Jeffrey berdiri menghadap ke arah dinding kaca yang menyajikan pemandangan kota yang tampak begitu sibuk, senyuman tersungging, tak pernah lepas dari wajah tampannya sejak bermenit-menit lalu. Iris matanya pun tak hentinya memandangi sebuah scarf dengan brand ternama di tangannya. Bukan, benda itu bukan miliknya. Tapi milik Zeta, pemilik hatinya.
Senyuman itu kembali tersungging semakin lebar. Orang-orang yang melihatnya mungkin akan mengatakannya gila, tapi ia tak akan menyangkal itu. Sepertinya ia memang sudah mulai gila pasca berhadapan dengan Zeta.
Setelah perempuan itu menumpahkan kopi ketika terjatuh dalam pelukannya, mereka berbicara berdua di lobi apartemen selama beberapa saat. Tubuh mungil itu, wajah cantik itu dan jemarinya yang lentik benar-benar dekat degannya, bahkan menyentuhnya dengan sangat lembut.
.
.
.
Seumur hidupnya Jeffrey tak berharap hal yang tak masuk akal, tapi kali ini entah mengapa ia ingin waktu yang ia lalui ini berhenti, atau setidaknya melambat untuk beberapa saat. Satu kali pun ia tak pernah berharap bahwa waktu yang ia lewati melambat atau bahkan berhenti sejenak. Tapi untuk kali ini ia sangat berharap waktu dapat berhenti, hanya agar dirinya dapat menikmati pemandangan indah dihadapannya ini lebih lama. Pemandangan indah yang tampak begitu cantik dari perempuan yang selama ini ia impikan.
Zeta.
Perempuan itu terus-menerus berusaha membersihkan pakaian yang ia kenakan dengan menggunakan scarf-nya, sesekali meringis dan mendesah ketika mendapati semua yang dia lakukan percuma. Noda itu telah menempel pada pakaiannya. Seperti perempuan itu yang begitu rekat menempel dalam hatinya.
Tak akan pernah bisa hilang, tak akan pernah bisa dibersihkan begitu saja.
“Maafkan saya Mr. Kendrick.”
Jeffrey memandang Zeta yang tengah duduk disampingnya, membersihkan sisa tumpahan kopi yang masih menempel pada pakaian kerjanya. Ya ... perempuan itu baru saja membersihkan sisa kopi yang tumpah mengenai pakaian kerjanya karena insiden jatuh itu.
Jatuh yang bagi Jeffrey sebuah keberuntungan dan juga takdir yang tidak ia duga.
“Sekali lagi maafkan saya. Saya tak bermaksud membuat pakaian anda kotor. Padahal saya tahu anda pasti harus kembali bekerja. Tapi pakaiannya ... .” Zeta menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah, perempuan itu bahkan menggigiti bibirnya, dengan kedua tangan saling meremat, terlihat ketakutan.
Jeffrey menghembuskan nafasnya perlahan, menahan senyum penuh kebahagiaan yang hampir saja tersungging dibibirnya. Ia berdehem sesaat sebelum menjawab pertanyaan itu. “Tak perlu dipikirkan.”
“Tapi ... tetap saja, saya bersalah ... saya harus bertanggungjawab Mr. Kendrick.” Zeta mengatupkan tangan di depan matanya. “Saya mohon ... terima permintaan maaf saya. Saya berjanji tak akan ceroboh lagi. Saya akan semakin berhati-hati Mr. Kendrick. Maafkan saya.”
“Aku bilang tak perlu di pikirkan. Sekarang pergilah, mungkin manager-mu sudah menunggu di parkiran.”
“Tapi Mr. Kendrick ... .”
“Aku akan menghubungi asistenku. Jika memang kau ingin bertanggungjawab pikirkanlah lain kali.”Jeffrey bangkit membuat perempuan itupun bangkit, berdiri tepat di hadapannya. “Kau harus pergi, aku pun harus kembali bekerja.”
