“Ini aneh.” Ujar Hana seraya menatap heran ponselnya. “Agensi hampir tidak melakukan apapun tapi banyak orang menyampaikan permintaan maaf dan ada juga yang dipidanakan.”
“Maksud Eonni?” tanya Summer yang duduk di samping Hana.
“Haters Zeta. Lihat ... penggemar benar-benar geger karena banyak haters yang mendapatkan surat panggilan kepolisian.” Hana menunjukkan ponselnya pada Summer. Sementara kepalanya terus berputar mencari kemungkinan terbesar yang terjadi. Tapi sayang ... ia tak bisa memikirkan apapun.
Sungguh ... ia sangat tahu agensi benar-benar tak melakukan apapun hingga membuatnya berang. Saat melihat keadaan Zeta untuk pertama kali dan tiga hari yang lalu ia bahkan marah pada pimpinan agensi, tapi tak ada hasil. Mereka dengan ringannya mengatakan ‘Biarkan saja, semua hal itu akan berlalu begitu saja nanti tanpa harus dihiraukan.’. Sehingga ia sangat yakin pasti bukan agensi yang melakukan ini semua.
“Sebenarnya aku tak peduli dengan siapapun yang membasmi mereka Eonni. Yang terpenting sekarang mereka menghilang dan tak akan mengganggu Zeta lagi. Hanya itu yang aku pikirkan.” Ujar Juliet yang memang berada di kursi lain di dekatnya.
“Benar ... itu yang terpenting. Aku takut kejadian kemarin terulang lagi.” Lucy merengut. “Aku sampai ketakutan melihat Zeta Eonni. Aku benar-benar takut saat melihatnya menangis begitu keras. Terlihat sangat ketakutan.”
Hana menghela nafas, ia mengalihkan pandangannya pada Lucy yang duduk bersama Juliet. “Lain kali jangan membiarkannya melakukan mention party lagi. Sudah cukup. Sebab hal bagus seperti ini tak mungkin terulang kembali. Bisa saja ... kali ini hanya keberuntungan Zeta. Kita tak tahu kedepannya akan seperti apa.”
Keenam member yang berada di ruangan itu mengangguk setuju.
“Jadi sampai kapan Zeta Eonni beristirahat?”
“Mungkin satu bulan. Biarkan dia beristirahat dan berlibur bersama keluarganya. Jangan ada yang menghubunginya terlebih dulu.” jawab Hana seraya menatap keenam orang itu satu persatu.
Hana kembali termenung ketika keenam member memulai percakapan lain. Dalam hatinya ia hanya bisa bersyukur atas pertolongan ini. Siapapun yang melindungi Zeta, ia hanya berharap semoga orang itu selalu melindunginya dan tak bosan melindunginya.
***
“Chaeyong-ie?”
Zeta menoleh ketika mendengar sang ibu yang memanggilnya dengan nama asli. Ia menyunggingkan senyumannya sesaat sebelum menghadap ibunya itu.
“Sudah makan malam?”
Zeta mengangguk kecil. “Kalau Eomma?”
“Sudah tadi ... sebelum pulang dari restaurant. Bagaimana harimu hari ini?” Lee Chaeun, Ibunya. Perempuan paruh baya itu duduk di sampingnya, mengelus surainya sesaat sebelum memeluknya.
“Aku merasa lebih baik.” Zeta menatap ibunya sesaat. “Maaf membuatmu khawatir Eomma.”
Chaeun menghela nafas, ibunya itu menangkup wajahnya, membuat mereka saling bertatapan secara langsung. “Apa kau lelah Chae? Apa kau ingin berhenti? Eomma ... tak apa jika memang kau hanya tinggal di rumah tanpa bekerja. Eomma lebih sedih melihatmu sakit ... seperti kemarin.”
Zeta tersenyum, ia meraih tangan sang ibu lalu mengecupnya sebelum memeluk tubuh ringkih itu lagi. “Tidak Eomma, aku tak ingin berhenti. Maaf membuat Eomma khawatir. Aku berjanji ... aku akan berusaha untuk tidak sakit lagi. Aku berjanji akan lebih menjaga diriku dengan baik Eomma.”
Chaeun mengusak surainya. “Jangan memaksakan dirimu.”
Zeta mengangguk diiringi dengan sebuah senyuman. “Aku tak akan memaksakan dirimu Eomma. Jika aku lelah ... tentu saja aku akan berhenti. Tapi ... tidak sekarang. Masih banyak hal yang ingin kucapai dan kucari.”
“Dohyun?”
Zeta termenung sesaat. Ya ... memang dia tujuan utamanya menjadi idol. Alasan utamanya mengambil jalan ini. Jadi ... setidaknya, ia harus tetap bertahan sebentar lagi sampai lelaki itu menemukannya, sampai dia menemuinya.
“Aku tak tahu lagi harus mencarinya dengan cara seperti apa Eomma. Jadi ... aku akan tetap bertahan, sampai ... aku benar-benar ingin berhenti. Jika memungkinkan ... tentu saja, sampai Dohyun Oppa kembali.”
“Dohyun mungkin berada jauh sayang, kau tahu sendiri mereka entah berada di Benua mana. Dia tak berada di negara kita sayang.”
“Karena itulah ... Zeta harus lebih berusaha agar bisa lebih di kenal oleh mata dunia. Agar ... Dohyun Oppa bisa benar-benar menemukanku dan segera menemuiku.” Zeta mengulum senyumannya. “Bagaimanapun ... sejak kecil aku hanya bersama Dohyun Oppa sebelum bersamamu Eomma. Jadi ... aku hanya merasa, aku ingin setidaknya tahu kabar dia. Apakah dia baik-baik saja?”
