“Apa yang kau lihat Zeta?”
Perhatian Zeta teralih dari ponsel pada Juliet yang memang duduk berdampingan dengannya di jok belakang van yang akan membawa mereka kembali ke dorm.
“Oh? Siapa ini? Kau mengenalnya Zeta?” Juliet mengambil ponsel di tangannya, melihat semua yang membuatnya termenung, melamun panjang.
“You look so gorgeous Queen.” Ujar Juliet, perempuan itu kemudian mengalihkan pandangan ke arahnya dengan kening mengerut. “Kenapa kau memperhatikannya? Apakah dia mengganggumu? Sasaeng?”
Zeta menggeleng, ia mengambil ponselnya lagi, mengamati cuitan itu lagi sebelum mematikan ponselnya. “Aku hanya merasa aneh dengannya. Jika dia sasaeng dia mungkin berkeliaran di sekitarku. Tapi dia ... sepertinya tidak. Namun entah kenapa aku merasa dia bertingkah seolah dia ada di sekitar kita.”
“Kau lihat, dia mengatakan itu baru-baru ini, beberapa menit lalu. Sementara kita tidak keluar dari gedung agensi sama sekali.” Zeta menghembuskan nafasnya perlahan. “Sebenarnya aku tak tahu siapa yang dimaksud akun ini, aku tak bisa menebaknya sama sekali. Aku ... hanya curiga saja.”
“Bisa saja itu tak merujuk pada pertemuan Zeta. Mungkin saja dia melihat hasil jepretan fansite bukan? Atau sesuatu hal yang lain?” Juliet kembali menimpali ucapan Zeta.
“Hari ini tak ada kegiatan yang melibatkan fansite Eonni.” Ujar Nia.
Zeta semakin bingung, ia semakin penasaran dengannya. Ini mungkin terdengar berlebihan, hanya saja ia merasakan ada yang aneh pada orang itu, ia merasakan suatu getaran lain yang ia rasa bukan hal biasa. Tapi ... apakah itu? Kenapa tak ada petunjuk?
“Abaikan dia Zeta, jangan sampai mepengaruhimu. Jika dia tahu kau memperhatikannya, akan sangat berbahaya untukmu.” Ujar Juliet.
Zeta menoleh ke arah Juliet lagi lalu mengangguk kecil. Benar ... ia harus berhenti memperhatikan orang itu, ia harus berhenti. Ia tak boleh melakukannya lagi dan lagi. Ini akan sangat berbahaya untuknya.
***
“Aku bertemu Zeta.”
Anton menatap Jeffrey yang tiba-tiba tersenyum seperti orang bodoh. Ia menyimpan dua gelas di meja lalu menuangkan cairan berwarna merah pekat ke dalam gelas itu. Setelahnya duduk menghadap sahabatnya itu yang sudah persis seperti orang gila.
“Lalu?”
Jeffrey mendelik ke arahnya, tampak sangat marah. “Apa-apaan tanggapanmu itu?”
“Memang kenapa?” tanya Anton tak acuh. “Kau pikir aku harus berteriak? Heboh? Haruskah aku iri?” Anton menarik ujung bibirnya. “Dengar Jeff, aku sudah bertemu dengannya lebih dulu daripada kau dan juga tak hanya sekali, tapi beberapa kali.” Anton menatap ke arah Jeffrey dengan seringaian penuh kemenangan. “Jadi tak ada alasan bagiku untuk merasa iri padamu.”
Jeffrey mendengus. “Terserah.”
Anton menatap Jeffrey yang tengah menikmati minuman yang ia berikan. Ia menghela nafas panjang secara perlahan lalu menatap sahabatnya itu lagi.
“Apa yang kau pikirkan?”
“Bukan urusanmu.”
Anton mendesis. Ia memutar bola matanya sesaat sebelum menatap Jeffrey lagi. “Kau masih berpikir hanya terobsesi saja padanya?”
.
.
.
Jeffrey mengalihkan pandangannya pada Anton. Termenung selama beberapa saat, mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan itu. Tapi satupun tak ada jawaban yang terlintas pada benaknya. Ia masih tak tahu, apakah ia hanya terobsesi atau benar-benar menyukai perempuan itu. ia masih belum memiliki jawaban pasti.
“Yasudah, terserah.” Ujar Anton. “Aku tak akan menghakimi perasaanmu Jeff. Aku juga tahu kau pasti merasa bingung dengan perasaanmu. Tapi ingat satu hal, jika memang kau ingin memilikinya, jangan lakukan hal gila.”
“Terus saja katakan itu, aku sudah bosan mendengarnya Anton. Tak bisakah kau tak mengatakannya terus-menerus?”
“Tidak.” tegas Anton. Lelaki itu memicingkan matanya, memberinya peringatan tajam.
“Baik. Baik. Aku tak akan melakukan hal gila Anton. Kau puas?”
“Bagus. Jangan membuatku semakin banyak pekerjaan karena hal bodohmu itu.”
“Tidak. Tenang saja. Oh ya Anton, tanyakan pada Mr. Han, apakah mobil pesananku sudah jadi atau belum?”
Anton memicingkan matanya, curiga. Dia tak menjawabnya, lelaki itu hanya memberinya tatapan penuh selidik. “Untuk apa kau memesan mobil baru?”
Jeffrey mengedikkan bahu. “Buat apa lagi?”
“Ah ... kau butuh mobil pribadi untuk bepergian?”
“Aku memang membutuhkan itu, tapi sampai aku memiliki surat ijin aku belum berniat memesan mobil baru untukku.”
.
.
.
Perasaan Anton mendadak buruk ketika melihat seringaian yang tersungging diwajah sahabatnya itu. ia tahu lelaki itu pasti sedang memikirkan hal gila. Sebab ia sangat mengenal lelaki itu.
“Lalu?”
“Aku memesannya untuk hadiah ulang tahun Zeta. Kau tak lupa ‘kan bulan depan dia berulang tahun?”
BRAK!
“KAU GILA?!” Mata Anton membesar. “Sudah aku katakan jangan berbuat gila! Jangan berbuat diluar batas Jeffrey! Tidak! Aku tidak setuju kau memberikan hadiah mobil! Sampai kapanpun tidak!”
“Aku tidak memerlukan persetujuanmu Anton.” Ujar Jeffrey dengan tenang.
Anton mendengus, ia berdiri kemudian berpindah tempat duduk, duduk di samping Jeffrey lalu menepuk kedua bahu sahabatnya itu dengan keras.
“Jangan membuatnya semakin kebingungan! Cukup dengan hadiah perhiasan itu! Kau tahu hadiah yang kau berikan adalah hadiah termahal yang idol terima. Lalu sekarang kau akan memberinya mobil juga? Dengar! dengarkan aku Jeffrey! Pertama! Zeta memiliki larangan untuk menyetir jadi kau ... percuma membelikannya mobil. Kedua! Kau boleh memberinya hadiah tapi hadiah yang sewajarnya saja! Tak ada barang mewah yang bisa kau berikan padanya melebihi seratus ribu dollar!”
“Apa? Seratus ribu?”
“WAE?!” (Kenapa?!) seru Anton dengan kencang. Seharusnya Jeffrey paham, jika ia sudah mengeluarkan Bahasa Korea-nya dengan nada tinggi itu tandanya ia sudah sangat marah.
Jeffrey menghembuskan nafas, melongos, menghindar dari tatapannya.
Melihat hal itu Anton mendengus, marah. Ia tak tahu sampai kapan Jeffrey akan menyadari jika menyukai perempuan dengan profesi seperti Zeta ini akan sangat sulit. Dia harus tahu, dia harus menyadari bahwa memberikan hadiah, atau kejutan apapun ia tak bisa melakukannya dengan sembarangan.
Jeffrey tak bisa melakukan semua hal sesuai dengan yang dia inginkan begitu saja. dia harus mempertimbangkan banyak hal, sebab dan akibat yang akan Zeta terima. Bagaimana jika Zeta di gosipkan yang tidak-tidak setelah menerima hadiah itu? Bagaimana jika Zeta mendapatkan masalah lebih banyak?
Terlebih ... Zeta tidak tahu jika Jeffrey yang memberikannya. Sekalipun Zeta tahu, itu akan semakin rumit dan lebih rumit lagi. Ia tak mau itu terjadi, sehingga ... ia harus mencegah perbuatan Jeffrey sebelum dia melakukan hal lebih gila lagi.
