12. Permintaan Maaf

1684 Kata
Zeta tak henti-hentinya mendesah, seraya mengigiti kuku telunjuk tangan kanannya. Iris matanya terus-menerus bergulir, kakinya terus bergetar, gugup sekaligus gusar. Jantungnya terus berdetak dengan kencang, keringat dingin bahkan mulai meluncur, membasahi punggung dan juga telapak tangannya.  Sungguh ... saat ini ia sangat gugup, ia takut jika permintaan maafnya yang diwakili Hana di tolak. Ia takut setelah ini ... karirnya akan bermasalah.   Ya ... beberapa saat lalu tepatnya tiga menit yang lalu Hana baru saja berpamitan akan meminta maaf pada Mr. Kendrick yang sudah berada di pentouse-nya. Ia gugup membayangkan pertemuan menegangkan itu. Pasalnya kemarin pun ia bahkan hampir tak sanggup memandang wajah lelaki itu. Dia terlalu dingin, terlalu mengintimidasi dan penuh d******i. Membuat nyalinya ciut dengan cepat, penuh dengan rasa ketakutan.   Bagaimana caranya Hana menghadapi lelaki itu?   “Tenanglah Zeta. Semuanya akan baik-baik saja. Hana Eonni pasti bisa mengatasinya dengan segera dan tentu saja ... tak akan memengaruhi karirmu. Kau akan baik-baik saja Zeta.”   Iris matanya teralih menatap Ella yang baru saja duduk di sampingnya, merangkulnya dengan sesekali meremat bahunya, menguatkannya.   “Eonni ... demi apapun. Mr. Kendrick sangat menakutkan. Aku yakin Mr. Kendrick bukan orang yang mudah. Andai kau tak pergi. Kau akan melihat bagaimana tajam dan dinginnya mata Mr. Kendrick saat menatapku, benar-benar menusuk hingga mmebuatku membeku Eonni. Jantungku bahkan rasanya akan copot saat beberapa kali Mr. Kendrick dengan sengaja menatapku. Demi apapun! Eonni. Dia terlihat sangat kejam.”   Zeta mendesah pelan, “Seharusnya aku saja yang menghadap Mr. Kendrick lagi dan menyampaikan permintaan maafku.” Ia menatap Ella lagi. “Aku tak bisa membayangkan keadaan Hana Eonni sekarang. Dia pasti sangat ketakutan Eonni.”   Ella menghembuskan nafasnya sesaat dengan iris mata Ella yang tak lepas dari paras Zeta yang tampak pucat. “Kau ... berdebar karena takut atau karena jatuh cinta pada pandangan pertama?”   Mata Zeta mengerjap, wajahnya mulai memanas, jantungnya mulai berdegup dua kali lebih cepat setelah mendengar kalimat itu. “Ya! Eonni! Apa kau bilang? Jatuh cinta? Tentu saja tidak! Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada MR. Kendrick? Lagipula aku tak bisa, aku tidak bisa jatuh cinta. Jangan mengada-ada Eonni, aku ... tak mungkin ... jatuh cinta padanya. Tidak!” tegas Zeta di akhir kalimat.   Ella mengedikkan bahunya. “Siapa yang tahu bukan?”   “Tidak! Aku tidak jatuh cinta.”   “Jangan mendahului takdir. Lagipula aku melihat Mr. Kendrick tidak seburuk itu. Dia tampak baik.”   “Itu pasti karena kau yang jatuh cinta Eonni. Bukan aku.”   Ella menatapnya, lalu menyeringai, tersenyum menggodanya. “Mungkin?”   BRAK!   “INI GILA!!!”   Zeta dan Ella mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk. Hana di sana, manager mereka itu baru saja menutup pintu dorm mereka dengan sangat kencang. kening Zeta mengerut ketika melihat Hana yang terlihat frustasi, perempuan itu bahkan menjambaki rambutnya, terlihat lebih gila dari terakhir kali ia bertemu lelaki itu.   “Lihat ... sudah aku bilangkan?” Bisik Zeta tepat di telinga Ella dengan iris mata yang masih memandang Hana yang terus menerus merancau dengan penuh selidik.   “Sialan! Seharusnya aku tidak bertemu dengannya!”  Seru Hana seraya menghentakkan gelas di tangannya ke atas meja makan.   Zeta kemudian bangkit mendekat ke arah Hana, “Eonni ... ada apa?”   Hana menatap ke arahnya dengan tatapan sendu, tampak sangat aneh. Sangat berbeda dari tatapan semangat penuh motivasi dari yang selalu ia lihat. Kali ini Hana terlihat sangat frustasi. Perempuan itu ... terlihat kehilangan motivasi hidupnya.   Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Hana sampai seperti ini?     Zeta kemudian berdiri kembali. Menatap Hana sesaat lalu menghembuskan nafasnya. Ia tak bisa membiarkan lelaki itu membuat Hana sekacau ini. Cukup ia saja yang sudah sangat ketakutan menghadapi lelaki itu kemarin. Jangan Hana. Sebab ... ia yang salah. Ia yang ceroboh. Bukan Hana. Bukan Manahaer-nya itu.   “Aku akan menemuinya sendiri.” tekad Zeta sebelum melangkahkan kakinya keluar dari dorm.       ***     Hana melangkahkan kakinya di depan lift pribadi yang menghubungkan setiap lantai dengan penthouse yang ditempati oleh Jeffrey. Bohong jika ia mengatakan tak gugup. Ia sangat gugup sekarang, ia bahkan semakin gugup ketika aksesnya untuk naik disetujui oleh lelaki itu.   Jika bukan karena kewajibannya ia tak ingin menghadap lelaki itu. Ia tak mau berurusan untuk hal-hal seperti ini dengan petinggi perusahaan. Apalagi ia belum mengenal lelaki itu dengan baik. Bagaimana jika lelaki itu jahat seperti yang Zeta katakan kemarin?   Ting!   Lift berbunyi nyaring membuyarkan lamunannya. Ia kemudian melangkahkan kaki menuju pintu masuk, menghela nafas sesaat sebelum mengetuknya beberapa kali.   “Cho Hana-ssi?”   “Ya ... ini saya Mr. Kendrick.”   Pintu terdengar terbuka otomatis. Ia kembali menarik nafas panjang kemudian memasuki ruangan mewah itu. Begitu masuk ia langsung di sambut oleh dinding kaca menghadap kota, sangat indah sekali. Tak lama setelah itu terdengar suara langkah kaki mendekat. Ia membungkuk sesaat seraya tersenyum.   “Selamat siang Mr. Kendrick. Maaf saya tiba-tiba datang mengganggu akhir pekan anda.”   “Tak masalah. Silahkan duduk. Apa yang membawa anda datang kemari?”   Oh! Sangat to the point. Gumam Hana dalam hati, membuatnya semakin gugup. Benar kata Zeta, lelaki dihadapannya ini penuh dengan d******i dan intimidasi, membuat tekadnya yang begitu besar menciut dengan cepat.   “Saya datang untuk menyampaikan permintaan maaf saya atas kesalahan Zeta kemarin. Saya merasa menyesal atas kerugian yang anda terima atas kecerobohan artis saya. Saya benar-benar memohon maaf Mr. Kendrick.”   Lelaki itu menaikkan satu alisnya. “Bukankah aku sudah mengatakan tak masalah pada Zeta? Aku rasa itu sudah cukup jelas.”   “Zeta tetap merasa khawatir. Jadi saya datang kembali secara resmi.”   “Tak masalah. Lagipula bukan perkara besar.”   Senyuman Hana mengembang. Ternyata lelaki dihadapannya ini tidak seburuk itu. Ia pikir dia benar-benar buruk. Tapi sejauh ini rasanya ... tak ada yang buruk. “Terimakasih Mr. Kendrick. Terimakasih banyak. Kalau begitu saya ... .”   “Jeff! Kenapa pintu masuk tidak tertutup rapih?”   Hana mengalihkan pandangan ke arah sumber suara saat mendengar suara yang tak asing di telinganya. Seketika matanya membulat, ketika melihat sesosok lelaki dari masa lalunya kini kembali berdiri dihadapannya. Dia tampak lain, dengan stelan casual yang melekat di tubuh tinggi tegapnya, membuat lelaki itu kini bak model yang tengah berjalan di atas red carpet.   “Minhyun ... ?” ujar Hana tepat saat lelaki itu berdiri dihadapannya.   “Hana?”   Hana mengerjapkan matanya sesaat ketika pikirannya serasa masih melayang jauh melanglang buana tanpa tujuan. “Kenapa ... kau  ada di sini?”   “Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau ada di sini?” Lelaki itu mengalihkan pandangannya. “Kalian ada kepentingan?”   Sedikit. Hana kenalkan ini Anton, dia asistenku” Jawab Jeffrey. “Tapi sepertinya kalian sudah saling mengenal?” tanya lelaki itu seraya memandangnya dan lelaki itu secara bergantian.   “Tentu saja.” jawab Anton dengan cepat. “Dia ... sahabatku saat Sekolah dulu.”   