Part 10. LDR

1112 Kata
Cinta jarak jauh antara Bandung dan Jakarta yang saat ini dijalani oleh Bintang dan Senja tak akan mengurangi rasa cinta dan sayang mereka. Walaupun terkadang didalam hati kecil mereka ada perasaan yang sama takut akan kehilangan cinta, tetapi itu tidak akan menjadikan suatu alasan untuk tetap setia menunggu sebuah ikatan cinta. Saat ini bisa saling mendengar suaranya saja bisa sedikit mengobati rasa rindu yang ada didalam hati kecil mereka. Suara yang menyejukkan hati dari seseorang yang dicintai sudah lebih dari cukup untuk membuat bunga cinta mereka kembali merekah. "Aku, berjanji akan selalu menunggumu kak Bintang, aku sangat mencintaimu." Tak terasa butir air mata Senja jatuh tak tertahan, segera ia menyeka air matanya, untung saja Bintang tidak melihat Senja meneteskan air mata. [Terima kasih, sayang Aku akan bekerja keras untukmu, aku berjanji Akan membahagiakanmu, aku mencintaimu]. "Aku akan selalu menunggu janjimu, Aku juga mencintaimu." Senja segera mematikan sambungan teleponnya, Senja yakin kalau terus mengobrol dengan Bintang akan membuat hati dan perasaannya semakin menjadi terharu. *** Jakarta Seorang laki-laki berdiri mematung dengan tangan masih menggenggam erat ponsel yang masih menempel di telinganya, matanya terus menatap kebawah, ada perasaan galau yang entah kenapa, karena Senja tiba-tiba saja mematikan sambungan teleponnya saat mereka sedang asik berbicara. Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar. Tok.. Tok..! "Bintang, ayo sarapan dulu!" Suara Ibunya menyadarkan Bintang dari lamunan, "Iya ma!" Bintang segera menaruh ponsel di atas tempat tidur dan ia segera keluar dari kamar menuju keruang makan. Bintang melihat Papanya sudah duduk disana menikmati secangkir kopi dan sedang sibuk membaca koran pagi. Sedangkan Mamanya sibuk menyiapkan makanan dimeja. "Bagaimana dengan pendaftaran kuliah kamu di Universitas Jakarta Bintang?, apa sudah ada kabar diterima?" Tuan Wijaya bertanya kepada anaknya, matanya masih sibuk melihat koran yang ada ditangannya. "Bintang, sudah diterima pah, besok Bintang ngurus berkas di Universitas Jakarta pah." "Bagus" Tuan Wijaya menganggukkan kepalanya "Terus, apa kamu yakin kuliah ambil jurusan manejemen?" Pak Wijaya melanjutkan pertanyaannya lagi, kali ini tatapan matanya tertuju pada anak laki-laki satu-satunya. "Bintang yakin pah." Jawab Bintang dengan cepat. Dirinya memang sudah berencana kuliah dan sambil merintis bisnis dari awal. "Kalau kamu sudah yakin, Papa akan dukung kamu." "Terima kasih Pah." "Papa, Bintang, ayok sarapan dulu!" seru Nyonya Wijaya saat menghampiri suami dan anaknya yang dari tadi menunggu dimeja makan. Nyonya Wijaya mengambilkan nasi goreng kepiring suami dan anaknya. Saat keluarga ini sedang menikmati sarapan tiba-tiba suara bel depan rumah berbunyi. Tuan Wijaya menatap istrinya dan bertanya "Siapa ya ma, yang datang pagi-pagi begini?" tanya Tuan Wijaya kepada istrinya. "Tidak tahu Pa." Nyonya Wijaya mengedikkan bahunya. "Mama lihat dulu deh Pa." lanjut Nyonya Wijaya yang mulai bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke pintu depan. Sedangkan Anak laki-laki satu-satunya hanya diam menatap kedua orang tuanya yang sedikit penasaran dengan seseorang yang memencet bel di pintu depan rumah mereka. Setelah Nyonya Wijaya berada dipintu depan Ia segera membuka pintu dan dilihatnya Langit sudah berada didepan pintu sambil tersenyum menyapanya. "Selamat pagi tante." sapa Langit sambil mencium punggung tangan Nyonya Wijaya. "Kirain siapa Lang, ayo masuk." "Iya tante." kemudian mereka berjalan beriringan menuju ruang makan. "Duduk Lang, ayo sarapan" sapa Tuan Wijaya. "Iya om." Pandangan Langit kini menatap Bintang dan Ia menyapanya. "Selamat pagi Bintang," sapa Langit kepada saudara sepupunya. "Pagi Lang." Jawab Bintang singkat. "Papa sudah selesai, dan mau berangkat ke RS dulu, kalian teruskan sarapannya." Pak Wijaya berdiri dan berjalan keluar rumah dan diikuti oleh Istrinya yang membawakan tas kerja Suaminya. Setelah selesai mengantar suaminya berangkat kerja kini Nyonya Wijaya kembali ke ruang makan dan mulai membersihkan piring kotor didapur. Bintang dan Langit kini berada di ruang tengah, mereka berdua duduk di sofa bersebelahan tetapi mereka berdua tidak mengobrol dan hanya asik dengan ponselnya masing-masing. "Hari ini lo ada acara apa Bintang?" tanya sepupu sekaligus sahabatnya saat kecil dulu. "Hari ini gue tidak ada acara Lang, besok baru gue ke kampus." "Kalau gitu, hari ini lo ikut gue yuk, temenin gue ke cafe bokap gue." ajak Langit sambil sedikit memohon membujuk Bintang agar mau menemani dirinya. Seketika Bintang melihatnya, 'tumben agak sedikit aneh, biasanya dia kalau pergi sendiri, tidak mau diganggu' gumam Bintang dalam hati penasaran sebab ia sangat mengenal siapa sepupunya itu walaupun beberapa tahun ini mereka tidak pernah bertemu karena Bintang tinggal di Bandung sedangkan Langit kuliah di Luar Negeri. Karena penasaran Bintang menanyakannya kepada Langit. "Di cafe, ada acara apa Lang?" "Nah itu dia, gue belum sempat cerita sama lo Bintang, sebenarnya gue..." Langit menghentikan bicaranya sejenak. Itu malah membuat saudara sepupunya tambah penasaran dan menunggu Langit melanjutkan bicaranya. "Sebenarnya gue lagi dihukum sama bokap, gue disuruh bekerja di cafe itu." "Di hukum?" Bintang menatap sepupunya sambil mengerutkan alis matanya, Bintang sangat penasaran, ada apa sebenarnya dengan Langit sepupunya. "Iya, kemarin malam gue pulang dari sini tidak langsung pulang kerumah, gue kemarin malam ke diskotik bareng gebetan baru gue namanya Dealova orangnya cantik banget sampai membuat gue klepek-klepek." Langit mulai bercerita panjang lebar pada Bintang. "Terus, kenapa lo dihukum sama bokap lo?" cetus Bintang. "Nah itu dia.. Saat gue tidak sadar ternyata Dealova mengambil semua isi dompet gue termasuk ATM dan kartu Kredit gue, dan isinya dikuras semua sama Dia, bokap gue tahu dan dia marah gue dihukum disuruh kerja sekarang dan tidak boleh pacaran sampai gue bekerja dengan baik." "Hahaha...hahaha...!" Bintang tertawa kencang sambil memegangi perutnya. Setelah mendengar sepupunya bercerita panjang lebar Bintang malah menertawakannya, itu malah membuat Langit semakin bete saja, Dia pikir setelah curhat dan cerita panjang lebar kepada sepupunya yang sekaligus musuhnya itu dirinya akan menemukan solusi, ini malah ditertawakan, s**l banget kan Langit. "Haha, aduh Lang... Lo tu ya tidak pernah berubah kalau lihat cewek cantik, langsung aja kecantol, sekarang lo kapok kan?, hahaha." Bintang masih saja belum berhenti tertawa. "Gimana ya... Gue ganteng Bintang jadi banyak cewek yang mau sama gue, maklumlah resiko cowok ganteng." puji Langit pada dirinya sendiri dan memasang ekspresi sok tampan. "Gantengan juga gue Lang." goda Bintang. "Apaan... Lo mana laku, gue tidak pernah lihat lo jalan bareng sama cewek. Atau jangan- jangan lo gay ya!, hii." seru Langit sambil mengedikkan bahunnya. "Enggak lah, pikiran lo aja yang kotor Lang, dasar om om m***m lo." "Buktinya lo aja gak pernah jalan bareng cewek, hanya cewek jelek yang mau sama lo Bintang, buktinya foto yang kemarin itu lo umpetin iya kan?" Langit menggoda sepupunya. Bintang segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar. "Mau kemana lo Bintang?" seru Langit memanggil saudara sepupunya yang berjalan pergi begitu saja. "Ke cafe Bokap lo Lang!" Tanpa banyak bicara lagi Langit segera bangkit dari tempat duduknya dan berlari mengejar Bintang yang sudah melewati pintu depan. Sekarang mereka berjalan kearah halaman menuju mobil sport hitam milik Langit. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN