Matahari bersinar cerah pagi ini. Seorang gadis cantik masih tertidur dengan sangat pulas. Selimut masih membalut tubuhnya. Dengan perlahan mata indahnya kini mulai terbuka, ia segera bangun dari tempat tidurnya, kini ia berjalan membuka lemari untuk mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi untuk mandi pagi. Butiran air hangat yang keluar dari shower membuat tubuhnya kini menjadi rileks setelah tersiram air.
Setelah beberapa saat gadis cantik itu sudah selesai mandi dan sudah berganti pakaian, kini ia duduk disamping tempat tidur dan mengambil ponsel yang berada diatas nakas, matanya melihat beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan yang dikirimkan oleh Bintang. Mata gadis itu seketika membulat setelah melihat isi pesan dalam yang dikirimkan oleh kekasihnya itu.
[sayang kamu cantik banget sih, Aku jadi kangen pengen peluk kamu.]
Kini senyum manis menghiasi wajah gadis cantik itu. Segera ia membalas pesan yang dikirimkan oleh Bintang kekasihnya, gadis itu hanya membalas dengan stiker emoji senyum dan stiker love. Setelah beberapa saat ia menunggu tapi belum ada balasan dari kekasihnya, ia segera meletakkan ponsel diatas nakas dan berjalan keluar kamar menuju ruang makan.
Di ruang makan ia melihat Papa dan Mamanya sudah duduk disana keduanya sibuk dengan laptopnya masing-masing. Senja segera menghampiri kedua orang tuanya dan ikut duduk disebelah Ibunya. "selamat pagi pah, mah" sapa Senja pada Mama dan Papanya yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Selamat pagi sayang" Papa dan Mamanya menjawab bersama, mereka sesekali hanya menatap Senja dan masih sibuk dengan kerjaan masing-masing. Makanan untuk sarapan kini sudah siap dimeja makan. Mama dan Papanya memilih sarapan roti selai coklat dan teh hangat, sedangkan Senja memilih nasi goreng dan s**u untuk sarapan.
Acara sarapan pagi kali ini tak ada pembicaraan sama sekali Mama dan Papanya sangat sibuk bahkan dimeja makan pun mereka sibuk dengan kerjaan kantornya, entah apa yang telah terjadi dengan perusahaan yang dimiliki Papanya? Gadis itu tidak berani bertanya.
"Sayang, kamu melamun kenapa?" pertanyaan Mamanya menyadarkan Senja dari lamunan.
"Tidak, ada apa-apa kok mah." ucap Senja, kemudian ia mulai memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Maafin Mama sayang, kalau Mama ahir-ahir ini sibuk dengan kerjaan dan tidak ada waktu untukmu sayang." wanita dewasa itu memeluk anaknya dari samping, ada rasa yang sangat hangat saat bisa dipeluk seperti ini. Papanya melihat kearah mereka kemudian berjalan mendekat untuk memeluk Anak dan istrinya, mereka sangat bahagia bisa berpelukan seperti ini.
"Maafkan Papa juga ya sayang." ucap Papanya sambil mencium pucuk kepala Senja dan pucuk kepala istrinya bergantian. Anak dan istrinya hanya mengangguk. Saat seperti inilah yang selalu Senja inginkan, bisa dipeluk Mama sama Papanya rasanya sangat bahagia.
***
Jakarta
Pagi hari ini seorang Ibu rumah tangga sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Ya Nyonya Wijaya sedang memasak didapur. Suaminya kini sudah duduk dimeja makan ditemani kopi hangat yang sudah tersedia diatas meja.
Didalam kamar seorang laki-laki sedang mandi, suara gemercik air yang keluar dari shower terdengar dari luar kamar. Bintang sudah selesai mandi laki-laki itu keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang menetupi pinggang sampai kelutut. Dia berjalan menuju lemari mengambil pakaian, setelah berganti pakaian laki-laki itu keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi.
Laki-laki itu berjalan menuruni tangga menuju ke ruang makan, Disana sudah ada Pak Wijaya sedang menikmati secangkir kopi. Nyonya Wijaya sedang menata makanan diatas meja makan, setelah selesai Ia pun duduk dan mulai mengambilkan nasi untuk makan suami dan anaknya.
"Bintang, Papa sama Mama sudah berdiskusi semalam, karena besok kamu sudah mulai kuliah, kamu tidak boleh bawa motor ke kampus, nanti sore setelah Papa pulang Dinas kita beli mobil buat kamu." ucap Pak Wijaya kepada Bintang anak laki-laki satu- satunya itu.
"Iya pah, Bintang nurut saja." sebenarnya Bintang lebih senang naik motor dari pada mobil karena dengan naik motor ia bisa mengenang saat- saat bersama Senja, tapi ia tidak mau membuat kedua orang tuanya kecewa.
"Bagus, Papa senang kalau kamu setuju, kalau begitu Papa berangkat dulu." Tuan Wijaya beranjak dari duduknya dan kemudian diikuti oleh Istrinya.
Setelah selesai sarapan Bintang segera kembali ke kamar karena ia baru ingat semalam sudah mengirim pesan untuk Senja, 'Apa dia sudah membalasnya?, aku akan lihat ponselku, apakah sudah ada balasan pesan darinya'. Batin Bintang karena ia baru ingat dengan ponselnya.
Setelah sampai di kamar Bintang duduk dipinggir tempat tidurnya dan mengambil ponsel yang ada diatas nakas, ia segera membuka aplikasi hijau dan menemukan pesan dari kekasihnya. Setelah dibuka ternyata Senja hanya membalasnya dengan stiker love dan emoji senyum, membuat Bintang tersenyum melihatnya, kemudian Bintang langsung menelepon kekasihnya.
Panggilan pertama tidak ada yang menjawab, gelisah kini sedang melanda hatinya, kini Bintang mencoba menghubungi nomor kekasihnya lagi dan tidak lama kini terdengar suara dari seberang sana.
[halo, sayang]. Senja menjawab telepon Bintang.
"Halo, sayang Aku kangen, kamu cantik banget sih di status itu, Aku jadi pengen peluk kamu nih." ucap Bintang sedikit merajuk karena pesannya hanya dibalas dengan emoji.
[Ha ha ha, aduh sayang jangan ngambek dong, itu kemarin Diana ngajak Aku jalan-jalan ke taman kota].
"Kok Aku tidak diajak." Bintang bicara dengan suara datar.
[Ish, kan kamu jauh sayang, nanti saja kalau kita ketemu Aku ajak deh.]
"Aku sudah tidak sabar untuk menunggu saat itu Senja, Aku akan datang untukmu"
[iya Aku juga sudah tidak sabar menunggumu]
"Oh iya, besok sudah mulai sekolah, Maafkan aku Senja, aku ... Tidak bisa mengantar dan jemput kamu lagi." ada rasa penyesalan yang kini Laki-laki itu rasakan, karena ia tidak bisa lagi melindungi Senja di sekolah.
[Tidak apa-apa sayang, kata Mama, nanti akan mencarikanku supir, lagi pula Aku juga bisa berangkat Bareng Diana, kamu mikirin kuliah kamu saja, Aku ingin pacarku yang keren dan tampan mikirin kuliah saja.]
"Apa kamu bilang, coba ulangi lagi, Aku tidak dengar." Bintang mulai menggoda Senja.
[Hah, apa?, ulangi yang mana?] terdengar suara Senja dari seberang sana seperti kebingungan.
"Itu loh yang tadi, yang kamu bilang Aku keren dan tampan."
[Hahaha] terdengar suara tawa Senja dari seberang sana.
"Hish, gak asik, ulangi dong... Aku pengen dengar lagi kamu bilang itu." rayu Bintang. Sekali lagi Bintang menggoda Senja kekasihnya.
[Baiklah, iya, Bintang sayang pacarku yang keren dan tampan kamu mikirin kuliah saja, dan...]
"Dan...dan apa?" Bintang menirukan Senja. Ia kini semakin penasaran dibuatnya.
[Dan... Jangan selingkuh sama cewek lain di Jakarta.]
Mendengar Senja bicara seperti itu membuat Bintang ingin tertawa, tapi ia menahannya dan malah ingin menggoda kekasihnya.
"Apa kamu cemburu hem?" Bintang mulai menggoda kekasihnya.
[Tidak.] ucap Senja singkat.
"Benarkah, kamu tidak akan cemburu?" Bintang terus menggoda kekasihnya.
[Benar, aku tidak akan cemburu], terdengar suara Senja sedikit merajuk dari seberang sana.
"Kalau tidak cemburu kenapa suaranya begitu, kamu yakin tidak cemburu padaku?"
[ish]
"Ha ha ha, jadi benarkan kamu cemburu, ha ha ha." Bintang tertawa kencang mendengar suara Senja yang merajuk dari seberang sana.
"Aku suka kalau kamu cemburu, jadi Aku bisa merayumu terus." lanjut Bintang masih menggoda kekasihnya.
Senja masih merajuk disana sedangkan Bintang terus merayu dan menggodanya, ada rasa sayang dan cinta yang tersimpan didalam hati mereka walaupun jarak dan waktu memisahkan cinta mereka.
***