Satu bulan berlalu dan semuanya kini benar-benar membaik. Sore itu akhirnya Zeta kembali ke dorm kemudian ia segera menyusul member lain ke studio tempat mereka berlatih, untuk melanjutkan sesi latihan persiapan konser yang akan segera digelar. Ya ... Bagaimanapun Konser di depan mata. Ia harus segera mempersiapkan semuanya dengan baik tanpa melakukan kesalahan. Ia harus memberikan panggung sempurna agar para penggemar senang dan tak mengkhawatirkannya lagi.
“Eonni!” Seru Lucy seraya memeluk erat tubuh Zeta yang baru saja memasuki ruang latihan. “Aku merindukanmu, aku merindukanmu ... Maafkan aku Eonni. Maaf yaa ... .”
Zeta terkekeh pelan lalu menepuk-nepuk punggung perempuan itu. “Sudah. Lupakan. Tak perlu meminta maaf.” Ujarnya, tapi Lucy tak juga melepaskan pelukan itu. Ia mengalihkan pandangan ada lima member lainnya lalu menatap Hana yang juga berada di ruangan itu.
“Senang melihatmu kembali Zeta.” Ujar Juliet, perempuan itu menarik paksa Lucy dari pelukan Zeta kemudian ia dan member lain bergantian menyapa serta memeluknya. Terakhir Hana, perempuan itu menatapnya lamat selama beberapa saat sebelum memeluknya.
“Aku senang melihatmu kembali.”
“Senang tak perlu mengurus mereka ya?”
Hana tergelak seraya melepaskan pelukan. “Tidak. Sekarang mereka tidak merepotkan lagi. sekarang mereka anak yang baik.” Hana menatapnya kembali. “Bagaimana keadaanmu? Sudah benar-benar pulih?”
Zeta tersenyum diiringi dengan anggukan kecil. “Sudah ... aku sudah merasa sangat baik. Terimakasih kalian semua sudah mengkhawatirkanku.”
“Tapi sepertinya ada yang lebih mengkhawatirkanmu Zeta, jadi ada beberapa hal yang sebenarnya ingin kutanyakan.” Ujar Hana. Perempuan itu kemudian menarik Zeta ke sudut ruangan. Duduk bersama member lain di sana.
“Ibumu melaporkan kejadian itu kepolisi?”
Kening Zeta mengerut lalu menggeleng. “Tidak. Ibuku sangat sibuk di restaurant. Tapi ... entahlah. Memang kenapa?”
“Seseorang membuat haters-mu bertekuk lutut. Banyak dari mereka yang meminta maaf padamu dan ada juga yang sudah dipidanakan. Awalnya kami berpikir itu adalah orangtuamu. Tapi sepertinya ... bukan?” jelas Summer.
“Sejak awal aku tak yakin itu orangtua Zeta Eonni.” Ujar Nia.
“Kenapa berpikir begitu?” Tanya Lucy.
“Melaporkan banyak orang dan di usut dengan cepat seperti itu pasti memerlukan biaya dan team yang banyak, kau mengerti bukan maksudku? Aku bukan bermaksud menghina orangtuamu Eonni. Tapi ... jika orangtuamu menangani ini sendiri mungkin harus menghabiskan tujuh puluh persen harta keluargamu. Karena ... ini gila. Aku yang mengamatinya. Semuanya terjadi dengan sangat cepat dan sangat terkoordinasi. Aku bahkan tak akan terkejut saat tahu ... team profesional yang menanganinya.”
“Lalu ... siapa?” kali ini Summer kembali berpikir.
“Kau tak memiliki kekasih ‘kan?” tanya Hana.
Zeta menoleh. “Kekasih apanya? Teman lelaki saja aku tak punya.”
“EONNI! Kau ingat yang megirimkan perhiasan?” Seru Chloe. Mata perempuan itu membulat, tangan perempuan itu menghentak lantai. “Aku yakin! Pasti dia yang melakukannya!”
Hening.
Setelah Chloe mengatakan itu semua orang bungkam. Mereka semua kini bahkan hanya menatap Chloe dengan heran dan tanpa berkedip sama sekali.
“Kau ini berbicara apa Chloe? Penggemar macam apa yang akan menghabiskan banyak uang seperti itu? Kau tak dengar apa kata Nia tadi?” ujar Juliet.
“Mungkin pemegang saham yang baru itu. Siapa namanya Eonni aku lupa?” tanya Juliet pada Hana.
“Mr. Kendrick.” Ujar Hana. “Tidak. Tidak mungkin. Mr. Kendrick baru mengakuisisi perusahaan satu minggu yang lalu. Tiga minggu setelah kasus itu terjadi. Tak mungkin dia yang melakukannya.”
Zeta mengerutkan kening heran dengan berbagai percakapan yang sedang ia dengar. Begitu banyakkah informasi yang ia lewatkan selama ia hiatus. Selama hampir satu bulan ini ia memang hidup tanpa ponsel, tanpa televisi. Satu bulan ini ia habiskan dengan bermain alat musik dan membuat lagu. Tak ada kegiatan lain selain dua kegiatan itu.
Brak!
Delapan perempuan itu menoleh secara bersamaan ke arah pintu masuk yang terbuka secara paksa. Bersamaan dengan itu pula masuklah seorang laki-laki dengan stelan jas modern, rambut rapih dan sepatu yang mengkilat. Wajahnya yang begitu tampan tampak sedikit berkeringat, diiringi dengan nafas yang tersengal.
Lelaki itu kemudian berjalan ke arahnya kemudian berjongkok tepat di hadapannya, merengkuh bahunya, mengguncang tubuhnya selama beberapa kali.
“Zeta ... kau baik-baik saja? Kau benar-benar sudah sehat?”
Zeta melepaskan rengkuhan tangan itu secara paksa kemudian berdiri, menjauh dari lelaki itu.
“Saya tak apa Sunbae-nim. Saya baik-baik saja.”
“Ya! Park Hyunki, apa yang kau lakukan di sini?! Cepat! Kau akan terlambat.” Seru seorang lelaki lain dari arah pintu masuk.
“Hyung! Sebentar.” Lelaki itu Park Hyunki, dia menatap ke arahnya kembali merengkuh bahunya untuk kedua kalinya. “Aku senang melihatmu baik-baik saja Zeta. Aku senang sekali. Nanti ... aku akan menghubungimu, sekarang aku pergi dulu ya?”
“Tak perlu.” Ujar Zeta, “Kau tak perlu menghubungiku Sunbae-nim. Kami akan sangat sibuk berlatih.”
Lelaki itu berbalik ketika di ambang pintu. “Jika kau tak bisa menjawab panggilanku sebagai seorang laki-laki. Setidaknya jawablah sebagai Hoobae yang baik. kau mengerti?”
“Oh! Selamat sore Mr. Kendrick.” Ujar lelaki itu dan managernya sesaat sebelum pintu ruangan itu kembali tertutup secara sempurna.
“Hais! Lelaki itu. Selalu saja mengganggu dan terlalu percaya diri! Memang siapa yang akan suka pada lelaki seperti dia? Demi apapun. Sekalipun dia dari grup terkenal, aku pun tak akan mau jadi kekasihnya.” Geram Summer mewakili perasaannya.
Zeta memejamkan matanya sesaat seraya menghembuskan nafasnya secara perlahan. Menahan gejolak emosi yang bersarang dalam hatinya. Bukan ... ia bukan berdebar karena menyukai lelaki itu. Tapi karena ia tak suka berada di sekitar lelaki itu. Ia tak mau tampak dekat atau terlihat menjalin hubungan. Tidak. Tidak sama sekali.
Ia bukan tak peka untuk tidak merasakan perasaan yang lelaki itu rasakan. Ia tahu jika lelaki itu sudah menyukainya sejak ia masih trainee, tapi ia tak bisa berdekatan dengan lelaki itu. Selain karena ia tidak memiliki perasaan lebih ia juga tak mau berdekatan dengan seseorang yang menjadi salah satu sumber masalah bagi hidupnya.
Ya ... Park Hyunki. Dia adalah salah satu masalah dalam hidupnya, karena penggemar dialah sebagian dari haters-nya. Mereka menganggap ia merebut lelaki itu dari mereka dan anggapan-anggapan lain yang menurutnya tak mendasar. Memang ada sebagian yang mendukungnya jika berkencan dengan lelaki itu, tapi ia tak mau. Jangankan berkencan, dekat saja ia tak ingin.
Ia tak mau mengambil resiko mendapatkan hujatan yang lebih banyak lagi.
Zeta menghela nafas lagi. “Sudahlah lupakan. Abaikan saja dia. Daripada memikirkan dia sebaiknya kalian jelaskan konsep yang akan kita gunakan nanti.”
.
.
.
Selama satu jam mereka membicarakan tentang konsep yang dijelaskan oleh Hana yang sudah menerima semua arahan sejak tiga hari yang lalu. Ia hanya menyimak semua yang di katakan Hana dan sesekali memperhatikan layar iPad yang menunjukkan tata letak panggung yang akan mereka gunakan untuk konser anniversary grup mereka.
“Akan ada tujuh layar LED besar di sini. Jadi nanti masing-masing dari kalian ketika berdiri di depannya akan muncul di LED juga. Lalu akan ada fly stage. Team sedang menyiapkan tiga panggung berbentuk bulat yang nanti akan di angkat naik setinggi lima sampai enam meter agar kalian bisa menyapa penggemar yang berada di barisan ujung. Sampai sejauh ini ada yang ingin kau tanyakan?”
Zeta termenung sesaat sebelum menggeleng kecil.
“Tak ada masukan?”
“Sampai sejauh ini tidak. Aku sangat menyukai konsepnya. Mungkin nanti aku akan cek sendiri bagaimana panggung satu minggu sebelum konser berlangsung.” Ujar Zeta.
“Baiklah ... aku kembalikan padamu Zeta. Katakan saja padaku jika memang ingin melihatnya.” Ujar Hana sebelum meraih ponselnya yang tiba-tiba berdering.
“Hallo ... Produser-nim.”
Zeta menatap Hana yang tengah berbicara dengan Produser utama yang tak lain adalah pendiri agensi ini. Penasaran dengan percakapan jenis apa yang dilakukan manager-nya itu. Sebab jika dia di panggil secara langsung, sudah bisa dipastikan ada hal penting yang akan di bicarakan.
“Ya, benar. Baik, saya akan segera menghadap.”
Hana mengakhiri panggilan itu lalu menatapnya. “Zeta ikut aku sekarang ke ruangan Chairman, dia ingin memastikan keadaanmu sebelum kau benar-benar aktif kembali.”
Zeta menghela nafas panjang. “Aku baik-baik saja. Mengapa dia tak percaya? Lagipula kalian kan sudah katakan social media sekarang sudah sangat amat aman untukku. Lalu ... apa lagi?”
“Entah ... mungkin dia juga ingin membicarakan tentang itu? Banyak desas-desus aneh yang tersebar di agensi. Mereka mengira chairman memperlakukanmu dengan istimewa.”
Zeta memutar bola matanya. “Sejak kapan dia seperti itu? Baiklah. Ayo. Antarkan aku menghadapnya Eonni.”
Zeta berdiri lalu berpamitan pada member yang tersisa begitu juga dengan Hana, mereka kemudian berjalan secara bersamaan, memasuki lift khusus yang akan membawa mereka ke lantai teratas gedung.
“Jangan melawannya. Tak akan berguna.” Ujar Hana.
Zeta hanya menggumam seraya memainkan ponselnya. Jemarinya menggulir layar ponsel itu. Ia mulai memberanikan diri membuka social media yang membuatnya ketakutan setengah mati. Zeta tersenyum kecil.
“Mereka benar-benar meminta maaf?”
“Seperti yang aku katakan.”
Zeta kembali menggulir layar ponselnya selama beberapa kali sampai ia menemukan sebuah mention dari sebuah akun yang selama ini begitu menyita perhatiannya.
Can’t wait to see you Baby
Zeta mengerutkan keningnya melihat mention itu. Mention yang lelaki itu kirimkan satu minggu lalu. Apa maksud dari pernyataan lelaki itu? Dia akan menemuinya? Atau mereka akan bertemu?
Ah! Mungkin saja dia akan menonton konserku. Tapi tunggu ... bukankah konsernya belum di umumkan? Zeta mendesis dengan isi kepala yang terus berputar tanpa alasan. Jika di pikirkan lebih dalam lagi memang aneh ia memikirkan pernyataan itu. Sangat aneh. Ia pun tak seharusnya seperti itu.
Tapi ... entahlah ... ia hanya penasaran.
Ting!
Pintu lift terbuka.
“Mr. Kendrick.” Ujar Hana kemudian membungkuk.
Sementara Zeta yang tengah fokus pada ponsel hanya mengalihkan pandangannya, ia terpaku ketika iris matanya bertemu dengan iris lelaki dengan stelan jas rapih, rambut yang juga ditata begitu rapih di balik lift yang ia gunakan. Lelaki tampan yang begitu asing -namun terasa tak asing- yang tengah menatap iris matanya dengan tajam dan begitu dingin.