9. Rencana Licik

1632 Kata
“Aku dengar Zeta mulai kembali.” Ujar Jeffrey seraya menyandarkan tubuhnya pada sofa. “Aku rasa, melihatnya ke agensi bukan hal buruk bukan?”   “Jangan melakukan hal gila Jeffrey!” hardik Anton. “Kau sudah berjanji akan fokus bekerja hari ini. Jangan mengacau atau aku laporkan kau pada ayahmu!”   Jeffrey melongos. “Katakan saja. Papa-ku akan lebih senang mendengar anaknya mengejar perempuan daripada diam dibalik meja kantor.” Ia menghela nafas kemudian mengalihkan pandangan pada Anton yang tengah merapihkan meja kerjanya. “Anton, lagipula pekerjaanku sudah selesai. Kenapa aku harus tetap di kantor?”   “Biasanya juga kau seperti itu. kenapa sekarang mengeluh?”   “Biasanya kau yang merengek ingin pulang cepat jika pekerjaan selesai dengan cepat.”   Anton mendengus, lelaki itu mendelik padanya, memberinya tatapan tajam. “Aku tak pernah merengek.”   “Baiklah bukan merengek, tapi malas. Biasanya kau yang paling malas bekerja. Jadi sekarang biarkan aku pergi. Aku hanya ingin melihatnya.”   “Tidak! Kau sudah ada janji menemui developer setelah pekerjaanmu selesai.”   Jeffrey menatap Anton yang kini duduk bersebrangan dengannya, lelaki itu memberikan sebuah brosur, mendorongnya di atas meja. “Ini detail penthouse yang kau minta. Kita harus menemuinya untuk menyesuaikan isi penthouse-mu sebelaum kau isi. Aku tak bisa menjamin semua fasilitas yang berada di sana sesuai keinginanmu jika kau tak turun tangan sendiri.”   “Urus saja. Aku tak peduli isi-nya akan seperti apa yang terpenting aku berada di lingkungan apartemen itu.” ujar Jeffrey. “Kau mengerti bukan apa maksudku?”   Anton mendesis. “Sangat. Aku mulai terbiasa dengan kegilaan yang kau lakukan Jeffrey.” Balas Anton sakratis. “Kau tahu sekarang kau bisa di sebut penguntit! Bagaimana bisa kau berpikir ingin berada di gedung yang sama dengan dorm Zeta? Kau ... benar-benar lebih dari penguntit Jeffrey. Kau gila!”   Jeffrey mengedikkan bahunya tak peduli. “Aku memang lebih dari penguntit bukan? Aku ... pemilik saham tertinggi agensi yang dinaungi Zeta. Jadi ... aku memiliki apapun yang aku inginkan termasuk penthouse itu. Tak akan ada yang berani melarangku.”   Anton mendengus. “Gila! Kau memang sakit jiwa Jeffrey!” Anton kembali bangkit seraya mengambil dokumen dari atas meja kerja Jeffrey. “Dulu ... kau menghinaku karena menyukai mereka. sekarang kau bahkan lebih gila daripada aku. Apa kau tak malu? Seharusnya kau malu dengan semua yang sudah kau katakan.”   “Kenapa harus malu? Setiap manusia bisa berubah Anton.”   “Terserah! Sekarang ayo, aku antarkan kau ke agensi dan aku akan ke penthouse. Siapa tahu aku yang ternyata bertemu Zeta.”   Jeffrey mendelik tak terima. “Tidak mungkin.”   Anton melirik ke arah Jeffrey lalu mengedikkan bahu meledek sahabatnya itu. “Siapa yang tahu? Gedung apartemen adalah tempat paling mungkin agar aku bertemu dengan mereka.”   Jeffrey mendengus, sebal dengan semua yang sahabatnya itu katakan. Ia bersumpah jika ia sudah memiliki orang yang bisa ia percaya ia akan mengganti sahabatnya itu. Lama-lama dia sangat mengesalkan. Tapi pertanyaannya, memang akan ada yang kuat bekerja dengannya selain Anton?   Sepertinya tak akan ada.     ***     Anton sebenarnya bukan tak senang akhirnya Jeffrey memiliki seseorang yang dia idamkan. Ia bukan tak senang akan hal itu. Hanya saja orang yang lelaki itu sukai kurang tepat. Apalagi jika Jeffrey terobsesi hingga seposesif ini. Sebab ... Zeta seorang idol. Perempuan itu tentu saja akan berbeda daripada perempuan lain. Jeffrey harus menerima konsekuensi ketika Zeta harus sering berinteraksi dengan orang lain, lelaki lain entah sesama idol atau model.   