Part 11. Hukuman Untuk Langit

1452 Kata
Sinar mentari pagi hari ini bersinar sangat cerah, aktivitas Kota Jakarta sangat padat, mobil merayap di jalan raya menghiasi Kota Jakarta yang menambah kepadatan di jalan raya Ibu Kota negara Indonesia ini. Dua saudara sepupu itu sedang mengendarai mobil sport warna hitam, mereka duduk di depan bersebelahan, Langit sedang fokus mengemudikan mobilnya sedangkan Bintang hanya diam pandangan matanya lurus kedepan dan memperhatikan jalan raya yang sedang macet. Setelah hampir satu jam lebih mereka baru sampai di cafe. Karena jalan raya saat ini sedang macet jadi mereka telat untuk datang ke Cafe milik keluarga Langit. Setelah memarkirkan mobilnya mereka turun dari mobil kemudian mereka berdua segera berjalan masuk ke dalam cafe milik keluarga Langit, saat mereka berdua masuk beberapa karyawan Cafe tak mengenali mereka, karena mereka tidak pernah datang ke Cafe ini. "Maaf mas, ada yang bisa saya bantu?" Kata salah satu seorang pelayan laki-laki yang bekerja di Cafe itu. "Tunjukkan dimana ruangan kantornya, Papa sudah menungguku!" ketus Langit, Ia menjawab dengan kedua tangannya berada dipinggang, jawaban Langit yang terkesan jutek membuat Bintang menahan tawa. "Kk-kantornya sebelah sana mas, Mm-mari saya antar mas." jawab pelayan itu dengan sedikit gugup karena ternyata yang sedang Ia ajak bicara adalah anak bos mereka. "Hmm." ketus langit. Sebenarnya Langit sangat malas kalau disuruh bekerja, karena ia biasanya cuma menikmati fasilitas dari keluarganya, seandainya saja kemarin ia tak membuat kesalahan pasti ia tidak akan dihukum bekerja seperti ini, rasa penyesalan sudah pasti ada, tetapi nasi sudah menjadi bubur tidak mungkin Papanya menarik lagi ucapannya, bahkan walaupun Langit memohon, tetap tidak mungkin Papanya menarik lagi ucapannya. Bintang dan Langit berjalan mengekori pelayanan laki-laki yang tadi menegur mereka, setelah berjalan masuk melewati kasir dan dapur, mereka menaiki tangga, setelah sampai dilantai atas pelayan tadi menunjukkan pintu kantornya dan pamit untuk kembali bekerja. Sedangkan Langit dan Bintang yang masih berdiri didepan pintu seakan enggan untuk masuk kedalam. Bintang menyipitkan mata dan menatap Langit, saat melihat ekspresi saudara sepupunya yang takut untuk masuk, kemudian secara tiba-tiba muncul ide jahilnya, Dia membuka pintu dan segera masuk meninggalkan Langit sendiri diluar ruangan. "Selamat pagi paman" sapa Bintang kepada Pak Indrawan kakak laki-laki Pak Wijaya yang juga Ayahnya Langit. "Selamat pagi Bintang." Pak Indrawan berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bintang. "Apa kabar kamu Bintang?, sudah lama tidak bertemu, duduk." lanjut Pak Indrawan sambil mengisyaratkan tangannya untuk menyuruh Bintang duduk. "Alhamdulillah baik paman." Jawab Bintang yang juga menaruh bokongnya dikursi yang berada didepan meja kerja Pak Indrawan. Tak berapa lama tiba-tiba saja pintu terbuka dan Langit pun masuk ke dalam ruangan menyusul Bintang. "Dari mana saja kamu Langit!, ini sudah jam berapa hah?" cetus Pak Indrawan kepada Anak laki-lakinya. sangat jelas sekali ekspresi wajah marah yang terlihat. Langit diam dan berjalan mendekati Bintang, ia kemudian duduk dikursi sebelah Bintang. Sedangkan Bintang hanya diam saja dan menahan tawa karena saudara sepupunya saat ini sudah seperti kucing yang ketahuan mencuri. "Maaf pa, tadi jalanan macet." Langit masih menundukkan wajahnya. "Alasan saja kamu!" "Oh iya, mulai hari ini kamu bekerja disini, kamu harus bisa mengelola cafe ini dengan baik, itu hukuman buat kamu, karena kamu sudah melakukan kesalahan besar dan membuat Papa hampir bangkrut karena kelakuan kamu!" Lanjut Pak Indrawan. "Ii-iya pa." Langit hanya bisa menjawab pasrah. "Bagus kalau kamu mengerti Langit!, sekarang kamu pelajari ini." Pak Indrawan memberikan berkas kepada anaknya. "Sekarang papa ada meeting, dikantor pusat, besok Papa cek lagi kesini dan Papa mau semua harus sudah beres." "Ya pa." Jawab Langit malas. "Bintang paman tinggal dulu ya" Pamit Pak Indrawan sambil menepuk punggung keponakannya itu. "Ya paman." Jawab Bintang yang masih menahan tawanya, setelah melihat Pak Indrawan pergi dari ruangan ini seketika tawa yang dari tadi ditahannya keluar, Bintang tertawa lepas sambil memegangi perutnya. Karena baru kali ini Bintang melihat ekspresi wajah sepupunya itu ketakutan, karena memang kesalahan yang dilakukan Langit sangat fatal jadi ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan. "Ish, tertawain gue lo ya!" ucap Langit bete. "Habisnya lo lucu banget kalau ketakutan gini Lang." ucap Bintang, ia masih ingin menggoda sepupunya. "Bintang." ucap Langit. "Hmm." Jawab Bintang cuek, ia kini sibuk dengan ponselnya. "Baru sebentar disini, gue bosen, keluar yuk." ajak Langit sambil menarik paksa tangan sepupunya itu. Mereka berdua keluar dari ruangan, kemudian berjalan menuruni anak tangga cafe itu. Setelah mereka sampai dilantai bawah seketika langkah Langit berhenti matanya menatap kedepan dan kini matanya membulat. Ternyata Pak Indrawan belum pergi meeting, tapi dia sekarang masih didapur dan berbicara dengan seorang pelayan cafe yang sepertinya dia seorang koki kalau dilihat dari seragamnya. Langit dan Bintang berhenti dan melihat Pak Indrawan, begitupun dengan Pak Indrawan sendiri ia kini juga melihat kearah mereka berdua saat ini. "Lang, sini!" seru Pak Indrawan yang memanggil Langit dan Bintang sambil melambaikan tangannya memberi kode untuk mendekat. "Ya, pa" Langit menjawab dan berjalan mendekat ke arah Papanya. "Kenalkan, ini Anak saya namanya Langit, Dia akan bekerja disini mulai hari ini. "Dan ini Bintang, oh iya Bintang, kalau kamu mau kuliah sambil bekerja kamu juga bisa ikut mengelola cafe ini dan bekerja disini bersama Langit." lanjut Pak Indrawan. "Ya, paman." Langit dan Bintang bersalaman dengan para pekerja yang bertugas didapur cafe, Setelah Pak Indrawan selesai mengenalkan Langit dan Bintang kepada karyawan yang bertugas didapur kini Ia mengajak keduanya berjalan keluar menuju meja kasir Dan memperkenalkan mereka berdua kepada para karyawanya yang bertugas dikasir dan yang bertugas mengantarkan makanan kepada para pelanggan, setelah selesai memperkenalkan mereka berdua kepada para karyawanya, setelah itu segera Pak Indrawan pamit berangkat meeting diperusahaan milik keluarga besarnya. Mata Langit menyusuri cafe yang saat ini sedang ramai pengunjung, banyak orang sedang makan siang karena ini sudah waktunya jam istirahat, Ia pun tersenyum melihat cafenya dikunjungi banyak orang. 'ternyata ramai juga cafe ini' batin Langit. Bintang yang sedang melihat sepupunya senyum-senyum sendiripun segera Ia memanggilnya. "Lang!" Bintang memanggil Langit sambil menepuk pundaknya, seketika Langit kaget dan menoleh kearah samping. "Ah ngagetin gue aja lo, gue kaget nih." ketus Langit kini kedua tangan laki-laki itu mengusap dadanya. "Lo ngelamun ya." Bintang terkekeh melihat ekspresi sepupunya. setelah tertawa kini mereka berdua diam dan hening sejenak, Bintang memikirkan tawaran pamannya tentang bekerja mengelola cafe ini bersama Langit tapi Bintang besok masih harus mengurus kuliah. Dirinya juga masih memikirkan mulai bekerja nanti kalau sudah aktif kuliah, karena senin lusa tahun ajaran baru akan dimulai, jadi Ia berpikir untuk mengurus kuliah dulu baru bekerja. *** Bandung Disisi lain seorang gadis cantik sedang duduk diruang tengah dengan televisi masih menyala tetapi mata gadis itu malah sibuk dengan ponsel miliknya, jemari tangan gadis itu Sedang sibuk mengetik sesuatu, Ya gadis itu Sedang chating sama Diana sahabatnya disekolah. mereka sedang janjian jalan-jalan nanti sore. Gadis cantik berkulit putih itu berdiri, tangannya meraih remot yang berada diatas meja lalu mematikan televisi itu, sekarang gadis itu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dilantai dua, setelah sampai didalam kamar gadis itu meletakkan ponselnya diatas nakas dan mengambil handuk didalam lemari. Setelah masuk kedalam kamar mandi gadis itu segera menyiram tubuhnya dengan air agar lebih segar. karena sore nanti ia akan pergi jalan-jalan ke taman bersama dengan sahabatnya. Setelah hampir dua minggu liburan sekolah mereka tidak pernah bertemu lagi mereka hanya berkomunikasi lewat aplikasi hijau saja. Setelah selesai mandi gadis itu segera membuka lemari pakaian untuk mengambil baju. setelah bingung memilah dan memilih beberapa baju akhirnya pilihannya jatuh pada atasan berwarna hijau muda dan bawahan celana jeans panjang. Setelah memakai pakaian Senja merias wajahnya dengan sedikit polesan agar tidak terlihat terlalu pucat karena ahir-ahir ini Senja sering sekali memikirkan Bintang hingga membuatku sedih karena memikirkannya. Setelah selesai Senja segera menelepon ibunya meminta izin agar ibunya tidak hawatir dan mencarinya. Senja dengar suara klakson mobil dari luar rumah, ia segera berdiri, Senja melihat dari jendela kamarnya ternyata Diana datang menjemputnya Senja melihat sopir Diana membukakan pintu mobil untuk Diana. Senja segera keluar dari kamar dan ia melihat asisten rumah tangga yang bekerja dirumahnya sedang membukakan pintu depan. Saat Senja sampai diruang tamu ternyata Diana sudah duduk disofa menunggunya. "Diana..!" panggil Senja sambil berlari kecil mendekat kearah Diana. "Senja..!, kangen!" Mereka kini berpelukan melepas rasa kangen karena sudah hampir dua minggu ini kedua sahabat itu tidak pernah bertemu. "Bagaimana kabar kamu Diana?" Senja bertanya kepada sahabatnya, Diana tidak menjawab malah Balik bertanya kepada Senja. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu Senja, Bagaimana kabarmu Senja?" Diana bertanya dan melepaskan pelukan dari sahabatnya. Kini mereka berdua duduk berhadapan. "Aku, baik, Diana." jawab Senja sambil menunduk. "Sudah, jangan sedih Senja, ayok kita jalan - jalan, biar happy." "Ayok lah." Senja menyetujui ajakan sahabatnya. Diana memang sahabat Senja dia mengerti apa yang Senja rasakan saat ini, ditinggal Bintang pindah ke Jakarta sudah membuatnya sangat sedih dan sangat kehilangan, untung ada Diana sahabat yang menghiburnya saat ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN