Part 10 | Aneh I

2183 Kata
“Aneh. Satu kata untuk hari ini, entah apa yang tengah Engkau rencanakan untukku. Aku hanyalah seorang hamba yang harus mengikuti segala macam skenario dan alur kehidupan yang telah Engkau gariskan.” *** Beberapa hari ini Zihan disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan, dari mulai pekerjaannya sebagai pustakawan dan juga pekerjaannya di kantor sang ayah. Jadwalnya akhir-akhir ini selalu padat merayap. “Zihan berangkat, assalamualaikum,” pamitnya yang tak lupa mencium punggung tangan bunda dan ayahnya. “Hati-hati, Sayang wa'alaikumusalam warahmatullah,” sahut kedua orang tuanya. “Tunggu, Kak aku nebeng ke sekolah.” Langkahnya harus terhenti karena suara sang adik. Zihan hanya mengangguk saja. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dengan lantunan sholawat yang terus saja mengalun dengan indah di dalam mobilnya. “Kak,” panggil Zaka. “Hmm.” Zihan hanya menanggapi panggilan sang adik dengan deheman karena dia tengah asik berkomat-kamit menikmati setiap alunan suara merdu sholawat yang didengarnya. “Kak Zihan mau nurutin keinginan Ayah sama Bunda?” tanyanya hati-hati. “Kenapa enggak? Kakak hanya ingin melihat Ayah sama Bunda bahagia,” tutur Zihan. Meskipun jauh di lubuk hatinya dia tak mau menuruti keinginan kedua orang tuanya untuk berkenalan dengan salah satu anak dari rekan kerja ayahnya. “Emangnya Kakak belum ada calon gitu?” tanya Zaka semakin mengorek-ngorek informasi. “Apaan sih, Dek tumben banget nanya-nanya kaya gitu,” sela Zihan risih, pasalnya Zaka tidak pernah menanyakan hal yang bersifat pribadi seperti itu. “Tinggal jawab aja apa susahnya sih, Kak,” katanya menuntut jawaban dari sang kakak. “Udah sampe tuh,” ucap Zihan setelah mobilnya sampai di depan gerbang sekolah. Beruntung jarak rumah ke sekolah dekat, jadi dia tak perlu memperpanjang obrolannya dengan sang adik. Zaka mendengus kesal karena belum sempat mendapatkan jawaban yang memuaskan. “Udah gih sana.” Dengan berat hati Zaka membuka pintu mobil dan memasuki area sekolahnya. Zihan akhirnya bisa bernapas lega setelah tubuh Zaka tak lagi terlihat dari pandangannya. *** Sesampainya di parkiran kampus, Zihan langsung memarkirkan mobil dan bergegas pergi menuju perpustakaan tempatnya bekerja. “Assalamualaikum,” salamnya membuka pintu. Namun, tidak ada sahutan karena memang hari masih pagi dan Zihan adalah orang pertama yang memasuki perpustakaan. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala, telah berfirman dalam Kitab-Nya yang berbunyi : “...Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(-Nya) bagimu, agar kamu mengerti.” (QS. An-Nur 24: Ayat 61) Dia langsung meletakan tas selempangnya, menghidupkan komputer yang memang disediakan di perpustakaan untuk melayani kebutuhan semua mahasiswa melalui layanan berbasis online. Ya, perpustakaan ini sudah berbasis online ini merupakan keuntungan bagi pustakawan yang bekerja. Lebih mudah dan tentunya fleksibel. Perangkat lunak (software) yang digunakan untuk membantu pekerjaan para pustakawan adalah Senayan library Management Syistem (SLIMS) 7 Versi Cendana adalah perangkat lunak sistem managemen perpustakaan (Library Management System). Software ini menyediakan berbagai macam fitur seperti, Sirkulasi dengan fitur : Transaksi Peminjaman dan pengembalian, Reservasi koleksi, Aturan peminjaman yang fleksibel, Informasi keterlambatan dan denda. Adapun Counter pengunjung perpustakaan, ini digunakan pada saat ada mahasiswa yang masuk dan diharuskan untuk log-in terlebih dahulu dengan menggunakan kartu mahasiswanya. Dan masih banyak lagi fitur yang disediakan oleh software ini. “Zihan pagi-pagi kamu udah ada di sini aja,” celotoh Neneng yang juga merupakan salah satu rekan kerjanya. Zihan hanya menanggapinya dengan senyuman karena dia memang sedang sibuk menata dan merapikan buku tandon yang ada di dalam lemari. Buku tandon atau sering disebut juga buku asli, buku ini tidak sembarangan dipinjamkan, tempat penyimpanannya pun berbeda. Jika buku yang lain hanya ditata di rak yang terbuka beda halnya dengan buku tandon yang ditata di rak yang tertutup serta dikunci rapat.  Jika, Zihan berkutat dengan berbagai macam buku tandon lain halnya dengan, Neneng yang sibuk dan berkutat dengan skripsi mahasiswa yang memang disimpan rapi di perpustakaan ini untuk dipinjamkan. Namun, peminjaman skripsi berbeda dengan peminjaman buku biasanya, karena skripsi hanya diperbolehkan untuk dipinjam di tempat tidak untuk dibawa pulang. “Alhamdulillah akhirnya beres juga,” gumam Zihan berjalan menuju meja kerjanya. “Mau aku bantuin gak?” tawar Zihan pada saat melewati Neneng yang masih sibuk dengan berbagai macam skripsi. Neneng tersenyum bahagia dengan tawaran Zihan yang mau membantu pekerjaannya. Zihan pun mulai bergerak menyusun skripsi tersebut. “Makasih, Han,” ujarnya kentara sekali logat Sunda di dalamnya. Zihan hanya tersenyum dan mengangguk. “Komputer udah dinyalain semua?” tanya Neneng duduk di mejanya yang bersebelahan dengan Zihan. “Parantos Neneng anu geulis,[1]” jawab Zihan dengan bahasa sunda yang bisa dibilang sangat kaku dan terdengar lucu. Neneng terkikik geli mendengar jawaban Zihan. Meskipun ini bukan yang pertama kali tapi tetap saja lucu untuk didengar. Zihan sedikit-dikit bisa berbahasa Sunda karena terpangaruh Neneng yang sangat kentara sekali logat Sundanya. “Udah, Neng jangan ketawa mulu ih,” peringat Zihan karena melihat Neneng yang terus saja tertawa terpingkal-pingkal. “Iya maaf-maaf atuh,” ujarnya setelah tawanya mulai reda. “Tumben jam segini masih sepi,” ucap Zihan heran. Biasanya di pagi hari seperti ini mahasiswa sudah pada berbondong-bondong ke perpustakaan. “Masih ada kelas mungkin,” ujar Neneng menanggapi. *** Zihan sampai di rumahnya tepat pukul delapan malam. Hari ini dia bekerja setengah hari tapi karena harus menemani Zahra pergi ke salah satu pusat perbelanjaan jadi dia pulang ke rumah tidak tepat waktu. Memasuki rumahnya dengan perasaan cemas, karena pasti dia akan kena omel sang bunda yang akan menceramahinya habis-habisan karena pulang telat waktu. Namun, ternyata ketakutannya berubah menjadi kebingungan. Baru saja Zihan akan membuka mulutnya untuk mengucapkan salam tiba-tiba tangan sang bunda langsung merengkuh tubuh Zihan ke dalam dekapannya sangat erat dan nyaman, tapi tak lupa juga menimbulkan kebingungan di benak gadis itu. Beberapa menit mereka saling berpelukan layaknya teletubbies, akhirnya sang bunda melepaskannya juga. “Selamat yah, Sayang,” ujarnya menangkup wajah Zihan. 'Selamat? Untuk?' batinnya semakin merasakan kebingungan dan keanehan. “Untuk?” tanya Zihan. Windi terlihat kaget dan berpikir sejenak, tapi detik berikutnya senyum manis semanis gula jawa itu terbit di wajahnya. “Ditanya kok malah senyum-senyum sih, Bun. Aneh ih,” ujar Zihan. “Enggak papa sekarang kamu mandi dulu sana,” ucapnya seraya mendorong tubuh Zihan agar segera pergi ke kamarnya. “Apa yang terjadi sama Bunda yah? Gak seperti biasanya,” gumamnya sepanjang menaiki anak tangga menuju kamar. Sesampainya di kamar dia tidak langsung melakukan ritual mandinya, dia malah terus saja berpikir keras dengan tingkah sang bunda yang menurutnya sangat aneh dan membingungkan. “Malah bengong!” ujar sang bunda tiba-tiba, dengan menyembulkan kepalanya di balik pintu kamar Zihan. “Astaghfirullah, Bunda ngagetin aku aja sih,” ucap Zihan terperanjat kaget dengan suara bundanya. Yang diprotes justru menampilkan deretan giginya yang berjejer rapi dan langsung menutup rapat kembali  pintu kamar putrinya “Tuh, ‘kan tambah aneh,” gumamnya yang langsung melenggang pergi ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamar. *** Semuanya sudah siap di meja makan, berbagai macam jenis makanan ada. Dari mulai olahan ikan, daging, ayam, sayur, buah, dan lain-lain sangat lengkap bukan? “Dalam rangka apa nih, Bun banyak banget makanannya?” tanya Zihan heran tak seperti biasanya sang bunda memasak untuk makan malam sebanyak dan selengkap ini. “Udah makan aja jangan banyak komentar,” sahut sang ayah yang sudah mulai melahap makanan yang berada di piringnya. Zihan tak ambil pusing dia juga langsung melahap habis makanannya karena jarang juga makan besar seperti malam ini. Rezeki nomplok bukan? Setelah selesai dengan acara makan malam dengan porsi banyak, mereka berempat, Pratama, Windi, Zihan, dan Zaka bersantai ria di ruang keluarga seraya menonton acara televisi yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta. “Kak pindahin dong,” Zaka merebut remote yang berada dalam genggaman tangan Zihan. “Ih, apaan sih, Dek orang lagi seru juga.” Zihan mengambil alih remote-nya dan kembali memindahkan ke chanel televisi favorit-nya. “Apaan sih nonton yang begituan gak ada seru-serunya.” Zaka kembali merebut remote-nya, tapi gagal karena Zihan sudah lebih dulu menyembunyikannya di belakang tubuh. Zaka terlihat kesal, sangat-sangat kesal dan langsung menyilangkan kedua tangannya di depan d**a dengan wajah super jutek masam dan tak enak dilihat. “Nih.” Zihan menyodorkan remote-nya  tak tega melihat sang adik merajuk ingin menonton sepak bola. Zihan bangkit dari duduknya berniat untuk beristirahat di kamarnya untuk menghilangkan penat. Namun, urung saat sang ayah bersuara, “Mau ke mana?” Zihan langsung menoleh dan memutar tubuhnya untuk melihat sang ayah. “Istirahat, Yah udah malem,” sahutnya. “Boong tuh, Yah paling juga ngambek gara-gara gak bisa nonton sinetron kesukaannya,” cibir adiknya. Zihan termasuk penikmat tayangan televisi terlebih lagi drama Indonesia yang marak di setiap televisi. “Apaan sih orang aku pengin istirahat capek,” sahut Zihan. “Masa?” Zaka sepertinya belum puas mengajak sang kakak berdebat. “Bodo!” ujar Zihan kesal. “Dih ngambek,” cela Zaka merasa menang. “Udah jangan ribut mulu pengang nih kuping Bunda denger kalian yang tiap hari kerjaannya ribut mulu,” lerai sang bunda yang hanya dihadiahi cengiran tanpa dosa dari kedua anaknya. “Zihan ke kamar dulu capek,” ujar Zihan akhirnya melenggang pergi bebas tanpa hambatan. Dia termenung menatap langit-langit kamar. Ingatannya menerawang mengingat kejadian beberapa hari lalu. “Jadi apa yang mau loe jelasin ke gue?” tanya Zihan to the point. Gibran menghela napas pelan lalu mengembuskannya secara kasar lalu berkata, “Gue bingung mau jelasinnya dari mana.”  “Tinggal jelasin kenapa loe sampe tega lari pas di hari pernikahan loe sama Zahra,” ucap Zihan memberitahu. “Bukan itu maksud gue, Zihan.” “Yaelah, tinggal jelasin doang apa susahnya sih,” katanya. “Ok... ok... jadi gini...” Gibran menjelaskan alasan, kenapa bisa dia sampai hati menghilang begitu saja tepat di hari pernikahannya. Dan dia menuturkan bahwa itu semua karena dia mengetahui fakta baru bahwa Galang¾kakaknya ternyata menaruh hati pada perempuan yang akan dia nikahi. Awalnya dia tak mempedulikan akan hal itu. Namun setelah berperang dengan hatinya serta berdoa dan memohon petunjuk kepada Allah. Tiba-tiba saja hatinya meragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan, terlebih