Perempuan itu bagai ditarik-tarik dari berbagai sisi. Satu menginginkan dia menjalin ikatan pernikahan yang rapuh. Sisi lainnya inginkan dia menyelesaikan ikatan yang renggang itu, yang tidak pernah ada manfaatnya jika dipertahankan. Sekarang seseorang yang ia pikir akan membantunya justru mengacau isi kepalanya dengan permintaan tidak terduga. ”Bang Tala ini suami Tita,” ucapnya tenang. Riak wajahnya tak menunjukkan keterpaksaan. Tidak juga mempertontonkan luka. ”Kenapa lagi?” Perempuan itu menjauhkan piring yang telah berkurang separuhnya. Dia amati wajah lelaki di hadapannya. ”Bang Tala sendiri yang meyakinkan Tita kalau kita ini tidak ada hubungan. Cukup dengan sikap kamu, aku bisa tahu. Kamu enggak melihat aku sebagai istri.” Dilihatnya juga seisi restoran yang cukup tenang. ”Li

