”Ini yang kamu banggakan? Kamu enggak kasihan dengan laki-laki yang nanti bakalan sering gendong kamu kalau kejadian kayak sekarang?” tanya lelaki itu terus mengomeli fisik Tita. Kalau begini kejadiannya, lebih baik ia ditinggalkan saja di tengah stadion. Tidak perlu digotong tetapi sepanjang jalan mendengar penghinaan seperti itu. ”Kamu dengar itu? Suara tulangku linu, Ta. Kalau sampai patah, aku akan paksa kamu untuk diet. Kamu enggak akan aku bolehin makan tiga kali sehari. Ngemilnya harus dikurangin.” Parahnya lagi Tita ditinggalkan bersama sahabatnya. Laki-laki yang berusaha mencuri celah di hati Tita. ”Ada yang sakit, Tita?” tanya Novial ketika mendapati air mata Tita. ”Aku bawa ke rumah sakit, ya?” tanyanya cemas. Tita menggelang. ”Makasih, Bang.” Novial memejam guna mengusir

