Setelah jam mata kuliah kedua, Nagita segera menuju kantin seperti biasanya. Kaki-kaki pendek itu melompat-lompat kecil menyusuri koridor kelas. Kelakuannya persis seperti anak SD yang bersembunyi di tubuh wan*ta dewasa, yak, meskipun postur tubuh pendek, tetapi depan dan belakang Nagita berisi. Tidak ada orang yang memperhatikan kelakuan anehnya. Termasuk ketika dia berteriak di pintu kantin menyeru nama sahabatnya seperti saat ini. Semua orang sudah hafal dengan tingkah laku Nagita dan tidak ada lagi yang merasa heran. “Berisik banget sih lo,” sindir Mario ketika Nagita duduk di bangku depannya. “Suka-suka gue.” Gadis itu menjulurkan lidahnya kepada Mario dan hanya dipelototi oleh lelaki itu. Ia kembali asyik dengn hidangan di meja seperti tadi. “Baby Jason. Nagi kangen. Udah empat ha