Hana mendelik seraya mendesis tajam. “Sahabat? Aku rasa aku dan kau tidak pernah bersahabat  Kim Minhyun-ssi. Aku dan kau ... tidak pernah sedekat itu.” balas Hana dengan menekankan kalimat terakhirnya.     . . .     Jeffrey mengerutkan keningnya, heran melihat tingkah kedua orang dihadapannya ini. Mereka tanpak saling mengenal cukup dekat, tapi sepertinya tidak bisa dibilang bahwa hubungan mereka baik-baik saja. Keduanya lebih tampak seperti musuh yang baru saja bertemu di medan perang.   “Benarkah?” tanya Jeffrey. “Aku rasa kalian lebih dekat dari yang aku duga.”   “TIDAK!” Seru Hana seraya menatap ke arahnya dengan tatapan yang begitu tajam.   “Wow. Kau membuatku terkejut.” Ujar Jeffrey dengan santai. Namun mampu membuat Hana dengan cepat  menutup mulutnya, meringis terlihat merasa bersalah.   “Maafkan saya Mr. Kendrick saya tidak bermaksud seperti itu. Ini semua karena pria sialan ini!” desis Hana seraya mengalihkan pandangannya pada Anton. Sesaat kemudian ia mengalihkan pandangan kembali ke arahnya kemudian membungkuk sesaat sebelum menatapnya lagi.   “Saya ... tak bermaksud membentak atau berkata buruk Mr. Kendrick. Maafkan saya ... sekali lagi maafkan saya dan ... sampai berjumpa kembali.” Ujar Hana dengan cepat kemudian melangkahkan kaki dengan langkah lebar meninggalkan ruangan tersebut.   Jeffrey memandang Anton. “Jadi ... dia?”   Lelaki yang ia tanya justru terkekeh kecil dengan iris mata yang masih menatap ke arah pintu yang tertutup. “Tak pernah berubah. Selalu penuh semangat dan luapan emosi berlebihan.”   “Kau harus meminta maaf padanya.” Ujar Jeffrey. “Kau harus menyelesaikan urusan kalian.” Tambah Jeffrey dengan tenang.   Anton menatap ke arahnya lalu terkekeh kecil. “Aku tahu ... tapi sepertinya tidak sekarang. Dia sudah cukup terkejut dengan hanya melihatku. Akan kuselesaikan nanti.”   “Kau sudah menundanya bertahun-tahun. Kau masih akan menundanya lagi?” Jeffrey menepuk pundak Anton sesaat sebelum merematnya. Ia tahu betul cerita tentang perempuan itu, perempuan yang berhasil mematahkan hati Anton, yang membuat Anton tak pernah memiliki kekasih sampai saat ini.   “Rasanya bahkan masih sakit meskipun sudah bertahun-tahun. Tapi ... sebenarnya aku tak mengerti ... aku yang seharusnya marah padanya Jeff. Tapi kenapa dia terlihat sangat marah padaku?”   Jeffrey tak menjawab, ia hanya menepuk pundak Anton beberapa kali memberi sahabatnya itu semangat. “Makan sana, tenangkan pikiranmu. Sepertinya ada yang bertamu lagi.”   Anton mengangguk kemudian beranjak pergi, meninggalkannya sendiri menyambut tamu yang entah siapa lagi. Padahal baru saja ia menginjakkan kakinya di tempat ini, tapi sepertinya para tamu tak sabar ingin mengunjunginya.   Jeffrey menegang ketika melihat sosok cantik didepan intercome. Matanya mengerjap sesaat sebelum menekan tombol di sisi benda itu. Membuka pintunya secara otomatis.   Tak lama kemudian sosok cantik itu masuk, berjalan ke arahnya dengan begitu anggun. Dia ... tampak sangat cantik walaupun hanya dengan mengenakan kaus kebesaran dan celana di atas lutut kemudian rambut yang diikat sembarang. Perempuan itu ... perempuan di hadapannya ini tampak sangat sempurna.   Lebih sempurna dari yang ia lihat di layar.   “Selamat siang Mr. Kendrick. Saya datang untuk menyampaikan permohonan maaf saya sendiri. Saya ... .”   “Kenapa hari ini banyak sekali yang meminta maaf padaku?”   “Hng?”   “Jika kau mengatakan maaf untuk kesalahanmu kemarin. lupakan. Aku sudah memaafkanmu.”   “Hah?”   Jeffrey terkekeh kecil melihat wajah Zeta. Perempuan itu tampak sangat terkejut dengan ucapan yang baru saja ia lontarkan. Matanya membulat, juga mengerjap beberapa kali.   Menggemaskan. Sangat menggemaskan.     Dapatkah ia memilikinya sekarang juga?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN