1. Lemon and Ice Lemonade
Nama Tisha Baretta beberapa bulan yang lalu pasti terdengar keren, cantik, dan anggun oleh orang lain. Namun bagiku saat ini, nama itu terasa berat untuk dipertahankan dengan citra seperti itu. Benar-benar berat.
Beberapa bulan yang lalu aku tidak memerlukan usaha untuk tampil mempesona dihadapan orang lain. Aku dengan mudah bisa mengenakan pakaian cantik dan modis dengan hanya memilih dari ratusan pakaian yang terpajang cantik di ruang busanaku. Aku memiliki meja rias yang diatasnya berjejer alat make up dari berbagai merek dalam dan luar negeri.
Aku juga memiliki ratusan sepatu cantik dan mewah yang tertata rapi di lemari. Berbagai aksesoris dan tas mewah juga terpajang cantik di ruang busanaku. Tampil cantik dan anggun memang bukanlah hal yang sulit bagiku beberapa bulan yang lalu.
Aku bukan tipe orang yang sombong dan suka menampilkan kemewahan. Namun jika aku mau, itu bukanlah hal yang sulit.
Berbeda dengan sekarang. Meskipun setengah mati aku ingin mengenakan sepatu merek Salvatore Ferragamo untuk pergi ke sekolah, aku tetap tidak akan mampu membelinya. Aku bahkan tidak berani untuk hanya sekedar membayangkan menyentuh kulit sepatunya. Ya... sekarang barang-barang itu terasa benar-benar mewah untukku. Kemewahan yang bahkan tidak berani untuk aku bayangkan.
Jika hidup adalah sebuah drama yang sedang tayang di televisi, aku mungkin akan melabrak penulis naskah yang membuat alur cerita begitu kejam dan mengenaskan ini. Penulis itu merenggut semua yang aku miliki, bahkan merenggut kedua orang tuaku hanya dalam waktu sehari. Jika ini sebuah drama, mungkin aku adalah aktris yang paling banyak melakukan adegan menangis dalam kesendirian.
Namun aku tidak mungkin melabrak atau bahkan sekedar memarahi Penulis naskah kehidupanku sesungguhnya. Aku tidak berani melakukannya. Aku hanya menangis dalam doa dan kesendirianku di kamar kost kecil yang sederhana. Dalam kamar kost ini aku menumpahkan semua kesedihanku tanpa ada seorangpun yang melihat.
Aku memang sering menangis, tapi bukan setiap saat aku menumpahkan air mata. Aku tetap harus hidup dan bertahan. Menangis tidak akan membuatku mampu membeli beras dan lauk pauk. Setiap hari aku terus berjuang dan memikirkan cara untuk bertahan. Hal yang patut untuk aku syukuri adalah keputusan orang tuaku yang mendaftarkan asuransi pendidikan yang cukup besar untukku sebelum meninggal. Setidaknya aku tidak perlu memikirkan biaya pendidikanku yang cukup mahal itu. Karena setiap bulannya aku menerima uang asuransi yang cukup untuk membiayai sekolahku.
Aku memang masih dapat bersekolah di SMA Pelita Abadi. Sekolah yang berisi siswa yang memiliki status sosial ekonomi di atas. Namun aku tidak akan mungkin lagi untuk menyamai gaya hidup teman-temanku. Aku tidak lagi bisa berangkat ke sekolah dengan mobil yang dikendarai oleh supir. Aku juga tidak dapat ikut hang out bersama mereka. Teman-temanku pasti akan memilih kafe mewah yang memiliki menu makanan dengan harga mahal.
Namun aku juga tidak mau menampilkan betapa susah dan kerasnya hidupku sekarang kepada mereka. Bukan karena mereka jahat, tapi aku tidak suka menerima tatapan kasihan dan rasa iba dari mereka. Sebisa mungkin aku menutupi kesulitan hidupku.
Mereka memang tau hidupku tidak semewah dahulu karena kematian kedua orang tuaku yang mendadak karena kecelakaan. Namun mereka tidak tau kalau aku sekarang tinggal disebuah kamar kost kecil yang tidak jauh dari sekolah, bukan di rumahku dulu yang besar dan megah. Mereka pikir aku naik sepeda ke sekolah untuk olah raga, padahal karena memang itu alat transportasi yang tidak memakan biaya.
Aku selalu menggunakan seribu satu alasan untuk menolak jika mereka mengajak hang out di mall. Aku juga selalu melewatkan makan siang dengan alasan diet, padahal diam-diam aku memakan sepotong roti atau bekal sederhanaku di sudut sekolah yang tak terlihat orang lain. Tak jarang aku meminta ijin ke toilet saat pelajaran sekolah hanya untuk memakan sepotong roti yang aku simpan diam-diam di saku rok.
Aku memang tidak mungkin lagi makan di meja kantin sekolah dan memesan menu yang ada disana. Uang di dompet dan rekeningku tidak akan mungkin cukup untuk makan siang di kantin setiap harinya. Aku juga enggan menunjukkan menu makan siangku pada teman-teman sekolahku. Jika tau, mereka mungkin akan menyumbangkan lauk makan siang mereka atau mentraktirku setiap harinya. Aku benci menjadi beban bagi mereka. Aku benci tampil menyedihkan di depan teman-temanku.
Hidupku memang berat. Namun menyembunyikan betapa beratnya beban hidupku dan tampil seolah semua baik-baik saja, terasa jauh lebih berat. Aku berusaha menemukan kebahagiaan kecil yang mampu membuat bibirku tersenyum dan melupakan sejenak beban yang harus dipikul.
Menyantap sepiring mie instan sambil menonton drama korea, mampu membuat menu makan malamku terasa nikmat. Mendengarkan musik sambil mengayuh sepeda ke sekolah, mampu membuat perjalananku terasa menyenangkan. Saat aku sedang bekerja sebagai pelayan, tak jarang musik yang sedang trend dipasang untuk meningkatkan mood pelanggan. Namun bukan hanya pelanggan yang menikmatinya, aku juga bisa bekerja dengan suasana hati yang lebih baik.
Diakhir pekan, aku menjadi waitress di sebuah kafe depan kampus Ukrisda yang menyediakan menu yang menggunakan lemon. Ayam saus lemon, ikan panggang dabu-dabu lemon, mango lemon yogurt, ice lemonade, dan menu lainnya. Aku selalu tersenyum setiap kali melihat persediaan lemon didapur kafe dan jajaran menu lemon yang aku hantarkan ke pelanggan. Aroma dan warna kuning lemon mampu membuat hatiku terasa lebih ceria.
Aku ingat perkataan Papaku dahulu. Hidup memang tidak selalu menyajikan apa yang kita inginkan, tapi kita pasti menemukan cara untuk menikmati hidup. Lemon memang terasa sangat asam bila langsung memakan buahnya, tapi rasa asamnya bisa dinikmati jika mengolahnya menjadi segelas ice lemonade.
Ya... aku pasti bisa menikmati hidup, sambil meminum segelas ice lemonade.