Part 08. Om Om m***m

1019 Kata
Langit segera bangkit dari tempat tidur dan duduk ditepi kasur, matanya melihat ke arah lantai dan menemukan sebuah kertas putih seperti foto. Karena penasaran kini ia pun segera menanyakannya kepada sang pemilik kamar. "Eh, itu kertas apaan? Seperti sebuah foto?" Kata Langit sambil sedikit berjongkok tangannya mengulur kebawah untuk mengambil kertas yang berada di lantai bawah tempat tidur. Karena penasaran ia pun akan mengambilnya. Mendengar itu Bintang yang masih berbaring di atas tempat tidurnya seketika matanya melotot dan Ia segera bangkit dan berdiri, dengan sigap ia mengambil foto itu sebelum tangan Langit mengambilnya, dan dengan segera Ia pun menyembunyikannya dibelakang punggungnya. "Hei...! Itu apa sih, sini gue juga mau lihat dong!." teriak Langit dan tak digubris oleh Bintang. "Bukan apa-apa, ini bukan urusan lo, Lang!" Bintang masih menyembunyikan fotonya dibelakang badan. "Ah, palingan itu juga foto cewek jelek gendut. Iya, kan? Tahu gue." goda Langit kepada sepupunya itu. "Enak aja lo ngomong." bela Bintang tidak terima. "Terus itu kenapa lo Sembunyikan?." Langit bertanya sambil menunjuk kearah Bintang dengan dagunya. "Jangan kepo, lo." "Itu foto cewek lo ya? kenalin gue dong." "Ogah, entar lo gebet lagi, dasar om- om m***m!" ejek Bintang. "Apa lo bilang, hah! gue bukan om- om m***m, orang ganteng gini kok di bilang mesum." sahut Langit tidak terima. Kemudian Langit mengejar Bintang karena masih penasaran sama foto itu, mereka tertawa bersama dan berlarian didalam kamar, tangan Langit masih terus menggapai foto yang di Sembunyikan oleh Bintang namun terus gagal untuk mengambilnya karena Bintang menyembunyikannya dibelakang badannya dan selalu menghindar secara reflek saat Langit mendekatinya. Tiba-tiba diluar kamar pintu ada yang mengetuk. Tok.. Tok!. Ceklek!. Suara pintu terbuka, ternyata Nyonya Wijaya yang membukanya. "Kalian sedang apa sih? kok kayaknya seru banget?" wanita umur empat puluh tahun itu bertanya sambil tersenyum. "Gak ada apa-apa mah" jawab Bintang dengan cepat Ia menaruh foto ke dalam lemari yang tak disadari oleh Ibu dan Sepupunya. Sedangkan Langit hanya tersenyum melihat Nyonya Wijaya tanpa mengucap kata. "Ayok turun, kita makan malam dulu." ajak Nyonya Wijaya kepada dua laki laki-laki yang ada didepannya itu. *** Bandung Didalam kamar seorang gadis sedang berbaring di atas tempat tidurnya sambil memeluk boneka besar berwarna pink. Matanya sembab karena menangis lama, Ia masih diam tak bersuara hanya diam sambil memeluk bonekanya dan sesekali air matanya masih menetes. Matanya menatap boneka itu tetapi pikirannya ditempat lain. Saat ini Ia sangat merindukan seseorang yang pergi jauh. Dadanya terasa sangat sesak karena Bintang belum juga menghubungi ponselnya, apakah Bintang lupa dengan janjinya yang akan selalu menghubungi dirinya. Saat ini Senja sedang menunggu Bintang menghubungi dirinya. Sesekali gadis itu melihat ponsel yang ada di depannya tetapi belum ada kabar dari seseorang yang dicintainya. Senja melihat ponsel dengan tatapan nanar sebab bulir air matanya terus menerus keluar dari mata gadis itu. Hanya diam dan keheningan yang menemani dirinya kini. *** Jakarta Bintang dan keluarganya sedang makan malam, Langit juga ikut bergabung dengan keluarga Bintang. Makan malam kali ini sungguh berbeda kehangatan keluarga sangat terasa. Setelah selesai makan malam mereka semua duduk di ruang tengah menonton televisi bersama. Jam menunjukkan pukul delapan malam dan Langit berpamitan untuk pulang. "Tante, om, terima kasih atas makan malamnya, Langit pamit dulu " laki-laki itu berpamitan dan berdiri. "Nginep sini saja Lang, nanti tidur sama Bintang." ucap Nyonya Wijaya membujuk Langit keponakannya untuk menginap dirumahnya. Bintang yang mendengar perkataan ibunya langsung membulatkan matanya dan menoleh kearah Langit dan Ibunya, ekspresi wajah Bintang menolak tidak mau tidur bersama dengan Langit. "Langit pulang saja, tante." Langit menjawab sambil melirik sinis ke arah sepupunya itu. Kini Langit dan Bintang saling bertatap mata sinis. Kedua saudara sepupu itu memang sering meributkan hal-hal kecil. Tetapi mereka tetap saling menyayangi. "Bintang, gue pamit dulu, besok gue pasti main lagi kesini." Langit memeluk Bintang dan juga om dan tante-nya. Tak lama setelah Langit berpamitan pulang, Bintang masuk kedalam kamar untuk tidur. Setelah masuk ke dalam kamarnya laki-laki itu berbaring matanya menatap langit-langit kamarnya dan seketika ia teringat sesuatu. "Ya ampun, aku lupa, Senja!" Segera Bintang bangun dan mencari ponsel miliknya yang berada di dalam ranselnya. Dengan cepat Ia membuka ponsel dan mencari nomer kekasihnya. Setelah menemukan nomer Senja segera Ia membuka aplikasi hijau dan menekan call untuk menelepon Senja. Perasaan gelisah kini melanda hati laki-laki itu, karena panggilannya tidak diangkat oleh kekasihnya. Kini Ia mencoba kembali menghubungi nomer yang sama hingga sampai sepuluh lebih panggilan tak terjawab "argh!" Bintang menarik rambutnya kasar. "Senja, maafin aku." ucapnya lirih. Bintang masih mencoba menghubungi nomor Senja tetapi masih tak ada jawaban, laki-laki itu berpikir kekasihnya marah karena tak ada kabar dari dirinya, padahal laki-laki itu sudah berjanji akan selalu menghubungi Senja kalau Ia sudah sampai di Jakarta. Setelah sampai di Jakarta Ia sibuk membereskan baju dan barang yang Ia bawa dan setelah selesai beres- beres Ia malah ketiduran dan tadi juga ada sepupunya yang main ke kamarnya. Kesibukan hari ini membuat Bintang melupakan janjinya kepada Senja. Bintang mengusap wajahnya kasar Ia benar-benar sedih karena panggilannya tak dijawab oleh Senja. Padahal Laki-laki itu sekarang sangat kangen ingin mendengar suara kekasihnya, cinta jarak jauh antara Bandung dan Jakarta yang mereka jalani saat ini semoga tidak akan menggoyahkan cinta kasih mereka. Bintang mengembuskan napas kasar, Karena panggilannya tidak ada jawaban Laki-laki itu sekarang Sedang mengetik dan mengirim sebuah pesan kepada kekasihnya. [maafin aku sayang, karena baru kasih kabar sama kamu, aku sangat merindukanmu Senja, i love you]. Send. Setelah selesai mengirim pesan pada kekasihnya Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. *** Bandung. Didalam kamar yang gelap seorang gadis sedang tertidur sangat pulas karena lelah menunggu kekasih hatinya. Hingga Ia tidak tahu kalau ponselnya berdering hingga lebih dari sepuluh kali. Gadis itu masih tidur sambil memeluk boneka star kesayangannya, Ia terlihat sangat tenang ketika tidur, wajah cantiknya yang sedari tadi basah dan sembab karena menangis kini sudah kelihatan lebih tenang seperti tak ada beban dihatinya. Mungkin karena sudah banyak air matanya yang sudah keluar, hingga membuat dirinya lelah dan tertidur pulas menghilangkan semua beban pikiran didalam hatinya. Menunggu sang kekasih dengan ketulusan hati dan perasaan yang sabar membuat gadis itu hanya bisa menunggu dan terus menunggu. Hanya ketulusan cintanya yang membuat gadis itu sabar menunggu sang kekasih hatinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN