Sementara ini aku hanya ingin menyendiri dulu.” “Terus, sekarang mau mau kemana, Al? Mau nginap di Kafe?” “Nggaklah, Naf. Mungkin aku nginap di hotel aja malam ini. Yang penting nggak pulang ke rumah, aku benar-benar nggak sanggup jika harus pulang ke rumah malam ini.” “Ya udah, buruan sekarang cari hotelnya. Jangan terlalu lama di sini. Aku takut kamu akan ketemu dengan orang yang dari dulu sangat ingin bertemu denganmu.” “Maksud kamu apa, Naf?” “Nggak ... nggak apa-apa ... nggak usah dipikirin. Udah ya aku pulang dulu, kasian suamiku udah lama nungguin.” “Iya, Naf. Terima kasih ya sudah menemaniku hari ini. Peluk cium buat baby Almira, ya,” ucapku. “Iya ntar disampaikan peluk ciumnya buat Almira. Asal jangan titip peluk cium buat papanya Almira. Kamu baik-baik ya, Al. Jangan berbuat hal-hal yang akan merugikan dirimu sendiri,” jawabnya sambil tersenyum menyelipkan nasihat padaku sebelum akhirnya pulang dan kembali meninggalkanku sendiri di ruangan ini. Kulirik jam dinding, pukul 18:30. Segera kuraih tasku dan keluar dari ruangan. Meskipun tidak terlalu ramai, masih terlihat ada beberapa pengunjung di Kafe Jingga. Karyawan kafe sendiri sudah berganti shift sejak tadi siang. Kulangkahkan kaki menuju wastafel, hanya untuk membasuh wajahku agar terasa segar kembali. Baru saja akan meninggalkan wastafel, ketika pintu toliet kafe terbuka. “Alana ....” Suara itu menyapaku lembut. ?Bersambung?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN