Kaia kira jika dia rajin dan tekun menjalani hidup, semuanya akan terasa lebih mudah. Dia pikir, jika mendedikasikan diri pada pekerjaan dukanya akan meluntur. Atau dia berharap begitu. Akan tetapi, pada kenyataannya kepalaya justru semakin pusing melihat angka tagihan rumah sakit yang rasanya tidak berkurang.
Gadis itu memijat pelipis sembari menutup pemberitahuan tagihan di layar ponsel. Sementara itu, rapat yang dia ikuti masih berjalan membicarakan tentang proyek mendatang. Kaia sudah tidak bisa fokus pada pekerjaan karena rasa pening yang menghunjam kepala. Sebenarnya, dia sudah merasa pusing sejak pagi tadi. Dia sudah meminum paracetamol, tetapi tampaknya obat itu tidak banyak membantu.
Tidak lama kemudian, akhirnya rapat berakhir. Kaia bangkit dengan sedikit limbung dan bergegas kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena rapat itu. Beberapa laporan masih tertumpuk menunggu untuk direvisi, sementara itu satu laporan menunggu untuk dikerjakan. Lama-lama, Kaia merasa muak juga harus berhadapan dengan laporan-laporan ini.
"Kai ..." Panggilan itu membuat Kaia mengalihkan pandangan dari dokumen yang dibacanya.
Rio, seorang pria berperawakan kurus dan tinggi yang dia kenal sebagai staf divisi operasional mendekat ke arahnya. Pria itu menyugar rambut dan tampak gelisah.
"Kenapa, Yo?"
"Aku baru aja mengirimkan beberapa pengajuan ke email kamu, bisa dibantu konfirmasi secepatnya nggak, ya?"
Kaia mengerutkan kening mendengar permintaan rekan kerjanya itu. "Sebentar, aku belum mengeceknya, Yo. Ada beberapa pengajuan juga yang masuk jadi aku belum bisa memastikan kapan bisa konfirmasi ke atas."
Gadis itu menjawab sembari membuka email dan benar saja, baru beberapa menit yang lalu Rio mengirimkan file pengajuan perbaikan operasional. Tentu saja hal ini tidak dapat dikonfirmasi secepatnya mengingat dia harus melakukan pengecekan dan menyampaikan pada atasan yang belum tentu sempat membaca pengajuan itu secepatnya. Namun, lagi-lagi di sinilah posisinya yang berada di tengah-tengah dan menjadi perantara. Dia tidak bisa memberikan kepastian sebelum mendapat persetujuan dari atasannya.
"Kumohon, Kai. Aku membutuhkan itu secepatnya karena bisa kacau lapangan kalau pengajuan ini nggak segera dikonfirmasi." Pria itu berkata dengan nada memohon.
Namun, siapa Kaia hingga bisa memberi kepastian itu. Gadis itu membaca cepat laporan pengajuan dari divisi operasional. Beberapa barang yang dibutuhkan untuk kelangsungan proyek dan mungkin bisa berakibat fatal jika tidak segera diajukan.
"Aku belum bisa menjanjikan, tapi nanti kuusahakan ya, Yo."
"Aku minta tolong sekali, Kai. Nanti jam 5 kamu bisa kasih kepastian?"
"Terlalu cepat, aku masih membutuhkan waktu mengecek. Saat ini Pak Dion juga tidak sedang di ruangannya. Aku usahakan kalau udah ada konfirmasi segera aku sampaikan ke kamu."
Seakan tidak puas dengan jawaban Kaia, Rio kembali mendesak, "Tapi, bisa sore ini juga, kan?"
Kaia menghela napas. "Aku belum bisa memastikan, Yo. Soal ini aku catat deh, supaya nanti diprioritaskan sama Pak Dion."
Senyum lega akhirnya terbit di bibir pria itu. "Betul ya, Kai?"
"Iya."
"Oke, aku balik dulu. Nanti kabarin aja."
Setelah itu, barulah Rio benar-benar meninggalkan meja. Sementara itu, Kaia kembali fokus pada laporan dari Rio. Dia membaca cepat dan melakukan pengecekan dengan cekatan. Kali ini, gadis itu menyusun skala prioritas laporan-laporan yang harus dia kirimkan pada Pak Dion. Tambahan dari divisi operasional menetapkan bahwa dia benar-benar harus lembur sore ini. Lantas, tidak membutuhkan waktu lama sampai Kaia tenggelam dalam laporan-laporan yang tiada habisnya itu.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul lima saat Kaia menyelesaikan revisi laporan kedua. Rekan-rekannya yang lain telah berkemas untuk pulang. Beberapa bahkan sudah berpamitan dengan Kaia yang masih sibuk berkutat di depan komputer. Jemarinya masih dengan lincah mengetik di keyboard dan sesekali berpindah pada mouse.
"Kak Kaia, permisi."" Nata, seorang gadis mungil yang baru masuk enam bulan lalu ke perusahaan ini menghampiri mejanya.
"Eh, ada apa, Nata?" tanya Kaia, sedikit terkejut karena gadis itu belum pulang, padahal ruangan sudah mulai lengang.
"Maaf mengganggu, mau mengonfirmasi kalau laporan keuangan dari cabang Surabaya sudah saya kirim via email, Kak." Gadis itu mengatakan dengan sedikit ragu, mengingatkan pada Kaia saat masih menjadi karyawan baru.
"Oh, oke, Nat. Terima kasih, ya. Nggak usah terlalu formal, santai aja kalau bicara sama aku," ujar Kaia, melihat keseganan dari wajah juniornya itu. Namun, di sini Kaia tidak ingin dianggap senior yang haus hormat. Dia ingin juniornya merasa nyaman tanpa merasa terintimidasi.
"Baik, eh, oke, Kak."
"Kamu udah mau pulang?"
"Eng, iya, Kak. Ada yang bisa aku bantu?" tanya gadis itu sopan.
Kaia tertawa kecil, "Nggak, nggak ada. Kalau begitu hati-hati pulangnya. Selamat istirahat, ya."
"Terima kasih, Kak. Kak Kaia belum mau pulang?"
"Oh, belum, masih banyak yang harus diurus."
Nata mengangguk-angguk kecil. "Kalau begitu semangat, Kak. Aku permisi."
Kaia mengangguk dan membiarkan Nata meninggalkan ruang administrasi yang menyisakan dirinya saja. Gadis itu menghela napas lelah dan menjatuhkan punggung ke kursi. Kepalanya terasa semakin pening dan kencang saja. Dia mengambil sebutir obat lagi dan berniat menenggaknya dengan air putih, tetapi ternyata airnya sudah tandas tidak bersisa.
Mau tidak mau, Kaia harus bangkit dan pergi ke pantry untuk mengambil air minum. Semula, semuanya baik-baik saja saat dia tiba di pantry. Akan tetapi, tatkala gadis itu mengambil air, tiba-tiba kepalanya seperti dihantam oleh batu dan telinganya berdenging. Terakhir kali yang dia lihat gelasnya tergelincir dari tangan dan semuanya tiba-tiba menggelap.
***
Kaia tidak ingat kapan tepatnya terakhir kali dia bermimpi. Mungkin dua minggu yang lalu setelah pemakaman Mama. Atau seminggu terakhir saat dia masih tidak bisa melepaskan bayang-bayang Mama. Namun, ingatannya selalu kabur dan digantikan oleh duka yang tidak habis atau pekerjaan yang tidak bisa dijeda. Hanya saja, kali ini dia kembali bermimpi berada di tengah padang tak berujung. Gemeresik angin menampar rambutnya yang tergerai, sedangkan rerumputan bergoyang-goyang di bawah gaun putih selututnya.
Dia tidak tahu ada di mana, tetapi dia tahu bahwa ini adalah alam mimpi karena dirinya melihat Mama yang mendekat dengan balutan gaun berwarna senada. Tentu saja, Kaia akan sangat senang jika Mama benar-benar masih hidup, tetapi dia sadar bahwa Mama telah tiada. Berarti saat ini mereka hanya dipertemukan di alam mimpi.
"Ma ..." Suara gadis itu hampir terdengar mencicit karena menahan isak yang hampir keluar.
Mama tidak menjawab hingga tiba di depannya dan mengelus surainya dengan penuh kasih sayang.
"Secukupnya aja. Lakukan secukupnya, Sayang, dan jangan terlalu menenggelamkan diri dalam duka."
"Apa?" Kaia menatap netra mamanya dengan pandangan berkaca-kaca.
"Kamu udah melakukan yang terbaik. Maafkan, Mama selalu merepotkan kamu."
Kaia menggeleng. "Nggak, nggak sama sekali, Ma."
"Kalau begitu, demi membahagiakan Mama, kamu juga harus hidup dengan bahagia dan tidak memaksakan diri, ya."
Permintaan itu dijawab dengan anggukan dan pelukan erat oleh Kaia. Meski mengetahui bahwa saat ini dirinya sedang berada di alam mimpi, tetapi dia tetap berharap waktu akan berhenti dan membiarkan dia bersama sang mama lebih lama lagi. Akan tetapi, harapan hanya menjadi sia-sia saat takdir sudah berbicara. Tiba-tiba saja, Mama melepaskan pelukannya dan tidak berkata apa-apa saat berbalik untuk melangkah menjauh.
"Ma!" Kaia berusaha mengejar Mama, tetapi dia tidak dapat mengejar wanita yang tidak lagi menoleh ke belakang itu.
Lantas, tiba-tiba saja dunia kembali menghitam dan seolah disedot dari kedalaman yang gelap, Kaia bernapas tersengal. Telinga gadis itu berdenging, kemudian sayup-sayup terdengar suara seseorang memanggil dokter. Perlahan, dia membuka mata. Awalnya, hanya dunia buram yang dia lihat. Lalu, saat pandangannya sudah cukup jelas, dia menemukan langit-langit berwarna putih dan Rere yang bergerak panik bersama seorang pria berjas putih.[]