“Jika rasa cinta dan rasa ingin memiliki adalah dua hal yang berbeda, lantas mengapa aku menginginkan keduanya.”
***
Pernikahan kini sudah di depan mata bahkan hanya tinggal hitungan jam saja akan terlaksana. Terlihat Zahra yang tengah memandang pantulan dirinya di depan cermin yang ada di kamar, yang sudah dihias dengan sedemikian rupa indahnya. Setelah menjalani serangkaian prosesi alot, akhirnya pernikahan Zahra dan Gibran akan segera dilangsungkan. Karena kedua keluarga yang sama-sama tak mau menanggung malu dengan batalnya pernikahan kedua anak mereka.
'Aku akan mencoba membuka hatiku untuk dia yang sebentar lagi akan menjadi imamku.' tekadnya dalam hati.
“Jangan melamun terus kesambet baru tau rasa,” ucap seseorang menepuk pelan kedua pundak Zahra.
“Enggak kok,” sanggah Zahra mengelak.
“Maafin gue,” ujar Zahra membalik tubuhnya dan memegang erat kedua tangan orang yang ada di hadapannya.
“Ssttt, jangan ngomong gitu.”
“Tapi kan---”
“Udah sebentar lagi calon suami loe akan datang dan mengucapkan ijab qobul. Loe harus jadi istri yang baik buat dia, dan loe juga harus buka hati loe.” Sesak rasanya mengatakan hal itu, tapi inilah sebuah kenyataan yang tak bisa dia pungkiri bahwa kedua sahabatnya akan melangsungkan pernikahan.
Zahra hanya mengangguk menanggapi ucapan Zihan sahabatnya. Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran mereka yang entah kenapa melayang tidak tahu arah dan tujuan. Saling bungkam menutupi rasa sakit masing-masing adalah pilihan keduanya.
“Ada apa, Tan?” tanya Zihan membukakan pintu.
“Tante bisa ngomong sebentar sama Zihan,” ujar Hanna sebisa mungkin terlihat tenang. Namun raut kecemasan terlihat jelas di wajahnya.
“Boleh, Tan,” kata Zihan menyanggupi.
“Ra, gue mau nemuin Umi loe dulu yah,” pamit Zihan yang langsung dibalas anggukan oleh sahabatnya.
***
“Ada apa, Tan?” tanya Zihan setalah keduanya sampai di salah satu sudut ruangan. Tak ada jawaban yang Zihan terima dari Hanna. Tapi yang pasti isakan tangis kini mendominasi ruangan itu.
“Kenapa, Tante nangis?” tanya Zihan cemas sekaligus bingung.
Hanna masih bertahan dengan geming dan isakan tangisnya yang terdengar begitu memilukan bagi Zihan. “Duduk dulu yah, Tan.” Zihan mengajak Hanna untuk duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.
“Mau Zihan ambilkan minum,” tawar Zihan yang dihadiahi gelengan kepala oleh Hanna.
'Apa yang sebenarnya terjadi?' batin Zihan bertanya-tanya kebingungan.
Hanna menyodorkan ponsel miliknya ke arah Zihan, dengan ragu Zihan mengambilnya. Zihan membelalakkan matanya tak percaya dengan pesan yang baru saja dia baca.
Perasaan Zihan kini berkecamuk tak menentu. 'Apa maksud loe?' Zihan tak bisa mempercayai isi pesan tersebut. Berkali-kali dia membacanya terus menerus secara berulang-ulang. Namun, tetap saja isi pesannya sama seperti pertama dia membacanya.
“Apa yang harus Tante katakan pada Zahra, Nak,” lirihnya terisak. Zihan menggeleng tak tahu apa yang harus dia katakan dan perbuat saat ini. Jujur dia speechless dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
'Ya Allah rencana apa yang tengah Engkau siapkan,' batin Zihan.
Zihan langsung merogoh tas selempangnya lalu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. “Angkat dong angkat,” gumamnya seraya mondar-mandir tak jelas.
“Gimana, Nak?” tanya Hanna. Zihan menggeleng lemah.
“Sekarang hpnya malah gak aktif, Tan.” Satu lagi kenyataan yang semakin membuat kegelisahan yang mereka rasakan semakin memuncak.
“Mau kemana, Nak?” tanya Hanna melihat Zihan membuka kenop pintu dengan tergesa-gesa.
“Zihan pergi dulu, Tante.” Tanpa menunggu respons dari Hanna dia langsung pergi mengikuti kata hati.
***
Mengendarai mobilnya dengan tergesa-gesa bahkan kecepatan mobilnya pun di atas rata-rata. Beruntung jalanan masih lenggang jadi Zihan bisa leluasa untuk segera sampai ke tempat yang tujuan.
“Tindakan loe bodoh,” desisnya yang terus saja fokus menatap jalanan. Zihan memarkirkan mobil tepat di pelataran rumah mewah nan megah. Dengan cepat kilat dia berlari memasuki rumah itu tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
Zihan membelalakkan matanya tak percaya melihat keadaan rumah yang ramai. Namun, penuh dengan kekacauan. “Apa yang terjadi?” tanya Zihan setengah berteriak yang membuat semua mata tertuju pada dirinya.
Zihan langsung dihadiahi pelukan penuh kesakitan dari wanita paruh baya di hadapannya. “Apa yang terjadi?” ulang Zihan melepaskan pelukannya.
Zihan tak menemukan jawaban atas pertanyaannya. Namun, secarik kertas yang dia terima mampu menjawab semua pertanyaan dan kebingungannya. Sungguh demi apa pun dia tak mempercayai apa yang tertulis di secarik kertas itu.
‘Gak mungkin.' Zihan menggelengkan kepalanya beberapakali.
“Sekarang di mana dia?” tanya Zihan mengepal secarik kertas itu hingga ringsek tak beraturan. Percaya atau tidak yang Zihan terima hanyalah gelengan kepala dari semua orang yang ada di tempat itu.
***
Semilir angin malam menemani kesedihan, kegundahan, dan kegelisahan seseorang yang entah sejak kapan berdiam diri dengan tatapan kosong. Di taman yang indah dengan berbagai macam bunga sebagai pemanisnya tak membuat kesedihannya terobati sedikit pun. Rintik hujan mulai terasa membasahi tubuhnya namun tak ada niat untuk beranjak dari tempatnya sekarang. Biarkan rintik hujan menjadi saksi betapa sedih dan sakitnya dia kini. Namun, tiba-tiba saja rintik hujan itu tak terasa lagi di tubuhnya, dengan cepat dia mendongak dan mendapati seseorang yang tengah memayungi dirinya agar terhindar dari air hujan.
“Ngapain loe di sini?” tanyanya dingin sedingin malam yang kini menyapa mereka. “Bukannya gue yang harus nanya kaya gitu sama loe?” ucap seorang gadis cantik yang memayunginya tadi bersuara dengan sangat lembut tapi penuh ketegasan.
“Gue butuh waktu sendiri,” katanya masih dengan suara dingin. Bahkan udara dingin malam ini masih kalah dengan ucapan laki-laki tampan itu. “Apakah dengan cara begini semua masalah bisa selesai?!”
“Pergi!” usirnya.
“Gue gak akan pergi sebelum loe cerita semuanya sama gue,” pungkas gadis itu.
“Oke, kalau gitu gue yang pergi.” Dia langsung bangkit dari duduknya.
“Jangan egois dengan kesakitan loe, di luar sana banyak yang lebih tersakiti karena ulah loe!” Ucapan sang gadis mampu menghentikan langkah pria tampan dengan pakaian tuxedo lengkapnya.
“Loe gak tau apa-apa tentang hidup gue dan kesakitan gue,” ujarnya lalu membalik tubuh untuk menghindari kontak mata tajam gadis yang ada di hadapannya.
“Gue tau. Kita kenal bukan lagi hitungan hari ataupun bulan tapi tahun. Jangan loe pikir dengan cara kaya gini masalah akan beres gitu aja,” kata Zihan tegas.
“Gue tau itu,” sahutnya dingin.
“Kalau loe tau kenapa loe masih ngelakuinnya?” tukasnya.
“Ini yang terbaik.”
“Terbaik loe bilang? Loe udah bikin keluarga loe malu karena ulah loe. Bukan hanya keluarga loe aja, tapi keluarga Zahra sahabat kita juga malu!” terang Zihan menggebu-gebu menahan emosi yang sudah membara di hatinya sejak tadi.
“Ini bukan keinginan gue, Han,” sanggahnya.
“Bukan keinginan loe?!” Zihan muak melihat tingkah kekanak-kanakan Gibran, sahabatnya.
“Bukannya ini yang loe mau? Kenapa loe malah pergi di hari pernikahan loe. Di mana otak loe?” sentak Zihan yang tak bisa lagi menahan emosinya.
“Apa loe gak mikir gimana hancurnya keluarga loe dan Zahra karena nanggung malu gara-gara kelakuan loe?” teriak Zihan dengan emosi yang masih menguasai dirinya. Meskipun dia mencintai dan menginginkan Gibran menjadi pendampingnya, tapi dia tidak akan tega melihat kedua keluarga sahabatnya menanggung malu karena keegoisan Gibran.
“Apa peduli loe sama masalah gue?” Otak sehatnya seperti tak terkendali lagi.
“Kalau gue gak peduli sama loe. Gue gak akan ada di sini sekarang,” ujar Zihan. Dia sangat paham dan tahu betul karakter sahabatnya. Di saat hati dan perasaan kacau berantakan hanya taman ini yang akan Gibran datangi.
“Tapi gue gak peduli.” Gibran langsung pergi begitu saja meninggalkan Zihan yang masih mematung di tempat. Dengan cepat kilat Zihan mengejar langkah Gibran yang pergi begitu saja. “Gue belum selesai Gibran!” teriak Zihan menggema.
Gibran tak menghiraukan teriakan Zihan, dia terus saja berlari tak tahu arah dan tujuan. Begitu pun dengan Zihan yang terus mengejar langkah lebarnya. “Lari dari masalah hanya untuk seorang pencundang!” teriak Zihan lebih keras lagi dan itu berhasil menghentikan laju kaki jenjang Gibran.
Saat Gibran masuk perangkapnya, dia langsung berlari kencang dan mem-block jalan Gibran. “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura 42: Ayat 30).
“Allah tidak akan membebani suatu kaum di luar batas kemampuannya. Itu adalah janji Allah, Allah ngasih loe masalah pasti ada solusinya, dan solusi terbaik bukan dengan cara lari kaya ini,” lanjut Zihan.
“Maaf.” Hanya kata itu yang bisa dikatakan Gibran. Sungguh perkataan Zihan berhasil menohok hati dan perasaannya. “Selesaiin semua masalah loe,” ucap Zihan menepuk bahu Gibran pelan memberikan sedikit kekuatan.
“Loe mau ke mana?” cegah Gibran pada saat melihat Zihan melangkah pergi dari hadapannya.
“Apa?” tanya Zihan setelah Gibran berhasil memblok langkah Zihan.
“Gue butuh loe, Han,” tuturnya. Sungguh demi apa pun melihat Gibran rapuh seperti itu, hatinya terasa tercabik-cabik. Sakit!
Zihan tersenyum manis bahkan sangat manis ke arah sahabatnya. Luka di hatinya biarlah hanya dia yang tahu. Cukup dirinya yang terluka dan tersakiti. “Gue akan jelasin semuanya sama loe tapi cukup loe dan gue aja yang tau,” ujarnya dengan sedikit sunggingan senyum.
“Gue gak bisa,” ucap Zihan yang membuat kening Gibran berkerut bingung. Seperti berkata kenapa?
“Bukan gue sama loe aja yang tau tapi ada Allah yang maha mengetahui semuanya,” jelas Zihan menjawab pertanyaan Gibran yang tak sempat terucap oleh lisan.
Gibran tersenyum mendengar apa yang baru saja Zihan katakan, “Kita ngobrol di taman tadi.”
“Sekarang?” tanya Zihan. Gibran terlihat mengangguk mantap. Namun Zihan menggeleng keras.
“Kenapa?” tanyanya bingung, tadi Zihan yang menuntut meminta penjelasan giliran sekarang gibran akan menjelaskannya Zihan malah tidak mau. Apa yang Zihan pikirkan sebenarnya.
Zihan menunjukan arloji yang dikenakannya, “Gak baik seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya berduaan tengah malam apalagi di tempat yang sepi kaya gini.” Gibran mengangguk mengerti, karena memang sudah sangat larut malam. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.