lagi ada satu kenyataan yang tidak bisa dia pungkuri. Bahwa Zahra¾calon istrinya itu tidak mencintai dia, terlihat jelas dari perubahan sikap yang Zahra tunjukan padanya beberapa hari setelah acara lamaran dilangsungkan. Menunjukkan kebencian dan ketidaksukaan. Gibran termasuk orang yang menganut paham, bahwa cinta bisa datang karena terbiasa. Dan dia percaya bahwa lambat laun perasaan itu akan tumbuh di hati calon istrinya. Namun, lagi-lagi dia dikagetkan dengan sebuah surat yang tak sengaja dia temukan di laci kamar kakaknya.             Pada saat itu kakaknya meminta dia untuk mengambil beberapa berkas laporan. Tapi dia malah menemukan sepucuk surat yang sudah usang dan sedikit lecek. Dengan rasa penasaran yang tinggi dia memutuskan untuk membaca isi surat tersebut. Dan dia dibuat menganga tak percaya dengan bait perbait yang tertulis apik di selemar kertas itu. Dear, My senior Mungkin aku bukanlah gadis pertama yang memberikanmu untaian kata yang tertuang dalam selembar kertas putih ini. Namun, aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang akan mengukir cerita indah bersamamu, dalam lembaran baru kehidupanmu di masa depan. Maafkan aku yang sudah lancang mengagumi dan bahkan sekarang  lancang mengatakan bahwa aku mencintaimu.... Maafkan atas kelancangan hatiku yang sudah berani-berani mengukir namamu di dalam hatiku. Aku tahu, aku bukanlah wanita yang memiliki paras cantik dan menarik. Tapi, aku juga tahu bahwa kamu bukanlah tipikal laki-laki yang menjadikan cantik sebagai patokan utama untuk menjadi pendampingmu. Kak Galang, jika Allah berkenan untuk mempertemukan kita di masa mendatang. Aku berharap pertemuan itu akan membawa kita ke dalam sebuah ikatan suci pernikahan... Calon Makmummu.... Aamiin {Z♡G} Z? Gibran, berpikir dan menerka-nerka siapakah gerangan perempuan berinisial Z, itu. Tepat saat di sepertiga malam dia mendengarkan doa kakaknya, yang meminta agar dijodohkan dengan Zahra. Dan terkuaklah perempuan berinisial Z itu adalah, Zahra yang tak lain dan bukan calon istrinya.  Awalnya dia menampik kebenaran itu, karena dia berpikir nama Zahra bukan hanya satu, melainkan ribuan bahkan mungkin jutaan. Namun pemikiran itu tidak bertahan lama kala mendengar kakaknya berkata, “Ikhlaskan hatiku untuk menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini aku perjuangkan di sepertiga malam akan menjadi calon adik iparku. Tabahkan hatiku untuk menerima takdir hidup yang telah Engkau gariskan. Hilangkanlah rasa yang telah lama bersemayam dalam hatiku untuknya.” Gibran tertegun tatkala dia mendengar secara jelas dan gamblang jeritan pilu hati kakaknya. Dan karena hal itu pula dia memutuskan untuk mundur. Hingga tepat di hari pernikahannya dia memutuskan untuk pergi tanpa sepatah kata pun dan hanya meninggalkan secarik kertas bertuliskan, “Maaf aku gak bisa melanjutkan pernikahan ini.” Zihan tertegun tak percaya mendengar penjelasan langsung dari mulut Gibran, fakta baru kini sedikit demi sedikit terkuak ke permukaan. “Gue bingung harus berkomentar apa,” ungkap Zihan kehabisan kata-kata. Gibran menegak sedikit kopi yang dipesannya, "Ya, gue rasa itu keputusan yang terbaik. Gue gak mau misahin dua orang yang saling mencintai." “Gak perlu berkomentar karena loe bukan netizen yang kerjaannya ngomentarin hidup orang,” lanjutnya dengan sunggingan seenyum manis. Zihan hanya mengangguk mendengar penjelasan panjang dari sahabatnya. ‘Gue salut sama cara berpikir loe yang gak egois dan mementingkan perasaan loe.' Zihan membatin. -Bersambung- Catatan Kaki : [1] Sudah Neneng cantik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN