Pagi tanpa alarm dan terburu-buru untuk berangkat ke kantor terasa aneh bagi Kaia. Dia bangun pukul delapan pagi dan tubuhnya terasa agak rileks. Tirai jendela kamarnya masih tertutup dan sinar matahari yang mulai tinggi menembus tirai itu, menerangi kamar Kaia.
Dia tidak mendengar suara apa pun dari luar kamar. Jadi, gadis itu memutuskan untuk bangkit dan mencuci wajahnya. Lantas, dia melangkah malas keluar kamar menuju dapur.
Diambilnya air di meja makan, kemudian dia menuangkan ke gelas dan meneguknya tandas. Tatapannya jatuh pada sebuah catatan di dekat tudung saji.
"Aku membuatkan roti isi buat sarapan, jangan lupa dimakan. Selamat berlibur, Kai. Kuharap kamu menikmati cuti pendekmu."
Pastilah Rere yang meninggalkan catatan dan roti isi itu. Ingatkan Kaia kalau dia harus berterima kasih pada sepupunya. Tidak menunggu lama, Kaia segera duduk di kursi makan dan menyantap roti isi dalam keheningan.
Rasanya tetap aneh, berada di rumah dan bersantai pagi-pagi. Sementara itu, di hari-hari biasanya dia saat ini tengah sibuk meeting dan mengurus laporan. Kini, dia justru bingung harus melakukan apa. Sudah sejak lama Kaia tidak mengambil cuti untuk benar-benar beristirahat.
Dia lantas mencuci piring dan membereskan meja makan setelah menyelesaikan sarapannya. Karena tidak ada yang bisa dia lakukan lagi, Kaia kembali ke kamar. Dia membereskan barang-barang yang tercecer dan belum sempat dia simpan karena terlalu sibuk.
Tangannya merapikan buku-buku yang belum sempat dia baca dan buku-buku yang telah dia baca sejak lama. Buku terakhir yang dia baca adalah "Hiraeth", buku terbaru yang ditulis oleh Diamara—penulis favoritnya. Buku-buku penulis itu sudah banyak terpajang di rak bukunya. Dulu, dia ingin sekali menghadiri tur buku penulis itu, tetapi belum terlaksana karena kondisi Mama yang gawat.
Ah, benar. Kaia menyambar ponsel di nakas dan membuka sosial media penulis itu. Postingan penulis itu dipenuhi dengan promosi dan ulasan buku. Tangannya menggulir postingan-postingan itu, dia merasa agak kecewa karena menemukan pengumuman bahwa tur buku Hiraeth telah berakhir.
"Yah, ck ..." Gadis itu mendecak, kemudian memilih meninggalkan ponselnya dan pergi mandi.
Kaia tidak berharap apa pun dan mungkin dirinya akan membaca buku saja di hari libur kali ini. Gadis itu baru kembali dari kamar mandi sekitar lima belas menit kemudian. Dia hampir keluar dari aplikasi saat netranya menangkap sebuah postingan baru di akun Diamara.
Jarinya sontak mengecek postingan itu dan menemukan sebuah pengumuman,
"Sebuah kabar gembira untuk kawan-kawan penikmat Hiraeth. Atas permintaan banyak pembaca yang ingin mendengar kisah di balik penulisan buku ini, kami akan mengadakan obrolan santai di beberapa lokasi berikut!"
Netra Kaia menyusuri lima lokasi tur buku tersebut. Dia sedikit terkesiap melihat salah satu lokasi yang cukup familier. Lantas, Kaia mencari letak satu per satu lokasi itu dan ternyata Kafe Orion yang menjadi tempat tur hari ini berjarak lumayan dekat dengan apartemen Rere.
Jantung Kaia berdegup antusias. Acara di postingan itu dimulai pada pukul 11 siang, itu artinya dia memiliki waktu dua jam untuk mengikuti acara. Tanpa berpikir panjang, dia segera bersiap-siap.
Pukul sepuluh, Kaia sudah bersiap dan membawa buku Hiraeth di tangan dengan ekspresi bahagia. Kali ini dia ingin menyenangkan dirinya sekali saja untuk mengikuti tur buku favoritnya. Dia tidak akan melewatkan kesempatan ini dan mencoba mengobati duka atas kehilangan Mama.
Kaia mengirim pesan pada Rere dan mengatakan bahwa dia akan pergi menghadiri tur buku favoritnya hari ini. Tidak lama kemudian, Rere membalas saat Kaia menutup pintu apartemen.
"Akhirnyaaa, kamu bisa menikmati hari cutimu juga, Kai. Selamat bersenang-senang yaa, untuk malam ini biar aku yang memasak."
Kaia membalas dengan ucapan terima kasih dan pergi dengan perasaan yang ringan.
***
Perjalanan menuju Kafe Orion membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan bus dan 15 menit dengan ojek online. Kafe itu ternyata terletak di lokasi yang cukup tersembunyi di salah satu sudut kota. Lokasinya berada di tepi jalan raya dengan tema minimalis.
Bagian depan bangunan kafe itu terdapat kanopi rendah dengan sulur-sulur tanaman bunga sehingga tampak asri. Dia melangkah masuk dan indra penciumannya menangkap wangi kopi yang khas. Dinding-dinding bagian dalam kafe terdapat banyak lukisan yang unik dan sama seperti kafe lainnya, kafe ini menggunakan tema open bar.
"Selamat datang di Kafe Orion!" Salah seorang pramuniaga menyapa dengan ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Kak?"
Kaia segera tersadar dari kegiatan mengamatinya dan balas tersenyum. "Ah, saya mau mengikuti tur buku Hiraeth Kak Diamara, Kak. Apakah masih ada kursi yang tersisa?"
"Oh, tentu, Kak. Syaratnya hanya memesan satu makanan dan minuman saja, Kak."
"Baik, saya lihat menunya dulu ya, Kak."
Pramuniaga itu masih menjawab dengan ramah dan menunjuk papan yang tertempel di dinding. "Silakan, menunya bisa dilihat di papan di atas ya, Kak."
Kaia mengangguk dan netranya menelusuri papan menu. Setelah memutuskan apa yang akan dipesan, dia menghampiri kasir dan mulai memesan. "Saya pesan ice chocolate dan cheesecake original saja, Kak."
"Baik, totalnya 60 ribu ya, Kak. Nanti pesanannya akan diantar bersama pesanan yang lain, Kak."
"Oke, terima kasih, Kak."
Gadis itu membayar dan menerima nota dari kasir, lantas dipersilakan untuk menuju ruangan tempat diadakannya tur buku Hiraeth. Jantungnya semakin bertalu saat menyadari bahwa dia akan bertemu dengan penulis favorit yang menulis buku favoritnya.
Ruangan yang digunakan untuk tur itu cukup luas sehingga mampu menampung peserta sekitar 60 orang. Kursi-kursi ditata rapi menghadap panggung kecil di sebelah barat yang telah didekorasi dengan sedemikian rupa. Rasa antusias kembali menggelegak di dalam diri Kaia.
Tatkala memasuki ruangan, peserta tur buku ternyata sudah ramai. Acara akan dimulai sepuluh menit lagi, tentu saja para peserta sudah mulai tiba dan menunggu. Sementara itu, tampak seorang pembawa acara telah duduk di kursi bagian panggung.
Kaia memilih kursi yang tersisa di barisan depan, tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menyimak dan mendengarkan penjelasan sang penulis lebih dekat. Lalu, tak lama kemudian tepat sebelum acara dimulai pesanannya akhirnya diantar.
Acara akhirnya dibuka dengan penjelasan susunan acara dan sesi tanda tangan. Inilah yang dia tunggu-tunggu. Akhirnya, sang penulis masuk dan disambut dengan tepuk tangan meriah.
Kaia tidak melewatkan kesempatan untuk mengambil gambar dan menyimak perjalanan penulisan buku Hiraeth. Buku yang berkisah tentang kerinduan terhadap rumah yang tidak pernah benar-benar ada. Itulah penyebab dia begitu menyukai novel ini karena merasakan sendiri perjalanan tokoh utamanya.
Waktu memang berlalu begitu cepat jika kita menikmati aktivitas. Kaia bahkan tidak percaya acara tur buku hampir selesai. Dia tidak melewatkan kesempatan untuk bertanya pada sang penulis saat sesi tanya jawab akhirnya dibuka.
"Terima kasih atas kesempatannya untuk bertanya. Saya sudah lama menyukai karya-karya Kak Diamara. Buku terbaru Kakak benar-benar menyentuh hati saya karena saya merasa relate dengan tokoh Mia," Kaia menarik napas gugup sebelum melanjutkan, "Jadi, pertanyaan saya, adakah sosok yang menginspirasi Kakak untuk menceritakan kisah Mia? Bagaimana Kakak bisa terpikirkan untuk memilih menceritakan tentang seseorang yang rindu akan rumah yang ternyata tidak pernah benar-benar ada? Terima kasih."
Sang penulis tampak tersenyum puas dengan pertanyaan yang disampaikan oleh Kaia. "Saya juga berterima kasih karena pertanyaannya sangat bagus. Daripada terinspirasi, saya menulis karena pernah merasakan hal itu. Saya pernah di posisi Mia, tetapi sekarang kondisi saya lebih baik."
Kaia mengangguk menerima jawaban itu. Lantas, Diamara kembali menjawab, "Saya terpikirkan untuk menulis kisah ini karena bukankah setiap anak muda yang mencari jati diri pasti akan merasakan posisi Mia? Tidak perlu anak muda, mungkin itu juga terjadi pada orang-orang dewasa. Jadi, saya ingin mengatakan saja untuk tidak menyerah meski pernah berada di posisi Mia, pasti kita akan menemukan rumah itu. Mungkin tidak pada orang lain, tapi dari diri kita sendiri."
Jawaban sang penulis membuat seluruh peserta bertepuk tangan. Bahkan, tidak hanya Kaia, tetapi peserta lainnya merasakan hal yang sama. Jawaban itu membuat hatinya yang masih dalam kondisi berduka sedikit lebih baik.[]