Anton menatap Jeffrey yang terlihat sedang berpikir, ia menghela nafas perlahan sebelum menyandarkan punggungnya pada sofa. Sejujurnya ia tak ingin Jeffrey gegabah karena Jeffrey –dan juga dirinya- sebenarnya belum mengetahui apapun tentang Zeta. Ia tak tahu apakah Zeta akan menyukai Jeffrey? Apakah Jeffrey sesuai dengan kriteria lelaki idaman Zeta? Ia tak tahu. Karena itulah bisa saja Zeta menolak Jeffrey, sekalipun perempuan itu tahu Jeffrey begitu menyukainya.
“Kau bisa memberinya ucapan selamat ulang tahun seperti penggemar lain. Memberinya hadiah ucapan selamat ulang tahun di Time Square atau semacamnya, setidaknya itu adalah hal yang sangat umum. Bahkan aku sempat melihat seluruh LED hanya memunculkan wajah Lucy ketika Lucy berulang tahun.”
Anton melirik Jeffrey yang tampak tak puas dengan jawaban yang ia berikan. “Kau juga bisa memberikannya hadiah ulang tahun Jeff, apapun. Yang terpenting tidak lebih dari seratus ribu dollar.” Lanjutnya dengan kalimat penuh penekanan pada kata tidak lebih.
Jeffrey mendengus lagi kemudian menatap ke arahnya. “Baiklah. Aku mengerti.”
Anton bangkit, ia menepuk pundak Jeffrey sesaat. “Seratus ribu dollar memang bukan nominal yang besar untukmu Jeff. Tapi bagi orang-orang nominal itu sangatlah besar. Sampai di sini. Aku harap kau mengerti maksudku.”
Jeffrey termenung, membuatnya hanya bisa menghela nafas panjang. Ia berharap dengan ini Jeffrey mulai mengerti dan mengurangi kegilaannya terhadap Zeta.
“Kalau begitu aku akan kembali ke apartemenku sekarang. Jika ada apapun segeralah kabari aku. Oh ya ... mengenai penthouse, kau bisa menempatinya lusa.”
Jeffrey mengangguk kecil. “Aku akan melihatnya besok.”
***
Keesokan harinya saat istirahat makan siang di kantor, Jeffrey benar-benar mengunjungi hunian barunya. Ia melangkahkan kakinya memasuki area apartemen mewah itu dengan langkah yang sangat tenang. Tak ada yang berani mencegahnya, mencurigainya atau bahkan menanyainya. Semua staff yang ia lewati hanya membungkuk seraya menyapanya dengan penuh penghormatan.
“Mr. Kendrick.”
Jeffrey menghentikan langkahnya, menghadap seseorang perempuan yang ia ketahui sebagai member dari Crown Queen.
“Ah ... perkenalkan. Saya Ella, member tertua Crown Queen. Anda mungkin tak mengenal saya tapi saya sempat mendengar tentang anda beberapa kali di perusahaan.”
“Oh ... begitu.”
“Eonni!!!”
Jeffrey mengalihkan pandangannya ke arah kanan, tubuhnya menegang kaku ketika iris matanya melihat pergerakan cepat dan tak seimbang dari perempuan yang sedang berjalan setengah berlari ke arahnya itu.
“Tunggu aku! Kenap ... aaaaa ... .”
Byur!
Bruk!
Jeffrey meraih tangan perempuan itu dengan cepat lalu menariknya hingga terjatuh dalam pelukannya. Lagi ... iris matanya bertemu dengan obsidian bening itu, obsidian terindah yang pernah ia lihat selama ini. Dari jarak sedekat ini ia dapat melihat dengan jelas bulu mata lentik perempuan itu yang tampak begitu tebal, lipatan matanya pun berwarna merah muda tampak sangat indah, lalu ... sebuah luka kecil di bagian kanan sudut mata itu, tidak tampak cacat, justru terlihat begitu indah.
Zeta ... .
Jantungnya mulai berdebar, dua kali lebih cepat daripada biasanya. Hatinya mendadak menghangat disertai desiran halus yang mulai terasa menginvasi dadanya.
Mata Jeffrey sedikit melebar, menyadari getaran aneh yang merambat masuk memenuhi hatinya itu.
Perasaan apakah ini?