Part 12. Jalan Jalan Ke Taman

1472 Kata
Kami sudah sampai ditaman, Diana mengajakku kesini, aku pikir ia akan mengajakku ke mall nonton film. Ternyata ia mengajakku ke taman kota. suasana ditaman kota Bandung sore hari ini sangat ramai banyak remaja putra dan putri yang sedang berfoto selfie, banyak juga orang tua dan anak-anak yang bermain ditaman kota ini. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore sinar matahari masih cerah menyinari bumi ini hingga masih terasa panas. Kami berjalan melihat-lihat bunga yang ada di taman ini, banyak sekali bunga yang sedang mekar, tanaman bunga mengelilingi air mancur yang berada ditengah taman ini. Aku dan Diana duduk di kursi taman. Tetapi mataku masih menyusuri setiap tempat ditaman ini, karena ini pertama kali Aku kesini, ternyata sangat menyenangkan berada disini. "Senja!" teriak Diana memanggilku, tangannya melambai didepan wajahku. "Hemm, ya Diana, ada apa?" Jawabku sedikit bingung. Kulihat Ia tersenyum melihatku, "Kamu melamun kenapa?, Aku ajak bicara malah kamu tidak dengar, kamu mikirin Bintang ya?" ucap Diana kepadaku, ia protes karena aku tidak mendengar saat ia mengajakku bicara. "Hah, emang kamu tadi ngomong apa?, beneran deh Aku tidak tahu kalau kamu ngajak Aku ngomong, I'm sorry Diana." Aku minta maaf padanya, aku tidak tahu kalau Diana tadi bicara padaku karena aku terlalu fokus melihat lihat taman ini. "Tuh." tangan Diana menunjuk kearah ujung taman sana. "Ada apa emangnya?" tanyaku penasaran. Mataku mengikuti arah yang ia tunjukkan. "Itu loh Senja.. Sepertinya ada yang mau kenalan sama kamu, dari tadi kita baru sampai dia lihat kesini terus dan lihat tuh matanya tidak berkedip sedikitpun." Diana menggodaku sambil tertawa. "Ish, apaan sih, males tau, Dia itu lihatin kamu Diana sayang." godaku kepada sahabatku, emangnya dia aja yang bisa menggodaku, Aku juga bisa menggodanya. Kami saling melihat kearah sana dan setelah itu Aku melihat kearah Diana dan ia juga melihat kearahku, setelah pandangan mata kami bertemu tiba-tiba saja Aku dan Diana tertawa. Kami tertawa bersama, ada perasaan lega dihatiku saat bisa tertawa seperti ini bersama Diana. Setelah beberapa saat kami tertawa bersama. "Udah ah, capek dari tadi tertawa terus." ucapku mulai menghentikan tawa begitu pula dengan Diana dia sekarang juga sudah berhenti tertawa. Diana tak bicara kulihat ia hanya menganggukkan kepalanya dan melihat kearahku. "Diana, selfie yuk." ajakku, sambil mengambil ponsel yang ada dalam tas. "Ayok, kita selfie." ucap Diana menyetujui ajakan ku. Kami sekarang sedang berfoto selfie ditaman kota Bandung ini, rasanya sangat menyenangkan bisa bersama sahabatku, karena aku sangat kesepian sejak Bintang pergi ke Jakarta, sedangkan Mama dan Papa sekarang sangat sibuk dengan urusan kantornya. Aku senang mempunyai sahabat seperti Diana, ia mengajakku kesini dan bisa membuatku tersenyum bahagia, ternyata bahagia itu sederhana saat kita bisa bersama orang yang bisa membuat kita tersenyum bahagia dialah orang yang tulus sama kita. Setelah waktu menunjukkan pukul lima sore Diana mengajakku pulang, kemudian kami mampir makan dulu direstoran dekat taman, setelah selesai makan, sekarang dia dan supirnya mengantarku sampai didepan rumah, kami sampai dirumahku sekitar pukul setengah tujuh malam. "Terima kasih Diana, sudah mengajakku jalan-jalan sore ini." ucapku