“Sekarang dia pasti sangat tampan Eomma. Tak menutup kemungkinan sebenarnya ... jika dia sudah menikah. Tapi ... aku tetap ingin bertahan. Setidaknya sampai aku benar-benar bertemu dengannya.”
Chaeun menghela nafas. “Baiklah ... terserahmu saja. Eomma tak bisa melakukan apapun selain mendukungmu, dan mendo’akan yang terbaik untukmu.”
“Terimakasih Eomma ... kau Eomma terbaik sepanjang masa.” Zeta memeluk ibunya lagi, menenggelamkan kepalanya pada pelukan sang ibu. Tempat terbaiknya untuk bersandar dan melupakan semua masalah yang menimpanya.
***
Jeffrey menyeringai. Tersenyum puas ketika melihat hasil dari tangkapannya. Beberapa hari ini ia memang di sibukkan dengan membayar orang-orang yang ia kenal di Korea Selatan untuk mengusut kasus yang menimpa Zeta. Ia membayar firma hukum terbaik demi memberikan pelajaran pada tikus-tikus kecil yang terus melukai gadisnya. Hasilnya? Sungguh mengejutkan. Banyak dari mereka yang mengirim permintaan maaf pada Zeta dan ucapan penuh menyesalannya.
Demi apapun, Jeffrey puas ketika rencananya berhasil.
“Jeff ... Papa dengar dari Anton kau akan mengakuisisi perusahaan Entertaiment?”
Jeffrey menyimpan ponselnya ke atas meja begitu sang ayah duduk tepat di hadapannya. “Masih proses Pa ... Jeff juga sudah memutuskan mulai tahun ini Jeff akan mengambil alih perusahaan yang berada di Korea Selatan. Apa Papa tidak keberatan?”
“Anton juga sudah mengatakannya, tentu saja Papa tidak sama sekali. Papa sudah katakan padamu, Papa memang sengaja membangun perusahaan itu untukmu. Papa memang sudah menunggu sampai kau menginginkannya sendiri tanpa harus Papa paksa.” Ucap Ducan diakhiri senyuman tipis.
Jeffrey mengangguk, seraya menuangkan wine pada dua buah gelas. Ia memberikan satu gelas untuk Ducan kemudian satu lagi ia sesap sesaat. “Anton ... dia benar-benar tak bisa dipercaya. Selalu saja dia mengatakan apapun padamu Pa.”
Ducan terkekeh pelan. “Tak apa. Lagipula Papa tidak benar-benar tahu semuanya. Anton hanya berbicara tentang masalah pekerjaan jika bersama Papa.”
“Apa saja yang dia katakan padamu?”
“Tak banyak. Hanya tentang keinginanmu ke Korea Selatan, akuisisi perusahaan entertaiment itu lalu tentang kau yang sedang menyukai seseorang.”
Jeffrey mendesis. “Itu bukan tak banyak Pa. Tapi semuanya. Dia mengatakan semuanya padamu.”
“Tapi setidaknya dia tidak mengatakan kau menyukai siapa Jeff. Dia tak menjawab apapun saat Papa bertanya.”
Jeffrey terdiam seraya menikmati minumannya, ia termenung memikirkan banyak hal. Terutama tentang perasaannya yang masih sangat mengambang.
“Kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Ducan.
Jeffrey menghela nafas, ia menyimpan gelas di tangannya lalu menghadap Ducan, menatap sang ayah dengan datar. “Sebenarnya aku tak yakin tentang perasaanku ini Pa. Entah obsesi ataukah benar-benar menyukainya. Aku hanya merasa aku ingin melindunginya, aku ingin dia berada dalam genggamanku, dalam pengawasanku. Agar memastikan dia baik-baik saja. Aku merasa aku tak rela jika dia harus bersama orang lain.”
“Apakah aku menyukainya Pa? Ataukah benar-benar hanya karena obsesi?”
“Apa yang kau sukai darinya?”
“Aku terpesona karena tubuhnya, parasnya pun begitu cantik.”
“Lalu sekarang?”
Jeffrey menatap Ducan tanpa menjawab apapun. Pikirannya tiba-tiba buntu, ia serasa tak memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Apa yang ia rasakan sekarang? Apa yang membuatnya benar-benar gila akan sosok itu? Benarkah hanya ketertarikan fisik? Hanya obsesi atau ... benar-benar menyukainya?
Entahlah ... ia tak tahu. Ia tak menemukan satupun jawaban atas seluruh pertanyaan yang berada dalam benaknya itu.
“Apakah dia memiliki perasaan terhadapmu?”
Jeffrey menghela nafas pelan. “Kami ... bahkan tidak pernah bertemu Pa. Jangankan mencintaiku, dia mungkin tak tahu keberadaanku.”
Ducan tersenyum lalu menepuk-nepuk bahunya selama beberapa saat. “Berjuanglah ... jika kau yakin dengan perasaanmu. Kau pasti akan mendapatkannya. Kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan Jeffrey.”
Jeffrey termenung, meresapi setiap kalimat yang terlontar dari sang ayah. Benar ... jika memang ia bertekad ia pasti akan mendapatkan apapun yang ia inginkan. Sama seperti sebelumnya ketika ia ingin membuktikan diri bahwa ia pantas menjadi seorang pewaris.
Mampukah ia mengulang kesuksesan yang sama atas tekad yang berada dalam hatinya?