“Ah! Benar. Anda pasti sibuk Mr. Kendrick. Saya pasti mengganggu waktu berharga anda. Maafkan saya Mr. Kendrick. Sekali lagi maafkan saya, sampai berjumpa kembali.” Pamit Zeta sebelum beranjak pergi dengan setengah berlari meninggalkannya di lobi apartemen.
Ketika hendak beranjak ia melihat sebuah scarf tergeletak di atas meja tepat di samping ponselnya. Ia meraih scarf yang beberapa saat lalu digunakan untuk membersihkan pakaiannya itu lalu mengantonginya. Setelah itu barulah Jeffrey menyunggingkan senyumannya, ia tersenyum tipis sebelum mengambil langkah. Menuju penthouse, tujuan utamanya.
.
.
.
“Sudah kukatakan jangan menambah pekerjaanku Mr. Kendrick!” Seru Anton sarkas.
Jeffrey mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk kemudian tersenyum, lalu meraih paper bag ditangan Asistennya itu. “Sebenarnya aku tak memintamu datang ... tapi terimakasih.”
Kening Anton mengerut ketika mendengar kalimat yang cukup manis itu. Tak biasanya Jeffrey bertingkah seperti itu. Ke anehan macam apa ini?
Anton mengedarkan pandangannya keseisi penthouse dua lantai itu, tubuhnya bergidik, bulu kuduknya tiba-tiba meremang. Apakah ... penunggu tempat ini yang membuat Jeffrey berubah menjadi aneh?
“Jeff!” Anton segera merangkul Jeffrey lalu menempatkan telapak tangannya di kening Jeffrey kemudian berkomat-kamit dengan cepat. “Menjauhlah ... menjauhlah. Jangan mengganggu lelaki ini. Dia memang tampan tapi dia sangat gila. Jangan dekati dia, jangan mengganggu dia. Aku mohon ... jika kau terganggu kau bisa pindah ke unit lain yang lebih mewah, atau kau bisa di sini tapi jangan mengganggu kami aku mohon. Jangan mengganggu lelaki ini.”
Kening Jeffrey mengerut kemudian mendorong lelaki itu. “Apa yang sedang kau lakukan Anton? Kau pikir aku kesurupan Eoh?!”
“Tenanglah Jeff tenanglah! Biasanya memang begini, dia tak akan mengakui dirinya masuk padamu. Tenangkan dirimu.” Anton kembali menyimpan telapak tangan di kepalanya.
“YA! Apa kau gila?! Aku tak kesurupan! Kau ini manusia macam apa?! Jaman sekarang mana ada hal-hal semacam itu! Kau tahu? Hantu juga menjadi semakin modern di era modern begini. Tak mungkin masih ada hantu yang merasuki tubuh manusia. Sana! Pergilah! Kau merusak mood baikku Anton.”
Anton mendengus dengan mata mendelik. “Awas saja kalau kau kesurupan sungguhan. Aku tak akan menolongmu!” ujarnya kemudian mendudukkan diri di sofa tak jauh dari tempat itu.
Iris matanya tertarik menatap sebuah benda yang tergeletak di lantai. Ia kemudian meraih benda itu lalu mengamatinya. Entah mengapa, ia merasa seperti mengenal benda ini. Ia pernah ... melihatnya.
Seketika mata Anton membulat. “JUNG JEFFREY!!!!! BAGAIMANA BISA SCARF ZETA ADA PADAMU?!!!.”
***
“Kau tak pernah seceroboh itu Zeta.” Ujar Ella.
“Aku tak tahu Eonni, aku benar-benar tak ingat. Kenapa aku bisa terjatuh seperti itu. Aku hanya tiba-tiba menjadi limbung dan ... AAAAAAAAA .” Zeta mencengkram rambutnya sendiri dengan wajah terbenam diantara kedua lutitnya.
“Kalau kau ingat kau tak akan jatuh sampai menumpahkan kopimu.” Balas Hana. “Sudahlah jangan di bahas. Aku akan menemuinya besok untuk meminta maaf.”
“Memang kau tahu dimana Mr. Kendrick tinggal?” Zeta mengangkat kepalanya menatap Hana penuh antisipasi.
“Penthouse di gedung apartemen dorm kalian.”
Zeta membulatkan matanya. “Apa? Penthouse itu? Jadi artinya kemungkinan kita akan bertemu terus-menerus sangat besar?” Zeta meringis. ““Demi Neptunus!!! Aku tak pernah ceroboh. Kenapa sekalinya ceroboh aku harus melakukan kecerobohan pada orang sepenting Mr. Kendrick? Kenapa aku harus mengotori pakaiannya? EONNI!!!”
“Eonni! Eonni!” Zeta mencengkram lengan Ella dan Hana bergantian. “EONNI!!! Jika aku dikeluarkan dari grup bagaimana? Eonni!!! Aku tidak mau! Aku tidak mau keluar!”
“Dia tak mungkin sejahat itu Zeta. Tenanglah.” Ujar Hana.
“Tidak! aku tak bisa tenang! Aku tak bisa diam begini saja Eonni! Demi Pluto! Aku tak ingin kehilangan pekerjaanku.” Zeta menatap Ella dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia tak pernah merasa setakut ini sebelumnya, sekalipun pada produser utama perusahaan. Tapi menghadapi lelaki itu, nyalinya ciut. Ia benar-benar ketakutan. Lelaki itu ... penuh dengan intimidasi.
“Eonni ... kau tahu? Dia begitu menakutkan. Dia benar-benar terlihat seperti lelaki tak berperasaan. Dingin, datar dan ... kau harus lihat. Lelaki itu penuh intimidasi Eonni. Mr. Kendrick sangat menakutkan. Apalagi saat dia menatapku. Dia ... sangat menakutkan.”
Ella merangkul tubuhnya, mengelus bahunya beberapa kali dengan begitu lembut.
“Mungkin itu hanya perasaanmu saja Zeta. Aku rasa dia mungkin baik jika kita sudah mengenalnya.” ujar Ella.
Zeta tak merasa lebih baik setelah mendengar itu. Sebab ia tahu Ella hanya berusaha menenangkannya saja, dia tidak benar-benar mengakui bahwa lelaki itu tidak seperti itu. Ia yakin Ella pun merasakannya, dia pasti merasakan intimidasi dan d******i yang begitu kuat dari lelaki itu. Ia sangat yakin.
“Aku benar-benar bodoh tak bisa mengendalikan diriku sendiri. Jika sudah begini bagaimana?” gumaman Zeta lagi. “Aku bahkan tak akan sanggup memperlihatkan wajahku didepannya.”
“Kau menyadarinya?” Hana melirik Zeta dari spion. Perempuan itu menghela nafas panjang sebelum kembali berujar. “Sudahlah ... sudah aku katakan aku akan meminta maaf atas namamu besok. Lalu jika kau tanpa sengaja bertemu kau hanya perlu meminta maaf lagi setelah itu dia pasti akan melupakannya. Dia orang penting, pekerjaannya sangat banyak. Tak ada waktu baginya mengurus orang tak penting seperti kita.”
“Benarkah? Dia akan segera melupakanku?”
Hana mengedikkan bahunya. “Tergantung tingkat kesalahanmu. Bisa saja benar Mr. Kendrick akan memecatmu.”
“EONNI! Jangan menakutiku!”
Hana terkekeh kecil seraya menggelengkan kepalanya pelan. “Ingat! Yang terpenting adalah kau harus meminta maaf saat bertemu dengannya lagi dan jangan melakukan hal bodoh lagi! Jangan mempermalukan dirimu sendiri untuk kedua kalinya.”
Zeta mengangguk. “Tentu saja! aku tak akan pernah berbuat bodoh lagi. aku tak akan pernah melakukan hal ceroboh lagi.”
Semoga. Lanjutnya dalam hati dengan perasaan ragu.