kepada Diana sahabatku. "Iya, sama-sama Senja, oh ya lusa kalau berangkat sekolah Aku jemput ya nanti kita bareng, secara kan sekarang kamu sudah tidak diantar jemput sama supir pribadimu yang itu." ucap Diana sambil tertawa, ia menggodaku lagi. "Ish, iya-iya." jawabku asal. "Mampir dulu yuk." aku menawarkan Diana untuk mampir sebentar dirumahku. "Aku langsung aja deh, sekarang udah malem soalnya, titip salam buat tante dan om ya Senja." Aku mengangguk kucium pipi kanan dan kiri sahabatku, Aku segera turun dari mobil yang dibukakan oleh supir Diana. Aku turun dan menunggu mobil Diana berjalan pergi meninggalkan rumahku. Kemudian aku masuk ke dalam rumah, kulihat asisten rumah tangga sedang memasak didapur dan aku segera menghampirinya dan mengambil minum air putih yang ada didapur, setelah mengambil minum Aku duduk dikursi dapur. "Eh non Senja sudah pulang, mau bibi siapkan makan malam non?" sapa asisten rumah tangga yang berusia enam puluh tahun itu kepadaku. "Gak usah bik, Senja sudah makan tadi, Mama dan Papa sudah pulang belum bik?" "belum non." Entah apa yang sedang terjadi sama perusahaan Mama dan Papa, kenapa ahir - ahir ini mereka berdua sibuk sekali dengan urusan kantor dan tidak pernah ada dirumah. Selalu setiap hari pergi pagi pulang malam, apa Papa sama Mama tidak capek?, jujur saja Aku merasa sangat kesepian, apalagi Bintang sekarang juga sudah pindah ke Jakarta. Hanya sahabatku Diana yang menemaniku. Rasanya Aku ingin cepat- cepat masuk sekolah agar bisa bertemu dengan sahabatku setiap hari. Dan juga bisa lebih cepat bertemu dengan Bintang, karena kami sudah berjanji akan bertemu tepat dihari dan tanggal saat kita jadian dulu. *** Jakarta Hari sudah malam Bintang baru saja sampai dirumah diantar oleh Langit, mereka berdua beriringan masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum mah!" seru Bintang saat memasuki rumahnya. "Wa'alaikum salam, sayang, kok baru pulang?" "Iya tante, dicafe banyak kerjaan, jadi pulangnya kemaleman." Jawab Langit. Sedangkan Bintang hanya diam saja. "Apa kalian, sudah makan?" Nyonya Wijaya bertanya kepada Anak dan keponakanny sambil melihat kearah mereka berdua secara bergantian. "Sudah mah." Jawab Bintang. Kemudian mereka bertiga berjalan ke arah ruang tengah dan duduk disofa, Bintang mengambil remot yang ada diatas meja dan ia segera menghidupkan televisi. Tak lama kemudian Langit pamit untuk pulang. "Tante, Langit pamit dulu mau pulang." Langit mencium punggung tangan Nyonya Wijaya. "Bintang, tanks ya lo udah banyak bantuin gue tadi." Langit menepuk punggung sepupunya. "Sama-sama Lang." ucap Bintang. "Gue, pulang dulu ya, Bintang, tante" pamit Langit kepada sepupunya dan tantenya. Tak lama setelah Langit pulang Tuan Wijaya datang. "Assalamualaikum" ucap Tuan Wijaya sambil berjalan menuju keruang tengah dan meletakkan tas kerjanya diatas meja, ia segera menjatuhkan bokongnya diatas sofa. Ia duduk disamping Bintang anak laki-laki satu - satunya. Kemudian Nyonya Wijaya datang. "Papa sudah pulang?, kok Mama tidak tahu." tanya istrinya bingung karena tidak mendengar suaminya pulang. Segera Nyonya Wijaya mengambil tas kerja suaminya dan menaruhnya diruang kerja. Setelah itu ia berjalan menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk suaminya. "Bintang kamu sama Langit tadi pagi ada acara apa ? Tumben pergi bareng." Tuan Wijaya bertanya kepada Bintang anak laki-laki satu satunya. "Tadi Bintang bantuin Langit dicafenya paman Indrawan pah." ucap Bintang, Nyonya Wijaya datang dengan membawa secangkir kopi dan meletakkannya diatas meja didepan suaminya, kemudian kopi itu diminum oleh suaminya. Kini wanita dewasa itu duduk disamping suaminya, mereka bertiga sekarang duduk bersama disofa ruang tengah. "Oh ya pah, tadi paman menawarkan Bintang untuk bergabung mengelola cafenya bersama Langit." "Terus kamu jawab apa?" "Bintang belum menjawabnya pah, menurut Papa gimana?" "kalau Papa sih terserah kamu saja, Papa pasti dukung kamu asal kamu harus bertanggung jawab." "Bintang pengennya bisnis yang lain pah, tapi nanti setelah Bintang masuk kuliah." "Kalau kamu mau kamu juga bisa kerja diperusahaan opa, Papa punya saham disana, sebenarnya itu perusahaan keluarga, oma dan opa dulu yang memulai mendirikan perusahaan itu. Kakak Papa paman Indrawan yang mengelola tapi ia juga bisnis cafe karena itu adalah keinginannya. Ia mengelola bisnis perusahaan karena tidak ada yang mengelolanya setelah opa dan oma meninggal, karena Papa ditugaskan diBandung." ucap pria dewasa itu, ia mulai bercerita pada Bintang anaknya. "Papa dari kecil sering sakit-sakitan setiap Papa bertemu dengan dokter Papa sembuh begitu terus sampai Papa besar dan memutuskan untuk kuliah kedokteran dan menjadi dokter seperti sekarang ini, awalnya oma menolak tapi saat melihat Papa sungguh-sungguh ingin menjadi dokter dan Papa jarang sakit akhirnya mereka mendukung Papa, dan jadilah Papa sekarang." lanjut pria dewasa itu. Setelah mendengar cerita dari Papanya, Bintang hanya mengangguk. Ia mulai memikirkan akan memulai bisnis sendiri atau ikut Langit mengelola cafe paman Indrawan atau ia masuk keperusahaan keluarga. Entah apa yang akan Bintang pilih, ia akan memikirkannya nanti setelah kuliah masuk. Sekarang sudah malam Bintang pamit untuk tidur dikamar dan saat Bintang akan memejamkan mata, seketika ia ingat dengan Senja. Bintang mengambil ponselnya saat ia membuka aplikasi hijau ia melihat status foto senja sedang selfie ditaman kota. Bintang tersenyum melihatnya. "Cantik banget sih, aku jadi kangen." Bintang berkata sendiri dikamar sambil berbaring diatas tempat tidur. Ia ingin menelepon Senja tapi mengurungkannya, mungkin Senja sudah tidur sekarang, karena ini sudah malam. Tangan Bintang kini mulai sibuk mengetik pesan. [sayang , cantik banget sih , aku jadi kangen pengen peluk kamu .] Bintang segera mengirim pesan kepada Senja agar bisa dibaca nanti setelah Senja bangun tidur. Setelah mengirimkan pesan ia tersenyum sendiri membayangkan saat bersama dengan Senja, Bintang kini jadi tidak sabar untuk bertemu dengan Senja kekasihnya. Laki-laki muda itu berbaring diatas tempat tidurnya, matanya terus menatap layar ponselnya dan dilihatnya terus foto seorang gadis cantik yang sedang berfoto selfie ditaman kota. Ya gadis cantik itu Senja kekasihnya, senyum tipis masih menghiasi wajah tampan laki-laki muda itu, rasa rindu sekarang sedang melanda hati Bintang, Ingin sekali ia bertemu dengannya tetapi jarak yang jauh memisahkan cinta mereka. Perlahan mata laki-laki itu terpejam dengan ponsel masih berada ditangannya. Sekarang ia sudah tertidur dengan sangat pulas karena seharian ini ia sangat sibuk membantu Langit. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN