Hal pertama yang dilakukan oleh Rere setelah mendengar dokter mengatakan Kaia sudah mulai siuman dan pulih adalah memeluknya erat-erat hingga rasanya dia hampir pingsan kembali karena kekurangan oksigen. Reaksi berlebihan dari Rere tidak membuat dia terkejut karena memang begitulah adanya Rere.
"Astagaaa, Kai, kamu hampir membuatku pingsan saat mendengar kamu dibawa ke rumah sakit," ujar Rere masih memeluknya erat.
"Maafkan aku, memangnya apa yang terjadi?"
Pertanyaan itu membuat sang sepupu akhirnya melepas pelukan dan mencubit pelan lengannya—kebiasaan ketika merasa kesal.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu."
Rere akhirnya duduk di kursi samping ranjang. Gadis itu terlihat tidak serapi biasanya, kemeja yang dikenakan sang sepupu tampak kusut dan rambutnya digerai acak-acakan. Kaia mendadak merasa bersalah karena dirinya pasti yang menjadi penyebab Rere berpenampilan seperti itu. Seingatnya, terakhir kali dia tengah lembur untuk mengerjakan laporan yang menumpuk dan akan mengambil air. Lantas, tiba-tiba sudah berada di kamar rumah sakit dan membuat sepupunya khawatir.
"Salah satu petugas kebersihan menemukan kamu pingsan di pantry, jadi mereka segera memanggil ambulans. Aku baru pulang bekerja saat menerima panggilan dari rumah sakit."
"Kamu tahu nggak hasil pemeriksaan dokter?" tanya Rere dengan nada kesal. "Dokter bilang kamu mengalami stres dan dehidrasi berat."
"Bagaimana lagi? Aku harus menyelesaikan laporan-laporan itu, Re."
Rere mengembuskan napas dengan kesal. Mungkin gadis itu mulai jengah dengan Kaia yang keras kepala. Terus bekerja tanpa memedulikan kesehatan. Hingga akhirnya si keras kepala tumbang juga.
"Aku bukannya melarang kamu, Re, tapi pedulikan juga kesehatanmu. Bahkan, di hari libur pun sering kali kamu masih harus meladeni pesan dan panggilan dari atasanmu. Apa nggak ada orang lain yang bisa diberi tugas selain kamu?"
Pertanyaan Rere membuatnya merenung. Dia tidak mengerti kenapa Pak Dion selalu menyuruhnya untuk mengerjakan laporan, meski sebenarnya ada rekan kerja yang lain. Namun, rekan-rekannya memang tidak begitu dekat dengannya dan cenderung menghindari atasannya itu.
"Tapi, aku juga nggak mungkin menolak perintah dari Pak Dion, Re," kata Kaia dengan ekspresi cemberutnya.
Namun, tampaknya wajah pucat miliknya mampu sedikit melunakkan Rere yang kemudian menatap dia dengan sorot lebih lembut. Sepupunya sepertinya justru yang mulai menyerah.
"Serius, kamu nggak mau ambil cuti dulu buat istirahat, Re? Kamu sepertinya butuh berlibur supaya nggak terlalu stres," saran Rere.
Kaia tidak lagi menghitung entah sudah berapa kali Rere berusaha membujuknya untuk mengambil cuti. Namun, berulang kali pula dia menolak dan mengatakan bahwa dia harus mengumpulkan uang untuk membayar tagihan rumah sakit mendiang Mama. Meski jauh di dalam lubuk hati, dia sebenarnya ingin mendistraksi duka yang tidak juga surut di dalam hatinya.
"Kamu butuh istirahat tahu, Kai. Lihat, baru kali ini aku melihatmu harus dirawat di rumah sakit sejak terakhir kali kamu terkena tifus saat masih di bangku SMA." Rere masih berusaha membujuknya.
"Tapi, kalau mengambil cuti, apa yang harus kulakukan, Re?"
Pertanyaan itu cukup membuat Rere terdiam dan menatapnya tidak percaya. "Istirahat, Kai. Kami menghabiskan waktu aja dengan tidur atau membaca buku seperti biasanya."
Sudah lama sekali sejak dia mengambil cuti untuk benar-benar beristirahat. Dia bahkan sudah lama sekali tidak membaca buku yang notabene begitu dia sukai di sela-sela aktivitas yang tiada habisnya. Namun, sejak Mama masuk rumah sakit dan membutuhkan pengawasan ekstra, dia belum membaca lagi buku-buku yang masih tersimpan rapi pada rak di kamarnya.
"Tapi, kalau begitu aku hanya akan terus mengingat Mama, Re," ujarnya dengan nada mencicit.
Rere tampak menghela napas, kemudian tersenyum lembut. "Kamu bisa mencoba jalan-jalan, Kai. Kalau kamu terus memaksakan diri seperti ini aku takut kamu malah semakin sakit. Aku nggak tega melihat kamu terus begini, Kai."
"Soal tagihan rumah sakit Tante, gimana kalau aku bantu—" Sebelum Rere menyelesaikan ucapannya, Kaia telah memegang tangan gadis itu, menahan agar tidak mengatakan apa pun lebih jauh.
"Nggak ya, Re. Kamu jangan aneh-aneh. Oke, aku akan mengambil cuti, tapi setelah menyelesaikan laporan. Bagaimana?"
Rere mendengkus. Sepupunya itu pasti sudah hafal akan tabiatnya yang tidak mau merepotkan orang lain. Oleh karena itu, dengan mengajukan diri untuk membantu membayar tagihan rumah sakit akan membuatnya menyerah.
"Yang penting kamu ambil cuti dan istirahat secepatnya, Kai."
"Oke, oke. Nah, kalau begitu sekarang kita pulang supaya besok aku bisa berangkat bekerja dan menyelesaikan laporan sebelum mengambil cuti." Kaia berniat bangun dari ranjangnya, tetapi buru-buru ditahan oleh Rere.
"Hei, kata siapa kamu boleh pulang sekarang?"
"Kenapa?"
"Kamu masih sakit dan pucat, Kai."
"Aku merasa baik-baik saja, Re." Kaia berusaha meyakinkan Rere dengan menggerakkan lengan seolah-olah sedang berolahraga meski tidak dapat dipungkiri masih tersisa rasa pening dan tubuhnya terasa berat.
"BIG NO!! Dokter mengatakan kamu harus menginap satu hari, jadi kamu baru bisa pulang besok."
Kali ini, Kaia hanya bisa menurut tanpa membantah dan membiarkan Rere membantunya kembali berbaring. Jadi, sisa waktu hari ini dia harus menghabiskannya di kamar rawat inap beraroma obat-obatan.
***
"Cuti?" Pertanyaan itu terdengar cukup mengintimidasi dan menciutkan nyali Kaia. Namun, gadis itu tetap mengangguk dan menjawab "iya" dengan cukup yakin.
Pak Dion menatap Kaia dengan penuh perhitungan. Netra pria itu menatap dokumen di tangan, kemudian kembali pada Kaia yang duduk di kursi seberang meja.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Pak Dion lagi.
"Saya ingin beristirahat sebentar, Pak. Saya sudah bekerja keras dan akan menyelesaikan laporan-laporan yang diperlukan sebelum cuti, Pak."
"Hmm, kalau hanya istirahat saya juga perlu istirahat. Bagaimana menurut kamu?"
Pertanyaan itu membuat Kaia cukup geram. Inilah salah satu alasan dia tidak ingin mengajukan cuti karena Pak Dion seperti menyulitkannya untuk mengambil cuti jika itu bukan hal yang sangat penting dan mendesak. Sementara itu, rekan kerjanya yang lain dapat dengan mudah mengajukan cuti dan mendapatkan persetujuan. Dia tahu ini bukan hal mudah, tetapi dia sudah berjanji pada Rere untuk mengambil cuti. Salah-salah, dia justru akan semakin diomeli, baik oleh Rere maupun Pak Dion. Keduanya benar-benar hal buruk.
"Saya perlu mengurus jaminan kesehatan mendiang Mama saya, Pak." Akhirnya, tiba-tiba saja ide itu muncul. Dia tidak yakin apakah atasannya itu akan menyetujui dengan mudah.
Pak Dion tampak berpikir dan dari sorot netra pria itu, Kaia sudah pasrah jika pengajuan cutinya ditolak. Mungkin, setelah ini dia hanya perlu mendengarkan omelan Rere sampai telinganya pengang. Namun, yang dia dapatkan justru jawaban tak terduga.
"Oke, tapi di sini saya lihat kamu mengajukan selama tiga hari. Saya cuma bisa mengizinkan satu hari saja," ujar Pak Dion, tegas.
"Ya? Tapi, kenapa, Pak?"
"Kamu tidak bisa meninggalkan laporan menumpuk terlalu lama, saya butuh kamu mengurus laporan mendatang dari cabang Surabaya. Kamu mengerti?"
Tidak ada yang bisa Kaia katakan selain, "Baik, Pak." Lantas, sang atasan melanjutkan komentar tentang dokumen yang baru saja dia serahkan.[]