Terlebih ia tahu sendiri, sejak dulu Zeta selalu menjadi salah satu member yang sering agensi pasangkan dengan model laki-laki. Entah saat membuat music video atau apapun. Jika Jeffrey seposesif ini, ini tak baik, ini semua hanya akan mengganggu aktivitas Zeta.   Puk!     Anton menoleh pada Jeffrey.   “Tenang saja aku tak akan melakukan hal bodoh. Aku akan berhati-hati.” Ujar Jeffrey sebelum keluar dari dalam kendaraan yang membawa mereka berdua. Anton tak mengatakan apapun, ia hanya bisa menghela nafas panjang dan berdo’a dalam hati agar Jeffrey benar-benar tak melakukan tindakan bodoh.     ***     Banyak yang menyapanya ketika ia berjalan memasuki gedung agensi, tentu saja karena mereka semua sudah tahu jika kini ia adalah pemilik saham terbesar di agensi tersebut. Ia berjalan ke arah tangga, menaikinya satu persatu anak tangga tanpa berniat menaiki lift. Ingat bukan tujuannya ke gedung agensi untuk melihat Zeta? Tentu saja ia harus mencari ruang berlatih perempuan itu agar ia setidaknya bisa melihat perempuan itu.     “Saya tak apa Sunbae-nim. Saya baik-baik saja.”   Jeffrey memelankan langkahnya ketika mendengar suara yang terdengar manis itu. Suara yang cukup ia kenali sekalipun baru kali ini ia dengar secara langsung, suara Zeta.   “Ya! Park Hyunki, apa yang kau lakukan di sini?! Cepat! Kau akan terlambat.”   Perhatiannya teralih pada sosok lelaki yang berada di ambang pintu, lelaki itu masih bertahan di sana dengan tangan yang menahan pintu agar tetap terbuka.   “Hyung! Sebentar. Aku senang melihatmu baik-baik saja Zeta. Aku senang sekali. Nanti ... aku akan menghubungimu, sekarang aku pergi dulu ya?”   Rahang Jeffrey mengatup mendengar hal itu. Ternyata benar suara perempuan itu suara Zeta. Lalu ... apa katanya? Mengapa dia ingin menghubungi Zeta? Mengapa lelaki itu berani sekali mengatakannya?   “Tak perlu. Kau tak perlu menghubungiku Sunbae-nim. Kami akan sangat sibuk berlatih.”   Seringaian seketika muncul di bibir Jeffrey, langkahnya terhenti tepat di depan lift yang berada di lantai itu, toh ia sudah menemukan ruangan tempat Zeta berlatih bukan? Tak jauh dari ruangan yang tampak ada sedikit keributan itu. Entah mengapa ia puas dengan jawaban Zeta. Itu berarti Zeta tak suka pada lelaki itu. Zeta tak nyaman berada di dekat lelaki itu.   “Jika kau tak bisa menjawab panggilanku sebagai seorang laki-laki. Setidaknya jawablah sebagai Hoobae yang baik. kau mengerti?”   Tak tahu malu! Pikir Jeffrey setelah mendengar kalimat itu. Sudah ditolak masih saja memaksa. Dia pikir dia siapa? Bagaimana bisa dia bisa bertindak seenaknya seperti itu?   Rahang Jeffrey mengatup ketika melihat lelaki yang beberapa saat lalu ia duga berbicara dengan Zeta berjalan ke arahnya. Jeffrey tersenyum dalam hati ketika melihat lelaki itu yang tak sebanding dengan dirinya. Ia lebih tampan, tubuhnya pun lebih baik daripada lelaki itu dan kekayaan? Tentu saja ia menang. Ia sempurna, ia memiliki semua aspek yang tidak lelaki itu miliki.   “Oh! Selamat sore Mr. Kendrick.” Ujar lelaki itu dan managernya.   Jeffrey hanya mengangguk kecil tanpa berniat membalas ucapan lelaki itu, sementara mereka berdua tampak tersenyum penuh penghormatan padanya. Ia kemudian beranjak masuk ke dalam sebuah lift yang terbuka di depannya lalu menatap lelaki itu lagi.     Lihat saja, akan kupastikan kau tak akan pernah bisa melihat Zeta lagi b******k!     ***   “Seharusnya anda katakan jika memang ingin datang Mr. Kendrick, di tempat ini saya tak memiliki apapun yang pantas untuk menyambut anda.” Ujar Ahn Beomseok, produser utama sekaligus pemimpin perusahaan ini.   “Tak masalah.” Ujar Jeffrey seraya mendudukan diri pada sofa yang berseberangan dengan pemimpin perusahaan itu. “Aku datang hanya untuk melihat situasi jika tanpa persiapan kedatanganku.” Jeffrey menarik ujung bibirnya. “Dan aku menemukan sesuatu yang aku rasa cukup serius, yang harus segera mendapatkan penanganan.”   “Apa itu?”   “Aku ingin membatasi idol laki-laki dan idol perempuan berinteraksi. Aku tak ingin mengambil resiko ada skandal yang akan merugikan perusahaan, yang tentu saja akan merugikanku.” Jeffrey menatap Beokseok. “Aku ingin menerapkan aturan baru itu, larangan itu mulai hari ini.”   Jeffrey menatap pemimpin perusahaan lamat, ia masih melihat keraguan yang ada pada lelaki itu. Beberapa saat kemudian ia menjelaskan ulang semua yang ia katakan beserta dampak kecil dan dampak besarnya. Ia benar-benar akan melakukan apapun untuk menjauhkan lelaki itu dari Zeta, agar lelaki itu tak berusaha mendekati Zeta lagi dan mengganggunya.   “Ini perubahan yang cukup signifikan, saya harus membicarakannya dengan semua petinggi dan para manager. Selain itu kami juga harus membagi jadwal dan tempat agar mereka benar-benar tidak bertemu.”   “Aku pemegang saham terbesar, tak akan ada yang bisa menolak permintaanku.” Tegas Jeffrey.   Lelaki itu menghela nafas panjang. “Baik, saya akan bicarakan dengan para manager mulai hari ini.”   Jeffrey tersenyum puas mendengar kalimat itu. Lihat? Ia bisa melakukan apapun dengan memiliki kekuasaan. Salah satunya mengatur lingkungan Zeta dan ... sekarang ... sebentar lagi ia akan mendapatkan Zeta. Ia pasti akan segera mendapatkannya dengan cara yang lebih mudah.   “Kalau begitu bagaimana jika kita makan malam bersama?”   “Lain kali, aku harus segera pergi melihat penthouse-ku.” Jawab Jeffrey kemudian berdiri , bersiap beranjak. “Aku mengandalkanmu Mr. Ahn. Aku sangat percaya dengan kinerjamu.”   “Terimakasih Mr. Kendrick, semoga anda tidak kecewa.”   Jeffrey menarik ujung bibirnya. “Tidak, tentu saja tidak selama kau tak melakukan kesalahan. Baiklah aku pergi. Sampai berjumpa lagi.”   Jeffrey melenggangkan kakinya ke arah lift, ternyata di saat bersamaan ada yang sedang naik ke lantai tertinggi ini. Ia menghela nafas perlahan, menunggu beberapa saat sampai pintu lift terbuka.   Deg!   Jeffrey tertegun begitu iris matanya bertemu langsung dengan perempuan yang ia idamkan. Terlihat sangat cantik begitu cantik sekali. Obsidian-nya yang selama ini ia lihat di layar terlihat lebih jernih, kulitnya pucat dengan rona merah di wajah, tubuhnya pun tampak lebih mungil dari yang ia duga. Perempuan itu hanya sebatas bahunya saja. Benar-benar tampak pas sekali di matanya.   “Zeta.” Tegur perempuan di samping perempuan itu. Membuatnya sadar dari lamunannya.   “Maafkan saya, Mr. Kendrick.” Ujar perempuan itu seraya membungkuk sebanyak sembilan puluh derajat tepat dihadapannya.   Jeffrey meneguk ludahnya kasar lalu menghembuskan nafas perlahan. Tenang ... Jeffrey tenang. Jangan melakukan hal bodoh.   “Tak apa.” Balas Jeffrey kemudian memasuki lift itu setelah kedua perempuan tersebut keluar. Sekali lagi keduanya membungkuk sebelum lift tersebut benar-benar tertutup, memisahkan mereka berdua.   Jeffrey tersenyum puas dalam hatinya. Tepat sesuai prediksinya. Zeta ternyata lebih memesona jika dilihat secara langsung dan tanpa riasan berlebihan. Perempuan itu ... tampak begitu sempurna. Sangat cantik dan ... memesona.       You look so gorgeous Queen.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN