”Celi sini dipangku Papa,” ucap Tala diiringi menepuk pahanya. Celita berjalan ke arahnya. ”Kami sudah memutuskan akan tinggal bersama. Tolong, Bu, berikan kami satu kesempatan lagi.” Tina melirik lelaki itu kemudian ajukan pertanyaan khas ibu-ibu, ”Apa kamu sudah yakin tidak akan mengulangi lagi?” Tala sembunyikan wajahnya dalam tunduk. ”Berikan kesempatan aku untuk jadi papa yang baik. Biarkan aku membantu hidup Tita dan Celi agar mereka punya seseorang yang dapat diandalkan saat merasa takut dan sepi.” Perkataan Tina kembali terngiang di telinganya, bagaimana kehidupan muda Tita hancur oleh dirinya. Perih di bagian itu tidak dapat ia sembunyikan. Bahkan kini telinganya mendengar cacian atas dirinya akibat kejahatan masa lalunya. Ia peluk tubuh gempal anaknya dan cium pipinya. ”Aku

