Mentari pagi sudah mulai menyinari bumi, butiran embun pagi masih menetes diantara dedaunan yang ada dihalaman rumah.
Didalam kamar seorang gadis masih terjaga karena lelah hati yang sedang melanda cintanya. Tak lama Ia membuka matanya dan menatap sekelilingnya hingga pandangan matanya berfokus pada sebuah objek kemudian Ia menyipitkan sedikit matanya.
Tangannya meraih benda pipih yang berada disebelahnya dan mulai membuka ponsel miliknya, seketika matanya membulat melihat pesan dan panggilan tak terjawab yang ada dilayar ponsel miliknya itu.
Segera ia membuka ponselnya dan ternyata semua panggilan tak terjawab itu dari Bintang dan juga ada beberapa pesan masuk dari Bintang dan sahabatnya Diana.
Senyum mulai keluar dari sudut bibirnya, hatinya yang sakit dan sesak karena kejadian kemarin sekarang sudah hilang berganti dengan sebuah senyuman seakan bunga cintanya baru saja mekar setelah seseorang menyiraminya.
Setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Bintang kepadanya, gadis itu tersenyum jemarinya mengetik dengan cepat untuk membalas isi pesan itu.
[Maaf sayang , aku semalam ketiduran, karena kamu lama banget tidak ngabarin aku .]
Setelah selesai mengetik pesan dan mengirimkannya kepada Bintang gadis itu menaruh ponselnya di atas nakas. Kemudian Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mandi pagi biar lebih segar karena kemarin dirinya sangat sedih dan tidak bersemangat, semoga setelah mandi kali ini dirinya kembali bersemangat apalagi setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh kekasihnya, cinta memang bisa merubah segalanya, hati yang kemarin rapuh kini sudah tertata kembali.
Setelah selesai mandi gadis itu berjalan keluar kamar dan menuju ke ruang makan, entah kenapa rasanya sangat lapar sekali, mungkin karena menangis sangat menguras energinya, makanya baru bangun tidur gadis itu sudah merasakan perutnya berbunyi seakan berdemo minta di isi makanan, gadis itu baru ingat Kemarin Ia tidak makan malam karena dirinya tak berselera untuk makan.
Gadis itu sudah sampai didapur, Ia melihat asisten rumah tangganya sedang memasak disana, gadis itu segera berjalan menghampirinya.
"Bik."
"Ya non, mau bibi buatkan teh hangat non?." ucap asisten rumah tangga yang bekerja dirumah Senja.
"Boleh." Jawab Senja sambil menganggukkan kepalanya.
Asisten rumah tangga itu kini sedang merebus air untuk membuat teh hangat untuk Senja, kemudian gadis itu berjalan menuju tempat penyimpanan bahan makanan Senja mengambil roti dan mengoleskan selai cokelat di atas roti. Aku kembali kedapur dan duduk disana sambil mengamati bibi yang sedang memasak didapur.
Pandangan matanya selalu mengamati setiap gerakan asisten rumah tangga itu. Hingga secangkir teh hangat sudah mendarat didepannya.
"Silahkan diminum non Senja."
"Iya bik, terima kasih."
Senja meminum sedikit teh hangat yang ada didepannya, dan memakan roti yang tadi sudah ia olesi selai cokelat. Tiba-tiba Ibunya datang menghampirinya, seketika Senja menoleh kearah Ibunya. "Sayang, Kamu sudah bangun?, maaf ya kemarin Mama sama Papa pulangnya larut malam, soalnya Mama menemani Papa meting diluar." wanita itu memeluk anaknya dan mengusap lembut rambutnya, Senja merasa sangat nyaman bisa dipeluk Ibunya, mungkin memang saat ini sepertinya ia sedang butuh pelukan. Wanita itu bahkan tidak tahu apa yang telah terjadi pada anak gadis satu-satunya kemarin, karena sibuk memikirkan pekerjaan kantor yang akhir-akhir ini sedang melanda perusahaannya.
Asisten rumah tangga itu sudah selesai memasak dengan cepat ia menata semua masakan di atas meja makan, Senja masih duduk disini bersama Ibunya, hingga Papanya juga datang ikut bergabung bersama mereka. Setelah Papanya datang mereka bercanda tertawa bersama, kehangatan keluarga seperti inilah yang selalu gadis itu rindukan, hingga membuat Senja lupa akan ponselnya yang berada di atas nakas disisi tempat tidur kamarnya.
Mereka sudah selesai sarapan, kedua orang tuanya pamit untuk berangkat ke kantor, entah kenapa akhir - akhir ini kedua orang tuanya selalu sibuk dengan masalah kantor, begitupun juga ibunya selalu sibuk menemani Papanya meting, karena mereka berada di kantor yang sama.
Setelah kedua orang tuanya berangkat ke kantor Senja segera masuk ke dalam kamarnya, ia kini duduk dipinggir tempat tidur, Senja mengambil ponsel yang berada di atas nakas dan ia melihat ada beberapa panggilan tak terjawab lagi dari Bintang.
Senja segera mencari nomer Bintang dan juga tombol hijau untuk memanggil kembali nomer itu, tak lama ia mendengar suara dari seberang sana.
[Halo, Senja!]
'Ya Tuhan ... mendengar suaranya saja kenapa bisa membuat hatiku berdebar seperti ini.' gumam gadis itu dalam hati. Tanpa sadar senyum tipis dari sudut bibirnya kini mulai mengembang.
[Halo, sayang]
Suara kedua dari seberang sana mengagetkan gadis itu hingga membuatnya tersadar, kalau ia sedang melamun.
"Iy-iya." ucap gadis itu gugup.
[Kamu kenapa sayang, apa kamu sakit?, maafin aku Senja kemarin aku tidak ngabarin kamu, karena aku sangat sibuk setelah sampai Jakarta]
"Tidak apa-apa kok, aku maafin gak ya." goda Senja.
[Ish, jangan ngambek dong, sayang, maafin Aku].
"Iya deh Aku maafin, tapi dengan satu syarat."
[Syarat? Syarat apa?]
"Aku mau ... kamu Bilang Aku cantik!" Entah kenapa kalau bersama Bintang ia selalu ingin menggodanya.
[Baiklah, Senja pacarku memang sangat cantik!, Aku sangat mencintainya dan sangat merindukannya]. Senja mendengar suara dari seberang sana dan Ia pun tertawa.
Bintang bahkan tidak tahu kalau wajah Senja saat ini memerah sudah seperti udang rebus. Seandainya mereka sedang berhadapan sudah pasti Bintang sangat gemas dan mencubit hidung Senja. Cinta memang bisa merubah segalanya menjadi lebih indah saat bersama.
"Satu kali lagi dong ... Bilang Aku cantik." rengeknya, Senja sangat ingin mendengar suara Bintang memujinya, entahlah kenapa sekarang gadis itu sangat ingin bermanja saat bersamanya, baru kemarin Ia pergi dan sekarang ia sudah sangat merindukannya mungkin cinta yang membuatnya seperti ini.
[Hem ... Sudah berani mulai menggodaku ya, awas nanti kalau kita bertemu, akan Aku cubit hidungmu.]
Terdengar suara dari seberang sana dan Senja pun tertawa begitu juga dengan Bintang yang ikut tertawa.
Mereka tertawa bersama, rasa sakit dan sesak saat perpisahan kemarin kini sudah hilang berganti dengan bahagia.
[Aku akan selalu mencintaimu Senja, senin depan tahun ajaran baru sudah dimulai, kamu sekolah yang semangat ya]
Aku berdiri dan berjalan menuju jendela kamar, kini Aku berdiri didepan jendela melihat taman yang ada diluar rumah. Ponsel masih ada ditelingaku.
"Iya kak."
[Sayang, cita- cita kamu apa?.]
"Hem ... Apa ya? cita-cita ku ... Aku pengen kuliah di Jakarta setelah lulus sekolah nanti, biar kita bisa bertemu setiap hari." Jawab Senja asal.
[Hei ... Itu bukan cita-cita sayang!] ucap Bintang dari seberang sana sambil diiringi suara tawa pelan.
Senja pun ikut tertawa "Katanya tadi tanya cita-cita?, terus cita-cita kak Bintang sendiri apa?" tanya Senja penasaran.
[Aku pengen kuliah sambil bekerja supaya nanti saat lulus sekolah Aku bisa langsung menikah denganmu karena Aku sudah mempunyai pekerjaan, Aku gak bisa menunggu lama untuk menikah denganmu, menunggu seperti ini saja sudah cukup membuatku tersiksa.]
Hening Senja diam mendengar perkataan Bintang, didalam lubuk hatinya yang dalam ia sangat mencintainya dan merindukannya. Senja juga tidak bisa jauh darinya, semoga mereka bisa selalu bersama. Senja sangat ingin bisa kuliah di Jakarta, tapi entah kedua orang tuanya mengijinkannya atau tidak karena Senja anak satu-satunya yang mereka miliki.
***